Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Zombie Jompo Haus Darah Tapi Butuh Sirup Manis
Gila parah sih ini nikmatnya! Menu nasi rames lauk telur pinggir jalan raya aja ternyata rasanya bisa berubah jauh lebih enak daripada daging steak wagyu mahal, kalau kondisi tubuh lo emang lagi beneran kelaparan tingkat dewa begini!
"Terima kasih banyak atas bantuan makanannya ya, Cu. Akhirnya... perut Nenek yang lapar ini bisa kembali kemasukan makanan nasi juga," desah Reno merasa luar biasa lega setelah butiran nasi rames terakhir sukses masuk ke dalam tenggorokannya.
Namun nahas, sebuah malapetaka darurat mendadak terjadi. Karena cara makan Reno sejak tadi terlalu beringas dan cepat mirip kesurupan, segumpal besar nasi rames mendadak tersangkut ketat di tengah-tengah jalur tenggorokannya.
"Uhuk! Uhuk! Uhukk!"
Reno mulai batuk-batuk kecil sambil telapak tangannya sibuk menepuk-nepuk area dadanya yang mendadak terasa sangat sesak tersumbat.
"Iya sama-sama, Nek. Nama lengkap aku Alin. Kalau boleh tahu, nama Nenek sendiri siapa ya?" tanya Alin tersenyum ramah.
"Nama... nama Nenek ini... Tari. Mohon maaf ya Cu kalau kehadiran Nenek di sini malah mendadak merepotkan hidupmu... Uhuk! Uhuk! Nenek kalau boleh di sini mau minta... dikit air minum dong? Tenggorokan Nenek seret banget ini rasanya, nggak bisa nelan," pinta Reno dengan sepasang mata yang mulai tampak berair kemerahan akibat menahan rasa sakit dari gumpalan nasi yang macet total di tengah kerongkongan.
"Oh iya, Nek! Astaga, Alin sampai lupa nyiapin minum!"
Alin langsung panik sebadan-badan. "Nenek tolong tunggu diam di atas bangku ini sebentar ya, Alin mau lari kilat dulu beli sebotol air minum di warung kelontong seberang jalan raya!"
Alin pun tanpa buang waktu langsung mengambil langkah seribu berlari kecil menyeberangi jalan raya dengan kobaran semangat kepahlawanan pramuka yang tinggi.
Reno sendiri masih super sibuk memegangi leher keriputnya menggunakan kedua tangan, berusaha sekuat tenaga memijat leher demi bisa menelan paksa gumpalan nasi rames yang menyumbat saluran udara.
Namun sayang seribu sayang, belum sempat langkah kaki Alin kembali datang membawa sebotol air minum penolong...
CTAK!
Dunia di sekeliling Reno mendadak kembali berputar-putar ekstrem jauh lebih kencang daripada putaran mesin cuci baju yang rusak.
Pemandangan alam berupa rindangnya pohon mahoni dan raut wajah Alin yang penuh semangat kepahlawanan itu seketika langsung lenyap hilang bak ditelan bumi. Pemandangan itu sedetik kemudian langsung berganti drastis menjadi sebuah penampakan struktur gerbang besi raksasa setinggi harapan orang tua yang menjulang angkuh di hadapannya.
BRAK!
Tubuh Reno (yang sialnya belum kembali masuk ke dalam setelan bodi aslinya) mendadak mendarat dengan sebuah posisi berlutut dramatis di atas tanah, persis mirip seperti adegan di dalam film kolosal kerajaan jaman dulu yang sedang berlutut memohon ampunan nyawa di depan sang raja.
Tapi masalah besar dan daruratnya malam ini adalah, ini bukan soal urusan memohon ampunan dosa ghaib, ini murni taruhannya adalah soal keselamatan nyawanya.
Gumpalan besar nasi rames pinggir jalan dari raga si nenek pengemis tadi bukannya ikut lenyap menghilang saat jiwanya berpindah dimensi, melainkan gumpalan nasi macet itu mendadak ikut bertransmigrasi dan berevolusi menjadi bertekstur tajam keras menyumbat ketat di dalam tenggorokannya.
"Uhukk! Uhukk! Hoghh... hoek! Tolong... air... seret beneran ini!"
Reno terus-menerus memegangi leher keriputnya yang kini terasa seperti sedang mengganjal duri ikan paus berukuran segede gaban.
Pasokan oksigen di sekitarnya mendadak terasa sangat mahal dan langka, sementara warna kulit wajah nenek-neneknya mungkin saat itu sudah sukses berubah drastis dari yang tadinya sawo matang menjadi ungu terong matang akibat kesusahan bernapas.
Reno mencoba mendongakkan kepalanya ke atas dengan susah payah, sepasang matanya yang tampak berair menatap nanar ke arah sebuah bangunan mansion megah nan mewah yang berdiri kokoh di hadapannya.
Detak organ jantung di dalam dada ringkihnya (atau lebih tepatnya organ jantung milik si nenek pengemis) mendadak berdegup kencang secara ekstrem.
Ia beneran hafal betul dengan lekuk arsitektur bangunan mewah ini. Ini adalah istana kediaman megah milik Oma dan Opa-nya Adit—sebuah tempat elite yang dalam kondisi normal biasanya selalu dipenuhi oleh aroma semerbak kue-kue mahal dan seduhan teh Inggris premium, bukan sebuah tempat penampungan darurat untuk seorang nenek gembel compang-camping yang sedang meregang nyawa akibat keselek nasi bungkus rames gratisan.
‘Gue... gue di sini beneran harus segera dapet pasokan air minum penolong! Kalau enggak, jiwa gue di dalam raga nenek ini bakal mati konyol dengan batu nisan ngeri yang bertuliskan: Telah Wafat Seorang Pemuda Tampan Akibat Keselek Nasi Bungkus Gratisan di Pinggir Jalan!’ batin Reno merana meratapi nasibnya yang tragis.
Dengan sisa-sisa pasokan tenaga di tubuhnya yang ukurannya sudah terasa jauh lebih tipis daripada selembar tisu wajah, Reno mencoba memaksakan dirinya untuk berdiri tegak.
Namun, sepasang kaki kecilnya mendadak gemetar hebat sebadan-badan, diikuti dengan munculnya bunyi pecahan krek-krok dari area persendian tulang kakinya yang kedengarannya persis mirip seperti suara kerupuk rengginang yang sengaja diinjak dengan sepatu.
Ia mulai berjalan sempoyongan melangkah menuju ke arah pintu gerbang emas, mencoba menerobos masuk dengan gaya jalan absurd berupa perpaduan antara "zombie-jompo-haus-darah-tapi-butuh-sirup-manis"
Namun sayang, tepat di depan daun gerbang besi raksasa itu, sudah berdiri siaga dua orang petugas satpam berbadan beton kekar yang mengenakan seragam dinas sangat rapi.
Kedua satpam itu tampak menatap tajam ke arah Reno dengan dahi yang berkerut dalam, seolah-olah mereka berdua sedang menyaksikan sesosok spesies asing misterius yang baru saja kesasar jatuh dari planet lain.
"Heh! Nenek pengemis, mau lancang melangkah ke mana kamu, hah?! Dilarang keras masuk ke dalam, ini adalah area kawasan pribadi keluarga elite!" seru salah satu petugas satpam berkecamuk lantang sambil kedua tangannya berkacak pinggang kokoh, sementara posisi telapak tangannya sudah siap siaga nangkring di atas kopel sabuk hitamnya.
Reno yang telanjur kesal sebenarnya sangat ingin membalas bentakan itu dengan teriakan,
‘Eh, kampret lo ya! Gue ini adalah Reno Alvarez, sahabat kental dari cucu pemilik rumah ini, si Radit! Buruan bukain ini gerbang emas atau lo berdua bakal gue laporin langsung ke Oma Karin biar dipecat!’
Tapi apa daya, sistem pita suara si nenek peot tidak bisa diajak bekerja sama. Yang berhasil keluar lolos dari celah bibir keriputnya hanyalah sebuah suara serak ghaib yang berbunyi:
"Uhh... airrr... tenggorokan gue sret... uhukk! Uhukk!" sambil kedua tangan keriputnya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah leher dengan gerakan tangan lincah yang jatuhnya malah lebih mirip seperti orang yang sedang memperagakan gerakan koreografi tarian lagu anak-anak Baby Shark.
Belum sempat penderitaan sumbatan nasi rames di tenggorokannya berhasil diatasi, area perut bungkuk si nenek pengemis mendadak kembali beraksi melakukan serangan balasan.
Krucukkkk... Kruyuuukk...