Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.
Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.
Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.
“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”
~Grand Duke Erik Klaus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK BISA KABUR
Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai ke gedung arsip tua.
Dari arah berlawanan, Gale bersama beberapa prajurit pengawal khusus sudah lebih dulu tiba di lokasi, berdiri siaga dengan pedang setengah terhunus.
"Yang Mulia, pintu utamanya terkunci dari dalam, kami sempat mencoba mendorongnya, tapi tidak bisa, sepertinya ada penghalang berat di balik pintu ini," lapor Gale buru-buru begitu melihat kedatangan Erik.
Erik maju ke depan, menatap pintu itu dengan lekat, tanpa banyak bicara, dia mengangkat kaki kanannya dan melayangkan tendangan keras tepat di sebelah gagang pintu.
BRAKKKK
Suara hantaman yang kuat membuat pintu besar itu terbuka lebar secara paksa, menimbulkan debu tebal yang mengepul ke udara.
"Uhuk... uhuk..."
Gale dan beberapa prajurit terbatuk-batuk kecil, mengibaskan tangan untuk menghalau debu.
Di dalam ruangan arsip yang gelap dan dipenuhi tumpukan rak buku berdebu tebal itu, terdengar suara keributan kecil, suara langkah kaki yang berlari panik.
"Dia di dalam!" seru Gale bersiap mengejar.
"Tahan," cegah Erik dengan mengangkat satu tangannya.
"Biarkan aku yang masuk," ucap Erik, dingin.
Erik melangkah masuk lebih dulu ke dalam gedung arsip yang gelap itu, diikuti oleh Kalyca dan para prajurit di belakangnya.
"Mau lari ke mana lagi, Putri Edelyn?" suara Erik menggema dingin di dalam ruangan yang sempit itu.
"Jangan mendekat!" teriak Edelyn histeris.
"Kalian semua pengkhianat! Jangan berani-berani mendekatiku!" teriak Edelyn, dengan wajah memerah.
"Menyerahlah, Edelyn, kamu harus tanggung jawab dengan kejahatan yang telah kamu perbuat," ucap Erik datar.
"Hari ini, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu dari hukuman mati yang sudah menanti di hadapan dewan, sekalipun kamu adalah seorang putri mahkota!" ucap Erik tegas penuh penekanan.
"Ingin membunuh Raja dan menjual rahasia kerajaan terhadap kerjaan musuh, itu adalah kesalahan yang sangat fatal dan akan dihukum dengan berat," lanjut Erik, membuat Edelyn semakin ketakutan.
"Diam! Kau hanya seorang jenderal rendahan yang tidak tahu apa-apa!" bentak Edelyn, melangkah mundur.
"Ayah sudah Tua! Dan kalian semua sengaja ingin menyingkirkan ku karena takut aku memimpin kerajaan ini!" bentak Edelyn, dengan nafas memburu.
Kalyca melangkah maju melewati Erik, berdiri di depan Edelyn, di balik cadarnya, dia tersenyum dingin melihat betapa cepatnya roda berputar, dulu Edelyn menginjak-injak harga dirinya, dan sekarang gadis itu berdiri tak berdaya.
"Memimpin kerajaan dengan cara meracuni Raja dan menjual rahasia kerajaan ke Kerajaan Zafira?" ucap Kalyca tenang, dengan suara seraknya.
"Itu bukan memimpin, Putri Mahkota yang terhormat, itu namanya menggali kuburan sendiri," lanjut Kalyca tersenyum miring.
Edelyn menoleh cepat ke arah Kalyca, matanya membelalak lebar penuh kebencian.
"Kau! Tabib sialan! Gara-gara kau ikut campur, semua rencana ku hancur!" teriak Edelyn, menunjuk Kalyca dengan penuh kebencian.
"Rencanamu memang sudah busuk sejak awal, Edelyn," jawab Kalyca dingin, berjalan pelan mendekati gadis itu tanpa rasa takut.
"Kubilang jangan mendekat!" jerit Edelyn, mengayunkan belatinya secara membabi buta ke arah Kalyca.
"Hati-hati!" seru Erik cepat.
Sebelum Erik sempat menarik Kalyca ke belakang, gerakan tangan Kalyca jauh lebih gesit.
Dengan satu tangkisan cepat, Kalyca memelintir pergelangan tangan Edelyn hingga belati itu lepas dari genggamannya dan jatuh.
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Edelyn, membuat kepala gadis itu tersentak ke samping.
Edelyn terperanjat, memegang pipinya yang langsung memerah panas, dia menatap Kalyca dengan napas memburu dan mata melotot.
"Beraninya kau menampar ku?!" ucap Edelyn, memegangi pipinya.
"Itu balasan karena kau sudah bertindak terlalu jauh," bisik Kalyca tepat di dekat telinga Edelyn dengan suara yang sangat dingin, membuat bulu kuduk Edelyn merinding seketika.
"Dan percayalah, ini baru permulaan dari apa yang akan kau terima," lanjut Kalyca, penuh penekanan.
Entah kenapa Edelyn merasa mengenali suara tabib misterius itu.
"K-kamu siapa sebenarnya?" tanya Edelyn, gagap.
Kalyca bukannya langsung menjawab, dia hanya menyunggingkan senyum miring nya.
"Apa itu penting," jawab Kalyca, dingin.
"Yang harus kamu tahu, aku adalah orang yang akan memastikan hidup menderita dan hanya kematian yang akan menyelamatkan mu," bisik Kalyca, dengan suara dingin nya.
Deg
Jantung Edelyn semakin berdetak dengan cepat, dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya.
"Panglima Joel," panggil Erik tanpa menoleh.
"Saya, Yang Mulia!" jawab Joel sigap.
"Bawa dia pergi dari sini," titah Erik dingin, menunjuk Edelyn yang kini lemas tak berdaya.
"Seret dia ke ruang tahanan bawah tanah yang paling dalam dan gelap. Ikat rantai tangannya, dan pastikan tidak ada celah sedikit pun baginya untuk kabur atau bunuh diri sebelum persidangan resmi dimulai."
"Baik, Yang Mulia!" jawab Joel tegas.
Dua pengawal langsung maju, mencengkeram kedua lengan Edelyn dengan kasar.
"Lepaskan aku! Brengsek kalian semua! Ayahhhh! Ibuuu! Tolong akuuu!" jerit Edelyn histeris, saat tubuhnya diseret paksa.
Erik menghela napas kasar, lalu melirik sekilas ke arah Kalyca yang masih berdiri tenang.
"Kamu tidak pernah gagal membuatku terkejut, Tabib," ucap Erik datar, menyilangkan tangan di dadanya.
"Bisa-bisanya kamu langsung melayangkan tamparan pada seorang putri mahkota tanpa ragu sedikit pun," lanjut Erik, terkekeh kecil.
"Dia ingin melukai saya, Grand Duke. Apakah saya harus diam saja dan membiarkan diri saya mati konyol?" tanya Kalyca tenang, tidak acuh pada tatapan menyelidik sang Grand Duke.
Erik mendengus sinis, meski sudut bibirnya sempat tertarik tipis membentuk senyuman geli yang hampir tak terlihat.
"Terserah kau saja," ucap Erik, menggeleng kan kepala.
"Gale, pastikan penjagaan di luar tahanan benar-benar ketat. Setelah ini, aku dan Tabib akan pergi menemui Raja dan Ratu di paviliun utama!" perintah Erik membalikkan badannya menghadap Gale.
"Baik, Yang Mulia!" jawab Gale membungkuk hormat.
"Ayo. Raja dan Ratu pasti sudah menunggu kabar," ucap Erik, melirik Kalyca.
Kalyca terdiam sejenak, lalu tanpa membantah, ia mengangguk pelan dan mengekori langkah lebar Erik meninggalkan gedung arsip tua menuju istana tempat Raja Veldora dan Ratu Alice beristirahat.
"Sebentar lagi Edelyn akan di hukum mati, dan dendam Kalyca asli sudah selesai, tapi dendam ku belum," batin Kalyca, yang berjiwa Cassandra itu kembali mengingat dendam masa nya.
"Aku juga tidak bisa langsung mengatakan bahwa dirinya adalah anak kandung Raja dan Ratu Veldora, lagi pula mereka belum tentu percaya," batin Kalyca, tersenyum miris.
"Dan Charlotte, dia yang memiliki sihir hitam dan yang berani membangkitkan jiwa Martinez," lanjut Kalyca, mengepal kan tangan nya kuat.
Martinez dan Cassandra adalah musuh bebuyutan di masa lalu, mereka awal nya adalah seorang sahabat, hanya saja rasa iri menghancurkan persahabatan mereka.
Martinez memilih jalan yang sesat, dia menjual jiwanya pada Raja kegelapan untuk menguasai sihir terlarang, sementara Cassandra menjadi seorang alkemis genius.