GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Roket Antariksa, Busi Honda Revo, dan Sabotase Garansi Lima Miliar Dolar
00:02:15... 00:02:14...
Hawa panas membara mulai menjalar dari dasar jurang silo peluncuran. Suara deru turbin roket berkapasitas ribuan ton dorongan terdengar bagaikan raungan naga raksasa yang terbangun dari tidur lelapnya. Pondasi beton lapis baja di sekeliling mereka bergetar hebat, merontokkan serpihan debu dan keramik dari dinding.
Di atas platform lift yang bergerak naik mendekati moncong roket pendorong Othelo II, Pak Joko berdiri santai sambil membetulkan letak sarung tenunnya yang tertiup angin kencang dari bawah.
“Gala, Senja, Siska… Perjalanan ke orbit bumi cuma butuh waktu sekitar delapan menit,” ujar Pak Joko dengan pengeras suara portabel di tangannya. “Nanti di atas sana pemandangannya bagus sekali. Sayang tidak ada warung kopi, jadi mi instan yang saya makan tadi adalah hidangan terakhir kalian.”
“PAKKKK JOKO!” jerit Gala sambil memeluk tiang pembatas platform erat-erat, matanya meram terpicing ketakutan. “Sumpah ya! Kalau saya sampai melayang-layang di luar angkasa tanpa baju astronot, hantu saya bakal bergentayangan di laci meja kerja bapak tiap jam makan siang!”
Senja mencoba mempertahankan posisi berdirinya di tengah guncangan hebat. Matanya menatap tajam ke arah sirkuit kendali utama roket yang berada di dinding lift. “Siska! Bisa dimatikan secara manual dari sini?!”
Siska merangkak mendekati panel hidrolik bawah lift, membuka penutup baja menggunakan pisau kompositnya. Bola matanya bergerak cepat memindai ribuan kabel dan papan sirkuit terintegrasi.
Tiba-tiba, gerak jemari Siska terhenti. Wajahnya yang biasanya dingin membeku, mendadak menampilkan ekspresi kebingungan yang sangat dalam.
“Siska? Ada apa? Enkripsinya terlalu rumit?!” tanya Vanya panik sambil menembakkan sisa peluru ke arah sensor peluncuran otomatis.
Siska menoleh ke arah Gala dengan tatapan tak percaya. “Tidak… Enkripsinya tidak rumit. Masalahnya… seluruh sistem pengapian roket antariksa senilai lima miliar dolar ini tidak menggunakan modul kelistrikan standar NASA atau ESA.”
Gala membuka sebelah matanya. “Terus pakai apa, Sis?! Jangan bikin penasaran di saat nyawa kita tinggal dua menit!”
“Sistem kelistrikan roket ini…” Siska menunjuk ke arah sakelar utama bertuliskan stempel pabrikan lokal, “…menggunakan susunan relay dan kabel sakelar yang identik dengan sistem pengapian sepeda motor bebek Honda Revo edisi tahun 2012.”
Suasana di dalam lift yang bergetar hebat itu mendadak hening selama dua detik.
Gala mengerjap-ngerjap. Senja melotot. Vanya terperangah.
Pak Joko yang mendengar hal itu lewat speaker langsung berdehem canggung, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ehem… Ya mau bagaimana lagi? Komponen antariksa kan mahal sekali. Lagi pula, sparepart motor bebek itu tahan banting, gampang dicari di bengkel pinggir jalan, dan yang paling penting… ada diskon partai besar!”
Gala perlahan-lahan melepaskan pelukannya dari tiang baja. Rasa takutnya mendadak menguap, berganti menjadi emosi emosional seorang pemilik motor Revo sejati yang merasa martabat kendaraannya ternoda.
“Ooooh… Jadi bapak ngurangin anggaran roket luar angkasa pakai komponen motor bekas?! Pantesan kuitansi servis bensin saya kagak pernah di-approve!” teriak Gala emosi luar biasa.
Gala langsung merogoh kantong apron denimnya, mengeluarkan sebuah busi bekas dan seutas kawat tembaga cadangan yang selalu ia bawa di dalam dompetnya untuk keadaan darurat motor mogok.
“Mbak Vanya, pegangin kaki saya! Nja, tahan panelnya!” perintah Gala bagaikan seorang mekanik senior bengkel berdikari.
00:01:05... 00:01:04...
Gala menerjang ke bawah panel sirkuit. Tanpa ragu-ragu, ia mencabut kabel busi utama roket, lalu menyambungkannya secara paksa (konsletan manual) menggunakan busi Revo tua miliknya dan kawat tembaga!
“Gala! Apa yang kamu lakukan?! Itu bisa memicu ledakan arus pendek!” teriak Siska memperingatkan.
“Tenang, Sis! Ini trik rahasia kalau Revo gue mogok waktu kena banjir rob di Tanjung Priok!” balas Gala mantap.
CTARRR! KRELEK-KRELEK-PRUT!
Bunga api listrik berwarna biru menyambar dari sirkuit utama roket. Asap hitam pekat beraroma oli terbakar langsung memenuhi ruang silo.
Di dasar silo, suara deru gemuruh mesin roket yang tadinya siap meledak meluncur ke atas, mendadak berubah menjadi suara batuk-batuk berat khas mesin motor tua yang kehabisan bensin!
BRMMMM… BLETAK-BLETAK-PRUTTT!
Layar hitung mundur peluncuran di terminal utama mendadak kacau (glitch total):
ERROR 404: PENGAPIAN MATI SURUP.
TEKANAN BAHAN BAKAR DROPPING.
SISTEM ROKET MENGALAMI MOGOK MASSAL.
“HAH?! KOK MOGOK?!” jerit Pak Joko histeris dari platform atas. Pria tua itu panik memukuli tombol kontrol. “Woi! Ini roket lima miliar dolar! Masa mogok cuma gara-gara busi bekas?!”
WUUUSSSHHH!
Tiba-tiba, dari lubang silo atas yang terbuka ke langit malam, seutas tali baja tebal menjuntai turun dari helikopter Blackhawk. Sersan Broto meluncur turun menggunakan sabuk pengaman, membawa sebuah tabung pemadam api raksasa dan melemparkannya tepat ke arah meja kontrol Pak Joko!
DUARRR!
Busa pemadam api menyembur memenuhi wajah Pak Joko, membuat pria tua itu tersedak dan jatuh terlentang di atas platform dengan sarung terbelit.
“Bagus, Gal! Mekanik bengkel memang selalu lebih berguna daripada jenderal teroris!” teriak Sersan Broto sambil mengacungkan jempol dari udara.
Sersan Broto menembakkan kait kabel otomatis ke platform Gala, Senja, Siska, dan Vanya. “Pegangan cepat! Silo ini mau runtuh karena tekanan gas buang yang tersumbat!”
Dalam hitungan detik, tali kabel ditarik kencang oleh mesin helikopter, melempar mereka bertiga melayang naik ke luar dari dasar silo Nusa Kambangan tepat saat mesin roket Othelo II meledak di dalam tanah karena arus pendek, mengubur seluruh pangkalan bawah tanah itu dalam tumpukan busa dan lumpur laut!
Satu jam kemudian, di dalam kabin helikopter Blackhawk yang melayang tenang menembus awan malam menuju arah pelabuhan rahasia.
Gala terkapar lemas di lantai helikopter, memeluk erat tas tangannya. Senja duduk di sampingnya sambil mengobati luka gores di lengan suaminya, sementara Siska dan Vanya sibuk mengamankan data enkripsi Cayman yang berhasil diselamatkan.
Pak Joko—yang berhasil diseret naik oleh Sersan Broto dalam keadaan terikat kabel baja dan wajah penuh busa pemadam—duduk muram di sudut kabin, memegangi sarungnya yang robek.
“Rencana lima tahun saya… hancur cuma gara-gara busi Revo tiga puluh ribu rupiah…” gumam Pak Joko meratapi nasib dengan tatapan kosong.
Namun, di tengah keheningan tersebut, layar tablet Siska mendadak menyala kembali secara otomatis.
Bukan rekaman Pak Joko, bukan pula Madam Elena.
Di layar tablet itu, muncul sebuah peta digital baru yang menampilkan koordinat titik rahasia di tengah Samudra Pasifik, diikuti oleh logo sebuah konsorsium rahasia baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: THE BOARD OF DIRECTORS (DEWAN KOMISARIS ULTIMAT).
Sebuah suara bariton yang terdistorsi dan jauh lebih berwibawa daripada Pak Joko maupun Elena menggema dari speaker tablet:
“Kerja bagus, Sersan Broto. Kerja bagus, Gala Prasetya. Kalian telah menyingkirkan Pak Joko dan Madam Elena yang tidak kompeten dari papan catur kami.”
Semua orang di helikopter mendadak tegang seketika. Sersan Broto menyipitkan matanya, melepaskan rokoknya. “Siapa kalian?”
Suara di tablet itu tertawa dingin.
“Pak Joko dan Madam Elena hanyalah Manajer Operasional Tingkat Dua di organisasi kami. Uang lima miliar dolar di rekening Cayman itu… hanyalah modal awal dari kekayaan modal kami yang sebenarnya senilai lima puluh triliun dolar.”
Layar tablet menampilkan foto dokumen kuno berstempel emas yang mencantumkan nama asli kakek buyut Gala Prasetya sebagai pendiri asli seluruh jaringan aset global tersebut!
Gala membelalakkan matanya hingga nyaris keluar dari rongganya. “APA-APAAN INI?! KAKEK GUE KAN CUMA TUKANG JAHIT DI JOGJA?!”
“Sampai jumpa di Swiss, Tuan Gala. Perang yang sesungguhnya… baru saja dimulai.”
BIP! Sinyal terputus.
Gala menoleh menatap Senja, Siska, dan Sersan Broto dengan ekspresi paling pasrah dalam sejarah manusia.
“Nja… Sis… Pak Broto…” desis Gala dengan suara gemetar. “Boleh nggak kita balik ke kedai kopi aja? Saya rela deh nggak dibayar uang bensin seumur hidup daripada harus ngurusin harta kakek saya yang ternyata bos mafia antariksa…”