Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Mendengar Semua
Sore telah berganti malam ketika Emma tiba di Alexander Manor.
Begitu masuk kamar, ia langsung mengambil ponselnya.
Pesan terakhir dari Ella masih terbuka.
Lusa aku ke London.
Emma menjatuhkan diri ke sofa.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam.
Kedatangan Ella seharusnya tidak menjadi masalah.
Mereka bisa saja bertemu secara diam-diam, seperti sebelumnya.
Tetapi kali ini berbeda.
Ella akan berada di London selama seminggu.
Di kota yang sama dengan Ralph.
Dan Emma sendiri tinggal di rumah keluarga Alexander.
Pikiran itu membuat napasnya mendadak tidak teratur.
Bagaimana jika seseorang melihat mereka bersama?
Bagaimana jika Ralph mengetahui semuanya?
Emma memejamkan mata.
Ia membayangkan wajah pria itu saat mengetahui bahwa selama ini istrinya bukanlah wanita yang sebenarnya.
Ralph mungkin tidak akan memaafkannya.
Keluarga Alexander pun pasti menganggapnya telah mempermainkan kehormatan mereka.
Belum lagi pekerjaannya.
Perusahaan Williams bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang.
Posisi yang dimiliki Emma diperoleh melalui kemampuan dan kerja keras yang dibangun secara bertahun-tahun.
Jika identitas mereka terbongkar, semuanya bisa berakhir.
Emma berdiri dan berjalan menuju jendela.
Tangannya dingin.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mempertimbangkan kemungkinan yang selama ini tidak ingin dipikirkannya.
Mereka harus kembali.
Ella kembali ke London sebagai dirinya sendiri.
Emma kembali ke New York.
Selesai.
Seharusnya sederhana.
Namun anehnya...
Ketika Emma membayangkan harus meninggalkan kehidupan yang sekarang dijalaninya, dadanya justru terasa semakin berat.
Ia terdiam.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Ponselnya bergetar.
Ella menelepon.
Emma segera mengangkatnya.
"Halo."
"Emma..."
Suara Ella terdengar gelisah.
"Aku terus memikirkan perjalanan ke London nanti."
"Aku juga."
Hening sejenak.
Kemudian Ella bertanya,
"Menurutmu apa kita harus berhenti?"
Emma tidak langsung menjawab.
Ia menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.
"Entahlah."
"Aku takut kalau kita teruskan."
Emma menghela napas.
"Tapi aku juga tidak yakin ingin kembali sekarang."
Ella terdiam di seberang.
Mereka sama-sama memahami maksud masing-masing.
Pertukaran yang awalnya hanya dilakukan untuk mengetahui bagaimana rasanya hidup sebagai orang lain telah membawa mereka terlalu jauh.
Emma akhirnya berkata,
"Kita jangan mengambil keputusan malam ini."
"Kenapa?"
"Karena kita sedang panik."
Ia menutup matanya.
"Kita bicara lagi besok. Sebelum kau berangkat."
Ella mengangguk meskipun Emma tidak dapat melihatnya.
"Baik."
Panggilan berakhir.
Emma masih berdiri di depan jendela.
Di luar, lampu-lampu taman Alexander Manor mulai menyala satu demi satu.
Ia menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya, Emma menyadari bahwa masalah terbesar mereka bukan lagi bagaimana mempertahankan penyamaran.
Melainkan...
apakah mereka masih benar-benar ingin kembali menjadi diri mereka sendiri.
Emma masih berdiri di depan jendela ketika pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia langsung membeku.
Jantungnya seakan berhenti sesaat.
Pintu yang sejak tadi tidak ia sadari belum tertutup rapat bergerak sedikit.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Emma buru-buru berbalik.
Kemudian sebuah suara terdengar dari balik pintu.
"Aku."
Ralph.
Wajah Emma seketika berubah.
Ralph?
Bukankah pria itu masih berada di kantor?
Ia yakin ketika meninggalkan Alexander Corporation tadi, Ralph masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.
Emma segera melirik ponselnya.
Percakapannya dengan Ella baru saja berakhir.
Dan kalimat-kalimat mereka...
Sebagian mungkin telah terdengar.
"Kita harus berhenti?"
"Aku takut kalau kita teruskan."
"Aku tidak yakin ingin kembali sekarang."
Kalau Ralph mendengar semuanya...
Selesai.
Emma buru-buru mengusap wajahnya, berusaha menenangkan diri.
"Masuk."
Pintu terbuka.
Ralph berdiri di sana tanpa jas, hanya mengenakan kemeja dengan lengan yang sedikit digulung.
Emma menatapnya beberapa detik.
"Kau sudah pulang? Kenapa sangat cepat?"
"Sudah."
Ralph masuk beberapa langkah.
"Tadi aku mendengar suara."
Emma menegang.
"Suara?"
"Kau sedang berbicara dengan seseorang?"
Darah Emma terasa turun ke telapak kaki.
Dia mendengar.
Pasti mendengar.
"Ya."
Emma berusaha tersenyum.
"Dengan dia."
Ralph mengangguk.
Ia tidak terlihat curiga.
"Sepertinya pembicaraan kalian cukup serius."
Emma terdiam.
Jantungnya masih berdegup kencang.
"Seberapa banyak yang kau dengar?"
Ralph menatapnya.
"Entahlah."
Jawaban itu membuat Emma semakin tegang.
"Aku hanya mendengar beberapa kalimat."
"Seperti apa?"
Ralph berpikir sejenak.
"Kalian membicarakan sesuatu yang harus dihentikan."
Emma membeku.
Ralph melanjutkan,
"Dan kau terdengar seperti sedang mempertimbangkan untuk kembali."
Wajah Emma semakin pucat.
Namun Ralph sama sekali tidak melihatnya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan identitas.
Ia justru berpikir istrinya sedang menghadapi masalah lain.
"Kalau kau sedang mengalami masalah..."
Ralph berhenti sejenak.
"Kau bisa memberitahuku."
Emma menatapnya.
Ada sesuatu yang aneh dari kalimat itu.
Ralph biasanya tidak banyak bertanya.
Tidak pernah memaksa.
Namun malam ini...
Ia berdiri di depan pintunya hanya karena mendengar nada suaranya berubah.
"Aku tidak apa-apa."
Emma menjawab cepat.
Ralph menatapnya cukup lama.
"Kau terlihat tidak baik-baik saja."
"Aku hanya lelah."
"Karena pembicaraan dengan teman mu?"
Emma mengangguk.
"Ya."
Ralph tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya mengangguk.
"Kalau begitu, istirahatlah."
Emma mengira pria itu akan pergi.
Namun sebelum keluar, Ralph berhenti di ambang pintu.
"Dan Ella..."
Emma langsung menahan napas.
Ralph menoleh.
"Jangan membuat keputusan besar saat sedang marah atau takut."
Emma menatap punggungnya.
"Baik."
Ralph akhirnya pergi.
Pintu kembali tertutup.
Emma berdiri tanpa bergerak.
Tangannya masih dingin.
Ia menekan dadanya.
Ralph mendengar.
Tetapi...
Ia tidak mengerti.
Ia tidak tahu bahwa percakapan tadi bukan tentang masalah pekerjaan.
Tidak tahu bahwa "kembali" yang mereka maksud bukan sekadar kembali dari London.
Dan yang paling penting...
Ralph sama sekali tidak membayangkan bahwa wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah Ella.
Emma mengembuskan napas panjang.
Hampir saja.
Sedikit saja Ralph memahami maksud percakapan itu...
semuanya mungkin berakhir malam ini.
Ralph berjalan meninggalkan kamar Emma dengan langkah tenang.
Namun begitu berada di lorong, sudut bibirnya terangkat.
Senyum tipis.
Emma mungkin mengira dirinya tidak mendengar atau tidak memahami percakapan tadi.
Sayangnya...
Ralph bukan pria bodoh.
Ia sudah memperhatikan perubahan istrinya sejak beberapa waktu terakhir.
Awalnya ia menganggapnya sebagai perubahan sikap biasa.
Ella yang dulu pendiam kini jauh lebih tegas.
Cara bicaranya berubah.
Pilihan katanya berbeda.
Bahkan aksennya terdengar semakin jelas.
Ralph berhenti berjalan.
Ia mengingat kembali beberapa percakapan mereka.
Dulu, Ella memiliki cara berbicara yang lembut dan khas inggris.
Sekarang...
Ada aksen lain yang lebih kuat dalam setiap kalimatnya.
Hal semacam itu tidak mudah berubah begitu saja.
Kemudian penampilannya.
Rambutnya memang berbeda karena perubahan gaya.
Namun bukan hanya itu.
Ralph pernah berdiri cukup dekat dengannya dan menyadari tinggi tubuhnya tampak sedikit berbeda.
Warna kulitnya pun terlihat tidak persis sama.
Kebiasaan kecilnya juga berubah.
Cara memegang gelas.
Cara berjalan.
Cara memilih pakaian.
Bahkan cara menatap orang ketika sedang tidak menyukai sesuatu.
Terlalu banyak.
Ralph menyandarkan punggungnya pada dinding lorong.
"Siapa sebenarnya kau?"
Senyumnya menghilang.
Selama hampir lima tahun menikah, ia merasa mengenal istrinya.
Namun beberapa minggu terakhir membuat keyakinan itu perlahan runtuh.
Dan percakapan barusan semakin memperkuat perasaannya.
Emma berkata ingin kembali.
Takut jika mereka meneruskan sesuatu.
Namun Ralph tidak tahu apa yang dimaksud.
Ia juga belum mengetahui satu fakta yang paling penting.
Bahwa istrinya memiliki saudari kembar.
Ralph bahkan tidak pernah membayangkan kemungkinan itu.
Baginya, Ella adalah anak tunggal.
Perempuan yang selama lima tahun menjadi istrinya.
Tetapi jika memang begitu...
Lalu mengapa perubahan itu terasa seperti seseorang sedang menggantikan dirinya?
Ralph mengeluarkan ponsel.
Ia membuka kontak asistennya.
Jarinya berhenti beberapa detik sebelum mengetik sebuah pesan.
"Cari tahu semua perubahan dalam kehidupan Ella istriku beberapa bulan terakhir. Jangan lewatkan hal kecil. Dan lakukan secara diam-diam."
Pesan terkirim.
Ralph memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Ia tidak berniat menuduh istrinya.
Belum.
Ia hanya ingin mengetahui kebenaran.
Apa yang membuat wanita yang selama hampir lima tahun begitu tenang tiba-tiba berubah menjadi keras kepala, berani, bahkan mampu membuat jantungnya berdebar hanya dengan satu tatapan?
Ralph kembali berjalan menuju kamarnya.
Namun satu hal sudah pasti.
Mulai malam ini...
Ia akan memperhatikan istrinya lebih teliti.
Karena jika perubahan itu memiliki alasan...
Ralph akan menemukannya.