Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Lumpur Surut dan Kota yang Dinaikkan
..."Kami tidak membangun di atas tanah yang mengkhianati kami, kami membangun di atas tiang yang kami tancapkan sendiri, agar ketika air datang lagi, ia hanya bisa lewat di bawah kaki kami."...
Air surut pada hari ke 35 tidak dengan gemuruh seperti ketika ia datang, melainkan dengan cara yang pelan dan kejam, mundur sedikit demi sedikit dari bukit dan meninggalkan di belakangnya sebuah dunia baru yang seluruhnya berwarna coklat, dunia yang bau, lengket, dan penuh dengan sisa-sisa yang tidak ingin diingat oleh siapa pun, yaitu lumpur setebal lutut yang menelan sandal, batang pohon yang patah dan menancap di tanah seperti tombak, atap-atap yang terbalik, bangkai ayam dan babi yang menggantung di dahan, serta pakaian anak-anak yang kusut dan hanyut lalu tersangkut di pagar.
Jing yue berdiri di tepi bukit paling tinggi sejak fajar, dengan angin yang membawa bau busuk masuk ke hidung dan membuat matanya perih, menatap ke bawah ke arah dataran yang kemarin masih berupa danau besar dan kini berubah menjadi rawa lumpur yang luas, dan di dalam hati dia menghitung bahwa dari lima desa hanya tersisa tiang-tiang rumah panggung yang sebagian masih berdiri miring dan sebagian lagi sudah patah seperti gigi yang tanggal.
Tidak ada yang bersorak karena air sudah pergi, karena semua orang tahu bahwa surutnya air bukanlah akhir, melainkan awal dari pekerjaan yang lebih berat daripada mengungsi, yaitu membangun kembali dari nol di atas tanah yang bahkan tidak bisa dipijak tanpa tongkat.
Paman Chen turun pertama kali dengan kaki telanjang dan seutas tali di pinggang, mencoblos lumpur dengan tongkat untuk mencari jalan, dan setiap kali dia mengangkat kaki, lumpur itu berbunyi seperti orang yang ditarik dari tidur, dan di belakangnya anak-anak dan orang dewasa mengikuti dengan membawa ember, sekop dari papan, dan kain untuk menutup hidung.
Jing yue mengumpulkan semua kepala keluarga di atas bukit sebelum mereka turun, dan dengan suara yang serak karena tiga malam tidak tidur dia berkata bahwa mereka tidak akan membangun di tanah lagi, karena tanah sudah membuktikan bahwa dia bisa mengkhianati, dan mulai hari ini mereka akan membangun di atas, membangun kota panggung yang tiangnya ditancapkan dalam-dalam sampai ke batu, agar kalau air keempat, kelima, atau kesepuluh datang lagi, rumah mereka tidak akan hanyut.
Keputusan itu diterima dengan anggukan lelah, karena tidak ada orang yang punya tenaga untuk berdebat, dan dalam waktu kurang dari satu jam seluruh warga lima desa turun ke lumpur dengan perahu yang ditarik di belakang sebagai tempat menyimpan barang, dan pekerjaan membersihkan dimulai.
Hari pertama adalah hari paling menjijikkan, karena mereka harus mengangkat bangkai, membuang lumpur dari dalam rumah, dan membakar apa pun yang tidak bisa diselamatkan, dan asap dari pembakaran itu bercampur dengan bau busuk sehingga banyak orang muntah di sela-sela kerja.
Jing yue tidak menyuruh siapa pun melakukan apa yang dia tidak lakukan, dia ikut masuk ke dalam rumah Nenek Sun yang lumpurnya sudah setinggi dada, mengeruk dengan tangan dan sekop, dan ketika menemukan peti kayu milik nenek itu yang isinya hanya baju dan foto anak, dia membersihkannya dengan air sungai lalu mengembalikannya dengan dua tangan.
Di sore hari, ketika semua orang sudah terlalu lelah untuk berdiri, Jing yue memanggil Tetua Pertama, Tetua Kedua, dan Lei Feng, dan mereka duduk di atas rakit sambil menggambar di atas papan dengan arang, merencanakan denah desa baru. Denahnya sederhana tapi berbeda dari sebelumnya, tidak ada lagi rumah di tanah, semua rumah akan dibangun di atas panggung setinggi tiga tombak, dihubungkan dengan jembatan bambu agar orang bisa berjalan dari satu rumah ke rumah lain tanpa turun ke lumpur, dan di tengah akan ada balai besar yang lantainya bisa dilepas agar bisa dipakai sebagai tempat perahu bersandar ketika banjir datang.
Lei Feng menatap gambar itu lama, lalu dia berkata bahwa ini gila, bahwa menancapkan tiang sedalam itu butuh waktu berbulan-bulan, tapi Jing yue menjawab bahwa mereka punya waktu satu musim, dan kalau tidak mulai sekarang maka mereka akan mengulang bencana yang sama tahun depan.
Keesokan harinya pekerjaan dimulai, kelompok pertama dipimpin oleh Paman Chen untuk menebang bambu dan kayu keras di hutan dan menariknya dengan kerbau yang masih hidup, kelompok kedua dipimpin oleh Bai Ling untuk memasak dan menjaga anak-anak serta orang sakit, dan kelompok ketiga dipimpin oleh Jing yue sendiri untuk menancapkan tiang pertama di tanah Majia. Menancapkan tiang adalah pekerjaan neraka, karena tanahnya lunak tapi di bawahnya ada batu, dan setiap kali palu besar dijatuhkan, lumpur memercik sampai ke wajah, dan tangan yang memegang palu bergetar karena berat, tapi Jing yue tidak berhenti sampai tiang pertama masuk sedalam satu tombak dan tidak goyang ketika didorong.
Anak-anak yang tadinya hanya duduk menonton akhirnya ikut, mereka membawa air untuk menyiram tiang agar lebih mudah masuk, mereka mengikat tali, dan mereka menyanyi lagu kecil agar orang dewasa tidak menyerah, dan di hari ketiga tiang kedua dan ketiga sudah berdiri.
Masalah muncul di hari kelima, ketika persediaan makanan benar-benar menipis, karena beras terakhir habis dipakai untuk memberi makan orang yang bekerja berat, dan dapur umum hanya bisa menyajikan bubur dari umbi liar dan ikan kecil yang ditangkap dengan jaring dari perahu.
Beberapa orang mulai berbisik bahwa lebih baik menunggu bantuan istana daripada memaksa membangun, tapi Jing yue mengumpulkan semua orang di malam hari dan berkata bahwa bantuan mungkin datang, mungkin tidak, tapi kalau mereka berhenti sekarang maka ketika bantuan datang mereka akan tetap tinggal di tenda dan di bukit. Dia lalu memerintahkan agar setiap keluarga menyisihkan satu jam untuk mencari makan di hutan dan di sungai, dan hasilnya dibawa ke dapur umum untuk dibagi rata, sehingga meskipun sedikit, tidak ada yang benar-benar kelaparan.
Di hari kesepuluh, rumah panggung pertama selesai, sebuah rumah sederhana dengan tangga dan lantai dari bambu, dan orang pertama yang pindah ke dalamnya adalah Nenek Sun dan lima cucunya, dan ketika nenek itu naik ke atas dan menatap ke bawah ke arah lumpur, dia menangis dan berkata bahwa ini pertama kalinya dalam hidupnya dia tidur lebih tinggi dari air.
Kabar itu menyebar, dan orang-orang bekerja lebih cepat, karena mereka sudah melihat hasilnya, dan di hari kelima belas sudah ada sepuluh rumah yang berdiri berjajar seperti burung yang bertengger di atas tiang.
Jing yue sendiri tidak punya rumah, dia tidur di balai yang belum selesai, dengan selimut basah dan buku di bawah kepala, dan setiap malam dia menulis bahwa hari ini mereka menancapkan tujuh tiang, bahwa hari ini ada dua anak yang jatuh ke lumpur tapi selamat, bahwa hari ini ada orang yang membawa ikan dan membaginya tanpa diminta.
Di hari kedua puluh, datang utusan dari kabupaten dengan dua gerobak paku dan tali, bukan beras, dan utusan itu berkata bahwa ini semua yang bisa diberikan istana, dan Jing yue menerima dengan hormat lalu langsung membagikannya kepada tukang.
Di hari kedua puluh lima, jembatan pertama yang menghubungkan dua rumah selesai, dan anak-anak berlari di atasnya sambil berteriak karena mereka merasa seperti terbang, dan para ibu menangis karena mereka bisa mengunjungi tetangga tanpa harus turun ke lumpur.
Di hari ketiga puluh, balai desa panggung selesai, besar, kuat, dan di bawahnya bisa masuk sepuluh perahu, dan ketika pintunya dibuka pertama kali, seluruh desa berkumpul di dalamnya untuk makan bersama, makan nasi yang akhirnya cukup, makan ikan, dan makan sayur yang mereka tanam sendiri di atas rak bambu.
Malam itu tidak ada pidato, hanya ada Paman Chen yang berdiri dan berkata bahwa setahun lalu mereka adalah orang yang menunggu diselamatkan, dan sekarang mereka adalah orang yang membangun tempat untuk menyelamatkan diri sendiri. Jing yue duduk di pojok, makan dengan tangan yang kapalan dan kuku yang patah, dan dia menatap sekeliling, melihat wajah-wajah yang kurus tapi matanya hidup, melihat atap-atap yang baru, melihat perahu yang terparkir rapi di bawah balai, dan dia merasa ada sesuatu di dadanya yang hangat dan berat pada saat yang sama.
Sebelum tidur, dia naik ke atas atap balai, duduk di sana sendirian, dan menatap ke arah Sungai Min yang kini tenang di bawah bulan, dan dia berbisik bahwa dia tidak tahu apakah ini akan bertahan selamanya, tapi dia tahu bahwa untuk pertama kalinya mereka tidak membangun untuk hari ini, mereka membangun untuk sepuluh tahun ke depan.
Dia menulis di bukunya dengan tangan gemetar karena dingin, menulis bahwa hari ini kota lumpur telah menjadi kota panggung, bahwa hari ini orang tidak lagi takut ketika hujan turun, karena mereka tahu ke mana harus lari, dan bahwa hari ini dia belajar bahwa membangun kembali bukan tentang mengembalikan apa yang hilang, tapi tentang membuat sesuatu yang tidak akan hilang lagi dengan cara yang sama.
Lalu dia menutup buku, menarik napas dalam, dan turun, karena besok dia harus membantu menancapkan tiang untuk rumah ke sebelas, karena pekerjaan seorang penjaga tidak pernah selesai selama masih ada orang yang butuh atap di atas kepala.
Dan ketika dia memejamkan mata malam itu, dia tidak bermimpi tentang Gunung Emei, dia bermimpi tentang deretan rumah panggung yang memanjang di sepanjang sungai, dengan lampu di setiap tangga, dengan anak-anak yang berlari di atas jembatan, dan dengan air yang boleh naik setinggi apa pun karena di bawahnya sudah tidak ada lagi orang yang tidur.