Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Bayu perlahan membuka gerbang, dan melangkahkan kakinya masuk kedalam.
Dengan tangan gemetaran dan napas yang tersenggal, ia memberanikan diri untuk menghadap Ki Sarowang.
“Ono opo to le surup-surup merene?, ora wedih kowe madep aku?.”
(Ada apa anak muda kamu kesini Maghrib-maghrib?, kamu tidak takut menghadap aku?)
Suara itu. Berat. Dalam. Berwibawa. Datang dari pendopo, di mana seorang lelaki tua duduk bersila di atas tikar pandan. Asap dupa mengepul di sekelilingnya, menciptakan aura mistis yang membuat Bayu merinding.
Ki Sarowang Prawangsa.
Bayu menelan ludah. Ia berjalan pelan menuju pendopo. Setiap langkah terasa seperti berjalan melawan badai. Semar Mesem menariknya ke Surabaya, ke Lusi. Tapi keris di tangannya dan tekad di hatinya mendorongnya ke sini, ke rumah sang dukun.
Yang mana adalah kakek buyutnya Lusi sendiri.
Bayu langsung bersimpuh.
“Maaf Ki, kedatangan saya kesini adalah ingin meminta maaf dan meminta tolong kepada anda.”
“Nyoh, lungguh kene le.”
(Kesinilah, duduk disini anak muda.)
Bayu langsung duduk bersila dihadapan Ki Sarowang tanpa berani menatap matanya.
“Wis ngerti opo salahmu?”
(Sudah tau apa salahmu?)
Bayu terdiam. Pertanyaan itu menusuk tepat di jantung hati nuraninya.
“Nggih.”
(Iya)
“Opo kowe pikir aku bakalan mbantu kowe sak wise kowe ngerusak buyutku?.”
(Apa kamu pikir aku akan membantumu setelah kamu merusak cucu buyutku?.)
Ki Sarowang membuka matanya. Mata keemasan itu menatap Bayu, menembus kulit, menembus daging, menembus sampai ke tulang sumsum.
“Nggak, aku ora sudi. Aku udu wong apik, aku iki dukun.”
(Nggak, aku tidak sudi. Aku bukan orang baik, aku adalah seorang dukun.)
“T… tapi keris ini Ki?” Ia meletakkan keris di depannya keris kecil dengan gagang berukir naga.
Ki Sarowang menatap keris itu lama. "Kau tahu siapa pemilik keris ini?"
"Ki Suryo Prawangsa, Ki. Dalang. Murid Ki."
"Ah... kau tahu rupanya." Senyum tipis muncul di bibir Ki Sarowang. "Ki Suryo. Muridku yang paling cerdas. Dan yang paling keras kepala." Ia menghela napas panjang. "Apa yang dia ceritakan padamu tentang keris ini?"
"Hanya sedikit, Ki. Katanya keris ini penolak bala. Warisan dari gurunya. Diberikan pada kakek saya sebagai pembayaran utang budi." Bayu menunduk. "Saya tidak pernah percaya hal-hal begini. Sampai..."
"Sampai cucuku mengirim Semar Mesem kepadamu."
"Ya, Ki.”
Ki Sarowang mengambil keris itu. Jemarinya yang keriput mengelus gagangnya pelan.
“Keris iki ono ning tanganmu ora jaminan kowe bakal slamet teko kabeh iki.”
(Adanya keris ini di tanganmu bukanlah jaminan kamu akan terbebas dari semua ini.)
Ki Sarowang meletakkan keris itu kembali. Matanya menatap langit-langit pendopo.
"Di mana Ki Suryo sekarang?"
"Di Ngampel Ki. Menjadi dalang. Hidup sederhana. Bertobat." Ki Sarowang menatap Bayu. "Dan sekarang, kerisnya sampai ke tanganmu. Ironis sekali."
Bayu menunduk dalam-dalam. "Ki, saya... saya tahu apa yang saya lakukan pada cucu Ki adalah dosa besar. Tapi saya mohon... lepaskan ikatan ini. Saya tidak kuat. Setiap malam dia muncul. Setiap detik suaranya ada di kepala saya. Saya..."
"Apa kau pikir aku akan mengasihani orang yang sudah merusak cucuku sendiri?"
Nada suara Ki Sarowang tiba-tiba sedingin es. Mata keemasannya menyala lebih terang. Angin di sekitar pendopo berhenti bertiup.
Bayu gemetar. "Ki... Ki... saya..."
"Harusnya aku biarkan kau gila. Harusnya aku biarkan kau jadi budak Lusi selamanya. Kau pantas menerimanya. Kalian semua pantas menerimanya."
Air mata Bayu jatuh. Ia tidak bisa membantah. Karena ya, ia tahu. Ia pantas.
Dan ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Bayu yang masih bersimpuh, memegang keris, dengan jantung berdebar dan pikiran berkecamuk.
Di malam yang sama.
Rumah Keluarga Irawan, perumahan elit Lily. Pukul 20.00.
Rumah itu megah.
Bangunannya bergaya modern minimalis dinding putih bersih, jendela kaca besar yang memantulkan cahaya lampu taman, dan pagar besi hitam yang selalu digerakkan otomatis. Di halaman depan, tiga mobil terparkir rapi: satu sedan hitam milik Hartono untuk urusan bisnis, satu SUV putih milik Ratna untuk mengantar belanja dan arisan, dan satu motor matic milik Irawan.
Di dalam, ruang keluarga yang luas dihiasi perabotan mahal. Sofa kulit abu-abu, meja marmer, televisi layar datar seukuran pintu, dan lampu gantung kristal yang berkilauan. Semuanya berkelas. Semuanya mahal. Semuanya sempurna.
Tapi malam ini, tidak ada yang sempurna di rumah itu.
Ratna duduk di sofa dengan tangan bersedekap. Di hadapannya, secangkir teh chamomile sudah dingin, tidak tersentuh. Matanya menatap kosong ke arah tangga menuju lantai dua ke kamar Irawan.
Hartono berdiri di dekat jendela. Satu tangannya memegang ponsel, satunya lagi memijat pelipisnya yang berdenyut. Ia baru saja pulang dari kantor, jasnya masih menempel di tubuh, tapi pikirannya sudah tidak di urusan bisnis.
"Udah beberapa minggu ini dia aneh," suara Ratna akhirnya memecah keheningan. "Nggak kayak Irawan yang kita kenal."
Hartono menoleh. "Aneh gimana, Ma? Anak muda tuh emang suka moody-an."
"Moody-an apaan, Pa. Ini bukan moody. Ini... ini..." Ratna tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak bisa menemukan kata yang tepat.
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa Irawan laki-laki yang biasanya pulang larut malam, tertawa-tawa dengan teman-temannya, cuek pada apa pun, dan tidak pernah serius sekarang berubah total?
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa putranya sekarang jarang keluar rumah? Bahwa ia lebih sering menyendiri di kamar? Bahwa ia menatap ponselnya berjam-jam dengan ekspresi yang sulit diartikan kadang tersenyum sendiri, kadang menangis?
"Nggak biasanya dia kayak gini, Pa. Biasanya paling sehari dua hari. Ini udah seminggu lebih." Ratna menatap suaminya. "Aku takut."
"Sama siapa?"
"Sama perempuan itu."
"Perempuan apa?"
Ratna tidak langsung menjawab. Ia meraih ponselnya, membuka sesuatu, lalu menyodorkannya ke Hartono. "Ini. Beberapa kali aku denger Awan ngomong sendiri di kamar. Nyebutin nama ini. Lusi. Lusi. Lusi. Terus aku cari di Instagram-nya Awan. Ketemu ini."
Hartono mengambil ponsel itu. Di layarnya, sebuah profil Instagram dengan nama @lusi_arimbi. Foto profilnya seorang gadis berjilbab cokelat susu, tersenyum malu-malu di depan cermin. Biasa saja. Tidak ada yang mencolok.
"Terus kenapa? Pacar barunya kali."
"Pacar apaan, Pa. Aku nggak pernah dikenalin. Awan nggak pernah cerita. Tiba-tiba aja dia udah gila-gilaan kayak gini." Ratna mengusap wajahnya. "Dan yang bikin aku makin takut... beberapa kali aku liat dia nangis di kamar. Nangis, Pa. Sambil nyebutin nama Lusi itu. 'Aku sayang kamu, Lus. Aku nggak bisa ninggalin kamu. Aku nurut apa aja.' Kayak orang kesurupan!"
Hartono menghela napas panjang. "Mungkin dia cuma lagi jatuh cinta banget, Ma."
"Cinta apaan yang bikin orang kayak mayat hidup?! Cinta apaan yang bikin dia nggak tidur berhari-hari, nggak makan, cuma mandangin ponsel terus?! Itu bukan cinta, Pa. Itu... itu kayak dia kena sesuatu."
"Kena apa?"
Ratna menatap suaminya dengan mata yang penuh ketakutan. "Aku nggak tahu, Pa. Tapi perasaanku... ini nggak normal.”
\[BERSAMBUNG…\]
oh ya si Lusi ngeri ya TDK memanusiakan orang
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️