Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
"Tap..tap..!" suara langkah Arif masih terdengar sombong, dagu diangkat tinggi, seolah tidak ada yang bisa mengguncang dunianya. Dia berjalan lurus menuju mejaku.
Aku sedang menyusun berkas di atas meja, tidak menoleh saat bayangan tubuh Arif menutupi cahayanya. Aku hanya terus bekerja, tenang, seolah kehadiran orang di hadapannya tidak lebih dari angin yang lewat.
"Kamu pikir kemarin itu sudah selesai?" suara Arif terdengar rendah, kasar.
"kraakkkk...!" Arif menekan meja dengan telapak tangan, membuat pulpen di atasnya bergeser.
"Kamu ingin terlihat hebat di depan Shella, kan? Kamu pikir dengan bertahan sekuat tenaga, dia akan melirik orang sepertimu? Mimpi kamu setinggi langit, tapi kenyataannya kamu tetap tidak ada apa-apanya!" ejek Arif.
"Saya cuma ingin bekerja dengan tenang. Tanpa dihina dan tanpa diberi beban yang bukan tugas saya. Apakah itu terlalu banyak?" jawabku tegas.
"Hahaha" Arif tertawa sinis, suaranya meninggi.
"Kamu menentang aku ya? Baik! Hari ini aku pastikan kamu menyesal sudah melangkahkan kaki ke gedung ini! Kamu akan keluar dari sini dengan malu, tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang mau menerima kamu—"
"Pak Arif?"
Suara lembut namun tegas memotong kalimatnya.
Semua mata di ruangan itu beralih ke sumber suara. Seorang wanita berpakaian rapi berdiri di sana — sekretaris direktur utama, wanita yang jarang terlihat di area staf biasa. Wajahnya datar, tidak ada senyum sama sekali.
"Tolong ikut saya sekarang. Dewan Direksi sedang menunggu Bapak di ruang rapat utama." ucapnya tegas.
Arif terdiam sejenak, alisnya berkerut.
"Mereka memanggil saya? Sekarang?" jawab Arif sedikit bingung.
"Sekarang juga, Pak. Silakan." Sekretaris itu berbalik, berjalan tanpa menunggu.
Arif menatap punggung wanita itu, lalu menoleh kembali ke arah Maxy. Ada keraguan yang mulai menyelinap di matanya, tapi dia segera menutupinya dengan senyum meremehkan.
"Tunggu saja pembalasanku. Ini belum selesai." ucapnya pelan sembari melangkah pergi.
Di belakangnya, Shella yang berdiri tidak jauh dari sana menatap punggung itu dengan napas tertahan. Dia menoleh ke arah Maxy. Mata mereka bertemu sebentar. Maxy mengangguk pelan — tenang, seolah sudah tahu apa yang sedang terjadi.
Di ruang dewan direksi, suasananya dingin dan sunyi. Lima orang duduk di sisi meja yang panjang, wajah-wajah serius tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
Di ujung ruangan, satu kursi kosong diletakkan terpisah — seakan tempat tersangka sedang dipanggil ke meja hijau.
Arif masuk dengan langkah yang dipaksakan tegak. Dia mencoba tersenyum sopan. "Selamat pagi, Bapak-bapak. Ada rapat mendadak ya? Maaf saya baru diberitahu—"
"Duduk!" potong direktur utama dengan suara berat, menekan meja dengan jari telunjuk.
Senyum di wajah Arif membeku. "Tap" Dia duduk perlahan, tangannya yang bertaut di pangkuan mulai terasa lembap.
"Arif," direktur utama menatapnya tajam.
"Kami memanggilmu ke sini bukan untuk bertanya kabar.
"Kami di sini untuk mendengarkan penjelasanmu atas tuduhan-tuduhan yang sudah masuk ke meja dewan. Tuduhan yang sangat berat." ucapnya tegas penuh amarah.
Arif tertawa gugup. "Tuduhan? Tentang apa ya, Pak? Mungkin ada kesalahpahaman. Selama ini saya bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan ini—"
"Bekerja?" potong wakil direktur, "Duk..!" melempar berkas tebal di meja.
"Menyuruh staf mengerjakan tugas yang bukan wewenangnya sampai larut malam itu yang kamu sebut bekerja?"
"Menghina, memaki, dan menekan bawahan secara terus-menerus itu yang kamu sebut bekerja?" lanjutnya penuh kemarahan.
"Itu... itu hanya cara saya mendisiplinkan mereka!" Arif membela diri, suaranya sedikit meninggi.
"Dunia kerja tidak bisa hanya dengan keramahan! Terutama satu orang itu — Maxy.
"Dia lambat, tidak cekatan, selalu banyak alasan! Kalau saya tidak tegas, dia tidak akan belajar!" jawab Arif sedikit menunduk.
"Disiplinkan?" Salah satu komisaris membuka tablet di depannya, lalu "swing.." memutar layar ke arah Arif.
"Kami punya rekaman CCTV di koridor lantai dua, tanggal 11 September pukul 18.42 sore. Dengarkan baik-baik suaramu sendiri."
Suara terdengar jelas dari layar — suara Arif yang membentak kasar: ----Kamu pikir kamu siapa?! Cuma sampah yang berani mendekati Shella! Kalau kamu tidak mundur sendiri, aku yang akan mengusirmu dengan cara paling memalukan..!----
Wajah Arif berubah pucat. "Itu... itu diambil di luar konteks! Saya marah karena dia salah mengerjakan laporan!" Sanggah Arif.
"Benarkah?" Direktur utama menekan satu tombol lagi. Klip kedua diputar — Arif menumpahkan air ke atas meja kerja Maxy, tertawa sinis, lalu pergi. Klip ketiga — percakapan di ruang manajer: ----Biarkan dia capek sampai menyerah. Tidak perlu dibayar lembur. Kalau dia pergi sendiri, lebih mudah. Tidak ada yang bisa menuntutku.---
Wajah Arif pucat. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Gluk" Dia menelan ludah yang terasa pahit.
"Saya... saya tidak ingat pernah mengatakan itu dengan maksud seperti itu... mungkin... mungkin suaranya saja yang terdengar kasar..." jawab Arif mencoba mencari alasan.
"Cukup, Arif...!!" Direktur utama berdiri, suaranya menggelegar.
"Kami sudah memeriksa semuanya. Rekaman CCTV lengkap, laporan keuangan yang kamu manipulasi, keluhan tertulis dari beberapa staf lain yang takut berbicara selama ini, saksi-saksi yang bersedia bersaksi."
"Semuanya sudah jelas..!!" bentak Direktur.
"Kamu menyalahgunakan wewenang, menindas bawahan, dan ada indikasi pemerasan serta pencurian waktu kerja yang kamu bebankan kepada orang lain untuk menyelesaikan tugasmu sendiri." lanjutnya.
Arif berdiri gemetar. "Ini... ini fitnah! Saya tidak melakukan semua itu dengan sengaja! Siapa yang melaporkan saya? Saya punya hak untuk membela diri!"
"Kamu punya hak untuk mendengar keputusan kami..!" kata komisaris yang paling tua dengan nada dingin.
"Dan keputusan itu bisa dua arah." lanjutnya
Dia berhenti sebentar, membiarkan keheningan menekan ruangan.
"Pertama — kamu dipecat secara tidak hormat. Keluar dari perusahaan ini hari ini juga. Tidak ada pesangon. Tapi kalau kamu menolak menerima keputusan ini, maka jalannya lain. Kami menyerahkan semua berkas bukti ini ke pihak kepolisian. Pasal penyalahgunaan wewenang, paksaan kerja, dan dugaan pengancaman. Semua cukup untuk menempatkanmu di penjara minimal dua tahun."
"Penjara?!" Arif melangkah mundur, kakinya lemas seketika. "Tidak... tidak mungkin... saya tidak mau masuk penjara... Bapak-bapak, tolong... ini berlebihan... saya sudah bekerja bertahun-tahun di sini..."
Dia gemetar hebat. Semua keangkuhannya runtuh seketika, digantikan ketakutan murni yang nyata di matanya.
"Maka ada satu syarat terakhir," kata direktur utama pelan tapi tegas.
"Sebelum kamu meninggalkan gedung ini, kamu harus pergi ke meja Maxy. Di depan semua orang yang ada di kantor saat itu juga.
"Kamu harus meminta maaf secara terbuka. Mengakui semua kesalahanmu. Dan memohon keikhlasan darinya. Kalau dia memaafkanmu, kamu cukup keluar dari sini dan tidak ada laporan ke polisi." ucap Direktur tegas.
"Tapi kalau dia menolak memaafkanmu... maka berkas-berkas ini langsung dikirim ke kantor polisi siang ini juga. Pilihan ada di tanganmu." lanjutnya.
Arif menatap mereka satu per satu, berharap ada yang berubah pikiran. Tapi wajah mereka semua sama — teguh, tidak bisa ditawar.
"Saya... saya harus minta maaf... kepadanya?" suara Arif bergetar tak percaya.
"Itu satu-satunya jalan yang tersisa untukmu. Sekarang pergi. Kami menunggu di sini sampai kamu selesai." jawab Direktur.
Langkah kaki Arif menuju ruang kerja terasa seperti berjalan menuju tempat eksekusi mati. Setiap langkah berat, kakinya gemetar, keringat dingin membasahi punggungnya.
Semua orang yang melihatnya terkejut — manajer yang biasanya angkuh dan galak itu kini berjalan dengan bahu membungkuk, wajah pucat pasi, matanya melotot ketakutan seolah melihat hantu.
Dia berdiri di ambang pintu ruang kerja. Semua orang menoleh. Suasana hening seketika.
Arif melangkah masuk. Matanya mencari satu sosok di sudut ruangan. Maxy sedang duduk, menyusun berkas dengan tenang, seolah tidak menyadari kehadirannya.
Arif berhenti tepat di depan meja Maxy. Tangannya mengepal dan melemah berkali-kali. Dia menelan ludah, suaranya tercekat di tenggorokan.
Seluruh kantor menahan napas. Tidak ada yang berani bergerak.
"Saya..." suara Arif pecah, sangat pelan. Dia menutup mata sebentar, menarik napas gemetar, lalu membukanya kembali menatap Maxy.
"Saya... minta maaf...!"
Hening. Tidak ada tanggapan.
"Gluk.!" Arif menelan ludah lagi, suaranya sedikit lebih keras namun penuh getaran yang menyedihkan.
"Saya minta maaf... atas semua yang sudah saya lakukan padamu. Menumpuk pekerjaan yang bukan tugasmu... membentakmu... menghinamu... menuduhmu tanpa alasan... membiarkanmu lembur sampai malam... semua itu... itu salah saya. Saya salah. Saya tidak berhak memperlakukanmu seperti itu."
Dia berhenti, air mata ketakutan mulai jatuh dari matanya, mengalir di pipi yang tadi masih penuh keangkuhan.
"Saya minta maaf... tolong... maafkan saya. Saya tidak mau masuk penjara. Saya tidak mau kehilangan masa depan saya. Tolong... berikan saya maafmu." ucap Arif memohon.
Suasana masih hening total. Beberapa orang menutup mulut dengan tangan, tak percaya melihat pemandangan di depan mata mereka. Shella berdiri di samping, matanya berkaca-kaca, menatap Maxy — menanti keputusan yang menentukan nasib seseorang di hadapannya.
"Pak Arif..." suaranya tenang, lembut, tidak ada kebencian di sana.
Arif menegang, menunggu dengan napas tertahan.
"Saya memaafkan Bapak."
Satu tarikan napas terdengar bersamaan dari sekeliling ruangan. Bahu Arif ambruk seketika, dia hampir jatuh berlutut, tubuhnya lemas luar biasa.
"Tapi..." lanjut Maxy pelan, "maaf saya tidak mengubah kenyataan bahwa Bapak salah. Bapak harus bertanggung jawab atas tindakan Bapak. Keluar dari perusahaan ini dengan terhormat, mulailah dari awal, dan jangan pernah gunakan kekuasaan untuk menyakiti orang lain lagi. Itu saja yang saya minta."
Arif mengangguk berulang kali, tidak mampu berkata apa-apa lagi selain: "Terima kasih... terima kasih banyak... saya tidak akan lupa kebaikanmu..."
Dia berbalik, berjalan keluar dengan langkah yang goyah, diiringi tatapan semua orang yang kini bercampur rasa kasihan dan lega. Pintu keluar tertutup pelan di belakangnya.
Maxy mengambil kembali pulpennya, melanjutkan pekerjaan seolah tidak baru saja terjadi sesuatu yang mengubah segalanya. Tapi di dalam hatinya, dia tahu — badai telah berlalu. Dan langit perlahan mulai cerah kembali.