Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 28 — STRATEGI ANITA DAN ANOMALI DI R
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA
BAB 28 — STRATEGI ANITA DAN ANOMALI DI RUANG REKAP MEDIS
Keesokan harinya, Sabtu pagi. Pukul 09.15 WIB.
Sinta sedang duduk di area rekap medis Poli Anak RS Santika dengan jas putih dokter yang membalut tubuhnya. Setelah menyembunyikan identitas sang suami dari cecaran Rhea di kampus kemarin, Sinta kembali memfokuskan pikirannya pada tugas koas. Namun, konsentrasinya terpecah ketika ponselnya di atas meja bergetar pendek.
[Mas Robot]: Rian sudah berada di area parkir basement B2. Apabila jadwal evaluasi klinis kamu telah selesai pada pukul 12.00, segera menuju ke sana. Ada penyesuaian agenda domestik.
Sinta menahan senyumnya, mengetik balasan dengan kilat.
[Sinta]: Siap, Pak CEO! Tapi gak ada denda keterlambatan kan kalau pasiennya lagi heboh? 😜
[Mas Robot]: Toleransi batas waktu: sepuluh menit. Lebih dari itu, akan ada pemotongan hak waktu istirahat kamu di rumah.
"Pemotongan hak waktu istirahat..." gumam Sinta pelan, menggelengkan kepalanya gemas. Dasar robot kaku! Mau ngajak jalan atau mau bikin surat peringatan kerja sih?!
Sementara itu, di area lobi utama RS Santika, sosok wanita berpakaian serba formal dengan kemeja blouse krem dan rok pensil hitam melangkah masuk dengan gaya angkuh. Sekretaris Anita.
Setelah pemindahan mejanya resmi diproses pagi ini oleh manajemen Wijaya Group, rasa penasaran dan harga diri Anita yang terluka benar-benar mendorongnya ke batas nekat. Menggunakan koneksi jaringan relasi keluarganya di bidang administratif medis, Anita berhasil mengamankan akses masuk sebagai tamu peninjau fasilitas kesehatan.
"Keluarga Aniswari memiliki saham di RS Santika ini," bisik Anita pada dirinya sendiri sembari melihat papan direktori dokter. "Jika Pak Dean menikah dengan putri keluarga Aniswari, berarti dia pasti ada di antara daftar dokter atau direksi di sini."
Anita berjalan menyusuri koridor lantai dua, matanya meneliti setiap papan nama dokter spesialis dan residen yang terpajang. Langkahnya terhenti di depan Poli Anak. Melalui pintu kaca yang sedikit terbuka, pandangannya menangkap sosok gadis muda berjas dokter yang sedang tertawa kecil membaca ponselnya.
Anita menyipitkan mata. Foto di CV pelamar internal yang pernah lewat di meja kerja Dean beberapa minggu lalu terlintas seketika di kepalanya.
"Sinta... Aniswari?" gumam Anita, kecerdasannya sebagai sekretaris senior langsung menghubungkan titik-titik misteri tersebut. "Gadis koas 21 tahun ini... Nyonya Wijaya?!"
Napas Anita tertahan. Bayangan "Nyonya Wijaya yang anggun dan berkelas" yang selama ini ada di imajinasinya hancur berkeping-keping. Wanita yang berhasil membuat CEO dingin seperti Dean Galang Wijaya bertekuk lutut, mengubah nama kontak, dan memakai kemeja bercap bibir ke rapat direksi... ternyata hanyalah seorang mahasiswi kedokteran muda yang memegang ponsel sambil tersenyum polos!
[POV Anita]
Ini tidak masuk akal. Pak Dean adalah pria yang mengedepankan efisiensi, rasionalitas, dan reputasi tinggi. Bagaimana mungkin pria sekelas beliau memilih gadis koas yang bahkan belum menyelesaikan gelar dokternya untuk menjadi pendamping hidup? Apakah ini murni pernikahan politik antar-korporasi? Tapi jika ini hanya pernikahan bisnis, mengapa Pak Dean sampai memasang barikade pembatasan jarak padaku dan membela wanita ini begitu mutlak? Aku harus membuktikannya sendiri.
Anita membenarkan posisi tasnya, lalu melangkah mantap memasuki area Poli Anak, berpura-pura menjadi pengunjung resmi yang sedang mencari informasi.
"Permisi," suara Anita yang dibuat seramah mungkin menginterupsi Sinta yang sedang mencatat rekam medis.
Sinta mendongak, menyunggingkan senyum ramah khas dokternya—topeng anggun dan profesionalnya refleks terpasang. "Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
Anita menatap Sinta dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meneliti yang sangat tajam. "Saya sedang mencari Dokter Sinta Aniswari. Apakah itu Anda?"
Sinta mengerjap, menyadari aura yang kurang bersahabat namun sangat familiar dari wanita di depannya. Gaya bicara dan pakaian wanita ini... sangat mirip dengan standar pegawai tinggi di korporat besar.
"Saya sendiri," jawab Sinta tenang, senyumnya tetap terjaga. "Ada keperluan apa ya, Mbak?"
Anita tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh sindiran yang tersirat. "Saya Anita. Sekretaris Utama dari Wijaya Group."
Jleg.
Jantung Sinta mendadak berhenti berdetak selama satu detik. Nama itu... Sekretaris Anita! Wanita yang dulu diceritakan Dean selalu mencoba melanggar batas jarak satu setengah meter di kantor!