Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Raisa dan Angga baru saja tiba di kamar mereka, wanita itu kini membantu suaminya untuk naik ke atas kasur. Sejenak lelaki itu memperhatikan istrinya yang masih sibuk merapikan kamar mereka meski langkah kakinya belum sempurna.

"Istirahat saja, besok biar pembantu yang membersihkannya" titah Angga.

"Tidak, aku tidak ingin ada orang lain yang masuk ke kamar ini. Ini privasi" jawab Raisa sambil beranjak naik ke tempat tidur.

Suaminya menggelengkan kepalanya, membuat Raisa mengangkat kedua bahunya kebingungan, selama ini Raisa memang tidak pernah mengijinkan siapa pun masuk kedalam kamarnya, berbeda dengan Steven yang kamarnya terbuka untuk semua orang dirumah sebab sewaktu-waktu ini terus membutuhkan bantuan orang lain untuk membantunya karena kedua kakinya tak lagi berfungsi.

"Privasi?" Ucap Angga menarik lebih selimutnya diatas kedua kakinya.

"Owhh maaf, aku lupa kalau kau tidak mendapat privasi atas kamarmu sejak kaki mu lumpuh"

Lelaki itu menoleh pada wanita yang kini memainkan ponselnya tersebut.

"Kata-kata mu"

"Aku belajar darimu" balas Raisa meletakkan ponselnya diatas selimut, wanita ini lalu menatap kosong tembok didepan mereka.

"Aku tahu pasti kau merasakan sakit hati saat mendengarnya, tapi pernahkah kamu berfikir kalau perkataan burukmu padaku akan menyakitiku juga?"

Keduanya saling bertukar pandang, tampak mata Raisa berubah berkaca-kaca saat menatap pemilik wajah datar itu.

"Lumpuh" ucapnya, kini Angga mengerutkan kening, ingin sekali ia marah pada Raisa namun ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun sebab tatapan Raisa telah melumpuhkan lidahnya.

"Ibumu juga menganggap ku wanita cacat, sebab rahimku tak pernah memberi ia cucu. Aku penasaran apakah dia pernah membayangkan apakah aku pernah tersentuh oleh mu selama lima tahun ini, dan sekarang adikmu membawa adikku masuk kedalam kehidupanku. Kita, berempat, kini bertemu lagi dan akan hidup didalam satu atap yang sama"

"Aku bisa membawamu keluar dari rumah ini jika kamu ingin"

"Tidak lagi, bahkan jika aku ingin aku tak akan pergi sebelum aku mendapatkan semua yang aku inginkan" ucap Raisa memotong perkataan suaminya.

"Apa yang kamu inginkan?"

"Kamu!"

Angga menelan ludah setelah mendengar jawaban Raisa.

"Aku?" batinnya bertanya-tanya akan maksud dari jawaban istrinya barusan.

"Kemarin kau berkata kalau kau ingin bercerai dan sekarang kau menginginkan aku? Raisa, jangan membuatku bingung" ujarnya lagi.

Raisa tersenyum mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan tersebut, ia memang ingin bercerai namun sebelum hal itu terjadi ia juga menginginkan hubungannya dengan Angga berjalan dengan baik meski ia harus menahan rasa sakit atas perlakukan buruk yang ia dapatkan dari lelaki itu selama bertahun-tahun.

"Aku memang ingin bercerai, tapi sebelum itu aku ingin kau memperlakukan ku selayaknya seorang istri, setidaknya untuk membuat Arni menyesal telah menukar Steven denganmu"

Mendengar itu Angga mengerutkan keningnya serta meraih tangan Raisa dengan kasar hingga wanita itu meringis kesakitan.

"Steven lagi?"

"Angga, lepaskan" ucapnya namun Angga malah memperkuat cengkeramannya.

Sorot mata lelaki ini bahkan berubah tajam saat bertemu dengan sepasang mata yang tengah berkaca-kaca itu. Mendengar nama Steven membuatnya kembali marah seolah nama itu menjadi nama yang paling tak ingin ia dengar selama ini.

"Kenapa kamu sangat marah saat aku mengucapkan nama Steven? Dia adikmu, jangan bilang kalau kamu cemburu" ucap Raisa menaikkan sudut bibirnya, mendadak Angga terdiam hingga Raisa dapat melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki itu, pergelangan tangan Raisa kini berubah merah sebab suaminya tak sedang bercanda saat meremas tangan kecilnya.

"Aku tidak keberatan jika kau meminta bercerai denganku, tapi jangan membandingkanku dengan adikku. Itu terlalu menyakitkan, kau adalah istriku dan tak ada suami di dunia ini yang rela mendengar istrinya menyebut nama lelaki lain seperti itu, sekalipun aku tak mencintaimu" ujarnya mengalihkan tatapannya dari wanita itu.

Sama halnya dengan Raisa yang telah muak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh suaminya tersebut.

"Kau memang tidak pernah mencintaiku, bahkan pernikahan kita tak layak disebut sebagai pernikahan. Kau hanya tak ingin nama baikmu hancur begitu saja dihadapan publik setelah Arni meninggalkan mu karena kau cacat, sedangkan aku yang hidup dibawah telapak kaki mereka dapat dengan mudah kau nikahi melengkapi kecacatanmu. Kita sama-sama cacat namun kau memperlakukanku lebih buruk dari binatang sekalipun dan sekarang aku ingin posisinya dibalik, sama seperti mu yang membenci Arni, aku juga membencinya sebab secara tidak langsung penderitaanku berawal dari sebuah keinginan gilanya yang meminta ibunya menggantikannya dengan ku sebagai pengantin wanita mu lima tahun lalu. Aku selalu bertanya, Angga. Jika seandainya kamu tetap menikah dengan Arni apakah kau akan memperlakukan dia sama seperti kamu memperlakukanku? Ataukah perlakuan mu yang buruk itu muncul karena aku yang kau nikahi?" Tanya Raisa tanpa menoleh pada lelaki yang masih mendengar perkataannya tersebut.

"Jujur saja, satu-satunya orang yang bisa kuandalkan setelah kematian ayahku, hanyalah adikmu, Steven. Hatiku selalu sesak saat melihatnya harus merelakan ku untuk mu dan kini setelah Arni datang dikehidupannya mendapatkan seluruh perhatiannya membuat ku hampir gila. Kini Aku benar-benar sendiri, bahkan setelah aku mencoba mencintaimu hanya membuat ku kehilangan diriku sendiri. Padahal sebelumnya aku sangat yakin jika mencintaimu dengan tulus tak akan ada ruginya bagiku, yang rugi itu justru kamu yang sudah mendapatkan seporsi cinta tulus tapi tak kau hargai"

Angga terpaku diam merenungi setiap ucapan yang keluar dari mulut istrinya, kemarahannya kini bercampur dengan rasa malu dan bersalah terhadap Raisa yang terlalu menderita dalam pernikahannya. Malam itu Raisa mengeluarkan semua isi hatinya lalu tertidur dengan badan gemetar menahan tangis. Sementara Angga bersandar pasrah menatap wajah istrinya yang terlelap membelakanginya.

"Aku merasa benar-benar buruk setelah semua yang kulakukan di masalalu, benar apa kata Raisa. Seharusnya dendamku bukan dia yang menanggung, tapi Arni yang sudah membuat semuanya menjadi kacau, aku memang rugi banyak Raisa. Tapi kali ini aku akan berusaha memperbaiki diri agar dapat melepasmu dengan baik" batin Angga.

Berbeda dengan pasangan suami istri yang bersiap untuk beristirahat malam itu, Steven justru baru saja sampai ke rumah dan mendapati semua orang sudah tidur kecuali penjaga gerbang yang bekerja sebagai tukang kebun mereka, lelaki yang sudah menginjak usia hampir dikepala tiga itu segera mengunci pagar begitu mobil Steven masuk ke halaman rumah.

"Pak, terimakasih sudah menunggu saya. Sekarang Bapak sudah bisa beristirahat" ucap lelaki itu pada lelaki yang tengah berdiri memegang payung di teras rumah.

"Baik, Pak. Kalau begitu saya ke paviliun belakang dulu ya, Pak"

"Baik" balas Steven dan setelah lelaki yang bekerja sebagai pemotong rumput itu pergi barulah Steven mengunci pintu.

Lelaki muda ini duduk bersandar diatas sofa diruang tamu mereka, air dari bajunya yang masih basah kini menetes membasahi lantai. Kepalanya tiba-tiba merekam kembali memorinya dan Raisa lima tahun lalu sebelum wanita itu menjadi pengantin pengganti untuk kakaknya yang pada akhirnya pernikahan itu berlanjut hingga kini.

"Aneh, padahal sudah dua tahun aku bisa move on dari Raisa, sekarang justru aku malah memikirkan Raisa lagi. Apa karena aku dan Arni akan menikah, atau karena Raisa dan kak Angga akan bercerai?" batinnya mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.

Ia meraih ponselnya dari dalam saku bajunya lalu menggulir layar benda pipih yang masih basah itu, saat ia membuka galerinya ia hanya melihat fotonya dan Arni disana, sementara saat ia mengalihkan aplikasinya ke aplikasi google foto, ribuan foto dari lima hingga enam tahun lalu berisi gambarnya dan Raisa tersimpan rapi disana.

"Raisa, kenapa aku masih memikirkanmu?"

"Memikirkan siapa?"

"Hah?" Steven terkejut, dengan cepat ia mematikan ponselnya dan berdiri dari kursi.

"Gawat, apa Mama mendengar aku menyebut nama Raisa? Kalau sampai mama tau aku masih menyimpan foto-foto ku dengan Raisa bisa-bisa dia kan kak Angga memarahiku habis-habisan" batinnya menggigit bibirnya juga menggaruk keningnya.

"Kamu kenapa sih Steven? Seperti orang kebingungan saja"

"Ma, aku, aku tadi"

"ASTAGA"

Laluna membuka mulutnya karena terkejut saat melihat anak bungsunya telah duduk di kursi sofanya dengan pakaian yang masih basah, segera ia meraih koran dari atas meja lalu memukul kepala Steven.

Plakkk

"Aduh, kenapa Ma?" Tanya Steven yang mengira kalau Laluna marah setelah mendengar ia menyebut nama Raisa.

"Kamu membuat kursinya basah Steven" ucap Laluna, barulah Steven dapat bernafas lega.

Plakkk plakkk

"Dasar anak nakal" ucapnya memarahi anak terakhirnya itu.

Anak laki-lakinya tersebut kini berlari ke kamarnya setelah meraih ponsel miliknya dari atas meja, sedangkan Laluna sibuk mengomel melihat lantainya yang becek karena ulah Steven.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!