Judul lama : Diagnosis: Falling For You
dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.
dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Gabungan
Sirine dua mobil SUV hitam berstempel RS Medika Adiwijaya meraung membelah gerbang utama rumah sakit tepat pukul satu dini hari. Lampu sorot dari gedung baru The Nayla Kartikasari Pediatric Center tampak menyala terang di tengah kegelapan malam, kontras dengan ketenangan bangsal umum lainnya.
Begitu pintu mobil terbuka, hawa panas Jakarta dan aroma khas antiseptik konsentrasi tinggi langsung menyergap. Rania bersama lima perawat senior bangsal isolasi sudah berdiri berjejer di depan pelataran lobby khusus membawa dua pasang baju pelindung level 3 dan beeper darurat.
"Dokter Nayla! Dokter Naren!" seru Rania cepat seraya melangkah sejajar di samping mereka menuju lift khusus lantai lima. "Satu pasien balita umur tiga tahun bernama Bintang mengalami penurunan saturasi oksigen drastis sampai 78 persen sepuluh menit lalu. Tim pediatri sedang menahan laju gagal napas pakai ventilator tekanan tinggi!"
Nayla bergerak dengan ketangkasan luar biasa. Mantel luar dan tas pribadinya langsung diserahkan pada Rania, sementara jemarinya dengan cepat mengikat rambut panjangnya menjadi cepol rapi di belakang kepala.
"Foto rontgen thorax terakhir sudah keluar?" tancap Nayla tegas, matanya fokus menatap layar monitor indikator lift yang bergerak naik.
"Sudah, Dok, Ada gambaran ground-glass opacity meluas di kedua lobus paru-paru," jawab Rania cepat seraya menyerahkan tablet medis.
Narendra berdiri di samping Nayla. Kemeja hitam mewahnya sudah ditanggalkan, kini berganti menjadi baju hijau khas ruang operasi (scrub suit) yang memperlihatkan postur tubuhnya yang tegap berotot. Sepasang mata elangnya membaca grafik analisa di tablet Nayla dengan ketelitian yang mematikan.
"Saturasi 78 persen dengan ground-glass opacity meluas..." gumam Narendra, suaranya berat dan dalam. "Itu menandakan adanya akumulasi cairan serosanguinos di alveoli. Kalau kita cuma andalkan ventilator tanpa tindakan bronchoscopy darurat buat membersihkan sumbatan lendir pekat itu, anak itu bakal mengalami cardiac arrest dalam hitungan jam."
TING.
Pintu lift lantai lima terbuka. Koridor steril bernuansa putih bersih itu kini diterangi lampu indikator merah bertuliskan ZONA ISOLASI KETAT - KATEGORI RED ALERT.
Di depan pintu dekontaminasi, Profesor Suryo bersama tim dokter spesialis paru senior sudah menunggu dengan raut wajah sangat tegang.
"Narendra! Nayla!" panggil Profesor Suryo lega. "Terima kasih kalian langsung kembali dari Swiss. Situasi di dalam sangat kritis. Ada dua belas anak yang dirujuk, tapi kondisi pasien bernama Bintang yang paling memprihatinkan."
"Profesor, saya yang akan memimpin prosedur bronchoscopy dan pengambilan sampel jaringan paru darurat pada pasien." tegas Nayla tanpa ragu sedikit pun.
Aura keteguhan seorang Kepala Tim Riset Pediatri memancar kuat dari diri Nayla. Di depan pintu zona merah ini, dr. Nayla Kartikasari adalah sosok dokter spesialis anak terbaik yang siap bertaruh nyawa demi pasiennya.
Profesor Suryo mengangguk mantap. "Lakukan, Nayla. Seluruh tim pediatri berada di bawah komando kamu."
Namun sebelum Nayla melangkah masuk ke ruang ganti steril, sebuah tangan kekar meraih pergelangan tangannya.
Narendra memutar tubuh Nayla perlahan. Pria bedah itu membetulkan letak masker N95 di wajah istrinya, merapikan penutup kepala medis Nayla, lalu menatap lurus ke dalam manik mata bening sang istri.
"Aku yang akan pegang kendali jalur napas dan mendampingi prosedur tindakan kamu dari samping meja operasi," ujar Narendra rendah, suaranya sarat akan kombinasi otoritas pimpinan dan rasa cinta seorang suami yang amat protektif. "Fokus pada ekstraksi sampel dan pembersihan saluran napasnya, Sayang. Sisa kestabilan tanda vital pasien... biar aku yang selesaikan."
Nayla menatap mata suaminya, merasakan gelombang kekuatan dan kepastian mutlak yang selalu disalurkan oleh Narendra. Nayla mengangguk mantap. "Baik, Dok"
Sepuluh menit kemudian, di dalam Ruang Operasi Isolasi Tekanan Negatif Lantai Lima.
Suara bip-bip berirama dari monitor tanda vital memenuhi keheningan ruangan steril itu. Tubuh mungil pasien Bintang terbaring lemah di atas meja operasi, dikelilingi oleh jajaran mesin pendukung kehidupan.
Narendra berdiri di posisi kepala pasien, memegang kendali intubasi dan mengatur parameter mesin ventilator dengan presisi tingkat tinggi. Di sebelahnya, dr. Gibran bertindak sebagai dokter anestesi yang memantau tingkat kesadaran dan reaksi obat pasien.
Sementara itu, Nayla berdiri di sisi kanan meja operasi, memegang selang bronchoscope fleksibel berukuran micro khusus anak.
"Saturasi stabil di angka 84 persen pasca-pemberian pelumpuh otot, Naren," lapor Gibran ketat dari balik kaca helm pelindung hazmat-nya.
"Bagus," sahut Narendra dingin. Mata elangnya menatap tajam layar monitor kamera bronchoscopy. "Nayla, kamera masuk. Tiga sentimeter di atas karina paru."
"Diterima," jawab Nayla tenang. Jemari halus Nayla bergerak sangat stabil, memandu selang mikro masuk menyusuri saluran napas balita tersebut.
Di layar monitor raksasa ruangan itu, terlihat sumbatan cairan tebal berwarna kekuningan bercampur mukus pekat yang menutup hampir 80 persen rongga bronkus utama pasien.
"Sumbatan masif di bronkus kanan utama," analisis Nayla cepat. "Menyiapkan kanul penyedot mikro dan penjepit biopsi jaringan."
"Hati-hati, Nayla," peringat Narendra, suara baritonnya terdengar sangat fokus di dekat telinga Nayla. "Dinding bronkus balita ini sangat rapuh akibat inflamasi akut. Gesekan kecil bisa pemicu pendarahan masif."
"Paham," respon Nayla.
Ruangan mendadak hening mencekam. Semua mata perawat dan dokter senior yang menyaksikan dari balik kaca pembatas luar menahan napas.
Dengan akurasi gerakan jemari yang luar biasa presisi—hasil dari ribuan jam latihan dan bakat alaminya—Nayla secara perlahan menyedot cairan pekat tersebut milimeter demi milimeter, lalu mengambil sampel kecil jaringan epitel paru yang terinfeksi untuk dimasukkan ke dalam tabung isolasi berlabel steril.
BIP... BIP... BIP...
Tiba-tiba, grafik detak jantung di monitor melonjak naik drastis. Heart rate 165... 170... 180 bpm
"Tekanan darah drop! 70 per 40!" seru Gibran cepat. "Pasien mengalami reaksi bronkospasme berat!"
"Nayla, tahan selang!" perintah Narendra tegas, suaranya tetap stabil meski atmosfer ruangan mencekam. Tanpa sedikit pun panik, tangan kekar Narendra bergerak secepat kilat menyuntikkan bronkodilator dosis tinggi langsung melalui jalur IV pasien, sambil tangannya yang lain mengontrol pompa ventilasi manual untuk menyuplai oksigen murni.
"Saturasi naik kembali! 89... 92... 95 persen" lapor Gibran dengan napas lega.
Nayla menghembuskan napas panjang di balik maskernya. Jemarinya menarik keluar selang bronchoscope dengan sempurna beserta sampel jaringan yang berhasil diamankan tanpa ada pendarahan sedikit pun di saluran napas pasien.
"Sumbatan bronkus kanan berhasil dibersihkan sepenuhnya," ujar Nayla lantang dan lega. "Saturasi oksigen pasien kembali stabil di angka 98 persen"
Tepuk tangan haru dan sorak lega seketika meledak dari balik kaca ruang kontrol luar Para dokter senior dan Profesor Suryo mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi atas keberhasilan operasi darurat tim gabungan tersebut.
Pukul empat pagi.
Prosedur dekontaminasi selesai dilakukan. Nayla dan Narendra melangkah keluar dari area steril, melepas helm pelindung dan mantel hazmat mereka. Peluh membasahi rambut dan dahi kedua dokter itu.
Nayla menyandarkan punggungnya di dinding koridor, menghela napas panjang sambil memejamkan mata akibat kelelahan fisik yang luar biasa setelah terbang belasan jam dari Swiss dan langsung memimpin operasi rumit.
Tiba-tiba, sebuah usapan hangat mendarat di pelipisnya.
Nayla membuka mata. Narendra sudah berdiri rapat di depannya, memegang handuk kecil steril dan dengan sangat lembut mengusap keringat di wajah cantik istrinya. Sepasang mata elang pria bedah itu menatap Nayla dengan rasa bangga dan kehangatan yang tak terhingga.
"Operasi yang sangat impresif, Dokter Nayla," bisik Narendra rendah, menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan.
Nayla tersenyum manis, memiringkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di telapak tangan kekar suaminya yang hangat. "Kan ada Asisten Dokter Bedah terbaik yang mendampingi di sebelah aku."
Narendra terkekeh pelan—suara rendah yang bergetar di dadanya. Ia menunduk, mendaratkan ciuman hangat yang lama di kening Nayla, tidak peduli bahwa mereka masih berada di koridor steril rumah sakit.
"Sampel jaringan sudah dikirim ke laboratorium virologi lantai tiga," lanjut Narendra seraya merengkuh pinggang Nayla, menopang sebagian berat tubuh istrinya yang mulai lemas. "Sekarang, Nyonya Adiwijaya harus ikut aku ke ruang istirahat privat. Tidak ada bantahan."
Nayla tertawa pelan, melingkarkan tangannya di pinggang tegap suaminya saat mereka melangkah bersama menyusuri koridor.
Haii friends!! How are you guys?
Btw aku mau disclaimer dulu, ini bahasa medisnya gatau bener apa engga soalnya sumbernya dari google hehe, jadi buat kalian yang lebih tau bahasa medisnya boleh kasih tau aku di kolom komentar yaa
baiiiiii
Ramein kolom komentar nya dong guyss🥺👉🏻👈🏻
Janlup follow nanti aku follback suerrrr