Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Matahari perlahan bergeser ke tengah langit, memancarkan kehangatan yang cukup menyengat di atas kota pelabuhan pulau seberang.
Arya berjalan beriringan dengan Vanya menyusuri jalanan paving block yang bersih dari deretan toko-toko cinderamata dan kedai makanan.
"Uang hasil pijit tadi pagi cukup lumayan buat bayar sewa tempat tinggal selama sebulan ke depan," kata Arya sambil menghitung beberapa keping perak di sakunya.
Vanya melangkah di sampingnya dengan jubah hitam yang tudungnya sudah diturunkan, membiarkan rambut peraknya terpantul cahaya matahari.
"Jangan sombong dulu dengan kepingan perak murahan itu, manusia," sindir Vanya dingin namun tidak setajam biasanya.
"Bukan sombong, ini namanya realistis menghadapi kerasnya hidup di negeri orang," balas Arya santai.
Mereka terus berjalan mengikuti petunjuk dari pria gemuk yang dipijit Arya di taman kota tadi pagi mengenai agen properti murah di pinggiran kota.
Setelah berjalan kaki selama hampir setengah jam penuh menyusuri jalanan perumahan yang tenang, mereka akhirnya tiba di depan sebuah bangunan kecil berlantai satu.
Bangunan itu dikelilingi pagar kayu rendah dengan halaman kecil yang dipenuhi bunga liar berwarna kuning cerah.
Di depan pintu pagar tergantung sebuah plang kayu tua bertuliskan "Disewakan Rumah Sederhana".
"Nah, sepertinya ini tempat yang dimaksud oleh bapak-bapak tadi," tunjuk Arya ke arah rumah kecil tersebut.
Vanya meneliti bangunan itu dengan saksama menggunakan mata tajamnya dari balik pagar kayu.
"Rumah ini terlihat sangat kecil dan sederhana, tapi setidaknya tidak berbau amis seperti gudang pelabuhan kemarin," nilai Vanya.
"Makanya jangan banyak protes, yang penting bersih dan aman dari kejaran mata-mata istana," ujar Arya.
Arya melangkah masuk ke halaman kecil lalu mengetuk pintu kayu rumah tersebut sebanyak tiga kali.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan itu bergemuruh pelan memecah kesepian siang hari.
Tidak lama kemudian, pintu kayu itu terbuka dari dalam, memunculkan sosok seorang wanita paruh baya berwajah ramah.
"Cari siapa ya, anak muda? Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita pemilik rumah itu sopan.
"Selamat siang, Bu, saya dengar rumah ini disewakan untuk umum, apa betul?" tanya Arya langsung pada intinya.
Wanita paruh baya itu tersenyum lebar mendengar maksud kedatangan pemuda di hadapannya.
"Oh, betul sekali! Mari masuk dulu lihat-lihat ke dalam biar tidak penasaran," ajak wanita itu ramah.
Arya dan Vanya melangkah masuk melewati ambang pintu menuju ruang tamu yang berukuran cukup mungil.
Di dalam ruangan itu terdapat satu meja kayu kecil, dua buah kursi rotan, dan jendela kaca bersih yang menghadap ke halaman.
"Meskipun kecil, rumah ini sangat tenang dan udaranya sejuk karena dekat dengan bukit belakang," jelas sang pemilik rumah mempromosikan.
Vanya duduk di atas kursi rotan dengan postur tubuh tetap tegak, mengamati setiap sudut ruangan dengan teliti.
"Berapa harga sewa rumah ini per bulan, Bu?" tanya Arya to the point.
"Cuma delapan keping perak per bulan, sudah termasuk air bersih dari sumur belakang," jawab pemilik rumah tersenyum.
Arya merogoh saku celananya lalu mengeluarkan delapan keping perak hasil kerja kerasnya di taman kota tadi pagi.
"Ini uang sewanya untuk bulan pertama, Bu, kami ambil rumah ini," kata Arya menyerahkan kepingan uang tersebut.
Wanita paruh baya itu menerima koin perak dengan gembira, lalu menyerahkan satu set kunci besi kepada Arya.
"Wah, cepat sekali keputusannya! Ini kuncinya, silakan langsung dirapikan barang-barangnya," ucap pemilik rumah sumringah.
Setelah berbasa-basi sebentar, wanita pemilik rumah itu pamit pulang meninggalkan mereka berdua di rumah baru tersebut.
Arya menghembuskan napas lega lalu menjatuhkan punggungnya ke kursi rotan yang empuk.
"Hah... akhirnya kita resmi punya tempat tinggal tetap di kota ini," desah Arya merasa tenang.
Vanya bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengelilingi ruangan kecil itu sambil menyentuh dinding putih yang bersih.
"Tempat ini... tidak terlalu buruk untuk ukuran tempat tinggal manusia rendahan," puji Vanya pelan.
"Wah, tumben banget ratu iblis muji tempat tinggal kita, biasanya dibilang kandang kambing," ledek Arya tersenyum.
Vanya melirik tajam ke arah Arya dengan rona merah tipis di pipinya akibat salah tingkah.
"Diam kamu! Aku berkata jujur karena udaranya lumayan segar di sini!" elak Vanya sewot.
"Iya deh iya, ampun Yang Mulia Ratu, saya mau bersih-bersih kamar dulu ya," ujar Arya berdiri.
Arya mengambil tas usangnya lalu masuk ke dalam kamar tidur kecil yang berada di bagian belakang rumah.
Di dalam kamar itu terdapat satu tempat tidur kayu dengan kasur empuk berlapis kain katun bersih.
"Lumayanlah, setidaknya punggungku tidak bakal sakit lagi tidur di sini," gumam Arya senang.
Ia mulai merapikan botol-botol minyak pijit herbal miliknya di atas meja kecil dekat tempat tidur.
Vanya menyusul masuk ke dalam kamar sambil melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi bosan.
"Lalu apa lagi kegiatan kita setelah menetap di rumah kecil ini?" tanya Vanya menyelidik.
Arya menoleh sekilas ke arah Vanya sambil merapikan bantal di atas tempat tidur.
"Tentu saja aku bakal buka praktik pijit keliling atau buka lapak kecil di depan rumah buat cari makan," jawab Arya.
Vanya mendengus pelan mendengar rencana harian yang sangat sederhana dari sang tukang pijit.
"Hidupmu benar-benar hanya berputar di sekitar memijit orang lain dan mencari koin perak," cibir Vanya.
"Mau bagaimana lagi, keahlianku kan cuma di situ, kalau aku jadi jenderal perang kayak kamu nanti malah bikin kacau," balas Arya santai.
Vanya terdiam sejenak, menatap lurus ke arah Arya yang tersenyum tulus tanpa beban hidup yang berat.
Meskipun mereka adalah buronan kerajaan yang sedang dalam pelarian besar, Arya tidak pernah kehilangan sisi tenangnya.
Hal itulah yang diam-diam paling dikagumi oleh Vanya dari sosok pemuda manusia di depannya itu.
[Peringatan Sistem: Misi penetapan markas baru berhasil diselesaikan dengan sempurna!]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +15 poin sistem total menjadi 190 poin.]
Suara dengungan khas sistem itu berputar singkat di dalam kepala Arya tanpa mengganggu suasana siang hari.
Arya mengabaikan notifikasi tersebut lalu berjalan melewati Vanya menuju dapur kecil di sebelah kamar.
"Mau ke mana lagi sekarang?" tanya Vanya penasaran melihat Arya berjalan ke arah belakang.
"Mau masak air buat bikin seduhan teh herbal, mau minum juga nggak?" tawar Arya ramah.
Vanya mengangguk pelan tanpa bersuara, berjalan mengekor di belakang Arya menuju dapur mungil.
Suasana siang hari di rumah kecil pinggiran kota itu terasa begitu damai dan jauh dari hiruk-pikuk kejaran prajurit istana.
Arya mulai menyalakan kompor kecil lalu merebus air di dalam teko tembaga tua milik pemilik sebelumnya.
Vanya berdiri di dekat pintu dapur, memperhatikan punggung Arya dengan tatapan mata merah yang lembut.
"Arya," panggil Vanya lirih memecah kesunyian dapur mungil tersebut.
Arya menoleh sekilas ke belakang dengan sebelah alis terangkat tinggi tanda tanya.
"Kenapa manggil lagi? Ada yang kurang dari dapurnya?" tanya Arya bercanda.
"Tidak... aku hanya berpikir, sampai kapan kita akan hidup tenang seperti ini di tempat asing?" tanya Vanya serius.
Arya mematikan kecil api kompornya, lalu berbalik badan menghadap langsung ke arah Vanya.
"Sampai urusan kita selesai, dan sampai kamu bisa kembali memimpin bangsamu dengan damai," jawab Arya mantap.
Vanya mengerjap kaget mendengar jawaban tegas dari pemuda yang berstatus sebagai manusia biasa itu.
"Memimpin bangsaku kembali? Itu bukan hal mudah setelah kudeta dan pengkhianatan terjadi di istana iblis," ucap Vanya lirih.
"Makanya kita jalani pelan-pelan sambil ngumpulin kekuatan, nggak usah buru-buru," hibur Arya tersenyum hangat.
Vanya menatap senyuman di wajah Arya, merasakan ada ketenangan luar biasa yang meresap ke dalam lubuk hatinya.
[Peringatan Sistem: Tingkat sinkronisasi emosi Host dan Target mencapai level tertinggi.]
[Mendapatkan bonus skill aktif baru: Sentuhan Harmoni Jiwa.]
Suara dengungan khas sistem itu berputar kencang di dalam kepala Arya memberikan kejutan skill baru.
Arya tertegun sejenak merasakan aliran energi hangat menyebar ke seluruh pembuluh darah di tubuhnya.
"Skill baru lagi? Sistem ini makin lama makin mirip pohon keterampilan di game RPG," batin Arya takjub.
Ia tersenyum kecil lalu menuangkan air panas ke dalam dua cangkir tanah liat sederhana.
"Nih, minum tehnya selagi hangat biar pikiranmu nggak tegang terus," tawar Arya menyerahkan cangkir.
Vanya menerima cangkir tanah liat itu dengan kedua tangannya secara berhati-hati.
Ia meniup permukaannya pelan-pelan lalu menyesap sedikit air teh herbal buatan Arya.
"Rasanya agak pahit, tapi... cukup menghangatkan tenggorokan," komentar Vanya jujur.
"Namanya juga teh herbal murahan, bukan anggur bangsawan istana," balas Arya tertawa kecil.
Mereka berdua menikmati seduhan teh di sore hari yang tenang di dalam rumah kecil pinggiran kota baru.