Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidurr satu ranjang

Hari demi hari terus berganti.

Namun, hubungan pernikahan Adira dan Areksa belum juga menunjukkan banyak perubahan.

Mereka memang tidur di kamar yang sama, tetapi tetap dengan jarak. Areksa masih lebih sering tidur di sofa, sedangkan Adira tidur di ranjang. Tidak ada yang memaksa keadaan menjadi lebih dari yang mampu mereka jalani.

Adira juga semakin sering memasak untuk Areksa.

Setiap kali ada waktu luang, ia akan membantu menyiapkan makanan kesukaan suaminya. Namun, satu hal masih belum berubah.

Ia tetap memanggil Areksa dengan sebutan Tuan.

Sore harinya, Adira sedang merapikan beberapa barang ketika pandangannya jatuh pada kalender.

Ia menghitung hari dalam hati.

Satu hari. Dua hari.

Adira langsung terdiam. Sudah dua hari?

Tangannya perlahan menyentuh perutnya sendiri.

Pikirannya mendadak kacau.

Namun ia segera berusaha menenangkan diri.

Jangan berpikir macam-macam.

Siklus menstruasinya memang tidak selalu teratur. Kadang datang lebih cepat, kadang beberapa hari lebih lambat.

Mungkin hanya terlambat seperti biasanya. Setidaknya itulah yang ingin ia percayai.

Karena jika benar ada kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya... Adira bahkan tidak tau harus merasa bahagia atau justru takut.

Ia mengembuskan napas panjang. Semoga tidak.

Ia masih belum siap menghadapi kemungkinan itu.

Beberapa hari kemudian, Soraya dan Bayu yang baru kembali memperhatikan hubungan Areksa dan Adira.

Keduanya bisa melihat bahwa pernikahan itu memang berjalan, tetapi keduanya masih seperti dua orang yang sedang belajar hidup berdampingan.

Malam ini, meja makan dipenuhi berbagai hidangan.

Soraya memperhatikan satu per satu makanan yang tersaji. “Ini semua kamu yang masak, Adira?”

Adira mengangguk. “Iya, Ny—” Ia buru-buru memperbaiki ucapannya. “Eh... Mama.”

Soraya langsung tersenyum lebar. “Nah, begitu dong.”

Adira tersenyum malu.

“Apa kamu tidak lelah? Kamu juga masih harus mengurus Aretha.”

“Enggak, Ma. Saya masih sanggup.”

Soraya mencicipi salah satu masakan. Matanya langsung berbinar.

“Wah, ini cocok banget di lidah Reksa. Kayaknya masakan Mama sekarang kalah.”

“Gak begitu juga, Ma.” sanggah Areksa.

Bayu ikut mencicipi makanan tersebut. “Benar, Adira. Masakan kamu enak sekali.”

Adira tersenyum kecil.

“Tuh, mereka berdua satu selera.” Soraya terkekeh. “Mama sampai pusing kalau masakin mereka. Sekarang Mama senang karena akhirnya ada kamu yang ikut pusing.”

Adira hanya tertawa kecil.

“Adira memang dulu pernah buka warung makan, Ma. Jadi dia memang sudah pintar masak.” Jelas Areksa.

Soraya langsung menoleh. “Wah, hebat.”

Adira hanya tersenyum kaku.

“Tapi kalau kamu merasa lelah, jangan dipaksakan, ya,” lanjut Soraya. “Masih ada bibi-bibi lain di rumah ini.”

“Iya, Ma.”

Bayu yang sejak tadi menikmati makan malam ikut menyahut. “Papa sebenarnya kangen Aretha.”

Soraya langsung tersenyum. “Sudah mulai.”

Bayu terkekeh. “Jadi malam ini biar Aretha tidur sama Papa dan Mama.”

Ia menoleh kepada Soraya. “Iya kan, Ma?”

“Iya, Mas.”

Soraya kemudian menatap Adira. “Lagian Aretha kalau malam tidurnya anteng kok. Sekarang dia juga sudah tidak terlalu sering mencari ASI di malam hari. Jadi nanti setelah kamu susui, Aretha tidur di kamar Mama saja ya, Dira.”

Adira tidak langsung menjawab.

Selama ini, meskipun ia tidur satu kamar dengan Areksa, keberadaan Aretha di dalam boks bayi membuatnya merasa lebih tenang.

Setidaknya ada alasan untuk menjaga jarak. Ada Aretha di antara mereka.

Tapi malam ini?

Ia harus tidur berdua saja dengan Areksa.

“Y-ya sudah, Nyo—”

Adira berhenti. “Ma.”

Soraya tersenyum puas. “Iya.”

Bayu kemudian melanjutkan dengan nada santai, “Dan Papa tau sekarang kalian masih tidur terpisah.”

Areksa langsung menoleh. “Pa—”

“Jangan membantah.” Bayu bahkan belum selesai. “Malam ini tidak ada alasan Areksa tidur di sofa.”

Ia menoleh kepada Adira. “Dan tidak ada alasan Adira ikut tidur di sofa.”

Adira semakin kaku.

Areksa melirik ke arahnya.

Soraya menahan tawa melihat ekspresi keduanya.

Bayu berkata santai, “Sofanya sudah dikeluarkan bibi tadi.”

Areksa membelalak. “Papa serius?”

“Serius.”

“Kenapa harus dikeluarkan?”

“Supaya tidak ada yang cari alasan.”

Soraya akhirnya tertawa. “Papa kamu sudah menyiapkan semuanya.”

Areksa mengusap wajahnya.

Sementara Adira hanya bisa menundukkan kepala.

Malam ini, sejak mereka menikah, mereka benar-benar tidak memiliki tempat lain untuk bersembunyi dari kecanggungan yang selama ini mereka pertahankan.

Dan di dalam hati Adira, kegelisahan tentang dua hari keterlambatan datang bulan tadi kembali muncul.

Bagaimana kalau benar-benar ada sesuatu di dalam tubuhku?

Tangannya tanpa sadar mengepal di pangkuan. Ia belum siap mengetahui jawabannya.

***

“Kalau kamu nggak nyaman, saya bisa tidur di bawah,” ucap Areksa.

Aretha sudah terlelap di kamar orang tuanya, kamar mereka terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara napas kecil dari ranjang bayi, tidak ada gerakan lembut yang biasanya membuat Adira merasa memiliki jarak aman di antara dirinya dan Areksa.

Adira langsung menggeleng. “Jangan, Tuan. Biar saya saja yang tidur di bawah.”

“Nggak bisa, Adira.”

“Bisa, Tuan. Saya sudah biasa.”

“Kalau saya bilang nggak, ya nggak.”

Adira menatapnya dengan wajah tidak habis pikir. “Tuan, kenapa sih?”

Areksa menghela napas pelan. “Kalau kita terus ribut begini, yang ada Mama sama Papa curiga kalau kita masih pisah tidur.”

Adira langsung diam. Ada benarnya juga.

Sejak tadi sore, Bayu sudah terang-terangan mengatakan bahwa mereka tidak boleh lagi menggunakan sofa sebagai alasan untuk tidur terpisah. Kalau sekarang mereka malah sibuk berebut tempat tidur, tentu akan semakin mencurigakan.

Tanpa menunggu tanggapan Adira, Areksa mengambil bantal dan selimut dari atas ranjang.

Adira memperhatikannya. “Tuan mau ke mana?”

“Tidur di bawah.”

Laki-laki itu benar-benar berniat melakukannya.

Ia menggelar selimut di lantai tanpa banyak bicara. Adira hanya bisa memandang dari atas ranjang.

Orang ini keras kepala sekali.

Untuk beberapa saat, Adira membiarkannya.

Namun semakin lama ia memperhatikan, semakin tidak tega juga.

Areksa adalah orang yang terbiasa tidur di ranjang nyaman. Bahkan sekadar melihatnya berbaring di lantai saja sudah membuat Adira merasa bersalah.

Akhirnya Adira menghela napas panjang. “Tuan.”

"Apa?”

Adira menggigit bibir bawahnya. “Tidur di atas saja.”

Areksa langsung mengernyit. “Saya sudah bilang—”

“Tuan selalu seenaknya. Memotong terus setiap saya ngomong.”

Areksa mengatupkan bibirnya.

Adira menunjuk sisi ranjang yang kosong. “Maksud saya... kita tidur berdua di sini.”

Tatapan Areksa berubah. “Berdua?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

Adira mengangguk kecil. “Iya.”

Areksa masih memandangnya seolah memastikan perempuan itu tidak sedang terpaksa.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Kalau kamu maksa.”

Adira spontan melotot. “Eh.”

Sudut bibir Areksa terangkat tipis. “Bukannya tadi kamu yang ngajak?”

“Saya cuma bilang boleh tidur satu ranjang. Bukan berarti Tuan boleh meledek saya.”

“Saya nggak meledek.”

“Terus?”

“Saya cuma menerima tawaran kamu.”

Adira mendengus pelan.

Areksa kemudian membawa kembali bantalnya ke atas ranjang. Ia meletakkannya di sisi paling ujung, sengaja menyisakan jarak cukup lebar di antara mereka.

Adira memperhatikan gerakannya. “Tuan.”

“Hm?”

“Jangan dekat-dekat.”

“Saya juga nggak ada niat.”

Adira menghembuskan napas lega.

Areksa mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur di sisi ranjang.

“Tidur saja,” ucapnya pelan. “Saya nggak akan melakukan apa-apa.”

***

Pagi harinya, entah bagaimana posisi mereka berubah.

Semalam mereka masih tidur dengan jarak yang cukup jauh. Namun pagi ini, keduanya justru tidur sambil berpelukan.

Adira bahkan tampak begitu nyaman berada dalam dekapan Areksa sampai alarm dari ponselnya tidak berhasil membangunkannya.

Areksa yang terbangun lebih dulu.

Matanya perlahan terbuka, lalu seketika membulat ketika menyadari posisi mereka.

Adira tidur dalam pelukannya.

Kepala perempuan itu bersandar di dadanya, sementara kedua tangannya melingkar tanpa sadar di pinggang Areksa. Wajahnya begitu dekat hingga Areksa dapat melihat setiap detailnya dengan jelas.

Rambut Adira sedikit berantakan. Beberapa helai menutupi wajahnya.

Areksa menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Kenapa cuma melihat dia sedekat ini saja rasanya seperti ini?

Tangannya terangkat perlahan. Dengan gerakan hati-hati, ia menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Adira.

Gerakan itu membuat Adira bergerak kecil. Matanya perlahan terbuka.

“Tuan...”

Areksa langsung tersenyum. “Kamu jangan salahin saya.”

Adira masih setengah sadar. “Apa?”

“Lihat. Kamu yang memeluk saya lebih dulu.”

Adira baru menyadari posisi mereka. Ia hendak menarik tangannya, tetapi Areksa justru menahannya.

“Maaf, saya nggak tau.” Adira berusaha melepaskan tangannya. “Jadi bisa lepaskan?”

“Tidak bisa.”

Adira langsung melotot tajam.

Areksa hanya tersenyum.

Tidak ada niat untuk menggodanya berlebihan. Ia hanya menikmati ekspresi Adira yang masih mengantuk itu.

Beberapa detik kemudian, senyum di wajahnya perlahan menghilang.

Tatapan mereka bertemu.

Adira yang semula ingin memalingkan wajah justru tidak jadi melakukannya.

Ada sesuatu dalam tatapan Areksa pagi itu. Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Dan entah kenapa membuat Adira tidak merasa perlu melarikan diri.

Areksa pun seakan tenggelam dalam tatapan perempuan di hadapannya.

Mereka hanya saling memandang. Tidak ada percakapan.

Tidak ada yang tau kapan jarak di antara mereka mulai terasa semakin dekat.

Hingga tangan Areksa perlahan terangkat dan menyentuh rahang Adira.

Adira tidak bergerak.

Tatapan mereka masih bertaut.

Areksa mendekat perlahan.

Adira tau apa yang hendak dilakukannya. Namun anehnya, kali ini ia tidak merasa takut.

Ada sesuatu yang magis dalam tatapan Areksa. Sesuatu yang membuat pikirannya berhenti mencari alasan untuk menjauh.

Ketika Areksa mengecup bibirnya, Adira hanya diam.

Kecupan itu singkat dan lembut namun karena Adira hanya diam. Areksa melumat bibir bawah Adira, menyesapnya lembut.

Adira memejamkan mata. Ia ingin menolak tapi perlakuan lembut Areksa membuatnya hanya diam dan malah membalas ciuman itu.

Seolah larut dalam ciuman yang membangunkan hasrat Areksa.

Ciuman itu sedikit menuntut. Ia masih berusaha menahan selama ini di dekat Adira, namun pagi ini, justru membuatnya kesulitan menahan diri.

Ciuman itu terlepas ketika Areksa menyadari bahwa Adira hampir kehilangan napas.

Ia mengusap bibir Adira yang basah.

Tatapannya kembali bertemu. Areksa kembali memagut bibir Adira.

Puas dengan bibir, ciuman itu pindah ke leher putih Adira. Sembari tangan Areksa menyusup masuk ke dalam pakaian yang dikenakan Adira.

Begitu merasakan hangatnya tangan Areksa, Adira segera sadar.

Adira membuka mata. “Maaf, Tuan.”

Ia mencoba bangun, tetapi Areksa refleks menahannya.

“Kenapa?”

Adira menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Napasnya masih tidak teratur.

“Tidak seharusnya kita begini.” Suaranya bergetar.

Areksa langsung berhenti.

Adira menggeleng pelan, berusaha menahan air matanya. “Tolong, Tuan.”

Mendengar itu, tangan Areksa yang semula menahannya segera dilepaskan.

“Baik.”

Ia mundur, memberi Adira ruang.

Adira menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu duduk dengan wajah tertunduk. Ada rasa bersalah yang bercampur dengan kebingungan dalam dirinya.

Areksa memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, “Kamu nggak perlu minta maaf karena berhenti. Kalau kamu bilang tidak, ya berhenti. Sesederhana itu.”

Areksa kemudian bangkit dari ranjang dan mengambil jarak, sengaja membelakanginya agar Adira bisa menenangkan diri tanpa merasa sedang diperhatikan.

Adira menggenggam ujung selimut erat-erat. “Terima kasih, Tuan.”

Areksa hanya mengangguk. “Tenangkan diri dulu, Dira.”

Setelah mengatakan itu, Areksa melangkah lebih dulu ke kamar mandi.

Pintu kamar mandi tertutup perlahan, meninggalkan Adira sendirian di atas ranjang.

Adira masih mematung beberapa saat. Tangannya menggenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan hati yang sejak tadi berantakan.

Pikirannya kembali pada apa yang baru saja terjadi.

Mereka tadi begitu dekat.

Namun yang paling membuat Adira bingung bukan hanya tindakan Areksa, melainkan dirinya sendiri. Untuk sesaat, ia hampir lupa pada semua batas yang selama ini ia bangun.

Adira menundukkan wajah. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Di dalam kamar mandi, Areksa berdiri di bawah guyuran shower.

Air dingin mengalir membasahi rambut dan wajahnya, tetapi pikirannya masih tertinggal pada apa yang baru saja terjadi.

Ia mengembuskan napas panjang.

Areksa memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tadi ia hampir terbawa suasana, sampai Adira memintanya berhenti.

"Kenapa setiap dekat dia, gue selalu kehilangan kendali."

Dan sekarang, Areksa harus menidurkan dulu miliknya yang selalu menegang tiap kali memikirkan Adira.

1
Syti Sarah
selmat ya Adira 😍😍
sunaryati jarum
Selamat atas kehamilannya Adira, semoga bayi dan kamu sehat.Thoor segera kuak kalau Adira itu Little girl nya Areksa,agar rasa insecure Adira hilang.
Fegajon: iya 2 bab lagi, tenang aja😎
total 1 replies
Syti Sarah
mungkin Adira hamil kli ya
sunaryati jarum
Coba jika kamu tidak mengharapkan dinikahi Areksa,kamu tidak mempermasalahkan pernikahan Adira dan Areksa Felicia,itu juga karena olahmu yang ingin menjebak Areksa.Memang Adira itu mungkin jodoh Areksa setelah Aruna.
anakkeren
rasain lo fel
sunaryati jarum
Kau yang memberi obat perangsang tapi Adira yang digagahi Areksa.Lagia Adira itu orang yang selama ini dicari Areksa.Jepit dan liontin Aruna,itu milik Adira dari Areksa, maka Areksa mengira Aruna little girl nya
Syti Sarah
rasain kamu fel,ktahuan kn akal licik kamu
sunaryati jarum
Jika tahu Adira little girl kamu,kamu menyesal telah membentaknya.Jika kau mencintai Adira kenapa bisa tertarik pada Aruna.Semoga kalian makin dekat dan terungkap bahwa kamu cinta pertama suamimu
Fegajon: sebentar lagi ka
total 1 replies
sunaryati jarum
Areksa padahal barang itu milik Adira sebelum diberikan kepada Aruna
Syti Sarah
waaah,cri Msalah mmang ya kamu reksa
sunaryati jarum
Sedikit demi sedikit little girl nya dekat,pasti nanti sangat bahagia
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!