Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: REKRUT ORANG.
"Kita coba lihat komentar yang paling banyak like-nya aja dulu," usul Raka memberi jalan keluar.
"Bener kata Raka, coba filter dulu, Al," timpal Dimas menatap layar.
"Sip, sebentar," jawab Alya sambil menganggukkan kepala.
Alya menekan tombol menyaring komentar teratas di postingan promosi mereka. Begitu urutan teratas muncul, matanya mendadak melotot.
Komentar teratas nomor 1:
‘Kak, bagus banget ceritanya! Bikin season dua dong!’
Jumlah penyuka: 90.000 Like.
"GILA! Banyak banget jumlah like-nya!" teriak Dimas kaget setengah mati.
"Iya, anjir! Malah udah minta season dua lagi, padahal kan kita baru mulai!" celetuk Raka tak habis pikir.
"Gimana, Teman-teman? Mau dituruti?" tanya Alya meminta pendapat.
"Hmm, nanti aja mikirin season dua. Lanjut baca tiga komentar teratas lainnya dulu," potong Dimas.
"Oke."
Alya mengusap jemarinya ke atas layar, memperlihatkan deretan komentar terpopuler berikutnya kepada ketiga temannya.
Komentar teratas nomor 2:
‘Kak, mending ikut lomba deh! Ceritanya bagus banget, sayang kalau cuma dipajang di digital aja.’
"Hmm, lomba ya? Boleh juga sih idenya," gumam Raka sambil manggut-manggut setuju.
Lalu mata mereka tertuju pada komentar teratas nomor 3. Sebuah paragraf raksasa yang panjangnya tidak masuk akal.
Komentar teratas nomor 3:
‘Kak, banyakin ceritanya dong! Aku ada rekomendasi plot nih, jadi nanti karkater utamanya... bla bla bla bla...’
"ANJIR! Ini mah udah kayak nulis skripsi! Banyak banget ide cerita dari dia!" Dimas sampai menepuk jidatnya melihat barisan teks yang tak ada habisnya itu.
"Iya lagi, kalau dituruti semua bisa numpuk beban kerjaan kita. Tapi lu suka kan ide-ide begini, Mas?" tanya Raka memancing.
"Ya suka kalau lagi gabut! Tapi kalau sebanyak ini mah bablas, Woy!" cerceh Dimas frustrasi.
Mereka berempat akhirnya menghempaskan badan ke sandaran kursi masing-masing dengan napas terengah.
"Haaah... bukannya tenang, malah makin stres," keluh Dimas sambil mengusap dahi—meski tak ada setetes pun keringat di sana.
"Tapi kalau sama sekali gak ada yang kita turuti, takutnya pembaca pada kecewa dan bikin masalah nanti," Alya mengingatkan dengan raut wajah khawatir.
Raka menyilangkan tangan di dada, memikirkan jalan keluar terbaik.
"Bener kata Alya. Tapi buat sekarang, tunda aja dulu semuanya. Kita perlu rekrut orang baru buat mempermudah pekerjaan klub kita!" tegas Raka.
"Ide bagus, Rak! Tapi gak semua orang bisa langsung kita rekrut gitu aja. Siapa tahu mereka punya kesibukan tersendiri," celetuk Dimas menyampaikan pendapat.
Aira tertawa kecil mendengar omongan sahabatnya itu. "Wah... gak nyangka seorang Dimas bisa ngomong bijak gitu, hihi!"
"Lah, emang napa? Salah gue ngomong gitu?!" sengut Dimas heran.
"Gak apa-apa, cocok aja," goda Aira lagi.
"Jadi, kita mau cari anggotanya sekarang nih?" tanyanya beralih menatap Alya.
"Boleh-boleh aja. Mending kita coba ajak temen-temennya Dimas dulu aja, mumpung koneksi dia banyak," usul Raka.
"Oke, setuju!" balas Alya manggut-manggut.
Raka menoleh ke arah Dimas dan Aira yang masih saling lempar tatapan tajam. "Hei, kalian berdua! Cekcoknya udahan dulu, kita mau jalan cari rekrutan nih!"
"Ehh, sekarang banget?!" kaget Dimas.
"Iya, sekarang! Biar tugas klub cepat beres dan gak dihukum Pak Surya lagi!" tegas Raka.
"Yaudah deh..." pasrah Dimas menepuk jidatnya.
Mereka berempat akhirnya keluar dari ruang klub dan mulai menyisir teman-teman Dimas dari kelas 10-B sampai 10-C. Setelah membujuk sana-sini, mereka berhasil mengumpulkan 10 orang siswa untuk membantu.
Aira dengan sigap langsung membagi tugas kepada para anggota bantuan tersebut.
"Oke, siap! Kami bantu kerjain!" seru salah satu dari mereka.
"Yuk, kita kerjain sekarang aja!" komando Aira.
Mereka pun mulai memilah komentar netizen satu per satu. Biar tidak makin pusing dan ribet, mereka hanya memilih request yang paling masuk akal untuk segera dikabulkan hari itu juga.
Setelah beberapa jam berkutat dengan kertas dan ponsel, tugas awal akhirnya rampung.
"Udah selesai nih, Rak. Selanjutnya gimana?" tanya Dimas sambil mengusap peluh di dahinya.
"Hmm... gi—"
Belum sempat Raka menuntaskan ucapannya, Aira langsung memotong heboh. "Gimana kalau kita bikin video singkat? Kita tunjukin ke netizen kalau permintaan mereka bener-bener kita kabulin!"
"Lah, seriusan?! Dipublikasikan banget nih?" tolak Dimas panik. "Yaudah, pokonya gue gak mau kelihatan di depan kamera!"
"Hehe..." Aira malah menyeringai jahat.
"Jir! Kenapa lu ketawa gitu?! Jangan bikin gue takut woy!" seru Dimas makin waswas.
Aira langsung berlari ke sana kemari memegang kamera HP-nya, merekam setiap sudut ruangan dan momen teman-temannya yang sedang bekerja keras. Setelah selesai merekam seluruh isi ruangan dan perhiasan dekorasi klub, mereka berempat akhirnya roboh, terduduk lemas di atas lantai.
"Udah nih hias ruang klubnya... capek banget, woy!" keluh Dimas telentang di lantai.
"Baca komentar lagi, Al. Apa permintaan netizen selanjutnya?" suruh Raka.
"Oke, sebentar..." Alya membuka kembali kolom komentar YouTube mereka. "Kata netizen: ‘Kak, live streaming dong! Mau lihat bentuk ruang klubnya secara langsung!’"
Mendengar itu, Aira langsung menoleh ke arah Dimas sambil tertawa licik. "Nah! Mumpung ini permintaan langsung dari penggemar, mau gak mau lu harus tampil di kamera, Mas! Hahaha!"
"Sialan! Netizen kampret!" umpat Dimas pasrah menutupi mukanya.
"Udah pada siap belum? Gue mulai nih live-nya!" Aira bersiap di depan layar.
KLIK!
Aira menekan tombol merah, dan live streaming resmi dimulai! Begitu tautan dibagikan ke media sosial, jumlah penonton langsung melonjak drastis.
"Wah, langsung rame aja nih! Siapa nih yang mau jelasin ke penonton?" tanya Raka menatap ketiga temannya.
Tanpa ragu sedikit pun, Dimas, Alya, dan Aira kompak mengarahkan telunjuk mereka tepat ke muka Raka.
"Lah?! Gue?! Beneran gue?!" kaget Raka menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, Rak! Daripada lu diem aja, mending lu yang jadi host-nya!" sahut Aira semangat.
"Haaah... oke-oke!"
Mau tidak mau, Raka akhirnya mengambil alih kamera. Ia memulai room tour ruang klub, menjelaskan deretan rak buku, hasil karya komik mereka, hingga memperkenalkan teman-teman yang baru saja direkrut jadi anggota bantuan.
Begitu tombol live streaming dimatikan, Raka langsung memegangi tenggorokannya yang terasa kering kerontang. Suaranya sampai habis gara-gara nyerocos tanpa henti selama live.
"Argh... air... ada air gak?!" bisik Raka parau.
"Nih, Rak!" Dimas dengan sigap menyodorkan satu botol air mineral dingin.
"Thanks..."
GLUG... GLUG... GLUG!
Raka mengeringkan isi botol itu dalam beberapa tegukan besar. "Haaah... udah lah. Lanjut nanti aja..." pasrah Raka yang langsung roboh merebahkan dirinya di lantai.
Melihat Raka yang terkapar lemas di lantai sambil memegangi lehernya, Aira, Dimas, dan Alya hanya bisa tertawa kecil. Namun di balik rasa lelah yang luar biasa, suasana di dalam ruang klub kini terasa jauh lebih lega dari sebelumnya.
Papan tulis yang tadinya penuh dengan coretan daftar keluhan netizen, kini sudah tercentang satu per satu.
Sepuluh anggota baru yang tadi direkrut Dimas tampak masih sibuk tapi menikmati suasana. Ada yang membantu menyusun tumpukan kertas draft, ada yang merapikan peralatan gambar, dan ada pula yang dengan tekun membalas pesan masuk di media sosial klub.
"Tapi jujur ya... berkat live stream kamu tadi, Rak, respon dari pembaca jadi positif banget," ujar Alya sambil tersenyum menatap angka pengikut di layar HP-nya yang terus melonjak. "Banyak yang senang karena kita responsif."
"Iya, Rak! Muka lemas lu pas room tour malah dibilang relatable sama netizen, hahaha!" tambah Dimas sambil menepuk-nepuk bahu Raka.
Raka hanya menanggapi dengan gumaman pasrah dari balik lengannya yang menutupi wajah. "Terserah lu pada dah... yang penting malam ini gue mau tidur sepuluh jam."
Aira berjalan menuju tengah ruangan, lalu menepuk tangannya dua kali untuk menarik perhatian semua orang—termasuk para anggota rekrutan baru.
"Oke, Semuanya! Kerja bagus buat hari ini!" seru Aira dengan energi yang seolah tak pernah habis. "Dengan bergabungnya kalian, Klub Komik resmi punya tim operasi khusus! Karena tugas hari ini udah tuntas, yuk kita pulang!"
Sorak lega terdengar dari seluruh isi ruangan. Beban gunung komentar dan request yang tadinya bikin pusing tujuh keliling, akhirnya berhasil diringankan berkat kerja sama tim dan hadirnya tenaga baru.
Raka pelan-pelan bangkit, mengibaskan debu di seragamnya, lalu menatap teman-temannya sambil tersenyum tipis. Rekrutmen hari ini sukses besar, dan klub komik mereka siap melangkah ke babak berikutnya!