Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Bashkar melompat keluar dari lubang galian tanah seraya mendekap erat tubuh Zela yang kaku dan sedingin es. Tanpa memedulikan pakaian mewahnya yang bernoda lumpur dan jemarinya yang terus mengucurkan darah segar, ia berlari membabi buta menuju mobil komando.
"Buka jalan! Hubungi Rumah Sakit Utama Deluca sekarang juga! Siapkan tim trauma medis terbaik!" raung Bashkar dengan suara serak yang memecah keheningan malam.
Konvoi mobil SUV melaju gila-gilaan membelah badai salju, menerobos lampu merah dan membelah jalanan kota dengan sirine raungan yang memekakkan telinga. Di kursi belakang, Bashkar terus memeluk tubuh pingsan Zela, menggosok-gosokkan jemarinya yang gemetar pada pipi pucat istrinya, mencoba menyalurkan sisa kehangatan tubuhnya sendiri seraya menekan luka pendarahan di tubuh wanita itu.
Setibanya di pelataran gawat darurat Rumah Sakit Utama Deluca, puluhan dokter dan perawat yang sudah bersiaga langsung meluncurkan brankar besi. Tubuh Zela dipindahkan secara cepat, lalu didorong melintasi koridor steril menuju ruang operasi darurat (Emergency OR). Lampu merah bertuliskan In Operation seketika menyala terang.
Namun, belum sempat Bashkar melangkah masuk untuk mengawal pintu operasi, langkah kakinya terhenti oleh derap sepatu kulit yang mantap dari arah lorong VVIP.
Tuan George pria paruh baya berambut perak dengan tongkat berkepala perak dan setelan jas eksekutif mahal melangkah masuk dikawal oleh empat pengawal pribadi berbadan tegap. Wajah pria tua itu memancarkan ketenangan yang dingin, tanpa ada sedikit pun raut kepanikan atau duka.
Seorang kepala dokter spesialis bedah yang baru saja hendak menerobos masuk ke ruang operasi mendadak dihentikan oleh lambaian tangan Tuan George.
"Tuan George..." sapa sang dokter dengan napas memburu dan wajah cemas. "Kondisi Nyonya Zelara sangat kritis! Henti jantung, hipotermia berat, dan pendarahan internal—"
"Dengar baik-baik, Dokter," potong Tuan George dengan suara rendah, datar, dan sarat akan dominasi tanpa ampun. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap pintu ruang operasi dengan sorot mata yang menganggap keberadaan Zela tak lebih dari sekadar wadah penampung organ.
"Tidak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk menyelamatkan nyawanya," ujar Tuan George dingin. "Detak jantungnya atau keselamatan jiwanya sama sekali bukan prioritas utama kita malam ini."
Kepala dokter itu melotot terkejut, membelalak tak percaya. "M-maksud Anda, Tuan...?"
"Fokuskan seluruh perhatian dan peralatan medis kalian hanya pada satu hal: pengambilan tulang rusuknya," tegas Tuan George tanpa keraguan sedikit pun di wajah porselen mewahnya. "Pastikan struktur tulang rusuk dan jaringan di sekitarnya tetap utuh dan steril untuk segera ditransplantasikan ke tubuh putriku malam ini juga. Jika dia mati di atas meja operasi setelah proses pengambilan organ selesai, itu bukan masalah."
Kata-kata tanpa nurani itu bergema nyaring di sepanjang koridor rumah sakit yang dingin dan steril, terlontar begitu mudah seolah-olah nyawa Zela tidak memiliki harga sedikit pun di mata mereka.
BUGH!
Sebuah pukulan mentah berkekuatan penuh melayang dahsyat, menghantam telak rahang kiri Tuan George hingga terdengar bunyi gemeretak tulang yang pecah!
Tubuh tua Tuan George terlempar ke samping, menghantam dinding porselen koridor rumah sakit hingga retak, sebelum akhirnya tersungkur jatuh ke lantai steril yang dingin. Tongkat berkepala peraknya terlepas dan terpelanting nyaring di atas marmer.
"Tuan George!" jerit para pengawal pribadi George panik. Namun sebelum empat pengawal itu sempat menarik senjata api dari balik jas mereka—
KLIK! KLIK! KLIK!
Rian dan puluhan eksekutor inti Deluca yang memadati koridor sudah lebih dulu menempelkan moncong senjata otomatis tepat di kening dan leher masing-masing pengawal George. Udara di lorong rumah sakit itu seketika berada di titik didih yang mematikan.
"Siapa pun yang bergerak satu milimeter saja... kupastikan kepalanya bolong," ancam Rian dengan suara dingin yang membeku.
Di tengah keheningan mencekam itu, Bashkar melangkah maju.
Pria tegap itu berdiri di atas tubuh Tuan George yang meringis kesakitan seraya memegangi rahangnya yang menyengot dan mengucurkan darah segar. Baju kemeja hitam Bashkar yang koyak, noda lumpur tanah galian, serta balutan darah Zela dan darah dari jemarinya sendiri yang mengering di kulit tangannya membuat penampilan sang penguasa underworld malam itu tampak bagaikan iblis pencabut nyawa yang baru saja bangkit dari neraka.
Sepasang mata kelabu Bashkar menyala oleh kobaran amarah murni yang teramat pekat sebuah kegelapan gila yang sanggup membumihanguskan seluruh isi kota tanpa sisa. Urat-urat di leher dan pelipisnya menegang keras, dan napasnya memburu berat bagai raungan binatang buas yang terluka.
"Berani-beraninya..." desis Bashkar dengan suara rendah yang menggetarkan kaca-kaca jendela koridor. "Berani-beraninya kau menyebut milikku sebagai wadah organ di depanku!"
Bashkar membungkuk, mencengkeram kerah jas mahal Tuan George dengan satu tangan, lalu mengangkat tubuh pria tua itu hingga kakinya tergantung tak menyentuh lantai. Tanpa memberi kesempatan bagi George untuk bersuara, Bashkar menyudutkan tubuh tua itu ke dinding, menekannya hingga George terbatuk-batuk menahan sesak.
"Dengar baik-baik, George," desis Bashkar tepat di depan wajah George yang memucat pasi oleh rasa takut yang murni. Manik mata kelabu Bashkar menusuk hingga ke dasar sukma George. "Jika sampai ada satu helai rambutnya yang rusak, atau satu sentimeter saja pisau bedah menyentuh tubuhnya tanpa persetujuanku... bukan cuma kau dan putrimu yang kubakar hidup-hidup, tapi seluruh garis keturunanmu akan kuhapus dari muka bumi malam ini juga!"
Bashkar menghempaskan tubuh George ke lantai dengan kasar, membuat pria tua itu merintih kesakitan di atas marmer.
Pria tegap itu kemudian berpaling, memutar tubuhnya menghadap kepala dokter bedah yang berdiri gemetar hebat dengan wajah pucat bagai mayat di depan pintu operasi.
"Lakukan seluruh prosedur medis terbaik untuk menyelamatkan nyawa istriku!" perintah Bashkar dengan nada suara mutlak yang tak membiarkan ada kegagalan. "Gunakan seluruh fasilitas, darah, dan alat medis tercanggih di gedung ini. Jika dia tidak bernapas lagi saat keluar dari ruangan itu... kalian semua yang ada di dalam akan menyusulnya ke neraka!"
"B-baik, Tuan! Segera kami laksanakan!" teriak kepala dokter itu panik.
Sang dokter langsung berbalik dan berhamburan masuk ke dalam ruang operasi, memerintahkan seluruh tim bedah terbaik untuk menggerakkan seluruh daya dan upaya demi mengembalikan detak jantung Zela yang sempat terhenti.