Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Level 47
Ujian tengah semester resmi selesai hari Jumat, dan seperti kebanyakan mahasiswa baru yang baru pertama kali merasakan tekanan itu, aku menghabiskan malam Jumat dengan cara yang paling sederhana: tidur jam sepuluh, lebih awal dari biasanya, karena tiga hari terakhir kepala rasanya seperti prosesor yang dipaksa jalan di atas kapasitasnya.
Tiga hari itu, aku dan Cahaya belajar bareng hampir tiap malam, di ruang tamu rumahnya karena mejanya lebih lebar dari mejaku, dikelilingi buku catatan, kertas coretan rumus, dan piring bekas cemilan yang selalu habis lebih cepat dari yang seharusnya. Ada satu malam di mana kami berdua ketiduran di lantai sambil masih memegang buku, dan baru bangun jam dua pagi karena ibunya Cahaya menepuk kaki kami dengan sendal, menyuruh pulang atau tidur di kasur yang benar.
Aku tidak akan cerita detail soal itu di sini karena itu bukan bagian dari cerita ini. Yang perlu diketahui cuma: ujian selesai, dan Sabtu paginya, dunia terasa lega dengan cara yang aneh, seperti bangun dari mimpi buruk yang, begitu selesai, kamu sadar sebenarnya tidak seburuk itu.
Dan di hari yang lega itu, aku melakukan satu kesalahan yang, kalau dipikir sekarang, seharusnya bisa aku hindari dengan sangat mudah.
Rabu sebelumnya, di sela belajar, Cahaya menyebut sesuatu sambil menggigit pensil, matanya masih di buku catatan.
"Ren, Sabtu abis ujian, kita nonton bareng ya."
"Nonton apa?"
"Film yang aku ceritain minggu lalu. Yang katanya seru banget, based on true story, tentang kasus pembunuhan di kapal pesiar."
Aku ingat dia pernah cerita soal ini, meski detailnya sudah kabur karena saat itu aku lebih fokus menghafal rumus turunan. "Yang kamu nonton trailer-nya berkali-kali itu?"
"Iya! Nah, aku udah nemu link streaming-nya, legal kok, langganan kakakku. Sabtu malem kita nonton bareng di rumahku ya, aku bikinin cemilan."
"Oke."
"Serius nih. Ini pertama kalinya aku ngajak kamu nonton sesuatu yang bukan anime."
Aku menoleh dari buku catatan. "Aku juga nonton drama sesekali."
"Nonton yang aku ceritain doang, sambil sibuk main hape. Ini beda. Aku pengen kamu beneran nonton, bukan sambil lalu."
Ada sesuatu di caranya bilang itu yang membuatku berhenti sebentar dari mengerjakan soal, menatapnya. Cahaya jarang secara eksplisit bilang dia ingin sesuatu dilakukan dengan cara tertentu. Biasanya dia lebih santai soal hal-hal begini, lebih fleksibel.
"Oke," jawabku lagi, kali ini lebih serius. "Sabtu malem, nonton bareng, aku beneran nonton."
"Janji?"
"Janji."
Dia tersenyum, kembali ke buku catatannya, dan topik itu tidak dibahas lagi malam itu karena kami masih punya empat bab lagi yang harus dikuasai sebelum ujian besok paginya.
Aku tidak tahu kenapa aku menceritakan detail percakapan ini sedetail mungkin. Mungkin karena, kalau dipikir ulang sekarang, ini adalah bagian dari alasan kenapa apa yang terjadi Sabtu malam terasa lebih buruk dari yang seharusnya.
Sabtu pagi, aku bangun jam sembilan, jauh lebih siang dari jadwal kuliah biasa, dan hal pertama yang aku lakukan setelah cuci muka adalah membuka laptop.
Bukan untuk belajar. Ujian sudah selesai. Aku membuka laptop untuk memeriksa apakah Aetherfall sudah bisa di-download.
Aetherfall adalah game yang sudah aku tunggu sejak enam bulan lalu, sejak trailer pertamanya keluar dan langsung membuatku menonton ulang lima kali berturut-turut. Open world action RPG, dikembangkan studio indie dari Jepang yang sebelumnya bikin dua game yang aku suka banget, dengan sistem pertarungan yang katanya menggabungkan elemen souls-like dengan eksplorasi ala game petualangan klasik. Rilisnya seharusnya bulan lalu, tapi ditunda dua kali, dan akhirnya fix rilis Sabtu ini, jam dua belas siang waktu Indonesia.
Aku sudah pre-order sejak tiga bulan lalu, nabung dari uang jajan yang aku sisihkan, dan sudah janji ke diri sendiri kalau game ini keluar, aku akan main "sebentar" untuk lihat gameplay awalnya, sekadar memastikan semuanya berjalan lancar sebelum melanjutkan hidup normal.
Jam dua belas siang, downloadnya selesai. Ukurannya lima puluh dua gigabyte, dan proses instalasi memakan waktu tambahan sepuluh menit yang aku habiskan sambil membaca ulasan-ulasan awal dari orang-orang yang sudah dapat akses lebih dulu. Semua ulasan bilang hal yang sama: gameplay-nya luar biasa, dunia terbukanya sangat detail, dan jam pertama game ini sudah cukup untuk membuat siapa pun ketagihan.
Mereka tidak bohong.
Aku ingat momen persisnya ketika aku memutuskan untuk "main sebentar". Jam dua belas lewat lima belas menit, aku duduk di kursi meja belajar, headphone terpasang, layar menampilkan opening cutscene yang, jujur, sinematografinya jauh lebih bagus dari yang aku bayangkan dari trailer.
Karakter yang aku mainkan bangun di reruntuhan sebuah kota yang, menurut lore game-nya, hancur karena perang antara dua kerajaan sihir seribu tahun lalu. Grafisnya detail sampai ke butiran debu yang melayang kena cahaya matahari yang menembus celah bangunan runtuh. Musik latarnya orkestra penuh, membangun suasana yang aku tidak bisa deskripsikan selain "menghanyutkan", kata yang biasanya aku hindari karena terlalu klise tapi di sini benar-benar terasa tepat.
Aku bermain terus. Menyelesaikan tutorial area, keluar ke open world pertama, menemukan NPC pertama yang memberi quest, mulai mengeksplorasi.
Ponselku bergetar sekali sekitar jam satu siang. Aku sempat melirik, notifikasi dari grup PKKMB soal sesuatu yang tidak penting, dan aku kembali fokus ke layar.
Jam dua siang, aku sudah level dua belas, sudah menyelesaikan tiga dungeon kecil, dan menemukan satu area rahasia yang katanya cuma bisa ditemukan sekitar lima persen pemain karena tersembunyi di balik jurang yang butuh cara tertentu untuk dilewati.
Aku ingat merasa bangga soal itu. Aku ingat mengirim screenshot ke grup Discord kecil berisi Bimo dan dua teman SMA-nya yang juga main game yang sama, dan Bimo langsung membalas dengan antusias, mengajak aku ikut voice call sambil main bareng, meski game-nya single player, cuma sekadar ngobrol sambil eksplorasi masing-masing.
Aku bergabung ke voice call itu jam setengah tiga.
Dan dari titik itu, waktu berjalan dengan cara yang aku tidak bisa jelaskan selain: cepat, terlalu cepat, dengan cara yang cuma bisa dipahami orang yang pernah tenggelam dalam sesuatu sampai lupa dunia luar masih berjalan.
Bimo, dalam voice call itu, cerita soal build karakter yang dia coba, soal boss pertama yang katanya susah banget kalau salah strategi, soal easter egg yang dia temukan yang mereferensikan game lain buatan studio yang sama.
Aku ikut cerita soal area rahasia yang aku temukan, soal quest sampingan yang ternyata punya plot lebih dalam dari yang terlihat, soal sistem crafting yang lebih rumit dari yang aku kira tapi memuaskan begitu dikuasai.
Kami main sambil ngobrol, ngobrol sambil main, dan setiap kali salah satu dari kami menemukan sesuatu yang menarik, yang lain langsung penasaran dan ingin coba sendiri, menciptakan semacam lingkaran motivasi yang membuat kami berdua terus lanjut, terus lanjut, tanpa ada yang bilang "cukup untuk hari ini".
Aku tidak sadar ponselku bergetar beberapa kali di meja sebelah laptop.
Aku tidak sadar salah satu getaran itu adalah pesan dari Cahaya jam empat sore, bertanya apakah aku sudah siap-siap.
Aku tidak sadar getaran berikutnya, jam lima, bertanya apakah aku lupa.
Aku tidak sadar getaran ketiga, jam enam lewat, yang isinya cuma titik tiga tanpa kata apa pun, seolah dia mengetik sesuatu lalu menghapusnya, lalu mengetik lagi, lalu menghapus lagi, sampai akhirnya menyerah dan cuma mengirim tanda itu.
Aku baru sadar semua itu jam setengah delapan malam, ketika aku akhirnya mengalahkan boss pertama, karakterku terkapar di tanah dalam animasi kemenangan yang dramatis, dan aku melepas headphone sebentar untuk merenggangkan leher yang sudah kaku karena posisi duduk yang sama selama tujuh jam lebih.
Dan di saat itulah aku melihat layar ponsel yang sudah menyala terus tanpa aku sadari, menampilkan lima notifikasi dari Cahaya yang belum aku buka.
Aku membuka pesan-pesan itu dengan perasaan yang langsung berubah dingin.
"Ren, jam berapa nih kesini? Aku udah siapin cemilan." — jam 16:02
"Ren?" — jam 17:14
"..." — jam 18:07
"Ya udah deh, kalo kamu sibuk enggak apa-apa, aku ngerti kok." — jam 19:23
"Aku nonton duluan ya. Nanti kalo udah selesai main, kabarin aja." — jam 19:41
Aku menatap layar itu dengan perasaan yang campur aduk antara kaget dan malu, dua perasaan yang bergerak bersamaan tapi tidak saling menetralkan, malah saling menguatkan.
Jam sekarang menunjukkan 19:47.
Aku hampir delapan jam tenggelam di dunia Aetherfall dan sepenuhnya lupa bahwa ada dunia nyata di mana seseorang sudah menunggu, sudah menyiapkan cemilan, sudah mengirim pesan yang semakin lama semakin terasa seperti seseorang yang sedang berusaha keras untuk tidak terdengar kecewa.
"Ren?" suara Bimo dari headphone yang masih tergantung di leherku, suaranya kecil karena aku sudah melepas satu sisi. "Kamu masih di sana?"
Aku memasang kembali headphone. "Bim, aku harus pergi. Sekarang."
"Kenapa? Ada apa?"
"Aku ada janji sama Cahaya. Dari jam empat sore. Aku lupa."
Ada jeda di ujung sana, dan aku bisa membayangkan ekspresi Bimo yang pasti berubah dari antusias jadi sesuatu yang lebih hati-hati.
"Ren," katanya, nadanya berbeda sekarang. "Kamu udah main dari jam berapa?"
"Setengah satu."
"Dan kamu baru sadar sekarang? Jam delapan malem?"
Aku tidak menjawab itu karena jawabannya sudah cukup jelas dari fakta bahwa aku bertanya seperti orang linglung.
"Sori, aku harus buru-buru," kataku, sudah berdiri dari kursi, mematikan laptop tanpa menyimpan progress dengan benar, sesuatu yang biasanya tidak pernah aku lakukan tapi malam itu terasa tidak penting sama sekali. "Nanti aku cerita."
Aku memutus voice call, mengambil jaket, dan berlari keluar rumah tanpa sempat bilang ke ibuku aku mau ke mana.
Rumah Cahaya cuma butuh waktu tiga menit jalan kaki cepat, tapi malam itu aku setengah berlari, jantung berdebar dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa aku jelaskan, karena secara objektif ini bukan situasi darurat, cuma janji nonton film yang terlewat. Tapi rasanya lebih berat dari itu, dan aku tidak sepenuhnya paham kenapa.
Aku sampai di depan rumahnya jam 19:52, napas masih terengah, dan mengetuk pintu dengan ritme yang mungkin terlalu terburu-buru untuk ukuran ketukan pintu biasa.
Ibunya Cahaya yang membuka pintu, tersenyum seperti biasa. "Eh, Rendy. Cahaya di kamar, lagi nonton film kayaknya."
"Boleh saya masuk, Tante?"
"Boleh, boleh. Kamu belum makan? Ada nasi goreng sisa tadi."
"Enggak apa-apa, Tante, makasih."
Aku naik ke lantai dua, ke kamar Cahaya, dan berdiri sebentar di depan pintu yang setengah terbuka sebelum akhirnya mengetuk pelan.
"Cahaya?"
"Masuk aja," jawabnya dari dalam, suaranya terdengar biasa, tidak ada tanda kekesalan yang jelas.
Aku membuka pintu. Cahaya duduk di kasurnya, laptop di pangkuan, layar menampilkan film yang, dari adegan yang sedang tampil, sepertinya sudah masuk pertengahan cerita. Di sampingnya, di atas meja kecil, ada mangkuk popcorn yang setengah habis dan dua gelas jus jeruk, satu sudah kosong, satu masih penuh dengan es yang sudah mulai mencair.
Gelas yang masih penuh itu, aku sadar, pasti disiapkan untukku.
"Sori," kataku, berdiri di ambang pintu, tidak langsung masuk. "Aku lupa waktu. Ada game baru yang rilis, aku main terus sampe enggak sadar udah malem."
Cahaya tidak menoleh dari layar laptop, matanya tetap di film. "Enggak apa-apa kok."
"Aku beneran lupa. Bukan sengaja."
"Aku tau, Ren. Enggak apa-apa." Dia menekan tombol pause di film, akhirnya menatapku, dan senyumnya terlihat normal, terlalu normal, dengan cara yang justru membuatku curiga. "Aku udah nonton setengah duluan sih. Filmnya bagus, plot twist-nya enggak ketebak."
"Aku bisa mulai dari awal lagi kalau kamu mau."
"Enggak usah, buang-buang waktu. Kamu kan udah nonton game-nya seharian, pasti capek."
Ada sesuatu di cara dia bilang "nonton game-nya" yang terasa sedikit tajam, meski nadanya masih santai, dan aku tidak sepenuhnya tahu harus menanggapinya bagaimana.
"Aku enggak capek," kataku, masuk ke kamar, duduk di kursi meja belajarnya, bukan di kasur seperti biasa. "Kalau kamu mau, kita bisa nonton bareng sisanya sekarang."
Cahaya menatap layar laptopnya sebentar, lalu menutupnya. "Filmnya udah mau abis. Enggak seru kalau nonton potongan terakhir doang."
"Kalau gitu kita nonton dari awal aja."
"Ren." Dia menghela napas, tapi masih dengan senyum yang sama, senyum yang mulai terasa seperti topeng lebih dari ekspresi asli. "Enggak apa-apa. Serius. Kita bisa nonton film lain lain kali."
"Tapi kamu udah nyiapin ini semua." Aku menunjuk ke arah popcorn dan jus yang masih penuh di meja.
"Ya kan aku emang mau makan popcorn, enggak harus nunggu kamu." Dia mengambil satu genggam popcorn, memakannya dengan gestur yang terlalu santai untuk terasa alami. "Lagian aku juga enggak tau kamu bakal telat, jadi aku siapin dari awal aja."
Aku menatapnya, mencoba membaca ekspresi yang ada di balik senyumnya, tapi Cahaya sudah cukup mahir menyembunyikan apa pun yang tidak ingin dia perlihatkan, keahlian yang mungkin sudah dia latih bertahun-tahun tanpa aku pernah benar-benar sadari sampai sekarang.
"Aku beneran minta maaf," kataku lagi, karena entah kenapa satu kali permintaan maaf terasa tidak cukup.
"Rendy." Dia menatapku, nadanya masih ringan tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. "Aku bilang enggak apa-apa. Kamu enggak perlu terus-terusan minta maaf, itu malah bikin awkward."
"Tapi kamu keliatan enggak baik-baik aja."
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat memikirkannya lebih jauh, dan begitu keluar, aku melihat sesuatu berubah di wajah Cahaya, hanya sepersekian detik, sebelum dia kembali memasang senyumnya.
"Aku baik-baik aja kok," katanya, terlalu cepat. "Cuma capek abis ujian. Kamu juga pasti capek."
"Cahaya."
"Apa?"
Aku tidak tahu harus bilang apa setelah itu. Ada sesuatu yang jelas salah, tapi Cahaya menutupnya dengan begitu rapat sampai aku tidak tahu bagaimana cara membukanya tanpa membuat situasi jadi lebih canggung dari yang sudah ada.
"Enggak apa-apa," kataku akhirnya, menyerah untuk malam itu. "Kalau kamu bilang enggak apa-apa, ya enggak apa-apa."
"Nah gitu dong." Dia tersenyum lebih lebar sekarang, kembali ke nada ringan yang biasa. "Kamu udah makan belum? Ada nasi goreng sisa di bawah, katanya mama."
"Belum."
"Ya udah, makan gih. Aku mau lanjutin nonton, biar enggak penasaran."
Aku berdiri, ragu sebentar, ingin bilang sesuatu lagi tapi tidak tahu apa, dan akhirnya cuma mengangguk. "Oke. Aku turun dulu."
"Oke."
Aku berjalan ke arah pintu, dan sebelum keluar, aku menoleh sekali lagi. Cahaya sudah membuka laptopnya lagi, menekan tombol play, matanya fokus ke layar dengan cara yang terlalu fokus untuk terlihat natural.
"Cahaya."
"Hm?"
"Makasih ya. Udah nyiapin semua ini."
Dia tidak langsung menjawab, matanya masih di layar. "Sama-sama," katanya akhirnya, singkat, dan aku tidak bisa membaca apa pun lagi dari nada itu selain bahwa percakapan ini sudah selesai untuk malam ini.
Aku keluar kamar, menutup pintu pelan, dan berdiri sebentar di lorong sebelum turun ke bawah.
Aku makan nasi goreng di dapur rumah Cahaya, sendirian, karena ibunya sudah masuk ke kamar dan ayahnya kerja shift malam. Nasi gorengnya enak, seperti biasa, tapi aku hampir tidak merasakan rasanya karena kepalaku masih penuh dengan gambar wajah Cahaya tadi, senyum yang terlalu rapi, dan gelas jus jeruk yang masih penuh dengan es yang sudah mencair separuh.
Aku memikirkan lima pesan yang tidak aku balas seharian, dari yang isinya masih bersemangat sampai yang cuma titik tiga tanpa kata, dan bagaimana perubahan nada itu, kalau dibaca ulang sekarang, sebenarnya sudah cukup jelas menunjukkan sesuatu yang aku sama sekali tidak sadari saat sedang tenggelam dalam Aetherfall.
Aku selesai makan, mencuci piring sendiri karena itu kebiasaan yang sudah ditanamkan sejak kecil di rumah manapun aku makan, dan pamit pulang lewat pesan ke ibunya Cahaya yang sudah di kamar.
Sebelum keluar rumah, aku sempat naik lagi ke lantai dua, berdiri di depan pintu kamar Cahaya yang sudah tertutup rapat. Dari dalam, aku bisa mendengar suara film masih berjalan, dialog dalam bahasa Inggris yang teredam pintu.
Aku ingin mengetuk. Ingin bertanya sekali lagi, dengan cara yang berbeda, apakah dia benar-benar baik-baik saja.
Tapi aku tidak melakukannya. Entah karena aku takut jawabannya, atau karena aku benar-benar tidak tahu pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan, aku cuma berdiri di sana beberapa detik sebelum akhirnya berbalik dan turun ke bawah, keluar rumah, pulang ke rumahku sendiri yang jaraknya cuma tiga menit tapi malam itu terasa lebih jauh dari biasanya.
Di kamar, aku duduk di kasur, tidak langsung membuka laptop meski Aetherfall masih terinstall dan menunggu untuk dilanjutkan.
Aku membuka chat dengan Cahaya, membaca ulang lima pesan yang terlewat tadi, kali ini lebih pelan, memperhatikan setiap kata dengan cara yang seharusnya sudah aku lakukan dari awal.
"Ren, jam berapa nih kesini? Aku udah siapin cemilan."
Itu pesan pertama, masih bersemangat, tanda seru di akhir menunjukkan antusiasme yang jujur.
"Ren?"
Pesan kedua, satu jam kemudian, sudah lebih pendek, sudah ada nada bertanya-tanya.
"..."
Pesan ketiga, cuma titik tiga, yang kalau dipikir sekarang mungkin adalah versi Cahaya dari kalimat yang dia mulai ketik lalu hapus berkali-kali karena tidak tahu harus bilang apa tanpa terdengar terlalu menuntut.
"Ya udah deh, kalo kamu sibuk enggak apa-apa, aku ngerti kok."
Pesan keempat, yang kalau dibaca sekilas terdengar seperti pengertian biasa, tapi kalau dibaca lebih pelan, terasa seperti seseorang yang sedang memaksa diri untuk terdengar baik-baik saja.
"Aku nonton duluan ya. Nanti kalo udah selesai main, kabarin aja."
Pesan kelima, yang paling menusuk dari semuanya, karena di situ dia sudah sepenuhnya menyerah menunggu, dan memilih untuk melanjutkan sendirian daripada terus berharap.
Aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit kamar, memikirkan berapa banyak momen seperti ini yang mungkin pernah terjadi sebelumnya tanpa aku sadari, momen di mana Cahaya menunggu sesuatu dariku dan akhirnya memilih untuk berhenti menunggu sendirian, menutupinya dengan senyum dan nada santai yang begitu meyakinkan sampai aku tidak pernah curiga ada apa-apa di baliknya.
Aku tidak tahu berapa kali ini sudah terjadi.
Yang aku tahu, malam ini adalah kali pertama aku benar-benar melihatnya, meski cuma sedikit, meski cuma sekilas sebelum dia kembali menutupnya rapat-rapat.
Ponselku bergetar sekitar jam sepuluh malam. Bukan dari Cahaya. Dari Sasa.
"Ren, Cahaya kenapa? Dia chat aku barusan, tapi jawabannya pendek-pendek banget, enggak kayak biasa."
Aku menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas, mempertimbangkan seberapa banyak yang harus aku ceritakan.
"Aku lupa janji nonton bareng tadi. Keasyikan main game."
Balasan Sasa datang cukup cepat.
"Ren."
"Iya?"
"Serius?"
"Iya. Aku udah minta maaf, dia bilang enggak apa-apa."
Jeda cukup lama sebelum balasan berikutnya.
"Ren, kalo Cahaya bilang 'enggak apa-apa' dengan nada itu, itu artinya BUKAN enggak apa-apa. Kamu belom belajar itu juga sampe sekarang?"
Aku tidak langsung membalas, karena aku tidak sepenuhnya tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan yang, kalau dipikir, sebenarnya sudah cukup jelas jawabannya dari apa yang baru saja aku alami sendiri beberapa jam lalu.
"Aku enggak tau harus gimana," ketikku akhirnya, jujur.
"Ya belajar, Ren. Nanti aku omongin lebih jauh, sekarang aku mau samperin Cahaya dulu. Dia kayaknya butuh temen ngobrol yang bukan kamu malem ini."
Kalimat terakhir itu terasa lebih tajam dari yang mungkin dimaksudkan Sasa, tapi aku tidak bisa membantahnya, karena mungkin memang benar, malam ini Cahaya butuh seseorang yang bukan aku, seseorang yang tidak jadi alasan kenapa dia menunggu delapan jam sambil menyiapkan cemilan yang akhirnya dia makan sendirian.
Aku meletakkan ponsel, menatap langit-langit lagi, dan untuk pertama kalinya sejak Aetherfall rilis, aku sama sekali tidak tertarik untuk membuka laptop dan melanjutkan permainan.
Aku tidur malam itu dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa aku definisikan. Bukan cuma bersalah, meski itu ada. Ada juga sesuatu yang lebih samar, semacam kesadaran yang baru mulai terbentuk tapi belum cukup jelas untuk aku pahami sepenuhnya.
Aku memikirkan gelas jus jeruk yang masih penuh, es yang mencair separuh. Aku memikirkan senyum Cahaya yang terlalu rapi, terlalu terkontrol untuk terlihat natural. Aku memikirkan lima pesan yang perubahan nadanya begitu jelas kalau dibaca ulang, tapi begitu mudah terlewat kalau kamu sedang tenggelam di dunia lain yang, saat itu, terasa lebih menarik dari dunia nyata di depan mata.
Aku tidak tahu apa artinya semua ini secara lebih besar. Aku cuma tahu bahwa malam ini terasa berbeda dari malam-malam biasa, dan bahwa besok, aku harus mencari cara untuk benar-benar meminta maaf, bukan cuma dengan kata-kata yang mudah dibalas dengan "enggak apa-apa", tapi dengan cara yang membuat Cahaya tahu aku benar-benar mengerti apa yang aku lewatkan.
Meski, kalau jujur, aku sendiri belum sepenuhnya mengerti apa itu.
Aku menutup mata, mencoba tidur, dan gambar terakhir yang muncul sebelum semuanya gelap bukan adegan kemenangan melawan boss pertama di Aetherfall, bukan juga area rahasia yang aku temukan dengan bangga siang tadi.
Cuma gelas jus jeruk itu. Penuh. Esnya mencair. Menunggu seseorang yang datang terlalu terlambat untuk benar-benar menghargainya.