"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"
Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.
Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.
Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.
"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: GEJOLAK AULA AGUNG
Mo Xie menangkap jubah hitam yang dilemparkan oleh Xue Qingyue dengan satu gerakan mantap. Tanpa membuang waktu, ia mengenakan pakaian baru tersebut untuk menutupi dadanya yang bertelanjang.
Jubah hitam berbahan kain sutra es itu terasa sangat pas di tubuhnya yang tegap. Di bagian dada kiri dan lengan jubah, terukir sulaman benang perak berbentuk lambang Sekte Es Abadi—sebuah krisan es yang dibelit garis segel kuno. Penampilannya kini tampak jauh lebih rapi dan berwibawa, memancarkan aura misterius yang dingin seiring dengan perubahan besar pada fondasi jiwanya setelah menembus ranah Awakened.
Xue Qingyue menatap Mo Xie sejenak, mengamati fluktuasi Qi Chaos yang perlahan-lahan menyusut dan tersembunyi rapat di balik pori-pori kulit pemuda itu.
"Stabilkan fondasi ranah barumu terlebih dahulu," ujar Xue Qingyue dengan nada suaranya yang kembali datar dan tenang. "Proses penerobosan dengan Bencana Langit ekstrim seperti tadi pasti meninggalkan sedikit sisa guncangan di sirkulasi Dantian milikmu. Jika kau sudah selesai menstabilkannya, segera temui aku di Aula Agung."
Mo Xie mengangguk pelan. "Aku mengerti."
Tanpa membuang waktu lagi, Xue Qingyue mengibaskan lengan jubahnya, melayang anggun menembus kabut es menuju puncak utama. Sementara itu, Mo Xie kembali menduduki batu es yang tersisa di tengah kawah yang hancur, memejamkan matanya untuk merapikan aliran Qi Chaos yang baru saja lahir di dalam raganya.
Sementara itu, di dalam Aula Agung Sekte Es Abadi, suasana terasa sangat berat dan menekan.
Jajaran petinggi tertinggi sekte telah berkumpul secara lengkap. Di atas dua takhta utama, Ketua Agung Han Wuyan dan Ketua Sekte Mu Bingyun duduk mendampingi jalannya pertemuan. Di undakan bawah, para Tetua dari berbagai divisi berdiri berjejer dengan raut wajah yang dipenuhi keseriusan.
Pintu kristal es Aula Agung perlahan bergeser terbuka, memperlihatkan sosok Xue Qingyue yang melangkah masuk dengan anggun. Ia melangkah menuju tengah ruangan, membungkukkan badannya dengan hormat di hadapan para petinggi.
"Xue Qingyue memberi salam kepada Ketua Agung, Ketua Sekte, dan para Tetua," ucapnya jernih.
"Bagaimana dengan situasi di perbatasan selatan setelah peristiwa satu tahun lalu, Qingyue?" tanya Mu Bingyun dari atas takhtanya, memecah keheningan aula.
Xue Qingyue menegakkan tubuhnya kembali. "Melaporkan kepada Ketua Sekte. Sejak insiden penutupan celah utama satu tahun yang lalu, intensitas dan skala serangan Entitas Void di wilayah selatan justru berkurang drastis secara tidak wajar. Aktivitas pergerakan makhluk-makhluk tersebut berada di titik terendah selama beberapa dekade terakhir."
Mendengar laporan tersebut, gumaman rendah langsung bersahut-sahutan di antara jajaran para Tetua.
Seorang pria paruh baya berjanggut kelabu dengan jubah keemasan—Tetua Keempat Sekte Es Abadi—melangkah maju satu depak. Wajahnya yang keras memancarkan keraguan yang sangat jelas.
"Fenomena ini sangat janggal," timpal Tetua Keempat dengan suara berat yang nyaris seperti guruh. "Penurunan skala serangan sebesar ini tidak pernah terjadi selama ratusan tahun terakhir. Dan hal ini terjadi tepat setelah kedatangan bocah fana bernama Mo Xie satu tahun yang lalu. Apakah ini hanya kebetulan, atau justru ada hubungannya dengan keberadaan Qi Kegelapan yang dibawa oleh anak itu?"
Xue Qingyue tetap menundukkan kepalanya, memilih untuk tidak langsung memotong pernyataan sang Tetua.
Namun, sebelum Tetua Keempat melanjutkan prasangkanya lebih jauh, Mu Bingyun yang bertakhta di atas langsung menyanggah dengan nada dingin.
"Kau tidak bisa menyimpulkan hal serumit ini semudah itu, Tetua Keempat," tegas Mu Bingyun, sepasang mata safirnya menatap tajam ke arah pria paruh baya tersebut.
"Tapi Ketua Sekte..." Tetua Keempat mencoba menyanggah kembali, mengangkat tangannya di udara. "Keberadaan bocah itu sejak awal sudah memancing ancaman dari Sekte Angin Surgawi dan faksi luar lainnya!"
"Cukup," potong Mu Bingyun cepat, menghentikan sanggahan sang Tetua secara mutlak dengan lambaian tangannya. Hawa dingin yang murni seketika membekukan kata-kata di tenggorokan Tetua Keempat.
"Berkurangnya gelombang serangan di selatan bukanlah tanda bahwa ancaman telah usai. Sangat mungkin ini adalah ketenangan sebelum badai besar—sebuah konsolidasi kekuatan dari dimensi terdalam untuk melancarkan serangan yang jauh lebih masif di masa depan."
Mu Bingyun kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru aula, beralih ke topik utama yang membuat seluruh benteng gempar beberapa saat lalu.
"Lalu... soal fenomena kenaikan ranah bocah itu yang baru saja memicu Bencana Langit dan membuat seluruh sekte geger," lanjut Mu Bingyun, nada suaranya mengencang. "Bagaimana sekte kita harus menyikapi keberadaannya?"
Sebelum para Tetua lainnya sempat bersuara dan melempar perdebatan baru, sosok tua yang bertakhta di sebelah Mu Bingyun perlahan berdiri dari kursinya.
Srak...
Suara gesekan jubah putih keemasan milik Han Wuyan seketika membungkam seluruh ruangan. Aura keagungan di ranah Ascendant memancar secara alami dari tubuh sang Ketua Agung, menekan setiap gejolak emosi di dalam Aula Agung hingga tak menyisakan sepatah kata pun.
Han Wuyan melangkah pelan ke depan undakan takhta, menatap jajaran pengikutnya dengan sinar mata yang tenang namun menembus jiwa.
"Mungkin kalian semua merasa aneh dan cemas dengan fenomena kenaikan ranah pemuda itu..." ucap Han Wuyan, suaranya berat dan bergaung pelan, membawa beban sejarah yang mendalam.
"Ribuan tahun yang lalu," lanjut Han Wuyan seraya membalikkan tubuh dan memandang jauh menembus jendela kristal raksasa di belakang takhtanya, "seorang leluhur dari Sekte Badai Darah juga memicu tiga kali Bencana Langit saat menerobos ranah Awakened."
Suara sang Ketua Agung bergaung pelan, membawa keheningan mutlak yang menyelimuti seluruh sudut ruangan.
"Ia adalah sosok jenius tiada tara yang hanya lahir sekali dalam seribu tahun. Dan meski ia berasal dari jalur kultivasi iblis yang dibenci, pada akhirnya dialah eksistensi tunggal yang berdiri menopang Benua Canglan dari kehancuran total," ucap Han Wuyan, perlahan berbalik dan menatap lurus ke arah para Tetua yang mematung.
Mendengar nama tempat asing itu disebut, Mu Bingyun seketika teringat akan sebuah legenda Kuno yang pernah disampaikan oleh gurunya terdahulu. Jauh di balik lautan es yang membeku di ujung utara, memang terdapat sebuah benua legendaris yang bernama Benua Canglan—sebuah tanah Kuno yang telah tenggelam bersama ingatan sejarah lima ratus tahun lalu.
Sementara itu, jajaran Tetua lainnya saling pandang dalam kebingungan yang mendalam. Pengetahuan mereka terbelenggu oleh era Bencana Langit; mereka hanya tahu tentang Benua Tianlan yang kini mereka tempati, dengan Han Wuyan sebagai satu-satunya eksistensi tertinggi di ranah Ascendant yang menjadi pilar pelindung mereka. Bagi para Tetua, ranah yang diduduki oleh Ketua Agung mereka adalah sebuah puncak tak terjangkau yang bahkan tak berani mereka bayangkan dalam kultivasi mereka sendiri.
"Kalian terlalu picik jika hanya menilai masa depan dunia dari asal-usul energi yang dibawa oleh seorang pemuda," tegas Han Wuyan, menekan gejolak prasangka di dalam aula. "Bencana Langit tiga kali lipat itu bukanlah tanda kemurkaan yang harus kita takuti, melainkan bukti bahwa wadah spiritual anak itu diakui oleh alam sebagai ancaman sekaligus penyeimbang."
Mu Bingyun menghela napas panjang, menarik kembali hawa dinginnya saat ia memahami arah pemikiran sang Ketua Agung.