Olivia Brown melarikan diri dari perjodohan dan bersekolah di akademi Malvado. Menghidupi diri dengan pekerjaan paruh waktu dan hidup sederhana menjadi hinaan, cacian dan bullyan yang tidak ada habisnya terlebih ketika pangeran akademi menaruh rasa iba. Hingga pangeran liar datang dengan senyuman menjadi saingan para pangeran akademi untuk mendapatkan cinta Olivia yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Siapa Olivia?
Ketua tim keamanan gedung mendapat panggilan darurat segera melakukan tugas mereka yakni mengamankan pintu utama.
Aku melihat tim keamanan menyegel dan menghalangi pintu utama serta memberitahu orang-orang untuk saat ini tidak diizinkan keluar dari gedung ini. Semua orang menjadi panik dan ingin mengetahui penyebab semua ini terjadi.
Resepsionis pun menghampiri ketua keamanan dan menanyakan keadaan.
“Apa yang terjadi?,” tanya resepsionis dengan penasaran.
“Tidak ada, jangan panik. Tuan Direktur memerintahkan tidak boleh seorang pun keluar dari gedung untuk saat ini hingga Tuan Direktur tiba disini,” jawab ketua keamanan.
Christian dan diriku mendengarkan perkataan ketua keamanan itu.
“Menurutmu apa yang terjadi? Mengapa pintu ini ditutup? Apa sesuatu yang berbahaya telah terjadi di luar?,” ucap Christian sambil melihat ke luar dari pintu kaca bersih tanpa noda.
“Entahlah, aku tidak tahu. Christian, aku harap selama bekerja disini kamu mengusahan hal yang terbaik yang kamu bisa dan jangan lupa menjaga kesehatanmu,” jawabku sambil keadaan sekitar.
Tidak lama kemudian, Tuan Direktur datang bersama asisten dan ditemani oleh bawahannya. Semua orang memberi hormat kepada Tuan Direktur termasuk Christian yang berdiri disampingku. Hanya aku yang tidak memberi hormat kepada pria itu.
Tuan Direktur bersama rombongannya berhenti tepat di depanku dan Christian. Christian yang merasa bahwa Tuan Direktur berhenti di hadapannya dan melihat Olivia tidak menundukan kepala segera menarik Olivia. Christian memaksa Olivia untuk memberi hormat pada Tuan Direktur.
“Tuan Direktur, maaf atas ketidaknyamanan ini,” kata Christian sambil menarik tangan Olivia agar menundukan kepala sebagai tanda penghormatan.
“Tidak apa, tidak perlu dipikirkan!,” jawab Tuan Direktur sambil tersenyum.
Tiba-tiba Tuan Direktur memberi hormat tepat dihadapan Olivia yang membuat semua orang di tempat itu kaget. Mereka seperti baru saja melihat sesuatu yang sangat menarik. Tuan Direktur itu baru saja menaruh hormat pada gadis yang direndahkan dan tidak dikenal.
“Tidak apa, tidak perlu memberi hormat padaku. Kamu sudah melewati waktu sepuluh menit, “ ucapku kepada Tuan Direktur dengan senyum manis.
Tuan Direktur mengangkat kepalanya, ia memasang wajah penuh penyesalan dengan harapan diberi kesempatan untuk tetap dalam jabatannya yang sekarang.
“Nona Olivia, saya bisa menjelaskan kedatangan saya yang terlambat. Nona, bagaimana kalau kita bicara di ruang kantor saya? Saya memiliki cemilan dan minuman yang enak di ruang kantor. Bagaimana?,” ucap Tuan Direktur dengan wajah sedih dan pucat karena ketakutan.
“Ide yang bagus! Cemilan seperti apa yang kamu punya?” tanyaku dengan senyum manis. “Ah, ya…..aku lupa! Bisakah meja di depan diganti? Kita akan kehilangan pelanggan dan sesuatu yang penting jika meja di depan ini penuh kotoran,” ucapku lagi sambil melihat ke arah resepsionis yang merendahkan diriku.
Resepsionis mendengar perbincangan itu dengan jelas, wajahnya mulai pucat karena ketakutan. Dia tidak menduga telah menyinggung orang penting di perusahaan ini. Dia ketakutan akan dipecat, hatinya selalu dipenuhi harapan dengan permohonan maaf dan penyesalan.
“Tuan Direktur!,” ucapku memanggilnya.
Tuan Direktur mendekatiku, “Ya, nona Olivia.”
“Jangan biarkan mereka resign dari perusahaan ini. Jika mereka melakukannya, pastikan tidak akan di rekrut oleh perusahaan mana pun. Ah, ya pindahkan saja bagian depan ini ke bidang lain. Ganti bagian depan pada orang yang lebih baik,” perintahku sambil menunjuk ke arah resepsionis yang merendahkanku.
“B-baik, Nona Olivia. Nona, bisakah kita ke ruang kerja saya? Saya sangat senang nona berkunjung kemari hari ini,” ucap Tuan Direktur mendekatiku dan bersikap sangat baik.
Orang-orang disekitar pun dibuat bingung dengan perubahan sikap Tuan Direktur.
Aku menganggukan kepala, dan mulai mengikuti langkah Tuan Direktur. Sementara orang bawahannya mulai mengurus masalah yang terjadi.
Christian yang melihat kejadian ini kebingungan, dan mulai berpikir kebenaran tentang Olivia. Gadis yang ditemuinya biasa-biasa saja adalah pelayan Café Malvado tetapi sekarang adalah orang yang penting di perusahaan ternama ini dan dekat dengan Tuan Direktur.
“Sebenarnya siapa Olivia ini? Dia sangat dihormati oleh Tuan Direktur? Bahkan Tuan Direktur menyambut kedatangan Olivia? Apa jangan-jangan Olivia adalah anak Tuan Direktur? Hah, itu tidak mungkin! Atau dia sebenarnya adalah pemilih perusahaan ini!,” duga Christian diam-diam dalam hatinya.
Christian memiliki banyak dugaan ketika dia semakin memikirkan siapa sebenarnya Olivia. Semakin lama berpikir, semakin besar rasa penasarannya.
Sementara itu di ruang kerja Tuan Direktur. Aku disajikan cemilan dan minuman yang dinilai orang lain sebagai minuman kelas atas. Aku pun duduk berhadapan dengan Tuan Direktur bersama asistennya.
“Olivia, saya sangat tersanjung nona datang kemari. Maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Saya akan berusaha membuat perusahaan ini jauh lebih baik lagi,” ucap Tuan Direktur.
Aku mengambil minuman diatas meja dan meminumnya. Minuman yang segar dan enak.
“Nona Olivia! Apakah nona memaafkan saya?,” ucap Tuan Direktur.
“Ah, ya soal dirimu yang terlambat. Kali ini akan kumaafkan. Ya karena sudah membantuku mengatasi masalah meja depan,” jawabku.
Tuan Direktur menarik nafas lega, ketakutannya segera sirna ketika Nona Olivia memaafkan keterlambatannya.
“Terima kasih, Nona Olivia,” ucapnya dengan rasa lega dan terima kasih yang tulus. “Nona Olivia, bagaimana nona bisa bertemu dengan pria yang sangat hebat itu?,” ucap Tuan Direktur memulai perbincangan serius.
“Siapa yang kamu maksud?,” tanyaku meletakan gelas minuman diatas meja dan melihat ke arah Tuan Direktur.
Asisten Tuan Direktur membisikan kata pada Tuan Direktur, “Nama orang itu adalah Christian Ive.”
“Christian,” ucap Tuan Direktur.
Aku tersenyum, “Ya, itu hanya kebetulan. Aku menitipkan dia padamu. Orang itu memiliki potensi yang bagus. Kamu menyukai orang seperti itu kan?.”
Tuan Direktur tersenyum, “Ya, saya akan menjaga aset ini dengan baik. Ngomong-ngomong kenapa Nona Olivia sulit dihubungi baru-baru ini?.”
“Itu karena ponsel saya rusak. Bisakah kamu memberikanku ponsel baru?,” jawabku.
Sontak mata Tuan Direktur berkaca-kata dan kedua tangan mengepal, “Akhirnya Nona Olivia meminta sesuatu dari saya yang bekerja bertahun-tahun ini.”
Tuan Direktur mulai meminta asistennya untuk mengambilkan ponsel keluaran terbaru yang didesain oleh perusahaan Ive. Tidak perlu menunggu lama, asisten Tuan Direktur kembali dengan membawa berbagai pilihan ponsel keluaran terbaru.
Ponsel-ponsel keluaran terbaru itu diletakan di atas meja, tepat dihadapan Olivia. Meja itu kini dipenuhi oleh ponsel mewah.
“Nona Olivia, ini adalah ponsel keluaran terbaru dengan desain mewah,” ucap Tuan Direktur dengan bangganya memperkenalkan setiap ponsel yang ada diatas meja.
Beberapa menit berlalu, Tuan Direktur selesai memperkenalkan setiap ponsel mewah yang ada diatas meja. Tuan Direktur tampak lelah, dan dia segera meminum segelas air.
“Maafkan saya, tampaknya saya mulai menua. Saya tidak suka hal ini!,” ucap Tuan Direktur.
“Saya memahamimu, Tuan Direktur. Semua produk ini bagus sekali. Beberapa ponsel yang dikeluarkan secara terbatas. Ponsel untuk kalangan tertentu dan desain yang bagus. Semuanya tampak dipertimbangkan dengan baik. Tuan Direktur merekomendasikan ponsel seperti apa untukku?,” ucapku memuji kinerja Tuan Direktur.