Indonesia
NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:327
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sopir yang Menyimpan Setir Terakhirnya

Rumah Pak Warno, bangunan kecil berdinding bata ekspos di gang sempit pinggiran kota. Halamannya ditumbuhi kangkung dalam ember-ember bekas cat. Begitu pintu terbuka, seorang pria tua dengan punggung bungkuk dan tangan gemetar menyambut mereka dengan mata yang langsung menyipit curiga begitu melihat wajah Raze. Radio tua berdengung pelan dari dalam rumah, menyiarkan berita pagi yang tidak didengarkan siapa pun, dan bau minyak kayu putih menyeruak begitu pintu kayu itu berderit terbuka lebih lebar.

"Kamu mirip beliau," katanya, suaranya serak, sebelum siapa pun sempat memperkenalkan diri. "Terutama pas kamu diem kayak gitu. Masuk. Saya udah nunggu hari ini, entah kenapa saya selalu tau hari ini bakal dateng."

Damar, yang menunggu di mobil di luar sesuai instruksi Raze, mengangguk singkat sebelum mereka bertiga melangkah masuk, meninggalkannya berjaga di gang sempit itu seperti bayangan yang selalu ada tapi jarang terlihat.

Di dalam rumah yang sederhana, berbau minyak kayu putih dan kopi tubruk, Pak Warno duduk di kursi goyang tuanya. Tangannya yang keriput menggenggam cangkir yang tidak pernah dia minum, dan matanya berkaca-kaca menatap Alya dan Rani bergantian.

"Saya yang nganter bayi itu ke panti," katanya, langsung, tidak berbasa-basi seperti orang yang sudah lama menunggu kesempatan mengaku. "Malam-malam, ujan deres, Pak Baskara sendiri yang gendong dari mobil ke pintu panti itu. Saya cuma nyupir. Tapi saya denger semuanya dari kaca spion."

"Apa yang Bapak denger?" Alya bertanya, suaranya bergetar, mendekat ke kursi goyang itu.

"Pak Baskara nelpon seseorang di jalan," Warno melanjutkan, matanya menerawang jauh, seperti sedang memutar ulang kaset lama di kepalanya. "Katanya, 'targetnya ketuker, Pak. Yang naik minibus itu bukan keluarga Halim. Kita harus beresin ini diam-diam sebelum ada yang nanya kenapa mobil yang salah yang kena.'"

Rani, yang duduk di kursi plastik dekat pintu, meremas ujung jaketnya erat-erat, matanya tidak lepas dari wajah pria tua itu. "Bapak nggak coba ngomong apa-apa malam itu? Nggak coba cegah?"

"Saya cuma sopir, Nak," Warno menjawab, suaranya pecah. "Saya nggak punya kuasa buat nolak apa pun yang dia perintahkan. Saya cuma bisa diem di balik setir, dengerin semuanya, pura-pura nggak denger."

"Keluarga Halim?" Raze mengulang, suaranya tajam. "Siapa itu?"

"Pengusaha kayu, dulu saingan berat Pak Baskara di jalur pengiriman barat," Warno menjawab, tangannya gemetar semakin jelas. "Katanya mereka mau dikasih pelajaran, biar mundur dari tender pelabuhan. Rencananya nyerempet mobil mereka doang, bikin takut, bukan bikin celaka beneran. Tapi malam itu, jadwal mereka ketuker sama keluarga lain yang make jasa penyewaan mobil yang sama."

"Jasa penyewaan mobil yang mana?" Alya bertanya cepat, sesuatu di kepalanya mulai menyusun kepingan yang selama ini terpisah.

"Saya nggak inget namanya persis, Nak. Udah dua puluh tahun," Warno menjawab, menggeleng pelan. "Tapi saya inget, Pak Baskara bilang warna mobilnya sama putih. Model yang sama, cuma beda pelat nomor dikit. Dari kejauhan, siapa pun bisa salah liat di malam ujan kayak gitu."

"Keluarga kami cuma nyewa mobil buat pulang kampung," Alya berbisik, tangannya mencengkeram lengan kursi, suaranya nyaris hilang ditelan keheningan ruangan. "Kami bukan targetnya. Kami cuma... salah tempat, salah waktu."

Raze meraih tangannya, menggenggamnya erat, ibu jarinya mengusap punggung tangannya berulang kali, seolah berusaha menyalurkan kekuatan lewat sentuhan karena kata-kata terasa terlalu kecil untuk kebenaran sebesar ini.

"Itu yang bikin Pak Baskara panik sepanjang jalan," Warno berkata, suaranya pecah menahan tangis tuanya sendiri. "Dia tau ini kesalahan fatal. Bukan cuma soal bisnis lagi, ini nyawa orang nggak bersalah. Dia coba nutupin sekuat tenaga, bukan cuma buat lindungin diri sendiri, tapi juga buat lindungin orang yang sebenarnya masih dia sayangi. Anak angkatnya sendiri, yang waktu itu baru mulai jadi dokter, yang nggak tau apa-apa soal dunia gelap keluarganya."

Raze berdiri, berjalan ke jendela, punggungnya menegang, dan Alya bisa melihat bahunya bergetar meski dia berusaha keras menyembunyikannya. Rani berdiri juga, melangkah ke sampingnya tanpa berkata apa-apa, berdiri sejajar, dua sosok yang sama tingginya menatap jendela yang sama, seolah tubuh mereka sendiri sedang menegaskan bahwa Raze tidak sendirian menanggung beban nama keluarganya.

"Jadi bukan cuma menutupi kelalaian," Raze berkata, suaranya nyaris tidak terdengar. "Ini menutupi percobaan intimidasi yang berubah jadi pembunuhan tidak sengaja."

"Betul, Pak," Warno menjawab, kepalanya tertunduk. "Saya ikut nutupin ini selama dua puluh tahun karena saya takut, dan karena Pak Baskara ngasih saya cukup uang buat mastiin keluarga saya sendiri hidup layak. Saya bukan orang baik, Nak. Saya cuma orang penakut yang untung dikasih uang buat tetep diem."

"Bapak masih punya anak cucu di sini?" Alya bertanya, lebih lembut, mencoba meringankan beban yang jelas sudah lama menggerogoti pria tua itu.

"Dua cucu, Nak. Mereka nggak tau apa-apa soal ini," Warno menjawab, menyeka matanya. "Saya cuma mau mereka hidup tanpa warisan dosa kayak yang saya tanggung. Makanya saya akhirnya cerita. Biar nggak ada lagi yang nanggung beban yang bukan punya mereka."

Alya berjalan mendekat, berlutut di depan kursi goyang itu, menggenggam tangan tua yang gemetar itu dengan lembut. "Bapak jujur sekarang," katanya. "Itu udah cukup buat saya."

Warno menangis, air mata tua yang sudah lama tertahan akhirnya jatuh bebas. Rani, yang sejak tadi diam menahan amarahnya sendiri, akhirnya melangkah mendekat juga, tangannya menepuk bahu pria tua itu pelan.

"Keluarga Halim itu," Rani bertanya, suaranya lebih tenang dari yang diduga siapa pun. "Masih ada yang idup dari mereka?"

"Yang saya denger," Warno menjawab, menyeka air matanya dengan lengan baju, "mereka pindah keluar negeri beberapa tahun setelah kejadian itu. Tapi ada satu nama lagi yang saya denger malam itu, dari telepon Pak Baskara, bukan orang keluarga Halim, bukan juga orang kita. Seseorang yang dia panggil 'Pak Tirta', yang kelihatannya ngasih perintah dari atas Pak Baskara sendiri."

"Perintah?" Raze berbalik cepat, matanya menajam. "Maksudmu Paman Baskara bukan yang mengatur rencana intimidasi itu?"

"Saya nggak yakin, Nak," Warno berkata, jujur. "Tapi dari cara Pak Baskara ngomong ke orang itu di telepon, kayak dia lapor ke atasan, bukan ngobrol ke rekan sejajar. Dia manggil orang itu 'Bos', bukan nama depan kayak biasanya dia panggil rekan bisnis."

Kata itu 'Bos' menggantung berat di udara ruangan kecil itu, dan Alya merasakan tangan Raze mengeras di sampingnya. Matanya menatap kosong ke arah dinding, seolah baru saja menyadari bahwa kerajaan yang dia warisi mungkin hanya cabang kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gelap yang tidak pernah dia ketahui keberadaannya.

"Aku tidak pernah dengar nama Tirta seumur hidupku," Raze berbisik, lebih kepada dirinya sendiri.

"Mungkin memang begitu tujuannya," Alya berkata, pelan, menggenggam tangannya erat. "Orang yang ngasih perintah dari bayangan biasanya emang nggak pengen dikenal."

Raze menoleh menatapnya, dan untuk sesaat, sesuatu di matanya melunak, seolah kalimat sesederhana itu berhasil menenangkan badai yang berkecamuk di kepalanya. Dia mengangkat tangan Alya, mengecup punggungnya, lalu menariknya ke dalam pelukan singkat di tengah ruang tamu sempit itu, tidak peduli ada Warno dan Rani yang menyaksikan.

"Aku bersyukur kamu ada di sini," bisiknya, hanya untuk telinganya. "Kalau aku harus dengar semua ini sendirian, aku tidak yakin aku masih bisa berdiri setegak ini."

Sebelum mereka pamit, Warno meraih laci meja kecil di sampingnya, mengeluarkan sebuah kotak korek api tua, bagian dalamnya kosong kecuali secarik kertas kecil yang terlipat rapi. "Ini jatuh dari saku Pak Baskara malam itu, pas dia turun dari mobil gendong bayi itu," katanya, menyerahkannya ke tangan Raze. "Saya simpen tanpa pernah buka lagi. Saya takut apa isinya."

Raze membuka lipatan kertas rapuh itu perlahan, dan di dalamnya, tertulis satu baris nomor telepon lama, dan tiga huruf inisial di bawahnya, T.H.

"Nomornya pasti udah lama mati," Rani berkata, melongok dari balik bahu Raze.

"Nomor telepon berubah. Tapi nama di baliknya, kalau memang nyata, jarang berubah secepat itu," Raze menjawab, melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, menyimpannya di saku dadanya seperti sesuatu yang jauh lebih berharga dari yang terlihat. "Damar akan melacaknya mulai besok."

Mereka berpamitan, dan sebelum pintu tertutup, Warno menahan tangan Alya sebentar. "Maafin saya, Nak," bisiknya, matanya basah. "Saya tau kata maaf nggak bisa gantiin dua puluh tahun yang ilang."

"Bapak udah ngasih kami sesuatu yang lebih berharga dari permintaan maaf," Alya berkata, tersenyum lembut meski matanya juga berkaca-kaca. "Bapak ngasih kami kebenaran. Itu cukup."

Rani berhenti di ambang pintu, menoleh sekali lagi ke arah pria tua itu. "Pak," katanya, suaranya lebih lembut dari yang pernah dia pakai sepanjang hari itu, "makasih udah nganter saya malam itu. Pelan-pelan, kan? Biar saya nggak kebangun."

Warno tersenyum, air mata baru menggenang. "Pelan-pelan banget, Nak. Saya inget, saya nyanyiin kamu lagu nina bobok sepanjang jalan, biar kamu tenang."

Rani mengangguk, tidak sanggup bicara lagi, dan mereka akhirnya melangkah keluar, meninggalkan pria tua itu di kursi goyangnya, lebih ringan daripada saat mereka datang, meski kebenaran yang mereka bawa pergi jauh lebih berat dari yang mereka bawa masuk.

Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, Rani duduk di kursi belakang sambil menatap jendela, dan Alya bersandar ke bahu Raze di kursi depan, kelelahan emosional hari itu akhirnya menuntut bayarannya. Raze menyetir dengan satu tangan, tangan yang lain menggenggam tangan Alya erat di atas pahanya.

"Kamu capek," katanya, bukan pertanyaan.

"Capek, tapi lega," Alya menjawab, matanya setengah terpejam. "Setiap potongan yang kita temuin, rasanya kayak naruh batu yang udah lama ganjel dada."

"Masih ada batu yang lebih besar menunggu," Raze berkata, pelan, mengangkat tangannya untuk mengecup punggungnya. "T.H. Aku punya firasat buruk soal itu."

"Kita udah lewatin yang lebih buruk," Alya berbisik, menyandarkan kepalanya lebih dalam ke bahunya. "Kita bakal lewatin ini juga. Bareng-bareng."

Malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang bercampur ketakutan dan tekad yang baru terbentuk.

Ada seseorang di atas Baskara. Selama ini aku pikir aku mewarisi puncak sebuah kerajaan. Malam ini aku sadar, aku mungkin hanya mewarisi salah satu cabangnya, dan akar yang sebenarnya masih tertanam di suatu tempat yang belum pernah kujelajahi.

T.H. Dua huruf yang mungkin akan membuka pintu yang jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah kuhadapi. Aku akan menyelidikinya, tapi kali ini, aku tidak akan melakukannya sendirian. Aku sudah berjanji pada Alya, dan untuk pertama kalinya, menepati janji itu terasa lebih ringan daripada menanggung semuanya sendirian seperti dulu.

Keluarga Alya bukan target. Mereka korban kesalahan orang lain, kesalahan yang ditutupi oleh orang yang membesarkanku. Aku tidak tahu apakah itu membuatku merasa lebih baik atau lebih buruk bahwa penderitaan mereka lahir bukan dari kebencian, melainkan dari kecerobohan yang dianggap terlalu memalukan untuk diakui.

Pak Warno menangis malam ini, melepaskan beban yang dia pikul sendirian selama dua puluh tahun. Aku bertanya-tanya, berapa banyak lagi orang di sekitar keluarga ini yang menyimpan potongan kebenaran yang sama, menunggu seseorang cukup berani untuk bertanya.

❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!