Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Menghadap Gereja
Katedral Utama Gereja Cabang Utara berdiri megah di tengah Kota Aurelian, ibu kota keuskupan yang jauh lebih besar dan ramai dari kota-kota kecil yang selama ini mereka singgahi. Menara-menara batu putihnya menjulang tinggi, dihiasi kaca patri berwarna-warni yang berkilau ditimpa cahaya matahari pagi, dan bendera-bendera bergambar matahari bersinar berkibar megah di sepanjang jalan menuju gerbang utamanya.
Perjalanan dari Millbrook memakan waktu hampir sepuluh hari, dan sepanjang jalan itu, Sasuke terus memikirkan kata-kata yang akan ia sampaikan, mempertimbangkan setiap kemungkinan skenario yang mungkin terjadi.
"Kau yakin ingin melakukan ini secara terbuka?" Saviera bertanya, berjalan di sampingnya menuju gerbang katedral, Elaina menggenggam tangan mereka berdua seperti biasa. "Bukan diam-diam, seperti waktu kau bicara dengan sosok di Aldric?"
"Kali ini berbeda," Sasuke menjawab. "Aku tidak mencoba menyelinap masuk untuk mencari informasi. Aku ingin mereka tahu aku serius, dan itu berarti menghadapi mereka secara langsung, dengan identitasku sendiri."
Mereka memutuskan untuk menitipkan Elaina pada seorang penjaga gerbang yang tampak ramah sebelum memasuki area dalam katedral—namun Elaina, seperti biasa, menolak keras.
"Elaina mau ikut!" ia bersikeras, menggenggam tangan Sasuke lebih erat. "Kalau Papa kena bahaya, Elaina mau ada di sana!"
Sasuke berlutut sejenak, menatap mata bulat Elaina yang penuh tekad. "Ini bukan tempat berbahaya, Sayang. Tapi ini pembicaraan orang dewasa yang penting. Aku janji akan baik-baik saja, dan kita akan langsung pergi jalan-jalan setelah ini selesai, ke mana pun kau mau."
Elaina menatapnya lama, mempertimbangkan tawaran itu dengan keseriusan yang jarang dimiliki anak seusianya, sebelum akhirnya mengangguk pelan, meski dengan wajah yang masih menunjukkan kekhawatiran.
"Janji jalan-jalan?"
"Janji," Sasuke menjawab, mengaitkan kelingking mereka sekali lagi sebelum akhirnya menyerahkannya pada penjaga gerbang yang baik hati itu.
---
Bagian dalam katedral jauh lebih megah dari yang Sasuke bayangkan—langit-langit tinggi dipenuhi lukisan fresco menggambarkan kisah-kisah suci, lantai marmer berkilau memantulkan cahaya dari jendela-jendela kaca patri raksasa, dan aroma dupa yang samar mengambang di udara.
Mereka diarahkan oleh seorang pendeta muda menuju sebuah ruang tunggu, dan tidak lama kemudian, Uskup Valemont muncul, wajahnya menampilkan keterkejutan yang cepat berubah menjadi senyum formal yang sama seperti pertemuan pertama mereka.
"Tuan Uchiha," ia menyapa, membungkuk singkat. "Kunjungan yang tidak terduga. Dan Nyonya—" ia melirik Saviera dengan senyum yang sulit diartikan, "—senang bertemu lagi."
"Aku datang untuk membicarakan program 'Ksatria Suci'," Sasuke berkata langsung, tidak membuang waktu untuk basa-basi.
Senyum Uskup Valemont sedikit memudar, digantikan ekspresi yang lebih waspada. "Ah. Aku menduga itu akan menarik perhatianmu. Ayo, mari kita bicara di ruangan yang lebih pribadi."
---
Mereka dibawa ke sebuah ruangan kerja yang lebih kecil, dihiasi rak-rak buku dan sebuah meja kayu besar tempat Uskup Valemont duduk dengan anggun di seberang mereka.
"Kau ingin tahu kenapa kami memulai program ini," Uskup Valemont memulai, tangannya terlipat rapi di atas meja. "Jawabannya sederhana, Tuan Uchiha. Kesabaran kami sudah menipis."
"Kalian akan mengirim petualang muda yang tidak siap menghadapi sesuatu yang bisa melenyapkan ratusan prajurit terlatih dalam semalam," Sasuke berkata tegas, berusaha menjaga suaranya tetap terkendali meski amarah mulai mendidih di dalam dirinya. "Itu bukan solusi. Itu pembantaian yang menunggu terjadi."
Uskup Valemont mengangkat alis, tampak sedikit terkejut dengan ketegasan itu. "Kau bicara seolah kau tahu banyak tentang kemampuan target ini."
"Aku tahu," Sasuke menjawab, memutuskan untuk membuka sebagian informasi yang ia kumpulkan. "Aku pernah bertemu dengannya secara langsung, di Aldric. Aku menyaksikan sendiri seberapa jauh kekuatannya melampaui apa pun yang dimiliki petualang biasa, bahkan yang berperingkat tertinggi sekalipun."
Ruangan itu hening sejenak, Uskup Valemont menatapnya dengan intensitas baru, seolah menilai ulang seluruh situasi.
"Kau bertemu dengannya, dan masih hidup untuk menceritakannya," ia akhirnya berkata, nadanya sulit diartikan—antara terkesan dan curiga. "Itu sendiri sudah menjadi bukti kemajuan yang cukup signifikan, Tuan Uchiha. Kenapa tidak melaporkannya lebih awal?"
"Karena aku tidak ingin bertindak gegabah berdasarkan laporan yang belum lengkap," Sasuke menjawab. "Tapi sekarang, dengan program ini mengancam nyawa orang-orang yang tidak bersalah, aku merasa perlu bicara secara terbuka."
---
Uskup Valemont bangkit dari kursinya, berjalan perlahan menuju jendela yang menghadap ke alun-alun katedral, tangannya terlipat di belakang punggung.
"Program ini bukan sepenuhnya keputusanku, Tuan Uchiha," ia berkata, suaranya lebih rendah sekarang. "Ada tekanan dari atas—dari Uskup Agung sendiri—untuk menunjukkan hasil nyata pada dewan Gereja. Aku hanya menjalankan perintah."
"Kalau begitu bicaralah pada Uskup Agung," Sasuke berkata. "Sampaikan apa yang baru saja kuceritakan. Program ini akan mengakibatkan lebih banyak kematian sia-sia, bukan solusi apa pun."
Uskup Valemont menoleh, menatapnya lama. "Kau meminta banyak, Tuan Uchiha, dari seseorang yang bahkan Uskup Agung sendiri jarang temui secara langsung."
Kata-kata itu menarik perhatian Sasuke, mengingat kembali reveal dari Pastor Elric tentang "Yang Tertinggal" yang mengendalikan Uskup Agung dari balik layar. "Kau jarang bertemu dengannya secara langsung?" Sasuke bertanya, mencoba menggali lebih dalam tanpa terlihat terlalu mencurigakan.
Uskup Valemont menatapnya dengan kewaspadaan baru, seolah menyadari pertanyaan itu bukan sekadar basa-basi. "Kenapa kau bertanya itu?"
"Rasa ingin tahu," Sasuke menjawab, mencoba terdengar santai. "Aku hanya penasaran bagaimana struktur kepemimpinan Gereja bekerja."
Uskup Valemont menatapnya lebih lama lagi, sesuatu yang mendekati kecurigaan mulai tumbuh di matanya, sebelum akhirnya ia kembali duduk, ekspresinya kembali menjadi formalitas dingin yang biasa.
"Aku akan mempertimbangkan permintaanmu," ia berkata akhirnya, nadanya kembali profesional. "Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Program ini sudah berjalan, pendaftar sudah mulai berdatangan. Menghentikannya sepenuhnya akan sulit tanpa alasan yang sangat kuat."
"Alasan yang kuberikan sudah cukup kuat," Sasuke berkata tegas. "Kecuali kalian lebih peduli pada citra 'hasil nyata' daripada nyawa orang-orang yang kalian rekrut."
Ketegangan di ruangan itu terasa memuncak sejenak, sebelum Uskup Valemont akhirnya menghela napas panjang, seolah mengalah untuk saat ini.
"Aku akan menyampaikan laporanmu pada Uskup Agung," ia berkata. "Itu yang bisa kujanjikan. Keputusan akhir bukan di tanganku."
---
Setelah pertemuan itu berakhir, Sasuke dan Saviera berjalan keluar katedral dengan perasaan campur aduk—tidak sepenuhnya berhasil, namun juga bukan kegagalan total.
"Kau pikir dia akan benar-benar menyampaikannya?" Saviera bertanya begitu mereka cukup jauh dari katedral untuk bicara lebih bebas.
"Aku tidak yakin," Sasuke mengakui. "Tapi setidaknya aku sudah mencoba. Dan aku belajar sesuatu yang menarik—Uskup Valemont sendiri tampaknya jarang berhubungan langsung dengan Uskup Agung. Itu mungkin mengonfirmasi apa yang dikatakan Pastor Elric, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kepemimpinan Gereja saat ini."
Mereka menemukan Elaina menunggu dengan sabar di gerbang, wajahnya langsung berseri begitu melihat mereka muncul, berlari menghambur memeluk kaki mereka berdua.
"Papa baik-baik saja!" serunya lega. "Sekarang kita jalan-jalan, kan? Papa janji!"
Sasuke tersenyum, mengangkat Elaina ke gendongannya. "Janji tetap janji. Ke mana kau mau pergi?"
"Elaina mau lihat taman kota! Tadi lihat dari jauh, ada air mancurnya!"
Dan begitu saja, beban berat pertemuan dengan Gereja untuk sementara terangkat dari pundak mereka, digantikan kesederhanaan sore yang cerah di taman kota Aurelian—pengingat kecil bahwa meski dunia di sekitar mereka semakin rumit, ada selalu ruang untuk momen-momen kecil yang membuat semuanya terasa berarti untuk dijalani.
---
*Bersambung ke Bab 29 : Taman Kota Aurelian*