Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Kekesalan Marissa
.
Arsen mengusap wajahnya kasar setelah Clarissa memutus panggilan secara sepihak.
“Sialan!” umpatnya kasar dengan rahang mengeras.
Ia melempar ponsel ke atas meja kerja, lalu menyandarkan tubuh dengan napas berat. Apa yang baru saja dilakukan oleh Clarissa membuat kepalanya semakin pening. Di tengah perusahaan yang sedang terancam, istrinya justru sibuk mempermasalahkan Keira. Walaupun Arsen memang berniat ingin rujuk dengan Keira, bukankah yang tidak penting ia tidak menceraikan Clarissa? Lagi pula dia melakukan itu juga untuk menyelamatkan Wijaya Group.
Menjelang sore, Arsen akhirnya pulang ke rumah. Begitu memasuki ruang depan, ia merasa suasana begitu sunyi sehingga alasan bertanya kepada seorang pelayan yang ia temui di mana Ibu dan istrinya. Pelayan itu memberitahunya bahwa Clarissa sedang berada di kamar ya sementara Marissa belum kembali sejak siang.
“Ibu pergi ke mana?” tanya Arsen sambil melonggarkan dasinya.
“Maaf, Tuan. Nyonya tidak memberitahu kami,” jawab pelayan itu sopan.
Arsen mengangguk selalu bergegas menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Di dalam kamarnya ia melihat Clarissa yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil bermain ponsel. Alasan menghilang nafas pendek, jika itu Keira, begitu melihat dirinya datang Keira akan langsung menyambut dengan membawakannya segelas air putih. Tapi Clarissa, jangankan menyambut, merespon kedatangannya saja pun tidak.
“Apa aku benar-benar salah telah menghadirkan Clarissa untuk menggantikan posisi Keira?" gumamnya dalam hati.
Tak mau memperpanjang masalah yang akhirnya hanya akan jadi perdebatan, arsen segera bergegas menuju kamar mandi setelah mengambil sendiri pakaian gantinya dari lemari pakaian.
Hanya beberapa menit saja berada dalam kamar mandi, pria itu kembali keluar dengan tubuh dan wajah yang lebih segar lalu segera turun ke lantai bawah tepatnya menuju ruang makan. Perutnya terasa kosong karena sejak siang tidak berselera makan akibat persoalan perusahaan yang seakan tiada habisnya.
Sementara itu masih di dalam kamar, Clarissa mendengus kesal karena Arsen bahkan sama sekali tidak menyapanya. Ponsel yang sejak tadi ia genggam, ia banting dengan kasar di atas bantal.
“Sial!" umpatnya tertahan. “Kalau bukan karena Ayah yang memintaku bertahan, lebih baik aku segera pergi dari sini. Untuk apa aku tetap bertahan sementara aku tahu tidak akan mendapatkan apapun?"
Sambil menahan kekesalannya akhirnya wanita itu ikut turun ke lantai bawah. Namun begitu tiba di ruang makan ia lebih kesal lagi karena arsen makan lebih dulu bahkan tanpa mengajak dirinya.
*
Di ruang makan, Arsen menyantap makanannya sambil memeriksa beberapa laporan di ponselnya. Sesekali ia mengernyit ketika menemukan angka yang tidak sesuai dengan perkiraan, lalu menghembuskan napas panjang.
Hari hampir gelap ketika suara pintu depan terdengar. Arsen mengangkat wajah dan melihat Marissa muncul di ambang ruang makan dengan wajah merah seperti sedang menahan amarah. Langkahnya terdengar keras ketika menghampiri meja, lalu ia meletakkan tasnya dengan kasar hingga sebuah sendok terpental jatuh ke lantai.
Arsen menoleh ke arah sendok itu, kemudian menatap ibunya dengan heran.
“Ibu dari mana saja? Kenapa pulang dengan wajah seperti itu?” tanya Arsen setelah menelan makanan dalam mulutnya.
Marissa tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya di atasnya dengan kasar, lalu memberi isyarat kepada pelayan untuk mengambilkan minuman.
“Dasar menantu durhaka! Benar-benar tidak tahu diri!” umpat Marissa setelah menenggak segelas penuh air putih dan meletakkan gelas dengan keras.
Arsen menatap ibunya dengan mata menyipit “Siapa yang Ibu maksud?”
“Siapa lagi kalau bukan Keira!” Marissa melotot, seolah nama itu saja sudah cukup membuat emosinya meledak. “Ibu sudah datang jauh-jauh ke kantornya, tetapi dia bahkan tidak mau menemui Ibu. Katanya harus membuat janji terlebih dahulu, seolah-olah Ibu ini orang asing. Ibu suka bela-belain menunggu lama, tetapi sepertinya dia memang sengaja merendahkan Ibu.”
“Ibu benar-benar datang ke KA Grup?” tanya Arsen dengan mata terbelalak tak percaya.
“Tentu saja! Memangnya Ibu mau ke mana lagi?” Marissa mendengus, kemudian menyilangkan tangan di depan dada. “Ibu sudah berniat bicara baik-baik dengannya. Ibu bahkan sudah berniat meminta maaf. Tapi lihat bagaimana dia memperlakukan Ibu!”
Di ujung meja, Clarissa yang sejak tadi makan dengan tenang hampir tersedak mendengar keluhan mertuanya. Ia buru-buru menutup mulut dengan serbet, menyembunyikan senyum sinis yang muncul di wajahnya.
Dalam hatinya wanita itu berpikir, sedangkan dirinya yang orang lain yang tidak pernah mengenal Keira saja ditolak. Apalagi Marissa yang dulunya sering merendahkan Keira, bahkan memperlakukannya bagaikan seorang pelayan. Kok berani-beraninya Marissa datang ke sana? Apa wanita itu benar-benar sudah tidak punya urat malu?
Melihat mertuanya begitu murka karena tidak bisa bertemu Keira, Clarissa tersenyum miring dalam hati. Rupanya, uang dan kekuasaan benar-benar mampu mengubah cara orang memperlakukan seseorang.
“Awas saja dia!“ geram Marisa. “Kalau suatu hari nanti perempuan itu mau rujuk denganmu dan kembali ke rumah ini, Ibu tidak akan menerimanya begitu saja. Dia harus meminta maaf dan berlutut di hadapan Ibu terlebih dahulu! Ibu akan kembali membuatnya menjadi menantu yang patuh!”
“Sudahlah, Bu. Tidak perlu terlalu dipikirkan,” ucap Arsen, padahal dirinya juga sedang gelisah.
Clarissa menunduk, berpura-pura sibuk mengaduk makanannya. Benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ibu mertuanya. Dia yang orang luar saja tidak yakin Keira akan kembali. Bagaimana bisa Ibu mertuanya itu begitu percaya diri?
Arsen sendiri merasa semakin gusar. Ia tahu ibunya sedang terluka harga dirinya, tetapi penolakan Keira bukan masalah sepele. Jika perempuan itu tidak bersedia bertemu bahkan dengan Marissa, peluang mereka untuk meminta bantuan semakin kecil.
Marissa terdiam sejenak, tetapi amarahnya belum mereda. Beberapa saat kemudian, ia mendekatkan tubuh ke arah putranya dan berbicara lebih pelan.
“Bagaimana kalau kamu yang menemuinya?” usulnya sambil menatap wajah Arsen.
Arsen kenapa balik wajah ibunya. “Aku?”
“Iya. Kalian kan pernah hidup bersama selama empat tahun. Dulu dia itu sangat bucin sama kamu.” Marissa menggenggam tangan putranya dengan penuh harap. “Coba bujuk dia baik-baik. Kalau kamu yang datang, mungkin dia akan berubah pikiran. Ibu yakin Keira masih menyimpan perasaan untukmu.”
Arsen nyaris mengangguk. Sejujurnya saja ia memang ingin menemui Keira, bukan hanya untuk membicarakan perusahaan, melainkan juga karena tiba-tiba perasaan cinta untuk wanita itu tiba-tiba saja kembali tumbuh subur.
Namun, ketika matanya tanpa sengaja bertemu dengan Clarissa yang kini duduk diam di seberang meja.
Arsen segera menarik tangannya dari genggaman ibunya, lalu mengalihkan pandangan.
“Ibu jangan bicara seperti itu. Keira sudah punya kehidupannya sendiri. Lagi pula aku juga sudah menikah dengan Clarissa.”
Marissa mengerutkan kening, jelas tidak puas mendengar jawaban itu. “Tapi kalau kamu tidak bisa rujuk dengannya, bagaimana dengan perusahaan kita?”
“Dia sudah menolak menemui Ibu. Itu artinya dia sudah memberikan jawaban.” Arsen berusaha terdengar tegas, meskipun jauh di dalam hati ia sendiri ingin mencoba. “Sebaiknya kita mencari jalan keluar lain.”
Clarissa mengangkat wajah, menatap suaminya. Ia tidak tahu apakah Arsen benar-benar bermaksud menjauh dari Keira atau hanya sedang berpura-pura di hadapannya.
Sementara itu, Marissa mengembuskan napas kasar, lalu kembali mengumpat pelan sambil meraih gelasnya.
Arsen menunduk menatap ponsel di samping piring. Nama Keira terlintas di benaknya, diikuti bayangan perempuan yang kini semakin sulit untuk digapai.
“Apa benar kata ibu, aku saja yang menemuinya?"
Soryyyy yeee......😛😛😛