Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

Sore harinya, iring-iringan mobil lapis baja Moretti Dynasty kembali memecah kesunyian halaman utama Puri Moretti. Senja mulai membias warna jingga kemerahan di balik perbukitan pinus, memantulkan bayangan panjang dari kendaraan-kendaraan hitam yang melaju cepat menuju pelataran depan.

Gabriel melangkah keluar dari mobil dengan gerakan anggun dan percaya diri. Wajahnya yang tadi siang di kantor sempat dibayangi kebingungan akan arti kata 'cinta', kini dipenuhi oleh tekad bulat dan ketenangan mutlak. Di belakangnya, Marco dan dua orang pengawal pribadi mengikuti dengan cermat, membawa beberapa kotak hadiah berlapis beludru hitam berhiaskan pita sutra emas.

Gabriel menaiki tangga melingkar puri dengan langkah lebar yang terburu-buru. Ada dorongan kuat di dadanya untuk segera menemui Aurora, melihat bagaimana binar mata wanita itu saat menerima seluruh persembahan yang dibawanya.

Pintu kamar utama terbuka.

Aurora baru saja selesai membersihkan diri setelah istirahat sorenya. Ia mengenakan gaun santai berwarna krem yang membungkus tubuh anggunnya dengan sangat pas. Rambutnya yang masih agak basah terurai halus di bahu, memancarkan aroma bunga liar yang segar.

Saat Gabriel melangkah masuk, mata mereka saling beradu.

"Gabriel? Kau sudah pulang lebih awal?" tanya Aurora pelan, menghentikan kegiatannya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil.

Gabriel tidak langsung menjawab. Ia memberi gestur tangan pada Marco dan para pengawal. Dengan gerakan cepat dan cekatan, mereka meletakkan kotak-kotak beludru hitam berukuran besar dan sedang itu di atas meja hias raksasa di tengah kamar, lalu membungkuk hormat dan langsung mundur keluar ruangan, menutup pintu rapat-rapat.

Ruangan itu kini kembali menyisakan mereka berdua.

Gabriel melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Pria itu meraih tangan Aurora, mengecup punggung tangannya dengan kelembutan yang sangat intens, lalu menuntun wanita itu perlahan menuju meja hias.

"Aku membawa beberapa hal untukmu, Cara mia," suara Gabriel berbariton rendah, bergetar oleh kehangatan yang pekat.

Dengan jemari tangannya yang besar dan tegas, Gabriel membuka kotak-kotak beludru tersebut satu per satu di hadapan Aurora.

Mata Aurora terbelalak seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat deretan barang mewah yang terpapar di bawah pendar lampu kamar.

Di dalam kotak pertama, terbaring sebuah kalung berlian raksasa dengan batuan blue sapphire langka bernilai puluhan juta dolar sebuah perhiasan tingkat museum yang memancarkan kilau menyilaukan. Di kotak kedua, terdapat gelang berlian yang dirancang khusus dengan ukiran simbol dinasti Moretti di bagian dalam. Tak berhenti di situ, kotak-kotak lainnya berisi deretan gaun malam mahakarya desainer dunia terkemuka, sepatu hak tinggi berbahan kulit langka, hingga satu set perhiasan anting dan cincin berlian utuh.

Itu bukan sekadar hadiah biasa. Itu adalah persembahan setingkat mahkota bagi seorang ratu.

"Gabriel..." bisik Aurora dengan suara yang tercekat, jemarinya melayang di atas kilauan berlian namun enggan menyentuhnya. Rasa syok yang luar biasa menghantam dadanya. "Apa... apa maksud dari semua ini? Mengapa kau membelikan semua barang ini untukku?"

Gabriel tersenyum sebuah senyuman yang teramat manis, penuh kehangatan, dan sarat akan rasa kasih sayang yang begitu telanjang. Pria itu melangkah ke belakang Aurora, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang wanita itu, dan menyandarkan dagunya di bahu mulus Aurora.

"Karena kau berhak mendapatkan segalanya di dunia ini, Aurora," gumam Gabriel pelan di dekat telinga wanita itu. Tangannya terulur, mengambil kalung blue sapphire dari kotaknya, lalu dengan sangat hati-hati mengalungkannya di leher jenjang Aurora.

Sentuhan logam dingin berlian bercampur dengan kehangatan jemari Gabriel di kulit lehernya membuat Aurora merinding hebat.

"Semua ini adalah milikmu. Apapun yang kau inginkan perhiasan, gaun, harta, atau seluruh tanah ini sebutkan saja, dan aku akan membawakannya ke hadapanmu," lanjut Gabriel, mengeratkan pelukannya dan menanamkan ciuman lembut di ceruk leher Aurora.

Dada Aurora berdegup kencang secara tidak teratur, bukan karena terbuai oleh kemewahan di depannya, melainkan oleh rasa curiga yang luar biasa.

Pikirannya yang selalu bekerja dengan mode kewaspadaan tinggi seketika menyalakan tanda bahaya raksasa.

Mengapa Gabriel tiba-tiba memberikan semua ini hari ini?

Apakah pria ini telah mengendus sesuatu? Apakah Marco telah menemukan jejak transaksi paspor palsuku? Apakah ini sebuah peringatan berbalut kemewahan? Ataukah Gabriel sedang memasang umpan untuk mengujiku sebelum ia mengeksekusi atau membongkar rencana pelarianku?

Kepanikan dingin perlahan merayap di aliran darah Aurora. Hatinya mencelos. Jika Gabriel sudah mengetahui rencana pelariannya, maka semua pemberian mewah ini tak ubahnya seperti hidangan terakhir bagi seorang narapidana sebelum dijatuhi hukuman mati.

Aurora memutar tubuhnya di dalam pelukan Gabriel. Ia memberanikan diri mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata hitam kelam milik sang Don.

Aurora mencari kejanggalan di sana.

Dengan mata elangnya yang terbiasa membaca kebohongan dan intrik di dunia bawah, Aurora menyelami kedalaman mata Gabriel. Ia mencari kilatan kecurigaan, ancaman terselubung, kebohongan, atau rasa amarah yang tersembunyi di balik manic mata tajam pria itu. Ia bersiap menemukan raut wajah iblis yang sewaktu-waktu siap meremukkannya jika kebohongannya terbongkar.

Namun... ia tidak menemukan apa-apa.

Mata Gabriel benar-benar bersih dari kejanggalan. Tidak ada rasa curiga. Tidak ada nada intimidasi. Tidak ada jebakan.

Yang ada di dalam kedalaman manik mata hitam Gabriel hanyalah sebuah obsesi yang teramat dalam, kepasrahan murni, dan pendar cinta yang membakar begitu pekat. Tatapan pria itu sangat polos dan telanjang, memancarkan rasa pemujaan yang teramat besar tatapan seorang pria yang telah bertekuk lutut sepenuhnya di hadapan wanita yang dicintainya.

Gabriel benar-benar memberikan semua barang ini murni karena ia ingin memanjakan Aurora. Karena ia telah jatuh cinta dan ingin menyerahkan seluruh dunianya pada sang selir.

Mengetahui fakta tersebut, bukannya merasa lega, jantung Aurora justru terasa makin diremas oleh rasa takut yang baru.

Pria ini benar-benar telah jatuh cinta padaku, batin Aurora dalam jeritan hening. Ia tidak sedang mencurigaiku... ia sedang menyembahku.

Kenyataan ini jauh lebih menakutkan daripada sebuah kecurigaan. Cinta dan obsesi dari seorang penguasa mafia seperti Gabriel adalah penjara paling rapat di dunia. Jika Gabriel membencinya, pria itu mungkin hanya akan mengurungnya dengan rantai. Namun jika Gabriel mencintainya seluas ini, maka jika Aurora sampai melarikan diri dan mengkhianati cinta ini... kemarahan dan kegilaan Gabriel kelak akan sanggup membakar seluruh benua hanya untuk menemukannya kembali.

"Mengapa kau menatapku seperti itu, Cara mia?" bisik Gabriel lembut, jemarinya mengusap lembut pipi Aurora yang mendadak agak pucat. "Apakah kau tidak menyukai hadiah-hadiah ini?"

Aurora memaksa dirinya untuk menarik napas panjang, menguasai keterkejutan dan ketakutan yang berkecamuk di dalam batinnya. Topeng sandiwara manisnya harus kembali dipasang dengan sempurna. Ia tidak boleh merusak pementasan ini di saat Gabriel sedang berada di puncak ketundukannya.

"Tidak... bukan begitu, Gabriel," bisik Aurora dengan suara yang dibuat bergetar oleh rasa haru buatan. Ia menyunggingkan senyuman yang sangat cantik dan memikat, menatap kalung blue sapphire di dadanya. "Semua ini... terlalu indah. Aku hanya sangat terkejut. Belum pernah ada seorang pun yang memberiku hal seindah ini."

Gabriel tersenyum lega. Pria itu membungkuk, menekan dahinya ke dahi Aurora, membiarkan napas mereka saling bersentuhan.

"Ini baru permulaan, Aurora," ujar Gabriel mantap, matanya memancarkan rasa memiliki yang tak tergoyahkan. "Selama kau berada di sampingku, seluruh dunia ini akan bersujud di hadapanmu. Aku akan memberimu segalanya... termasuk nama Moretti yang agung."

Aurora membalas senyuman itu, melingkarkan tangannya di leher Gabriel dan menyembunyikan wajahnya di dada tegap pria itu.

Di balik usapan lembut tangan Gabriel di punggungnya, mata Aurora menatap tajam ke arah pantulan dirinya di cermin meja hias. Berlian puluhan juta dolar memantulkan kilau di lehernya, namun bagi Aurora, itu tak ubahnya seperti belenggu emas yang dipasangkan dengan sangat rapat.

“Pria ini gila,” jerit Aurora di dalam hatinya dengan ketakutan yang murni. “Ia benar-benar gila karena cinta ini. Aku harus pergi... aku harus mempercepat proses paspor itu. Jika aku bertahan lebih lama lagi di tempat ini, cinta gila ini akan menelanku bulat-bulat hingga tak tersisa.”

Gabriel makin mempererat pelukannya, menghirup aroma rambut Aurora dengan rasa puas yang tak terhingga, benar-benar tidak menyadari bahwa di dalam dekapannya yang hangat, wanita yang dipujanya sedang menghitung setiap detik menuju hari pengkhianatan terbesar dalam hidup sang Don.

1
King Kas
👍🏻👍🏻
King Kas
lanjut kak....!!!
jennn
💪💪💪
jennn
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!