Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 — Kamu Berani Meninggalkan Istrimu?

Dimas datang ke kantor Adrian pukul satu lewat sepuluh.

Ia mengenakan kemeja rapi, membawa ponsel, tanpa tas atau berkas. Ketika staf menawarkan minum, ia bahkan sempat tersenyum.

“Air putih saja. Terima kasih.”

Adrian mempersilakannya masuk ruang rapat kecil. Ia menutup pintu, lalu duduk di seberang meja. Di luar masih ada orang bekerja; ia sengaja memilih ruangan ini agar percakapan mereka tidak terdengar dari meja staf.

Dimas meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke atas.

“Bagus kantornya.”

Adrian tidak menanggapi.

“Saya tadi antar ibu Nara. Kasihan. Sampai nggak bisa ngomong waktu tahu anaknya tidur dengan suami temannya sendiri.”

Adrian merasakan tengkuknya panas. Ia baru mendengar dari Nara bahwa ibunya bersedia mendengarkan. Ia belum mendengar tentang wajah perempuan itu ketika pertama kali diberi tahu.

“Kalau ada yang mau kamu katakan ke saya, katakan.”

Dimas tersenyum tipis.

“Sekarang berani sekali. Dulu waktu angkat telepon, katanya cuma mau memastikan Nara sampai rumah.”

“Waktu itu memang itu yang saya tanyakan.”

“Lalu kebetulan berlanjut sampai ke tempat tidurnya?”

Adrian menahan jawaban. Ia tahu Dimas tidak datang untuk menerima penjelasan bahwa sesuatu berubah sedikit demi sedikit. Dari sisi laki-laki itu, Adrian telah menelepon istrinya malam-malam, lalu akhirnya tidur dengannya.

“Saya nggak akan pura-pura hubungan kami cuma soal lukisan,” katanya.

Dimas berhenti tersenyum.

“Saya nggak butuh pengakuan lagi. Maya sudah cukup jelas.”

Pintu diketuk. Staf membawa segelas air, meletakkannya di depan Dimas, lalu pergi setelah Adrian berterima kasih.

Dimas menunggu pintu tertutup sebelum melanjutkan.

“Berhenti temui dia. Saya akan urus istri saya.”

Adrian menatapnya.

“Nara sudah mengatakan ingin berpisah.”

“Nara sedang merasa punya tempat lari. Kalau kamu berhenti menyediakan itu, dia akan pulang.”

“Kamu dengar sendiri dia bilang tidak mau.”

Dimas tertawa, cukup keras untuk membuat Adrian melihat sekilas ke pintu.

“Jangan mulai. Nada yang sama, kalimat yang sama. Dulu juga begitu, kan? Katanya perempuan itu sudah memutuskan, saya harus menerima.”

Adrian tahu siapa yang dimaksud.

Bertahun-tahun sebelum Dimas menikah dengan Nara, Adrian pernah mengantar mantan pacar Dimas pulang ke rumah orang tuanya. Perempuan itu sudah meminta putus. Dimas menahan kunci motornya dan terus menyuruhnya kembali ke dalam untuk bicara.

Adrian datang karena perempuan itu menelepon meminta dijemput. Ia tidak membawa Dimas pergi atau memaksanya menyetujui apa pun. Ia hanya membuka pintu mobil dan membiarkan perempuan itu naik.

Dimas tidak pernah memaafkannya.

“Waktu itu dia minta diantar pulang,” kata Adrian.

“Urusan kami bisa selesai kalau kamu nggak merasa perlu menyelamatkan orang.”

“Dia sudah minta kuncinya.”

“Saya ingin dia tenang dulu!” Dimas mencondongkan tubuh. “Kamu tahu apa yang terjadi sebelum kamu datang? Dia nangis, kamu langsung percaya. Sekarang Nara nangis, kamu percaya lagi. Bedanya sekarang sekalian kamu tiduri.”

Adrian mengepalkan tangan di bawah meja.

Ia tidak bisa menyamakan kedua kejadian itu. Dulu ia mengantar seseorang yang ingin pulang. Sekarang ia juga menginginkan perempuan yang meminta keluar dari pernikahannya.

“Saya salah pada kamu,” katanya. “Dan pada Maya. Saya tahu.”

Dimas bersandar, seolah akhirnya mendapatkan jawaban yang bisa dipakainya.

“Bagus. Jadi berhenti.”

“Tapi saya nggak bisa menyuruh Nara kembali ke rumahmu.”

“Kamu bisa bilang selesai dengannya.”

Adrian diam sesaat.

Dimas menunjuknya dengan dagu.

“Nah. Pengakuanmu gampang. Begitu diminta benar-benar melepaskan, mulutmu tutup.”

Adrian merasakan marah sekaligus malu. Ia memang masih ingin Nara menelepon malam nanti. Ia masih ingin tahu apakah perempuan itu sudah makan, apakah ia tidur cukup, apakah ia tersenyum ketika membaca pesannya.

“Saya nggak akan mengatakan sesuatu yang besok saya langgar lagi.”

Dimas menatapnya dengan jijik.

“Enak sekali. Sekarang tidak mau berhenti selingkuh disebut jujur.”

Adrian tidak menemukan jawaban yang tidak terdengar membela diri.

Dimas meraih gelas dan meminumnya, lalu berdiri.

“Maya menangis, ibu Nara malu, saya dibohongi. Kamu tetap bisa duduk di kantor, kelihatan seperti orang baik yang kebetulan jatuh cinta.”

Adrian ikut berdiri.

“Saya tidak meminta kamu menganggap saya orang baik.”

“Tapi kamu masih mau semuanya. Nara menunggumu, istrimu juga. Hebat.”

Dimas mengambil ponsel. Di dekat pintu ia berhenti dan berbalik.

“Kamu berani meninggalkan istrimu?”

Adrian tidak menjawab.

“Tadi cepat sekali bilang Nara sudah mau berpisah. Giliran pernikahanmu sendiri?”

Ia membuka pintu tanpa menunggu jawaban. Ketika melewati meja staf, Dimas kembali mengangguk sopan.

Adrian tetap di dalam sampai langkahnya tidak terdengar lagi.

* * *

Nara menelepon lima menit kemudian.

“Dia sudah pergi?”

“Sudah.”

“Marah?”

Adrian mengembuskan napas. Ia memindahkan gelas bekas Dimas menjauh dari ujung meja sebelum menjawab.

“Dia ingin aku berhenti menemui kamu. Dia pikir sesudah itu kamu akan pulang.”

Nara terdiam, lalu bertanya, “Kamu bilang apa?”

“Aku nggak bisa menyuruhmu pulang.”

“Soal berhenti menemuiku, Adrian.”

Ia memejamkan mata. Suara Nara begitu hati-hati, seakan satu jawaban bisa membuatnya menyesal telah menelepon.

“Aku nggak menjanjikan itu.”

Nara menarik napas di seberang. Adrian mendengarnya dan merasa lega, lalu membenci kemudahan dirinya merasa lega hanya karena perempuan itu masih mau menunggunya.

“Dia nggak bisa menyuruh kamu memutuskan hidupku,” kata Nara.

“Aku tahu.”

“Aku juga nggak mau kamu bilang hal-hal hanya karena sedang marah sama dia.”

Adrian memandang kursi kosong di depannya.

“Iya.”

Ia ingin menemui Nara sore itu. Duduk bersamanya, mendengar cerita tentang ibunya dengan lebih tenang. Ia bahkan hampir menanyakan jam berapa pekerjaan Nara selesai.

Kemudian ia teringat Maya menata sendok di sebelah piringnya, percaya satu persetujuan makan malam berarti masih ada kesempatan.

“Aku perlu bicara lagi dengan Maya malam ini,” katanya.

Nara tidak menjawab beberapa detik.

“Baik.”

“Aku akan meneleponmu sesudahnya.”

Ia tidak meminta Nara tenang atau menjanjikan percakapan itu akan mudah. Sesudah panggilan berakhir, Adrian membuka pesan istrinya tentang reservasi Jumat.

Ia membacanya sampai selesai, kemudian mengetik.

Aku ingin kita bicara malam ini. Aku datang setelah kerja. Kita jangan menunggu sampai makan malam besok.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!