Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ayah Juga Bisa Dimarahi Ibu
Setelah makan siang, Arven kembali ke ruang kerjanya. Beberapa layar CCTV memenuhi meja di hadapannya.
Satu layar memperlihatkan wilayah perkebunan bagian utara.
Layar lainnya menunjukkan para pekerja yang sedang mengangkut hasil panen.
Arven memeriksa semuanya dengan teliti. Sesekali ia membuka laporan di meja.
Kemudian pandangannya beralih ke layar lain. Kamera yang mengarah ke halaman rumah.
Mireya sedang duduk di teras bersama Elden. Anak itu membawa beberapa mainan.
Mireya tampak sedang mendengarkan sesuatu dengan serius. “Lalu apa lagi?” tanyanya.
Elden mengangkat mainannya. “Ini Ayah.”
Mireya memperhatikan boneka kecil itu. "Kenapa hidungnya besar?”
“Karena Ayah suka marah-marah. Kalau ayah marah, hidung terlihat besar."
Mireya refleks menahan tawa.
Sementara Arven yang sedang melihat dari layar CCTV tanpa sadar wajahnya merah.
"Bisa-bisanya anak ini mempermalukan ayahnya sendiri di belakangku," gumamnya memijit pelipis.
Pak Can yang kebetulan masuk hampir tersenyum. “Tuan, Elden masih kecil.”
“Keluar. Saya tak memintamu berkomentar.”
“Baik, Tuan.” Pak Can memutar badan dan tertawa tanpa suara. Pak Can melangkah pergi secepatnya.
Arven kembali melihat layar.bElden kini sedang tertawa, sedangkan Mireya berusaha merebut boneka dari tangannya. Tanpa sadar, Arven terus memperhatikan.
Layar CCTV yang lain masih menampilkan aktivitas para pekerja. Namun pandangannya justru kembali ke halaman rumah.
Beberapa menit berlalu. Arven baru menyadari bahwa sejak tadi ia belum memeriksa satu pun laporan.
Ia menghela napas. “Kenapa aku malah melihat mereka?”
Ia mematikan layar CCTV. Namun beberapa detik kemudian, layar itu kembali dinyalakan.
Kali ini Arven memilih melihat perkebunan. Hanya bertahan beberapa detik.
Lalu kembali ke halaman rumah. Arven mengerutkan kening sendiri.
“... Menyebalkan.”
.
.
.
Menjelang sore, Mireya dan Elden kembali berganti pakaian kerja.
Mereka membawa beberapa bibit yang belum sempat ditanam serta dua wadah air.
Arven yang baru keluar dari ruang kerjanya melihat mereka dari teras.
“Kalian mau ke kebun lagi?”
Mireya mengangguk. “Masih ada bibit yang belum ditanam.”
Elden mengangkat wadah airnya. “Aku mau menyiram!”
Arven melihat ke arah lahan. Kemudian mengambil salah satu wadah air. “Aku ikut.”
Mireya mengerutkan kening. “Mas?”
“Apa?”
“Kamu mau ikut berkebun?”
“Bukan.” Arven mengangkat wadah air. “Hanya ikut menyiram.”
Mireya menahan senyum. “Baiklah.”
Mereka bertiga berjalan menuju lahan. Mireya memeriksa bibit yang tadi ditanam. “Mas, cukup sedikit saja airnya.”
Arven mengangguk. “Seperti ini?” Air mengalir deras.
Mireya langsung membelalak. “Mas!”
Arven berhenti. “Apa?”
“Itu terlalu banyak!”
Arven melihat tanah yang sudah berubah menjadi becek. “Bukankah tanaman membutuhkan air?”
“Ya, tetapi bukan dibanjiri!”
Elden langsung tertawa. “Ayah salah!”
Arven menatap putranya. “Kau diam.”
Mireya menunjuk tanaman itu. “Lihat. Kalau terlalu banyak air, akarnya bisa bermasalah.”
Arven menatap tanah. Kemudian menatap Mireya. “Kenapa kau memarahiku?”
Mireya terdiam. “Karena Mas salah.”
Arven mengangkat alis. Biasanya dialah yang mengatakan kalimat itu kepada para pekerjanya. Sekarang justru dirinya yang berdiri di tengah kebun sambil dimarahi istrinya.
Elden tertawa semakin keras. “Ayah dimarahi Ibu!”
“Elden.”
“Ibu menang!”
Mireya akhirnya ikut tertawa.
Arven menggelengkan kepala. “Baik. Kau saja yang mengajari.”
Mireya tersenyum. “Makanya dengarkan aku.”
Arven menyerahkan wadah air kepadanya. “Kalau begitu, tunjukkan.”
Mireya mengambilnya. Ia menyiram dengan sangat perlahan. “Nah. Seperti ini.”
Arven memperhatikan. Kemudian mengangguk. “Baik.”
Arven baru menyadari, menjadi petani itu tidak semudah pekerjaannya selama ini.
.
.
.
Malam harinya.
Elden tampak mengantuk dan langsung mengaja Mireya tidur di kamar mereka. “Aku tidur sama Ibu.”
Mireya tersenyum. “Baik.”
Namun baru saja pintu hendak dibuka, Arven muncul di hadapan mereka. “Kau tidur di kamarmu sendiri.”
Elden langsung menggeleng. “Ngga mau.”
“Elden.”
“Aku mau bobo sama Ibu.” Mata anak itu mulai berkaca-kaca.
Mireya menatap Arven. “Mas…”
Arven menghela napas. Ia paling tidak tahan melihat putranya menangis. “Baik lah ”
Elden langsung tersenyum.
“Kamu boleh tidur bersama Ibu.”
Mireya tersenyum lega.
“Tapi di kamar Ayah," tambah Arven lagj
Senyum Mireya langsung menghilang. Tiba-tiba Mireya teringat bahwa mulai malam ini, salah satu aturan baru dalam kontrak mulai berlaku.
Mereka harus tidur di kamar yang sama. Wajah Mireya mendadak terasa panas.
Arven menyadari perubahan itu. “Kenapa?”
“Tidak.”
“Kau terlihat gugup.”
“Tidak gugup.”
Elden sudah menarik tangan Mireya. “Ayo, Bu!”
Mireya akhirnya mengikuti mereka. Sesampainya di kamar Arven, Elden langsung naik ke tempat tidur.
Arven kemudian mengatur posisi mereka. Ia meletakkan Elden di salah satu sisi. “Kau di sini.”
Elden mengangguk.
Kemudian Arven menunjuk bagian tengah. “Ibu di sini.”
Mireya menelan ludah.
Lalu Arven menunjuk sisi lainnya. “Ayah di sini.”
Mireya berkedip menyadari keanehan itu. Ia menatap Elden yang berada di pinggir. Kemudian Arven.
“Jadi … Elden yang di pinggir?”
Arven mengangguk.
“Lalu aku yang di tengah?"
“Benar.”
Kening Mireya mengerut ...
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?