Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Besar yang Tidak Bisa Dipinjam
Sejak Alya dan Celine mulai menjalani masa magang di Aether Global Group, kehidupan mereka perlahan berubah.
Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi bagian dari keluarga besar Amara. Bukan pula karena Arsen, Raka, dan Nayla memperlakukan mereka seperti saudara.
Justru sebaliknya, ketiganya tetap menjaga jarak. Arsen memperlakukan mereka seperti peserta magang lainnya. Raka bahkan terkenal lebih tegas ketika memberikan evaluasi. Sementara Nayla, meskipun lebih mudah diajak berbicara, tetap memahami batas yang ada.
Alya dan Celine pun tidak pernah menuntut lebih. Mereka datang untuk belajar, bekerja dan membuktikan bahwa kesempatan yang mereka dapatkan memang layak mereka perjuangkan.
Namun dunia tidak selalu sesederhana itu. Terutama ketika sebuah nama besar mulai dikaitkan dengan seseorang.
Awalnya hanya bisikan kecil. Di kantin, ruang istirahat dan di antara beberapa karyawan yang sedang menunggu lift.
“Katanya dua anak magang itu ada hubungan keluarga dengan Direktur Arsen.”
“Serius?”
“Iya. Mereka anak Pak Reza.”
“Pak Reza yang driver itu?”
“Katanya begitu.”
“Pantas bisa masuk Aether.”
"Tapi apa hubungannya Pak Reza dengan group Aether?"
"Tidak tahu, tapi intinya masih ada hubungan kekeluargaan."
Bisikan itu semakin sering terdengar. Awalnya Alya tidak memperhatikannya. Sampai suatu pagi, seorang peserta magang lain menghampirinya.
“Kamu benar adiknya Arsen?”
Alya langsung menatapnya.
“Bukan.”
“Bukannya kalian saudara?”
“Hubungan kami rumit. Tapi aku tidak pernah mengaku sebagai adiknya.”
Orang itu mengangguk, tetapi ekspresinya justru terlihat semakin penasaran.
“Berarti benar dong?”
Alya menghela napas.
“Yang benar apa?”
“Katanya kamu dan Celine bisa masuk sini karena hubungan keluarga.”
Alya langsung diam. Dadanya terasa tidak nyaman.
“Aku masuk melalui program magang.”
“Ya, tapi—”
“Aku ikut seleksi seperti peserta lainnya.”
Alya kemudian pergi. Namun pembicaraan itu tidak berhenti. Justru semakin berkembang.
Beberapa hari kemudian, Celine mengalami hal yang sama. Seorang peserta magang perempuan menghampirinya saat mereka sedang menunggu rapat dimulai.
“Kamu enak ya.”
Celine menoleh.
“Kenapa?”
“Punya kakak pemilik perusahaan.”
Celine langsung mengernyit.
“Mereka bukan kakakku.”
Perempuan itu tertawa kecil.
“Ah, jangan pura-pura.”
Celine menahan napas.
“Aku serius.”
Namun perempuan itu sudah pergi sambil tersenyum. Celine menatap punggungnya. Ada sesuatu yang mulai membuatnya tidak nyaman. Bukan karena dirinya malu memiliki hubungan darah dengan keluarga Amara. Tetapi karena ia tahu betapa kerasnya Alya bekerja.
Betapa sering mereka pulang paling akhir dan mereka selalu berusaha menghindari perlakuan khusus.
Lalu sekarang semua kerja keras itu seolah-olah tidak berarti. Karena orang-orang hanya melihat nama.
Hari berikutnya, sebuah kejadian kecil membuat rumor tersebut semakin besar. Seorang manajer senior memanggil Alya setelah rapat.
“Kamu tidak perlu terlalu khawatir soal evaluasi.”
Alya menatapnya bingung.
“Maksud Bapak?”
Pria itu tersenyum.
“Kita ini satu lingkungan.”
Alya tidak menjawab.
“Kalau ada masalah, nanti saya bisa bantu bicara dengan pihak atas.”
Alya langsung merasa tidak nyaman.
“Saya rasa tidak perlu, Pak.”
“Tidak usah sungkan.”
“Saya benar-benar bisa mengurusnya sendiri.”
Pria itu masih tersenyum.
“Kamu terlalu serius.”
Alya hanya mengangguk kecil. Namun setelah pria tersebut pergi, ia mulai menyadari sesuatu. Orang-orang mulai memperlakukannya berbeda. Bukan karena prestasinya. Tetapi karena nama keluarga yang bahkan tidak pernah ia gunakan.
Sore itu, Celine menemukan Alya duduk sendirian.
“Kamu kenapa?”
Alya menceritakan kejadian tersebut.
Celine menghela napas panjang.
“Ini mulai keterlaluan.”
“Aku tahu.”
“Kita harus bagaimana?”
Alya menatap meja.
“Jangan melakukan apa-apa.”
“Kenapa?”
“Kalau kita bereaksi berlebihan, mereka akan semakin yakin.”
Celine terdiam. Namun keduanya tidak tahu bahwa pembicaraan mereka sudah sampai ke telinga seseorang. Dan orang itu bukan sembarang orang.
Asisten Arsen berdiri di depan pintu ruang kerja atasannya.
“Pak.”
Arsen mengangkat wajah dari dokumen.
“Ada apa?”
“Saya ingin melaporkan sesuatu.”
Arsen meletakkan pena.
“Bicara.”
Asistennya kemudian menjelaskan tentang rumor yang beredar di kantor. Wajah Arsen tidak berubah. Namun sorot matanya perlahan menjadi lebih dingin.
“Siapa yang pertama menyebarkannya?”
“Kami belum menemukan sumber awalnya.”
“Cari.”
“Baik.”
Arsen kembali membuka dokumen.
Namun sebelum asistennya keluar, ia berkata,
“Dan jangan libatkan Alya atau Celine dalam penyelidikan.”
Asisten mengangguk.
“Baik, Pak.”
Arsen menatap layar di depannya. Ia tidak peduli apakah orang-orang ingin membicarakan hubungan darah itu. Tetapi jika rumor tersebut mulai memengaruhi sistem kerja perusahaan, maka masalahnya berbeda.
Aether Global bukan tempat untuk permainan koneksi. Apalagi menggunakan nama keluarga untuk mendapatkan keuntungan.
Di ruangan lain, Raka juga menerima laporan serupa. Berbeda dengan Arsen, reaksinya jauh lebih langsung.
“Siapa yang mengatakan mereka mendapatkan posisi karena keluarga?”
“Belum diketahui, Pak.”
Raka menutup map.
“Cari.”
“Baik.”
“Dan kalau ditemukan?”
Raka menatap asistennya.
“Bawa buktinya. Jangan bawa gosip.”
“Baik, Pak.”
Raka tidak menyukai rumor. Bukan karena ia takut pada gosip. Tetapi karena rumor bisa menghancurkan reputasi seseorang yang tidak bersalah.
Dan kali ini, dua orang yang sedang menjadi sasaran adalah Alya dan Celine. Namun itu bukan berarti Raka tiba-tiba merasa menjadi kakak mereka.
Ia hanya tidak ingin perusahaan yang dipimpinnya berubah menjadi tempat di mana seseorang dihukum berdasarkan cerita yang tidak terbukti.
Sementara itu, Nayla mendengar kabar tersebut dari salah satu staf rumah sakit.
Ia hanya diam beberapa saat.
“Celine juga mendengar?”
“Iya, Nona.”
Nayla menghela napas.
“Jangan perlakukan dia berbeda.”
Staf tersebut mengangguk.
“Baik.”
Nayla kemudian kembali bekerja. Ia tidak berniat mencari Celine atau menenangkannya. Bukan karena ia tidak peduli. Tetapi karena ia tahu batas. Celine bukan adiknya. Dan ia tidak ingin menciptakan kedekatan palsu hanya karena merasa kasihan. Namun jika seseorang memperlakukannya tidak adil, Nayla tidak akan membiarkannya.
Malam itu, laporan lengkap akhirnya sampai ke tangan Amara. Ia membaca seluruh dokumen tanpa berkata apa-apa. Satu nama, dua nama, kemudian beberapa nama lainnya.
Ada karyawan yang mulai menyebarkan rumor. Ada yang menambahkan cerita. Ada yang memanfaatkan rumor tersebut untuk mendekati Alya. Dan ada pula seseorang yang sengaja membesar-besarkan hubungan keluarga mereka.
Amara menutup dokumen.
“Siapa sumber pertamanya?”
Arsen menjawab,
“Kami sedang memastikan.”
“Bukan perkiraan?”
“Bukan.”
Amara mengangguk.
“Bagus.”
Raka duduk di sisi lain ruangan.
“Masalahnya sudah mulai memengaruhi cara beberapa orang memperlakukan mereka.”
Amara menatapnya.
“Aku tahu.”
Nayla ikut berada di ruangan tersebut. Ia diam sejak tadi.
Amara kemudian berkata,
“Aku tidak suka orang bergosip.”
Tidak ada yang menjawab.
“Bukan karena aku peduli dengan omongan mereka.”
Tatapan Amara menjadi lebih tajam.
“Aku peduli ketika gosip mulai mengubah keputusan seseorang.”
Ia berdiri.
“Nama keluarga ini tidak boleh digunakan sembarangan.”
Arsen mengangguk.
“Aku mengerti.”
Amara menatap ketiga anaknya satu per satu.
“Aku membantu Alya dan Celine karena mereka pantas mendapatkan kesempatan.”
Raka menyandarkan tubuhnya.
“Dan mereka tidak pernah meminta perlakuan khusus.”
“Aku tahu.”
Amara kemudian berkata,
“Karena itu jangan kalian berikan.”
Nayla menatap ibunya.
Amara melanjutkan,
“Kalian tidak perlu menjadi dekat dengan mereka.”
Ruangan menjadi hening.
“Tidak perlu berpura-pura menjadi kakak.”
Tatapan Amara tetap tenang.
“Kalau kalian tidak nyaman, jaga jarak.”
Arsen mengangguk.
“Aku memang begitu.”
Raka berkata singkat,
“Aku juga.”
Nayla hanya mengangguk. Amara kemudian kembali duduk.
“Tapi perlakukan mereka dengan adil.”
Ketiganya memahami maksudnya. Bukan hubungan keluarga yang penuh kasih sayang. Tapi keadilan.
“Itu saja.”
Keesokan harinya, seluruh Aether Global Group menerima sebuah memo resmi.
Singkat tanpa emosional.
Namun cukup membuat seluruh karyawan membaca dua kali.
Dilarang menggunakan hubungan personal, hubungan keluarga, maupun kedekatan dengan jajaran direksi untuk memperoleh posisi, fasilitas, akses, atau keuntungan pribadi.
Setiap bentuk penyalahgunaan hubungan tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap kebijakan perusahaan.
Nama Amara tercantum di bagian bawah. Tidak ada penjelasan tambahan untuk mengingatkan. Semua orang tahu siapa yang membuat aturan tersebut.
Suasana kantor berubah. Beberapa orang yang sebelumnya terlalu ramah kepada Alya dan Celine mendadak menjaga jarak.
Namun bagi Alya dan Celine, hal tersebut justru membuat mereka sedikit lega. Setidaknya sekarang mereka tidak perlu terus-menerus menjelaskan diri.
Beberapa jam kemudian, mereka dipanggil ke lantai atas. Alya berjalan bersama Celine. Keduanya sudah menduga siapa yang akan mereka temui.
Ketika pintu terbuka, Amara sedang berdiri di dekat jendela.
Ia berbalik.
“Duduk.”
Keduanya duduk.
Amara mengambil sebuah dokumen.
“Kalian sudah membaca memo tadi?”
“Sudah, Madam.”
“Bagus.”
Amara menatap mereka.
“Kalian tidak melakukan kesalahan.”
Alya mengangguk.
“Terima kasih.”
“Tapi mulai sekarang, kalian harus lebih berhati-hati.”
Celine mengangguk.
“Kami mengerti.”
Amara kemudian berkata,
“Jangan pernah menggunakan nama anak-anakku”
Keduanya terdiam. Tatapan wanita itu semakin tegas.
“Apalagi menggunakan namaku.”
Alya langsung menjawab,
“Kami tidak pernah bermaksud begitu, Madam.”
“Aku tahu.”
Jawaban Amara cepat.
“Itulah sebabnya aku mengatakan ini langsung kepada kalian.”
Suasana menjadi lebih tenang.
“Aku tidak ingin kalian hidup dengan rasa takut karena masa lalu orang tua kalian.”
Celine menunduk.
“Tapi aku juga tidak ingin kalian hidup dengan meminjam nama keluarga orang lain.”
Alya menggigit bibir.
“Baik, Madam.”
Amara mengangguk.
“Kalian boleh pergi.”
Keduanya berdiri. Sebelum mereka keluar, Amara berkata,
“Dan jangan pedulikan orang yang berbicara terlalu banyak.”
Celine menoleh. Amara tersenyum tipis.
“Buktikan saja dengan pekerjaan.”
Mereka mengangguk.
“Baik, Madam.”
Setelah pintu tertutup, Amara kembali duduk. Namun masalah belum selesai. Karena beberapa jam kemudian, tim internal akhirnya menemukan sumber awal rumor.
Seorang manajer senior yang sejak awal sengaja membangun kedekatan dengan Alya.
Ia menggunakan rumor tersebut untuk menciptakan kesan bahwa dirinya memiliki akses khusus kepada keluarga Madam A. Dan ternyata, ia bukan satu-satunya.
Ada beberapa orang yang mulai memanfaatkan cerita itu untuk kepentingan masing-masing. Amara membaca laporan tersebut. Wajahnya tetap tenang. Namun kali ini, senyumnya tidak terlihat sama sekali.
“Panggil mereka.”
Arsen mengangguk.
“Baik.”
Amara menatap keluar jendela. Ia bisa memaafkan masa lalu dan juga membantu anak-anak yang tidak bersalah.
Tetapi satu hal tidak akan pernah ia toleransi. Seseorang menggunakan nama yang telah dibangun keluarganya selama bertahun-tahun untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Karena bagi Amara, nama keluarga bukan tiket masuk dan alat tawar menawar.
Bukan juga sesuatu yang bisa dipinjam oleh siapa saja. Nama itu harus dijaga. Bahkan oleh mereka yang memilikinya sendiri.
Dan mulai hari itu, siapa pun yang mencoba menggunakannya sembarangan akan berhadapan langsung dengan Madam A.