Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.
Motor matic yang Viola kendarai berhenti di depan gerbang besar Mansion Jayendra.
Ia turun dari motor, berdiri beberapa saat menatap pagar tinggi dan sebagian tanaman di baliknya. Bangunan utama mansion masih cukup jauh jaraknya dari pagar tinggi itu.
Melepas helm dari kepalanya, Viola menghela napas panjang. Sudah lebih dari satu tahun ia tidak lagi datang ke tempat itu.
Seorang pria paruh baya keluar dari pintu kecil di sudut pagar lalu berjalan menghampiri Viola.
"Non Viola?"
Viola mengangkat wajah. "Pak Tono?"
Pak Tono tersenyum lebar. "Syukurlah ternyata Non Viola masih ingat saya."
"Saya masih ingat dengan semua penghuni mansion ini," jawab Viola, ia terkekeh kecil lalu kembali serius saat teringat Nara.
"Sagara dan Nara ada di dalam, Pak?"
"Den Sagara pergi sejak tadi, tapi Non Nara ada di dalam," jawab Pak Tono. "Non Viola masuk saja. Biar motornya saya bawa ke dalam."
Viola tampak sedikit ragu. Ia menatap gerbang tinggi itu sambil mengigit bibir bawahnya. "Apa saya masih diizinkan masuk ke sana?" tanyanya pelan.
"Tentu saja. Sejak dulu Den Sagara dan Non Nara bahkan berpesan pada kami, jika Non Viola datang, langsung dipersilakan masuk."
Terdiam sesaat, Viola merasakan ada sesuatu yang menghangat di dadanya saat mendengar kalimat itu.
"Terima kasih, Pak," ujarnya pelan.
Pak Tono membuka gerbang lebih lebar. Viola kemudian melangkah masuk. Begitu melewati halaman depan dan sampai di pintu utama, beberapa asisten rumah tangga yang sedang bekerja langsung mengenalinya.
"Nona Viola."
"Lama sekali Nona tidak datang."
"Nona semakin cantik."
Viola tersenyum kecil pada mereka.
Salah seorang wanita yang usianya lebih tua segera mendekat. "Nona, biar saya antar menemui Nona Naraya."
Viola mengenali wanita itu. Ia adalah salah satu asisten rumah tangga senior yang sudah bekerja di mansion sejak dulu.
"Bu Rini," sapa Viola hangat. "Ibu masih ingat saya?"
"Saya tidak mungkin lupa pada Nona Viola," jawab Bu Rini sopan. Senyum penuh kehangatan tersemat di wajah teduhnya. "Anda pasti ingin bertemu dengan Nona Nara. Mari saya antar ke kamarnya."
Viola kemudian mengikuti Bu Rini masuk lebih jauh ke dalam mansion. Baru beberapa langkah pandangannya mulai berkeliling.
Mansion itu masih sama. Lorong panjang dengan lantai marmer yang mengkilap. Lampu-lampu besar yang menggantung dari langit-langit. Lukisan keluarga yang masih berada di dinding. Bahkan meja kecil dekat ruang keluarga yang dulu sering menjadi tempatnya meletakkan buku masih berdiri kokoh di sana.
Langkah Viola melambat. Dadanya terasa sesak. Dulu, ia pernah tinggal di tempat itu, melewati lorong yang sama setiap pagi, duduk bersama di ruang keluarga, mendengar ayah Sagara memanggil namanya dengan penuh kasih.
Pria yang dulu ia panggil Ayah. Meski bukan ayah kandungnya, pria itu tidak pernah membuat Viola merasa seperti orang asing.
Justru karena itulah kepergiannya dari mansion itu terasa begitu berat.
Viola menundukkan wajah. Ia masih ingat bagaimana dirinya memilih pergi karena merasa rumah itu bukan tempatnya.
Sagara adalah anak kandung pria itu. Sagara-lah yang seharusnya memiliki semua yang ada di sini. Bukan dirinya.
"Nona Viola?"
Suara Bu Rini membuat Viola mengangkat wajah. "Maaf, Bu. Saya sempat melamun tadi."
Bu Rini hanya tersenyum lembut dan kembali berjalan.
"Bagaimana kabar si kembar?" tanya Viola. Sejak masuk tadi, ia tidak mendengar suara tangis bayi.
"Mereka sehat, Nona."
Viola tersenyum. "Sekarang mereka di mana?"
"Sedang tidur bersama pengasuhnya di kamar. Mereka baru selesai minum susu."
"Syukurlah." Ada rasa lega yang nyata di wajah Viola. "Apa Sagara belum kembali?" tanyanya kemudian.
Bu Rini menghela napas kecil. "Belum, Nona. Tuan Sagara belum kembali. Beliau pergi terburu-buru setelah sempat berdebat dengan Nona Nara pagi tadi."
Viola terdiam. Jarinya saling bertaut. Ia berharap bisa bertemu Sagara lebih dulu. Setidaknya ia ingin memastikan keadaan pria itu setelah melihat pemberitaan yang beredar.
Setelah pintu lift terbuka dan berjalan beberapa langkah mereka tiba di depan sebuah kamar.
Bu Rini berhenti. "Nona Naraya ada di dalam."
Viola mengangguk. "Terima kasih, Bu."
Wanita paruh baya itu mengetuk pintu. "Nona Nara."
Tidak terdengar jawaban.
Bu Rini membuka pintu sedikit. "Nona Nara ... Nona Viola ingin bertemu."
Viola melangkah mendekat. Begitu pintu terbuka lebar, ia langsung melihat sosok Nara di atas tempat tidur. Wanita itu duduk bersandar pada kepala ranjang. Rambutnya berantakan, wajahnya sembab, kedua matanya merah, sementara air mata masih mengalir perlahan di pipinya.
Viola membeku. Rasa sesak langsung memenuhi dadanya. "Nara ...."
Nara mengangkat wajah. Begitu melihat Viola, bibirnya bergetar. "Kak Viola ...."
Viola begegas masuk dan menghampiri tempat tidur.
"Nara, apa yang terjadi?"
Menggeleng lemah, air mata Nara jatuh semakin deras.
Duduk di tepi ranjang, tangan Viola perlahan meraih tangan Nara yang terasa dingin. "Nara ...."
Menundukkan wajah, bibir Nara bergetar. Sementara dadanya naik turun menahan sesak yang semakin sulit disembunyikan.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Tentang malam itu, tentang Seokjin yang sudah melanggar batasannya, juga rasa kecewa yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, semua itu hanya berputar di dalam kepalanya. Tidak satu pun sanggup keluar.
Bagaimana mungkin ia menceritakan semuanya pada Viola bahwa pria yang selama ini dianggap sebagai kakaknya sendiri telah kehilangan kendali terhadapnya?
Nara tidak akan sanggup mengatakan itu. Bukan karena ingin melindungi Seokjin, melainkan karena ia tidak ingin luka itu mungkin akan berubah menjadi luka baru bagi orang lain.
"Semua berita itu tidak benar, Kak." Suara Nara bergetar.
Viola menatapnya.
"Aku berani bersumpah ... semuanya tidak benar." Nara mengangkat wajah. Matanya merah dan sembap. Air mata membasahi kedua pipinya tanpa henti.
"Aku tidak pernah punya hubungan khusus dengan Oppa Seokjin." Tangannya mencengkram seprai. "Tidak pernah." Suara terakhirnya pecah.
"Aku hanya menganggapnya selayaknya seorang kakak sepupu. Tidak lebih."
Viola terdiam. Ia memilih untuk mendengarkan semua ungkapan perasaan Nara daripada langsung memberinya komentar.
Nara menarik napas panjang, tetapi napas itu kembali pecah menjadi isakan. "Mereka dengan mudahnya membuat berita seperti itu. Mereka tidak peduli bagaimana hancurnya perasaanku sekarang." Tangisnya kembali pecah.
"Aku sudah menikah dengan Sagara. Aku sangat mencintai suamiku. Aku mencintainya lebih dari apa pun." Suaranya bergetar. Dadanya semakin terasa sesak.
"Aku tidak pernah mengkhianati suamiku. Sedikit pun tidak pernah. Tapi mereka begitu tega membuat berita fitnah tentang perselingkuhan itu."
Viola segera mengusap bahu Nara. "Aku tahu, Nara. Aku percaya padamu."
Satu kalimat itu membuat pertahanan Nara runtuh lagi. Ia memejamkan mata. Sorot mata Sagara yang tampak kecewa setelah melihat berita itu kembali membayanginya.
"Aku sudah menjelaskan semuanya pada Sagara. Aku mengatakan bahwa berita itu tidak benar. Aku tidak pernah melakukan apa pun yang mereka tuduhkan."
Jari-jari Nara mencengkram ujung selimut. Jemarinya gemetar, seolah kain itu satu-satunya benda yang masih bisa ia pegang ketika semuanya terasa berantakan.
"Aku hanya takut ...." Suaranya mengecil. "Bagaimana kalau Sagara tidak mempercayaiku?"
Viola terdiam.
Cahaya siang yang masuk dari sela tirai jatuh tipis di lantai kamar. Bisanya kamar itu terasa hangat dan nyaman, tetapi kini udara di dalamnya terasa berat. Hanya suara tangis Nara yang memenuhi ruangan.
"Aku yakin, Sagara sangat mempercayaimu, Nara."
"Tapi dia pergi, Kak." Nara mengangkat wajahnya. Sorot matanya begitu jelas memperlihatkan rasa takut dan kekhawatiran.
"Dia pergi setelah aku berusaha menjelaskan semuanya." Tatapan Nara berubah kosong. "Bagaimana kalau ternyata dia benar-benar menganggap aku sudah mengkhianatinya?"
Lagi ... tangisnya kembali pecah.
"Aku tidak sanggup kehilangan dia, Kak." Nara semakin tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia hampir melukai dirinya sendiri jika Viola tidak cepat meraih tubuhnya dan memeluknya.
"Tenanglah Nara! Semua akan baik-baik saja. Sagara pasti mempercayaimu. Dia sangat mencintaimu."
Dalam pelukan Viola, Nara menggeleng berkali-kali. "Tapi semua foto yang beredar itu membuatku terlihat bersalah, Kak."
Viola mengurai pelukannya. "Nara ...."
"Mereka menyebarkan foto itu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi . Mereka tidak tahu apa yang aku rasakan." Isakan Nara terdengar semakin dalam.
"Bagi mereka, aku hanya seorang wanita yang masuk ke kamar bersama pria lain lalu berbuat sesuatu di sana."
Viola mengusap punggung Nara perlahan. "Tolong tenangkan dirimu, Nara. Sagara mungkin butuh waktu untuk mencerna semuanya."
"Tapi bagaimana jika ternyata dia memilih untuk tidak mempercayaiku, Kak?" Tangannya mencengkram lengan Viola. "Bagaimana jika akhirnya dia meninggalkanku?" Suaranya semakin melemah, cengkramannya pun perlahan terlepas.
"Tidak! Aku tidak akan bisa melanjutkan hidupku tanpanya." Suaranya bergetar, tatapannya kosong, air mata masih terus mengalir dari matanya.
"Sagara tidak akan melakukan itu," jawab Viola cepat. Tangannya buru-buru meraih tangan Nara lalu menggenggamnya. Matanya menatap wanita itu dengan penuh keyakinan.
"Suamimu mencintaimu lebih dari apa yang kamu tahu, Nara." Genggaman tangan Viola semakin erat. "Tolong percayalah padanya."
Nara terdiam.
Untuk beberapa saat, hanya suara isakannya yang terdengar di kamar. Bahunya masih bergetar, tetapi perlahan tangisnya mulai mereda. Kalimat Viola seperti tangan yang menariknya kembali ketika pikirannya hampir tenggelam dalam ketakutan.
Nara akhirnya mengangguk kecil. Ia memilih untuk mempercayai Viola. Bukan karena semua rasa takutnya tiba-tiba hilang, melainkan karena ia tahu Viola tidak pernah memiliki alasan untuk membohonginya.
Jika Sagara membutuhkan waktu untuk memahami semuanya, ia akan mencoba mengerti itu. Meski begitu, rasa takut masih terus membayanginya.
Takut, jika Sagara tidak mempercayainya dan memilih untuk meninggalkannya. Mengakhiri pernikahan mereka.
Viola menenangkan Nara dengan mengusap punggungnya perlahan. Ia tidak lagi mengatakan apa pun. Ia hanya tetap berada di sana, menemani Nara melewati tangis yang datang berkali-kali seperti ombak yang tidak kunjung surut.
Tubuh Nara perlahan lemas, kepalanya terasa berat setelah terlalu lama menangis. Kelopak matanya juga semakin sulit dibuka. Hingga akhirnya, tanpa sadar Nara tertidur.
Tetap duduk di sisi ranjang. Ia menatap wajah yang kini terlihat lebih tenang. Mata Nara memang masih sembab, pipinya basah oleh sisa air mata. Bahkan dalam tidur pun, alisnya masih sedikit berkerut.
Viola menghela napas panjang. Setidaknya sekarang Nara bisa beristirahat. Namun, satu hal masih mengganjal dipikirannya.
Tentang apa yang sebenarnya terjadi semalam. Viola masih mengingat dengan jelas saat Nara keluar dari kamar Seokjin sambil menangis. Langkahnya tergesa-gesa, seolah ingin segera menjauh dari tempat itu. Dan ketika ia bertemu Seokjin saat mengantarkan ponsel, pria itu juga tampak kacau.
Sesuatu pasti telah terjadi di sana.
Viola mengigit pelan bibir bawahnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya lirih.
Ia tidak meragukan Nara. Hanya saja, ada bagian dari kejadian malam itu yang belum bisa ia pahami.
Mungkin saja Nara dan Seokjin berselisih paham saat mendiskusikan sesuatu hingga Nara pergi sambil menangis.
Hanya kemungkinan itu yang berputar di kepala Viola.
Meski pertanyaan itu terasa Mengganjal. Namun, Viola memilih untuk tetap diam. Kondisi Nara yang sangat terguncang tidak memungkinkan baginya untuk bertanya lebih jauh.
Viola bangkit dari sisi ranjang. Ia membenarkan selimut yang menutupi tubuh Nara, kemudian mengambil tasnya.
Sebelum keluar, ia kembali menatap Nara. "Beristirahatlah," bisiknya.
Viola kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan. Namun, baru beberapa langkah ia keluar dari kamar.
"Viola?"
Langkah Viola terhenti. Ia mendongak.
Sagara berdiri di ujung lorong. Tatapan pria itu tertuju padanya.
"Sagara ...."
Sementara Sagara berjalan mendekat dengan wajah yang masih menyimpan kelelahan dan kegelisahan.
Mereka akhirnya berhadapan di depan kamar.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap Sagara.
*** bersambung.