Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Sekte Langit Berkobar dan Rencana Perjalanan Baru
Atmosfer di dalam ruangan privat Paviliun Kuali Hitam mendadak berubah menjadi sangat padat begitu Tuan Mo membisikkan nama Sekte Langit Berkobar dan kaitan mereka dengan artefak warisan Jenderal Langit. Suhu udara di sekitar meja seolah-olah menurun beberapa derajat, ditekan oleh aura spiritual terselubung yang secara tidak sadar terpancar dari tubuh Gu Yan-Zhi.
Gu Chen mengepalkan tangannya di samping paha, otot-otot lengannya menegang. Sebagai orang yang setia mendampingi Gu Yan-Zhi sejak awal kebangkitannya di dunia ini, ia tahu betul bahwa bayangan masa lalu sang Jenderal Agung tidak akan pernah bisa dihindari begitu saja. Nama besar itu adalah legenda, tetapi juga sebuah kutukan yang mengundang perhatian para hiu haus kekuasaan di seluruh penjuru Benua Dewa.
Gu Ruoxi menatap kakaknya dengan sorot mata cemas namun penuh keyakinan. Gadis itu tahu bahwa apapun badai yang datang dari faksi-faksi besar sekte pusat, Gu Yan-Zhi tidak akan pernah mundur selangkah pun.
Sementara itu, Hu Yijie melompat dari meja dan berdiri tegak di atas sandaran kursi, bulu putih di ekornya sedikit mengembang. Tuan... sekte itu adalah salah satu faksi besar yang menguasai wilayah tengah. Konon, para tetua mereka mempraktikkan teknik kultivasi api murni yang sangat agresif. Jika mereka turun tangan mencari artefak masa lalu, pergerakan kita di wilayah selatan ini pasti akan segera tercium, ucap Hu Yijie melalui telepati dengan nada serius.
Gu Yan-Zhi mengangkat tangannya untuk memberi isyarat agar semua orang tetap tenang. Ia mengambil kartu giok hitam berisi tumpukan batu spiritual hasil lelang yang diberikan oleh Tuan Mo, memutarnya perlahan di antara jari-jarinya, lalu menatap Tuan Mo yang masih berdiri membungkuk menunggu respon.
"Tuan Mo," ucap Gu Yan-Zhi dengan suara tenang namun berwibawa. "Informasi yang kau berikan sangat berharga. Berapa banyak yang kau ketahui tentang kelompok utusan khusus dari Sekte Langit Berkobar ini? Kapan mereka diperkirakan tiba di wilayah perbatasan selatan?"
Tuan Mo menelan ludahnya perlahan, merasa tertekan namun juga bangga karena berhasil memberikan informasi tingkat tinggi yang memuaskan klien istimewanya itu. Ia merapikan jubah abu-abunya sebelum menjawab.
"Berdasarkan laporan rahasia dari jaringan kurir pos kilat kami yang datang dari perbatasan utara kemarin sore, utusan khusus tersebut dipimpin oleh seorang tetua muda bernama Feng Lie, yang dikenal sebagai salah satu murid jenius berdarah dingin dari Sekte Langit Berkobar," jelas Tuan Mo dengan nada berhati-hati. "Mereka tidak datang sendiri; Feng Lie membawa serta selusin murid elit dan dua ekor Burung Badai Api sebagai tunggangan terbang. Diperkirakan mereka akan mencapai perbatasan wilayah selatan dalam waktu kurang dari lima hari ke depan."
"Lima hari..." Gu Yan-Zhi mengangguk pelan, menghitung waktu di dalam kepalanya. "Waktu yang cukup untuk menyelesaikan urusan kita di Kota Rawa Tersembunyi ini."
Tuan Mo menghela napas lega, lalu melanjutkan dengan nada sedikit merendah. "Tuan Muda, jika Anda berniat menghindari bentrok langsung dengan faksi sebesar Sekte Langit Berkobar, saya menyarankan agar Anda meninggalkan kota ini melalui jalur air tersembunyi ke arah barat sebelum mereka tiba. Pengaruh mereka di wilayah perbatasan sangat kuat; bahkan para penguasa lokal tidak berani melawan faksi utama dari wilayah tengah."
Mendengar saran tersebut, Gu Yan-Zhi justru tersenyum tipis. Senyuman itu memancarkan kilatan kepercayaan diri yang membuat Tuan Mo merasa sedikit merinding.
"Menghindar?" Gu Yan-Zhi menggelengkan kepalanya pelan. "Tuan Mo, di kamus hidupku, berlari dari masalah tidak pernah menjadi pilihan utama. Terutama ketika masalah itu datang membawa nama dan artefak yang seharusnya menjadi hak milikku."
Tuan Mo tertegun mendengar ucapan tersebut. Meskipun ia tidak sepenuhnya memahami arti tersirat di balik kalimat Gu Yan-Zhi, ia bisa merasakan bahwa pemuda di hadapannya sama sekali tidak gentar menghadapi salah satu kekuatan terbesar di Benua Dewa.
Keesokan paginya, aktivitas di Kota Rawa Tersembunyi kembali berjalan seperti biasa, namun dengan dinamika yang jauh berbeda bagi kelompok Gu Yan-Zhi. Berkat kesuksesan lelang besar dan kemenangan telak atas kelompok pemburu bayaran Mata Serigala, nama Gu Yan-Zhi kini disegani di seluruh pelosok pasar gelap. Tidak ada lagi pedagang atau preman jalanan yang berani melirik rombongan mereka dengan tatapan meremehkan.
Di dalam kamar privat penginapan, Gu Yan-Zhi mengumpulkan Gu Chen dan Gu Ruoxi untuk merumuskan langkah selanjutnya. Di atas meja kayu bundar, sebuah peta usang wilayah selatan Benua Dewa terbentang lebar.
"Gu Chen, Gu Ruoxi," ucap Gu Yan-Zhi serius, menatap kedua saudaranya bergantian. "Kehadiran utusan Sekte Langit Berkobar di wilayah selatan menandakan bahwa perburuan artefak kuno telah memasuki tahap krusial. Kita tidak bisa terus berlama-lama menetap di kota rawa ini. Tujuan kita berikutnya adalah reruntuhan Kuil Langit Kuno yang terletak di lembah perbatasan selatan."
Gu Chen mengangguk mantap, menggenggam erat pegangan tongkat besinya. "Apapun perintahmu, Kakak, aku akan mengikutimu sampai ke ujung dunia kultivasi. Aku sudah siap menghadapi siapapun yang berani menghalangi jalan kita."
Gu Ruoxi mengangguk menyetujui, telapak tangannya memancarkan pendar energi spiritual lembut yang menunjukkan peningkatan pesat dalam kultivasinya selama beberapa hari terakhir berkat bimbingan langsung Gu Yan-Zhi. "Aku juga siap, Kakak. Kemampuan persepsi spiritualku akan memastikan kita tidak tersesat di lembah perbatasan."
"Bagus," ujar Gu Yan-Zhi sambil melipat peta di atas meja. "Hari ini kita akan menyelesaikan transaksi terakhir dengan Tuan Mo, mengambil pasokan logistik perjalanan, dan bersiap meninggalkan Kota Rawa Tersembunyi sebelum fajar menyingsing esok hari."
Saat mereka sedang merapikan perlengkapan, tiba-tiba ketukan pintu terdengar dari luar.
Tok... tok... tok.
Gu Chen melangkah cepat dan membuka pintu. Di luar, berdiri pelayan paruh baya penginapan dengan napas sedikit terengah-engah, membawa sebuah gulungan pesan rahasia di tangannya.
"Tuan Muda Gu... pesan penting baru saja tiba melalui kurir khusus dari Tuan Mo!" lapor pelayan itu dengan wajah cemas. "Utusan dari Sekte Langit Berkobar tampaknya mempercepat perjalanan mereka. Mereka dilaporkan telah melewati pos pemeriksaan utara dua hari lebih cepat dari perkiraan semula!"
Mendengar berita mengejutkan itu, Gu Yan-Zhi menyipitkan matanya. Alih-alih merasa terkejut atau panik, sepasang mata keemasan pemuda itu justru memancarkan binar antusiasme tempur yang menyala-nyala.
"Mempercepat perjalanan, ya?" gumam Gu Yan-Zhi pelan dengan senyuman dingin di bibirnya. "Sepertinya mereka sangat tidak sabar ingin segera menemui ajalnya di tangan yang salah."
Badai besar kini benar-benar telah berada di ambang pintu. Perjalanan sang Jenderal Langit menuju puncak kejayaan dan pertarungan ulang melawan bayangan masa lalunya di Benua Dewa resmi dimulai hari ini.