Indonesia
NovelToon NovelToon
SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

SALAH KAMAR BERUJUNG IJAB KABUL SANG HABIB

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANG-BAYANG DI BALIK BINTANG

Aroma kayu cendana dan minyak wangi khas Timur Tengah menguar lembut di koridor khusus pengurus masjid. Gema gema takbir dan selawat yang dilantunkan ribuan jemaah usai penutupan kajian akbar masih memantul halus di dinding-dinding marmer yang dingin.

Aku berjalan pelan melintasi selasar sepi menuju ruang istirahat didampingi Nabila. Umi Khadijah sudah lebih dulu diantar oleh pengawal menuju mobil untuk menghindari himpitan jemaah wanita yang membludak di pintu keluar selatan.

"Aisyah, pelan-pelan saja jalannya," bisik Nabila lembut seraya memegang siku lenganku. Matanya di balik niqab memancarkan perhatian yang begitu intens. "Mas Ammar pesan sama aku tadi, kamu gak boleh kelelahan sedikit pun. Calon keponakanku harus benar-benar dijaga."

Aku terkekeh halus di balik kain niqabku, meremas pelan jemari Nabila. "Aku gak apa-apa, Nabila. Mualnya sudah berkurang kok. Cuma agak pegal saja karena tadi duduk lumayan lama."

"Tetap saja, awal kehamilan itu rentan," kekeh Nabila balik. "Biar aku ambilkan air hangat dulu di ruang panitia, ya? Kamu tunggu di dalam ruang transit VIP sebentar. Kebetulan Mas Ammar masih tertahan di ruang sekretariat bersama para kyai dan pejabat majelis."

Aku mengangguk setuju. Nabila memutar langkahnya menuju pantry panitia yang terletak beberapa meter di ujung lorong, meninggalkanku berdiri sendirian di depan pintu jati berlapis ukiran kaligrafi.

Namun, baru saja jemariku hendak mendorong gagang pintu, sebuah suara langkah kaki tergesa-gesa yang beradu keras dengan marmer terdengar dari arah tangga darurat di samping koridor.

Aku menoleh refleks.

Seorang wanita dengan jubah abu-abu gelap dan selendang panjang yang menutupi separuh wajahnya berdiri mematung di jarak lima meter dariku. Napas wanita itu memburu, matanya yang memerah dan sembap menatap lurus-lugas ke arah sepasang mataku.

Meskipun bagian bawah wajahnya tertutup rapat oleh selendang, aku mengenali garis mata itu secara instan. Garis mata tajam yang dulu selalu menatapku dengan sudut pandang penuh keangkuhan dan harga diri yang melitut tinggi.

Syarifah Zahra.

Jantungku berdesir hebat. Seluruh persendianku mendadak kaku seketika. Momen hening yang tercipta di antara kami di lorong sepi itu terasa mencekam, mengenyapkan keriuhan ribuan manusia di luar sana.

Zahra melangkah maju. Setiap ketukan tumit sepatunya bagaikan dentuman peringatan yang menggema keras. Ia menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapanku, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatapku dari atas ke bawah.

"Jadi... ini wujud wanita yang berhasil menghancurkan seluruh tatanan hidupku?" desis Zahra dengan suara rendah yang sarat akan racun kekecewaan.

Aku menarik napas dalam-dalam di balik niqabku, mencoba menata detak jantung yang berpacu kencang agar tidak memengaruhi kondisi janin di dalam perutku. Aku menegakkan punggungku, menatapnya tanpa kedipan.

"Assalamu'alaikum, Syarifah Zahra," sapaku tenang, berusaha menjaga kesantunan bahasa meski auranya memancar penuh permusuhan.

Zahra terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyedihkan. "Tidak perlu berpura-pura santun di depanku, Aisyah! Kamu pikir dengan bersembunyi di balik kain hitam ini kamu bisa menghapus kenyataan siapa dirimu yang sebenarnya?!"

"Aku tidak bersembunyi dari siapa pun, apalagi dari masa laluku," balasku lugas namun tidak bernada tinggi. "Segala sesuatu tentang diriku sudah kuketahui dan kuterima. Begitu pula dengan suamiku, Mas Ammar."

Kata suamiku yang kuucapkan dengan penuh penekanan seolah menjadi belati yang menusuk tepat di ulu hati Zahra. Sorot matanya mendadak berkilat marah, jemarinya mengepal erat di balik kain jubahnya.

"Suamimu?!" pangkas Zahra dengan nada bergetar menahan emosi. "Dia seharusnya menjadi suamiku! Keluarga kami sudah merencanakan pernikahan ini sejak ber tahun-tahun lalu! Ayahku mempertaruhkan reputasinya untuk menyokong pesantren keluarga Ammar! Tapi kamu... kamu wanita antah-berantah yang tiba-tiba muncul dari kegelapan dan merebut segalanya dalam sekejap mata!"

"Perjodohan itu tidak pernah diikat oleh janji suci atau hukum agama, Syarifah," pangkasku memotong omongannya secara jujur. "Mas Ammar tidak pernah memberi kepastian atau ikatan apa pun pada keluargamu. Pernikahan kami adalah takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuz, bukan hasil perebutan atau manipulasi."

Zahra melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang tidak teratur.

"Kamu bangga?" bisik Zahra menohok, matanya menyipit penuh dengki. "Kamu bangga dipuji ribuan orang hari ini hanya karena kamu menutup wajahmu? Kamu pikir berita di luar sana akan reda begitu saja? Ayahku memutus seluruh dana investasi untuk pembangunan gedung baru pesantren Syekh Ali pagi ini! Para kyai senior mulai mempertanyakan integritas Ammar! Kamu bukan membawa berkah untuk hidupnya, Aisyah... kamu adalah beban yang lambat laun akan meruntuhkan karir dan nama besar Habib Ammarullah!"

Kalimat demi kalimat yang dilontarkan Zahra bagaikan jarum-jarum halus yang mencoba menusuk kesadaranku. Namun, ingatan akan keteguhan Ammar saat pasang badan di hadapan wartawan serta kehangatan dekapan suamiku saat menyambut kabar kehamilanku semalam membakar habis seluruh benih keraguan di dalam jiwaku.

Aku melangkah maju satu tindak, membuat Zahra justru sedikit terperanjat oleh keberanianku.

"Jika Allah mentakdirkan saya menjadi ujian bagi Mas Ammar, maka Allah juga yang memberikan saya kekuatan untuk berdiri di sisinya sebagai penguat, bukan sebagai beban," sahutku penuh kewibawaan yang dingin. "Pembangunan pesantren mungkin kehilangan donatur manusia, tapi rezeki Allah tidak pernah terbatas pada harta keluarga mana pun. Jangan mengukur kekuasaan Tuhan dengan besarnya uang yang dimiliki keluargamu, Syarifah."

"Kamu—!" Zahra mengangkat tangannya, terbawa emosi yang meluap-luap.

"Cukup, Syarifah Zahra!"

Sebuah suara bariton yang dingin bagaikan es memotong udara!

Ammar muncul dari belokan lorong dengan langkah lebar yang mengintimidasi. Jubah putihnya melambai saat ia bergerak cepat, memotong jarak dan langsung berdiri memagari tubuhku di belakang dada bidangnya. Di belakang Ammar, Ustaz Ridwan dan Pengacara Lukman menyusul dengan raut wajah yang amat tegang.

Ammar menatap Zahra dengan kilatan mata yang begitu murka. Tidak ada lagi keramahan atau kelembutan seorang ulama muda pada wajahnya—yang tersisa hanyalah naluri seorang kepala keluarga yang siap menerkam siapa pun yang berani mengusik istrinya.

"Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Syarifah?" tanya Ammar dengan suara rendah yang sangat mengancam.

Zahra mendadak melangkah mundur. Keangkuhan yang tadi dipancarkannya luluh seketika begitu berhadapan dengan sorot mata Ammar yang tanpa ampun. "A-Ammar... aku cuma... aku cuma mau menanyakan alasan kenapa kamu tega memperlakukan keluargaku seperti ini..."

"Saya tidak pernah punya kewajiban apa pun atas harapan subjektif keluarga Anda," potong Ammar tanpa jeda. "Dan mendatangi istri saya secara sembunyi-sembunyi untuk mengintimidasi dirinya adalah tindakan yang sangat tidak beradab!"

"Dia yang merebutmu dariku, Ammar!" jerit Zahra parau, air matanya akhirnya menetes membasahi selendangnya. "Aku yang selama ini berada di lingkaran keluargamu! Kenapa harus wanita ini?! Apa kurangnya aku dibanding dia?!"

Ammar menarik napas dalam-dalam, mengenggam jemariku yang berada di belakang tubuhnya, memberikan rasa aman yang mutlak.

"Kekuranganmu adalah kamu memandang pernikahan ini sebagai transaksi status dan harga diri," jawab Ammar dengan kalimat yang begitu dalam dan menohok. "Sementara Aisyah... dia menghadirkan ketenangan, ketulusan, dan rasa takut kepada Allah di dalam rumah saya. Hentikan tindakan konyol ini, Syarifah. Ini peringatan terakhir dari saya."

Ammar tidak menunggu balasan lagi. Pria itu memberi isyarat pada Ustaz Ridwan untuk mengawal Zahra keluar dari area VIP masjid, lalu memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya.

Seketika itu juga, raut wajah Ammar yang tadinya sekeras batu berubah drastis menjadi penuh kecemasan. Ia menangkup kedua sisiku, memeriksaku dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kamu tidak apa-apa, Sayang? Ada yang sakit? Dia tidak menyentuhmu, kan?" tanya Ammar bertubi-tubi dengan nada suara yang bergetar khawatir.

Aku tersenyum lembut di balik niqabku, memegang jemari tegapnya yang menempel di pipiku. "Aku gak apa-apa, Mas. Sungguh. Mas Ammar datang di waktu yang tepat."

Ammar menghembuskan napas lega yang amat berat, menyandarkan dahinya di dahiku sejenak tanpa peduli ada Pengacara Lukman dan Nabila yang baru saja berlari mendekat membawa segelas air hangat.

"Maafkan saya... saya terlewat memantau lorong ini," bisik Ammar menyesal.

"Nggak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja, dan anak kita juga baik-baik saja," bisikku menenangkan jiwanya.

Sore harinya, kami sudah kembali ke rumah kediaman kami. Suasana ruang kerja Ammar terasa begitu hangat saat lampu gantung menyala memancarkan warna keemasan.

Pengacara Lukman duduk di hadapan meja kerja Ammar, meletakkan beberapa berkas baru.

"Habib," ujar Pak Lukman melapor. "Tim siber kami berhasil melacak pemilik akun anonim yang menyebarkan foto-foto masa lalu Mbak Aisyah di media sosial."

Ammar yang sedang menyandarkan punggungnya di kursi kerja langsung menegakkan tubuh. "Siapa dalangnya?"

"Bukan dari pihak luar, Habib... melainkan salah satu mantan pengurus keuangan di majelis cabang yang bulan lalu Anda berhentikan karena indikasi penyelewengan dana," ungkap Pak Lukman. "Oknum tersebut memanfaatkan situasi pembatalan wacana perjodohan dengan Syarifah Zahra untuk menjual narasi palsu kepada akun-akun gosip media demi mendapatkan uang sekaligus membalas dendam."

Aku yang sedang duduk di sofa samping meja kerja mengelus dada, mengagungkan nama Allah. Rupanya, badai fitnah ini bukan berasal dari masa laluku yang mendadak terangkat, melainkan ulah sakit hati manusia yang sengaja memanfaatkannya.

"Gugat dia secara pidana malam ini juga, Pak Lukman," tegas Ammar tanpa ada keraguan sedikit pun. "Jangan ada kata damai atau pencabutan laporan. Saya ingin ini jadi pelajaran bagi siapa pun yang berani merusak nama baik istri saya."

"Baik, Habib. Surat panggilan dari kepolisian akan terbit besok pagi," jawab Pengacara Lukman mantap.

Usai Pengacara Lukman pamit pamit pulang, ruangan kerja bernuansa kayu jati itu kembali hening dan tenang.

Ammar bangkit dari kursinya, berjalan menghampiriku yang sedang menyandarkan kepala di sandaran sofa. Pria itu melepas pecinya, meletakkannya di meja, lalu duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.

Aku mengusap lembut rambut tebal suamiku, merasakan beban berat yang perlahan terangkat dari pundak pria mulia ini.

"Capek ya, Mas?" bisikku halus.

Ammar menggerakkan tangannya, mengelus perutku yang tertutup kain gamis rumahanku dengan penuh kelembutan. "Melihat kamu dan calon anak kita aman di samping saya... semua rasa capek itu hilang tak berbekas, Aisyah."

Ammar mendongak, menatap mataku dengan pendar kehangatan yang amat tulus.

"Terima kasih sudah berdiri teguh tadi siang," tutur Ammar parau. "Kamu mengajarkan saya bahwa kelembutan seorang wanita bisa menjadi benteng yang paling kokoh di tengah badai."

Aku mengecup punggung tangan suamiku yang hangat, menyandarkan pipiku di tangannya. Badai fitnah mungkin belum sepenuhnya padam dari ingatan orang luar, namun di dalam ruangan ini, di bawah naungan cinta yang diridhoi Allah, kami tahu bahwa tidak ada lagi keraguan yang sanggup meretakkan ikatan suci ini.

1
Lilis Ilham
kasihan juga zahra
falea sezi
lanjut q kriim bunga
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!