Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Transmigrasi:Aku Ingin Cerai,Suami Malah Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!

​Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28.Jajan

Tidak lama kemudian, mobil mereka tiba di area parkir galeri seni yang sudah mulai dipadati oleh kendaraan pengunjung lain. Begitu pintu mobil dibuka, aroma semerbak wangi makanan tradisional langsung menyambut indra penciuman.

Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki area pameran. Naya tampak begitu terpesona melihat berbagai instalasi seni kontemporer yang dipajang di sepanjang koridor galeri berlantai marmer putih itu. Ada lukisan surealis, pahatan kayu berbentuk unik, hingga instalasi lampu neon yang estetik.

"Wah, Mas, lihat patung itu! Bentuknya mirip banget sama kepala kucing peliharaan tetangga saya yang suka maling ikan asin di dapur," tunjuk Naya antusias pada sebuah patung abstrak modern berwarna perak berkilau.

Damar mengikuti arah telunjuk istrinya, lalu mengernyitkan dahi bingung. "Itu mah karya seniman kontemporer terkenal asal Eropa, Naya. Namanya The Silent Echo of Cosmos, bukan kepala kucing maling ikan asin."

"Ah, masa? Sama aja bentukannya lonjong gak jelas begitu!" balas Naya cuek, lalu berjalan mendekati sebuah lukisan cat minyak berukuran besar yang menampilkan pemandangan malam hari di bawah kota metropolitan yang sibuk dengan sapuan warna gelap dan garis-garis emas yang mencolok.

Naya terdiam sejenak di depan lukisan tersebut. Senyuman jenakanya perlahan memudar, digantikan oleh binar mata yang menerawang jauh.

Damar yang berdiri di sampingnya menyadari perubahan ekspresi sang istri. Pria itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jeans-nya, lalu bertanya dengan suara lembut, "Kenapa? Tiba-tiba diam begitu. Ada yang aneh dari lukisan ini?"

Naya menggeleng pelan, bibirnya tersenyum tipis penuh makna. "Gak aneh, Mas. Justru lukisan ini jujur banget. Keliatan megah dan mewah dari luar, penuh lampu kelap-kelip yang silau mata. Tapi kalau kamu perhatiin lebih detail di bagian sudut bawahnya, pelukisnya sengaja nggambar gang sempit yang gelap gulita tanpa lampu sama sekali."

Damar menaikkan sebelah alisnya, ikut mengamati bagian sudut lukisan yang dimaksud oleh Naya. "Maksud kamu?"

"Ya... hidup manusia kadang mirip kayak lukisan ini," lanjut Naya sambil menoleh menatap Damar lekat-lekat. "Orang-orang di luar sana mungkin lihat kita hidup sempurna di mansion mewah, bergelimang harta, dan punya segalanya. Padahal aslinya? Bisa jadi di sudut-sudut tertentu, kita juga lagi berjuang setengah mati nambal luka batin sendiri yang gak keliatan orang lain."

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Naya. Namun, alih-alih merespons dengan candaan seperti biasa, kalimat itu justru menghantam telak sanubari Damar. Pria itu terpaku di tempatnya, menatap lurus ke arah sang istri dengan manik mata yang menyipit dalam.

Pikiran Damar mendadak melayang liar, tersedot ke dalam pusaran rasa bersalah yang tiba-tiba mencengkeram dadanya. Luka batin...? batin Damar bergejolak. Apakah Naya sedang membicarakan dirinya sendiri? Apakah gadis di hadapannya ini sebenarnya menderita dan merasa tertekan sejak resmi menjadi istrinya? Hidup di bawah tekanan Mamah Ratna yang keras, terkurung di mansion besar yang asing, dan terikat dalam pernikahan kontrak yang awalnya sama sekali tidak ia inginkan—apakah Naya sedang memikul beban berat itu sendirian di balik senyuman dan banyolan-banyolannya selama ini?

Damar menatap Naya lekat-lekat, mencoba mencari tahu kebenaran yang tersembunyi di balik sorot mata jernih wanita itu. Ada rasa nyeri yang asing menyusup di dada Damar. Selama ini ia terlalu sibuk bersikap dingin dan memikirkan egonya sendiri, tanpa pernah benar-benar peduli apakah kehadiran Naya di rumah itu menyiksa gadis tersebut secara batin.

Meski perasaannya bergemuruh hebat, sifat gengsi tingkat dewa yang sudah mendarah daging membuat Damar menahan diri rapat-rapat. Ia tidak mungkin menunjukkan kelemahan atau merendahkan harga dirinya dengan bersikap terlalu melow di hadapan sang istri. Pria itu hanya berdehem pelan, lalu memasang kembali topeng datarnya.

"Kamu ini ya, kalau ngomong suka tiba-tiba jadi filsuf dadakan," komentar Damar dengan nada datar yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan keterpesonaan sekaligus rasa bersalah di balik suaranya yang berat. "Sudahlah, jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting."

Naya yang mendapati reaksi dingin suaminya langsung mengerjap, lalu terkekeh renyah untuk mencairkan suasana. "Tuh kan! Dibilangin malah sok cool! Padahal aslinya kagum kan sama wawasan luas saya?" balas Naya meledek.

Setelah puas menikmati pameran seni di dalam galeri, keduanya memutuskan keluar menuju area outdoor tempat festival kuliner tradisional digelar. Suasana di luar jauh lebih meriah dan padat. Jejeran stan pedagang kaki lima menjajakan berbagai macam makanan lezat, mulai dari kerak telor, sate Padang, hingga kue pancong lumer yang mengepulkan asap hangat.

"Nah, ini dia surga dunia yang hakiki!" seru Naya kegirangan, menarik lengan Damar tanpa ampun menuju sebuah stan kecil yang dipadati antrean pembeli. "Mas, ayo antre di situ! Kita harus borong kue pancong keju cokelat paling enak sedunia!"

Damar hanya bisa pasrah diseret kesana-kamari. Pria berpakaian kasual itu kini berdiri di tengah kerumunan orang banyak, mengamati proses pembuatan kue pancong tradisional dengan tatapan waspada seolah sedang mengawasi reaktor nuklir yang mau meledak.

"Emang yakin itu higienis, Naya? Nggak usah aneh-aneh deh, perut saya bisa protes nanti," protes Damar setengah berbisik, merasa risih karena beberapa pengunjung lain melirik ke arahnya.

Naya langsung berkacak pinggang, menatap suaminya tajam. "Hih, fobia kuman banget jadi orang kaya! Sekali-kali cicipin makanan rakyat jelata biar kamu tahu nikmatnya hidup di dunia nyata, Mas Kulkas! Udah, diam aja, nurut sama istri, nanti saya suapin sampai kenyang!"

Tak lama kemudian, pesanan mereka siap. Dua porsi kue pancong hangat dengan lelehan keju melimpah dan taburan cokelat parut tersaji di atas piring kertas sederhana. Naya langsung mengambil satu potongan menggunakan garpu plastik kecil, lalu menyodorkannya tepat di depan mulut Damar dengan senyuman menggoda.

"Nih, aaaaa... buka mulutnya, Tuan Direktur Utama," bujuk Naya manis.

Damar menatap potongan kue pancong di hadapannya, lalu beralih menatap mata Naya yang berbinar penuh harap. Dengan rasa penasaran yang besar, ia akhirnya membuka mulut dan menerima suapan tersebut.

Seketika itu juga, rasa manis legit, gurihnya keju, dan kelembutan adonan kue pancong melebur sempurna di dalam mulutnya. Mata Damar sedikit melebar karena terkejut. Rasanya jauh lebih lezat dari dugaan awalnya.

"Bagaimana? Enak kan, Mas?" tanya Naya bangga.

Damar menelan makanannya, lalu berdeham pelan untuk menutupi rasa salah tingkahnya dan mempertahankan gengsinya setengah mati. "Hmm... lumayan. Tidak seburuk bayangan saya."

"Tuh kan, apa kata saya!" ujar Naya riang.

Mereka berdua akhirnya duduk berdampingan di sebuah bangku taman yang terletak di bawah rindangnya pohon angsana besar, menikmati sisa jajanan pasar di tangan mereka. Suasana siang itu terasa begitu damai, hangat, dan dipenuhi tawa kecil. Di balik sikap gengsinya yang masih setinggi langit, Damar diam-diam melirik ke arah Naya, menyadari bahwa hari libur ini ternyata jauh lebih menyenangkan dari yang pernah ia bayangkan.

_Bersambung

1
Runa fatia
rada ngakakkk ngebayangin wajah damar🤣🤣🤣 apa ga malu kali tuh
Luna
toh akhirnya si damar jadi ikutan stress juga kayak naya🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
🤣🤣🤣aset dua milyar🤣🤣🤣🤣🤣bangke si Naya ini
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣njir baperan kali si damar
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
siap siap aja mama Ratna nyetok obat darah tinggi, stroke, jantung, asma🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Penulis kentang🍠: asli suka ngakak kebayang muka mama ratna🤣
total 1 replies
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣awal yg bagus
Bambang Suanto
lanjut
Golda
😂😂😂
Diki Nd
🤣🤣🤣
Diki Nd
🤭🤭🤭
dinda aja
sukaaa kak
Pendi Gudung
sukaaa
Fadillah Langsa
ngakak terus
Ijal Messi
makanya tante diam aha🤣🤭🤣
Ijal Messi
pliss seru banget
li za
lucuuu🤭
li za
🤣🤣🤣
li za
seruuu yahh
Tugu Opak
seruuu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!