Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pergi ke Mall
Sore harinya Suzan pulang kantor bersama Bagas. Namun Suzan tidak ada hasrat sedikitpun untuk bicara dengan sang suami. Dia lebih memilih diam sepanjang perjalanan. Bagaimana tidak, pikirannya dipenuhi dengan hal yang membuatnya kecewa. Iya, Suzan kecewa pada papa mertuanya yang ternyata tidak sebaik yang dia kira. Papa mertuanya tega mengkhianati sang istri dengan berselingkuh dengan Sonia.
Tentu saja Suzan merasa kasihan pada mama mertuanya yang pasti hatinya akan hancur jika mengatahui hal itu. Ditambah lagi dengan kecurigaannya terhadap Bagas yang belum menemui titik temu. Walaupun Suzan merasa sedikit lega karena Bagas ternyata tidak mempunyai hubungan spesial dengan Sonia, tapi tidak menutup kemungkinan Bagas ada main dengan perempuan lain.
Dan Suzan sudah tidak sabar ingin membongkar pengkhianatan sang suami. Iya, Suzan tentu tidak bisa terima jika sang suami benar- benar telah membohonginya dan juga mengkhianati kepercayaannya.
"Sayang..." ucap Bagas sambil menoleh sekilas ke arah Suzan yang duduk di sampingnya kemudian kembali fokus mengemudi.
"Hem..." jawab Suzan sambil bersender pada sandaran jok mobil.
"Kau kenapa...? Kok diam saja dari tadi...? Kamu baik- baik saja kan ...?" tanya Bagas.
Suzan menghel nafas.
"Ya...aku baik- baik saja. Aku hanya lelah saja ..." jawab Suzan.
Bagas kembali menoleh ke arah sang istri. Iya, Suzan memang lelah. Lelah fisik karena kerja seharian di kantor dan juga lelah pikiran karena memikirkan Bagas yang kemungkinan besar telah selingkuh di belakangnya.
"Ya udah, kamu tidur saja, nanti kalau sudah sampai rumah, aku bangunkan..." ucap Bagas sambil mengusap kepala Suzan.
Suzan mengangguk lalu memejamkan matanya. Dan sekitar lima belas menit kemudian Bagas membangunkannya karena mereka sudah sampai di depan rumah kediaman keluarga Hartanto.
"Sayang ... Bangun..." Bagas mengusap pipi Suzan.
"Oh , sudah sampai ya...?'' tanya Suzan sambil membuka matanya.
"Sudah sayang...." sahut Bagas sambil tersenyum.
Mereka berdua pun turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Dan di ruang makan Suzan melihat bi Ati yang sedang bersih- bersih.
"Mas...kamu ke kamar aja dulu ya, aku mau ke dapur ambil minum..." ucap Suzan.
"Iya sayang ..." jawab Bagas sambil tersenyum pada Suzan lalu dia segera naik ke tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Suzan menghampiri bi Ati.
"Bi...bi Ati..." panggil Suzan.
"Iya nyonya..." bi Ati menghampiri Suzan.
"Ada apa nyonya...?" tanya bi Ati dengan sopan.
Lalu Suzan menanyakan perihal waktu kepulangan Bagas kemarin sore.
"Kemarin sore tuan Bagas sampai rumah sekitar pukul tujuh nyonya, dan tak lama kemudian nyonya pulang..." jawab bi Ati.
"Pukul tujuh...?" tanya Suzan heran.
Bagaimana tidak, padahal kemarin Bagas pulang dari kantor pukul empat sore.Harusnya pukul setengah lima sore sudah sampai rumah.
"Ngapain aja mas Bagas di apartemen itu...? Dan menemui siapa dia di sana...?'' batin Suzan.
"Ada apa nyonya...?'' tanya bi Ati karena Suzan bengong.
"Oh nggak...nggak papa...cuma nanya aja..." jawab Suzan.
"Suzan..." tiba- tiba nyonya Hartanto yang baru saja keluar dari dalam kamarnya menghampiri Suzan dan bi Ati.
"Mama mau bicara sama kamu..." ucap nyonya Hartanto dengan raut wajah tidak seperti biasanya.
"Iya mah..." jawab Suzan.
"Oya bi, tolong bawakan air minum ke kamar ya..." ucap Suzan sebelum dia mengikuti nyonya Hartanto ke ruang tengah.
"Baik nyonya..." jawab bi Ati.
Suzan lalu menyusul mama mertuanya.
"Ada apa mah...?'' tanya Suzan sambil duduk di samping mama mertuanya.
Nyonya Hartanto menghela nafas lalu dia menatap sang menantu.
"Apa yang kamu lakukan di cafe tadi siang bersama seorang laki- laki...?" tanya nyonya Hartanto.
"Siapa laki- laki itu...?'' sambung nyonya Haryanto.
Suzan menghela nafas sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan mama mertuanya. Kemudian Suzan menjawab sama persis yang dia katakan pada Bagas. Bahwa laki- laki yang dia temui di cafe adalah Tomi yang sedang naksir Alma dan meminta Suzan untuk membantu mendekatkannya dengan Alma.
Mendengar jawaban Suzan, nyonya Hartanto terdiam beberapa saat sambil terus menatapnya.
"Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Bagas kan Suzan...?'' tanya nyonya Hartanto yang sepertinya tidak percaya dengan jawaban Suzan.
"Maksud mama apa...?'' sahut Suzan.
"Suzan... Mama tidak tahu apakah kamu bicara jujur atau tidak. Tapi yang jelas, mama tidak suka kamu berduaan dengan laki- laki lain seperti tadi siang. .." ucap nyonya Hartanto.
"Ingat Suzan, kamu itu menantu keluarga Hartanto. Semua orang tahu keluarga Hartanto adalah keluarga yang dihormati.Dan mama minta kamu bisa harus bisa menjaga kehormatan keluarga kita. Jangan bertindak seenaknya apa lagi di tempat umum..." sambung nyonya Hartanto sambil menatap lekat wajah sang menantu.
"Iya mah..." jawab Suzan.
"Dan satu lagi... Jangan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan suamimu. Kamu sebagai seorang istri, apapun yang kamu lakukan harus sepengetahuan suamimu. Kau mengerti...? .." ucap nyonya Hartanto sambil menunjuk wajah Suzan.
"Mengerti mah..." jawab Suzan.
"Baguslah, memang seharusnya kamu paham dengan posisi kamu. Jangan berbuat melampaui batas...." sahut nyonya Hartanto.
Suzan diam sambil menatap nyonya Hartanto. Kata- kata yang dilontarkan olehnya cukup membuat hati Suzan bertanya- tanya. Apa sebenarnya yang dimaksud oleh mama mertuanya tersebut sehingga dia mengucapkan kalimat seperti itu, seolah- olah sang mama mertua tahu apa yang dilakukan oleh Suzan.
Namun sesuai saran dari Tomi, Suzan harus bersikap tenang agar tidak ada yang curiga padanya jika Suzan sedang melakukan sesuatu dengan bantuan Tomi.
"Mama tidak perlu khawatir, Suzan tahu bagaimana Suzan harus bersikap kok mah..." ucap Suzan sambil tersenyum ramah pada sang mama mertua.
"Ya memang seharusnya seperti itu..." sahut nyonya Hartanto.
"Oya mah, apa papa sudah pulang...?'' tanya Suzan.
"Belum..." jawab nyonya Hartanto singkat.
Suzan diam beberapa saat sambil menatap ke arah lantai.
"Apa papa sedang menemui Sonia...?'' tanya Suzan dalam hati.
Iya, Suzan tahu hari ini sang papa mertua tidak ada jadwal untuk menemui klien. Seharusnya papa bisa pulang cepat. Tapi hingga sore begini, papa mertuanya belum pulang juga.
"Kenapa ....?'' tanya nyonya Hartanto.
"Ah...nggak kok mah... Nggak papa...Suzan hanya bertanya saja..." jawab Suzan.
"Mami..." panggil Alvaro yang sedang berjalan menuruni anak tangga ditemani oleh sus yuni.
"Hei sayang ..." senyum Suzan langsung mengembang melihat putra semata wayangnya.
Alvaro menghampiri Suzan lalu memeluknya.
"Duh wanginya anak mami..." Suzan menciumi wajah sang putra karena gemas.
"Iya dong mami, Varo kan sudah mandi..."sahut Alvaro.
"Hei cucu oma, sini dong oma juga ingin dipeluk sama cucu oma yang paling ganteng..." nyonya Hartanto merentangkan tangannya.
Alvaro beralih memeluk sang oma. Dan nyonya Hartanto pun sama seperti Suzan yang gemas lalu menciumi cucu kesayangannya.
"Mami..." ucap Alvaro.
"Iya sayang..." jawab Suzan.
"Ayo kita jalan- jalan..." ucap Alvaro.
"Jalan- jalan ke mana sayang...?'' tanya Suzan.
"Jalan- jalan ke mall. Kan kita sudah lama nggak jalan- jalan. Mami sama papi sibuk terus setiap hari..." jawab Alvaro sambil memanyunkan bibirnya.
Suzan tersenyum sambil menatap putra semata wayangnya yang sedang duduk di pangkuan sang oma.
"Ya udah kita tanya papi dulu yuk..." sahut Suzan.
Lalu Suzan mengajak Alvaro ke kamarnya untuk minta ijin pada Bagas apakah diperbolehkan untuk jalan- jalan ke mall sore ini.
"Gimana kalau besok saja. Kalau siang kan kita bisa lama di mallnya. Alvaro juga bisa main sepuasnya. Abis itu kita makan deh di restauran favorit kita..." ucap Bagas.
"Gimana sayang, nggak papa besok saja...?'' tanya Suzan sambil mengusap kepala Alvaro.
"Ya udah besok saja, tapi benar ya papi mami, besok kita ke mall..." sahut Alvaro.
"Iya sayang .." jawab Suzan dan Bagas sambil tersenyum.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Keesokan harinya Bagas dan Suzan menepati janji mereka kepada Alvaro untuk mengajaknya jalan- jalan ke mall. Sesampainya di mall mereka mengajak Alvaro berbelanja. Dari belanja pakaian hingga mainan. Apapun yang Alvaro inginkan tentu mereka akan membelikan.
Selesai berbelanja Alvaro minta bermain di tempat permainan anak- anak. Ada berbagai mainan di dalam sana. Dari mulai mandi bola, perosotan dan mainan lainnya yang tentu saja disukai oleh anak- anak seusia Alvaro.
Namun ketika mereka hendak menuju tempat mainan anak, tak sengaja mereka berpapasan dengan Casandra yang membawa tentangan belanjaan.
Mereka bertiga berhenti, begitu juga dengan Casandra.
"Hei mbak Suzan..." sapa Casandra.
"Hallo Casandra, apa kabar...?'' sahut Suzan sambil berjabat tangan dengan Casandra.
Sedangkan Bagas yang menuntun tangan Alvaro nampak diam tanpa ekspresi.Bagas tidak menyangka kalau Casandra bakal menyusulnya ke mall. Iya, tadi malam Casandra mengirim pesan dan meminta Bagas agar datang ke apartemennya siang ini. Namun Bagas menolak dengan alasan dia akan mengajak Suzan dan Alvaro jalan- jalan ke mall.
Dan Bagas tidak menyangka jika Casandra akan datang ke mall ini juga. Entah karena kebetulan atau memang Casandra sengaja ingin bertemu dengan Bagas.
"Baik mbak Suzan, lama ya kita nggak ketemu..." jawab Casandra dengan senyuman manisnya.
"Kapan dong mbak Suzan main lagi ke butik...?'' tanya Casandra
"Iya, aku juga sebenarnya ingin main ke sana, tapi waktunya belum ada. Kapan- kapan ya... Aku ingin kamu membuatkan baju kantor..." jawab Suzan.
"Siap mbak Suzan, pokoknya buat mbak Suzan aku akan buatkan baju kantor yang istimewa..." sahut Casandra.
Suzan pun tersenyum. Iya Suzan memang suka sekali dengan pakaian hasil karya Casandra
"Hai anak ganteng..." kali ini Casandra menyapa Alvaro.
"Sayang, ayo salim sama tante Casandra..." ucap Suzan pada putra semata wayangnya.
Alvaro pun menyalami Casandra lalu mencium punggung tangannya.
"Ih gemasnya... Namanya siapa...?" tanya Casandra mencubit pelan pipi Alvaro.
"Alvaro tante ..." sahut Suzan karena Alvaro tidak mau menjawab pertanyaan Casandra.
Iya,sepertinya Alvaro tidak suka dengan tindakan Casandra yang berani menyentuhnya. Alvaro yang tidak suka disentuh oleh sembarang orang pun memanyunkan bibirnya sambil mengusap pipinya seolah ingin menghapus bekas tangan Casandra. Iya, Alvaro memang tidak suka dengan orang yang tidak dia kenal namun sok akrab.
"Hai pak Bagas ..." Casandra beralih menyapa Bagas.
"Hai..." sahut Bagas sambil tersenyum simpul pada Casandra.
"Oya mbak Suzan... Kemarin aku ketemu pak Bagas saat makan siang dengan papa..." ucap Casandra sambil melirik Bagas.
Bagas pun langsung panik. Iya, tentu saja Bagas khawatir jika Casandra bicara macam- macam pada Suzan. Bagas menghela nafas berusaha untuk tidak terlihat gugup agar Suzan tidak curiga padanya.
"Oh iya, mas Bagas kemarin memang meeting dengan papa kamu lalu lanjut makan siang..." jawab Suzan yang tentu saja sama sekali tidak curiga.
Lagi- lagi Casandra menoleh ke arah Bagas lalu senyum penuh arti padanya. Dan tentu saja hal itu tidak disadari oleh Suzan.
"Ya udah mbak Suzan, aku duluan ya. Aku tunggu kedatangannya di butik..." ucap Casandra.
"Iya Casandra, nanti aku kabari kalau aku ke butikmu..." jawab Suzan.
"Dadah Alvaro..." Casandra melambaikan tangan pada Alvaro.
Namun lagi- lagi Alvaro tidak meresponnya dan dia malah membuang muka seolah tidak sudi melihat muka Casandra.
"Mari pak Bagas..." ucap Casandra.
"Mari..." sahut Bagas sambil mengangguk.
Casandra pun pergi dari tempat itu.
"Sayang... Kok kamu kayak gitu sih sama tante Casandra...?" tanya Suzan sambil mengusap kepala snag putra.
"Kalau disapa sama orang itu harus jawab. Dan harus ramah,...." lanjut Suzan.
"Tapi tante itu pegang- pegang pipi Varo. Varo nggak suka, mami..." sahut Alvaro dengan ketus.
Suzan hanya menghela nafas. Iya, Alvaro memang seperti itu, kalau dia tidak suka dengan seseorang, mau dibujuk seperti apapun dia tetap tidak akan suka.
"Ayo mami, kita ke tempat mainan..." ucap Alvaro manarik tangan sang mami.
"Papi, nanti kita main bareng ya..." ucap Alvaro tidak sabat ingin bermain dengan sang papi.
"Iya sayang..." jawab Bagas.
"Ayo..." ucap Suzan sambil mengangguk pada Alvaro.
"Ayo mas..." sambung Suzan pada sang suami.
"Sebentar sayang, kamu duluan aja nanti aku menyusul ya..." jawab Bagas yang tiba- tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk.
"Babby... Aku menunggu kamu di toilet... Sekarang...'' pesan dari Casandra.
Bersambung....