Indonesia
NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Rumah di Distrik Lama

Rumah tua di distrik pedagang lama itu tampak biasa dari luar—dinding kayu lapuk, atap yang sebagian genténgnya sudah copot, halaman yang ditumbuhi rumput liar setinggi lutut. Namun begitu kelompok kecil Zhou Chen mendekat cukup jauh untuk merasakannya, sesuatu di udara terasa salah.

"Ada penghalang di sini," bisik Zhao Kai, berhenti beberapa langkah sebelum pagar kayu yang setengah roboh. "Bukan penjagaan biasa. Rasanya seperti... tekanan."

Zhou Chen mengarahkan Mata Dewa ke arah rumah itu, dan untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan kemampuannya, ia merasakan sesuatu yang mirip dengan tekanan balik—seolah kemampuannya sendiri enggan menembus lebih dalam.

Rumah Distrik Lama — Analisis sebagian berhasil. Terdeteksi setidaknya satu penjaga dengan tingkat kultivasi jauh di atas anggota tim saat ini. Estimasi: Fondasi Sejati atau lebih tinggi. Peringatan: risiko pertarungan langsung sangat tinggi.

"Ada penjaga tingkat tinggi di dalam," gumam Zhou Chen, wajahnya memucat. "Jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah kita hadapi."

Yue Er mengencangkan pegangannya pada busur. "Apa kita tetap lanjut?"

Zhou Chen menatap rumah itu lama, menimbang. Dua hari lagi, dewan menteri akan memutuskan nasibnya berdasarkan dokumen palsu. Mundur sekarang berarti kehilangan satu-satunya kesempatan nyata untuk membuktikan kebenaran tepat waktu.

"Kita lanjut," katanya akhirnya. "Tapi bukan untuk bertarung. Kita hanya butuh satu bukti—satu benda, satu dokumen, apa pun yang bisa menunjukkan hubungan antara tempat ini dan Zhou Han. Begitu dapat, kita pergi. Tidak ada yang bertarung kecuali benar-benar terpaksa."

Mereka menyusup dari sisi belakang, melewati jendela dapur yang engselnya sudah berkarat. Di dalam, rumah itu jauh lebih rapi dari yang terlihat dari luar—lorong-lorong bersih, rak-rak berisi gulungan yang tersusun teratur, sama sekali tidak seperti bangunan yang "sudah kosong bertahun-tahun".

Di ruangan tengah, mereka menemukan apa yang mereka cari: sebuah meja kerja dengan tumpukan surat, beberapa di antaranya bersegel lambang burung gagak kecil—lambang yang sama dengan yang pernah dikenali Ah Fu berbulan-bulan lalu.

Zhao Kai bergerak cepat mengumpulkan dokumen-dokumen itu ke dalam kantong kain, sementara Yue Er berjaga di ambang pintu, matanya menyapu lorong gelap dengan waspada.

Namun sebelum mereka sempat benar-benar keluar, sebuah suara—tenang, hampir lembut—terdengar dari kegelapan di ujung lorong.

"Sudah lama tidak ada yang cukup berani mendatangi rumah ini."

Sesosok wanita melangkah keluar dari bayangan, usianya sulit ditebak—wajahnya halus seperti wanita muda, namun matanya menyimpan kedalaman yang hanya dimiliki seseorang yang telah hidup jauh lebih lama dari penampilannya. Ia mengenakan jubah abu-abu polos tanpa lambang, tangannya terlipat tenang di depan tubuhnya.

"Siapa kau?" tanya Zhou Chen, melangkah maju melindungi yang lain meski jantungnya berdegup kencang.

Wanita itu tersenyum tipis, tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. "Pangeran Keempat yang katanya sudah berubah sejak hampir mati di Hutan Terlarang. Menarik sekali kau akhirnya sampai di sini."

Dia tahu sedetail itu, pikir Zhou Chen, dadanya mencekam. Detail yang bahkan tidak banyak diketahui orang di istana.

"Kalau kau tahu banyak tentangku," kata Zhou Chen, mencoba tetap tenang, "mungkin kau juga tahu aku tidak datang untuk bertarung. Kami hanya ingin pergi."

"Sayangnya," jawab wanita itu, nada suaranya tidak berubah sama sekali, "beberapa hal yang kalian bawa di kantong itu tidak boleh keluar dari rumah ini."

Tanpa peringatan lebih lanjut, ia bergerak—bukan berlari, melainkan seolah menghilang dari satu titik dan muncul kembali beberapa langkah lebih dekat, gerakannya begitu halus hingga hampir tidak terlihat oleh mata biasa.

Bayangan Seribu Wajah — begitu Mata Dewa Zhou Chen berhasil menangkap sepotong informasi di tengah kepanikan yang mendadak melanda.

Teknik tingkat tinggi. Menciptakan bayangan semu di sekitar pengguna, mengaburkan posisi asli. Efektif melawan lawan bertingkat lebih rendah, hampir mustahil dilacak tanpa kultivasi setara atau lebih tinggi.

Zhao Kai bereaksi lebih dulu, melompat mundur sambil menghunus pedangnya, memposisikan tubuhnya di antara wanita itu dan Zhou Chen. "Yang Mulia, bawa dokumennya, PERGI!"

"Aku tidak akan meninggalkanmu—"

"Ini bukan waktunya keras kepala!" seru Zhao Kai, matanya tidak pernah lepas dari sosok wanita yang kini mengelilingi mereka dari tiga arah sekaligus—bayangan-bayangan semu yang sulit dibedakan dari sosok aslinya.

Ia menarik napas dalam, memusatkan seluruh yang telah ia latih bertahun-tahun ke dalam satu gerakan.

Teknik Pedang Delapan Arah — Versi Sempurna, teknik yang telah disempurnakan Zhou Chen, kini digunakan dalam situasi paling genting yang pernah ia hadapi. Delapan gerakan mengalir tanpa jeda, pedangnya menyapu ke delapan penjuru sekaligus, memaksa setidaknya salah satu bayangan di sekitar mereka untuk mundur.

Salah satu bayangan itu pecah menjadi kabut tipis—palsu. Namun dari arah yang sama sekali berlawanan, sosok asli wanita itu muncul, tangannya yang tampak lembut ternyata menyimpan kekuatan yang jauh di luar dugaan, mendorong Zhao Kai mundur beberapa langkah dengan satu sentuhan ringan di bahunya.

"Zhao Kai!" Yue Er segera melepaskan anak panahnya—Panah Menembus Kabut, teknik memanah presisi tinggi yang mampu menembus celah sekecil apa pun, hasil penyempurnaan dari analisis Mata Dewa berbulan-bulan lalu. Anak panah itu melesat lurus ke arah bayangan tersisa, namun sekali lagi hanya menembus kabut kosong.

"Kalian cukup terlatih pada tingkat kalian," kata wanita itu, suaranya masih tenang meski pertarungan baru saja dimulai, "tapi kalian jauh dari cukup untuk melawanku secara langsung."

Zhou Chen, meski tubuhnya bergetar oleh ketegangan, memaksa dirinya berpikir jernih. Dia terlalu kuat untuk dilawan. Tapi Mata Dewa tadi berhasil menangkap sebagian informasi tentang tekniknya—mungkin tidak untuk menang, tapi cukup untuk lolos.

"Bayangannya palsu, tapi jumlah kabut yang bisa ia ciptakan pasti terbatas!" serunya. "Zhao Kai, Yue Er—jangan menyerang bayangannya. Fokus pada mundur ke arah jendela dapur, aku akan menahan sebisa mungkin dari belakang!"

Zhao Kai, meski enggan membiarkan Zhou Chen berada di posisi paling berbahaya, menuruti perintah itu. Kepercayaan yang telah terbangun sejak Zhou Chen melepaskan kendali kepadanya beberapa hari lalu kini terbayar dalam bentuk kepatuhan tanpa perdebatan panjang.

Mereka mundur teratur, memanfaatkan setiap kabut bayangan yang tercipta sebagai penghalang pandangan alih-alih target serangan, hingga akhirnya berhasil mencapai jendela dapur tempat mereka masuk.

Wanita itu tidak mengejar dengan sungguh-sungguh—sesuatu yang terasa aneh bagi Zhou Chen, seolah ia sengaja membiarkan mereka pergi setelah permainan singkat ini selesai.

"Pergilah," katanya, suaranya menggema pelan di belakang mereka saat mereka melompat keluar jendela. "Sampaikan pada Zhou Han, mainannya sudah mulai membosankan, dan untukmu pangeran keempat—lain kali kau kalau berani datang lagi, aku tidak akan sebaik hati ini lagi."

Mereka berlari tanpa henti hingga jarak aman tercapai, napas semua orang terengah-engah, namun kantong berisi dokumen curian masih tergenggam erat di tangan Zhao Kai.

"Kita berhasil," gumam Zhao Kai, meski suaranya masih bergetar oleh ketegangan yang belum sepenuhnya reda. "Tapi dia... dia sengaja melepaskan kita."

"Aku tahu," jawab Zhou Chen, menatap kantong dokumen itu dengan perasaan campur aduk. "Dan itu yang paling mengkhawatirkan. Seseorang sekuat itu, yang bisa saja membunuh kita semua dengan mudah, memilih untuk bermain-main saja."

Ia membuka salah satu dokumen dengan tangan yang masih gemetar, matanya membelalak membaca nama yang tertera jelas di bagian bawah salah satu surat, nama yang menjadi jembatan antara Zhou Han, dan seseorang yang selama ini hanya dikenal sebagai "Ibu Suri".

"Ini cukup," bisiknya, suaranya bercampur antara lega dan ngeri. "Ini lebih dari cukup untuk membawa semuanya ke hadapan dewan menteri."

Namun di dalam hatinya, satu pertanyaan baru mulai menghantui: kalau wanita sekuat itu sengaja membiarkan mereka membawa bukti ini pergi, apa sebenarnya yang ia atau tuannya rencanakan selanjutnya?

1
irawan muhdi
lanjut Thor 👍
irawan muhdi
mantap perbanyak upnya 👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!