Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Investigasi Tanpa Suara
Lilin-lilin lebah berkilau di atas candelier perak ruang kerja pribadi Raja Julian di Menara Utama Istana. Cahaya keemasan yang berpendar hangat sama sekali tak sanggup mencairkan hawa dingin yang mencengkeram ruangan tersebut. Di balik meja kayu cedar berukir lambang serigala, Julian duduk membisu dengan jemari bertaut tegap di bawah dagunya. Di hadapannya, tiga kapten pengawal rahasia berzirah hitam berlutut tanpa bersuara, menanti perintah dengan napas tertahan.
Anak panah bertali hitam yang dicabut Aurelia dari pohon pinus tergeletak melintang di atas kain beludru merah di tengah meja. Mata panah berujung racun Vipera itu masih memancarkan kilau kebiruan yang mematikan.
"Satu luka saja pada kulitnya," suara Julian terdengar begitu pelan, namun getaran baritonnya yang sarat ancaman membuat ketiga kapten pengawal bergidik, "akan merenggut nyawa wanita itu dalam hitungan menit. Dan kalian... yang bertugas mengamankan perimeter hutan perburuan, membiarkan lima pembunuh bayaran berkeliaran bebas dengan busur di tangan?"
"Ampunkan kami, Yang Mulia!" kapten pengawal utama menyentuhkan dahinya ke lantai pualam. "Jalur lereng timur tersebut sengaja dikosongkan dari jadwal patroli berkala atas perintah tertulis yang membawa stempel Komando Logistik Dewan Perbatasan. Kami mengira area itu dialokasikan untuk latihan memanah tertutup para bangsawan militer."
Julian memicingkan matanya, kilatan amarah membunuh kian pekat memancar dari sepasang mata kelamnya. "Stempel Komando Logistik? Siapa pejabat dewan yang menyetujui pengalihan rute tersebut?"
"Dokumen itu ditandatangani oleh Baron Vance dari faksi barat, Yang Mulia," sahut sang kapten cepat. "Namun, dari hasil penyisiran senyap di pos pemeriksaan gerbang utara, racun Vipera serta pasokan panah bertali hitam tersebut ditandatangani dan diselundupkan menggunakan jalur pasokan medis pribadi milik Faksi Selir Celeste."
Julian menyunggingkan senyum dingin tanpa rasa humor. "Satu serangan, dua pelakunya. Vance menyediakan panggungnya, sementara Faksi Celeste menyiapkan racunnya. Mereka berpikir dapat menggunakan satu sama lain sebagai kambing hitam jika rencana ini gagal."
Julian bangkit dari kursinya, melangkah perlahan mengelilingi meja kerjanya dengan langkah tegap yang berat. Kebijakan investigasi ini tidak boleh menjadi tontonan publik di Hall of Council. Pengumuman terbuka hanya akan membuat para pengkhianat itu membersihkan jejak mereka dan mengorbankan bidak-bidak kecil. Ia membutuhkan penyelidikan tanpa suara—sebuah eksekusi senyap yang merayap di balik bayang-bayang malam sebelum Perayaan Musim Panas dimulai.
"Tutup seluruh akses keluar-masuk kediaman Selir Celeste di Pavilion Barat secara terselubung," perintah Julian tegap. "Awasi setiap burung pembawa pesan dan pelayan yang melintas. Jangan sentuh Baron Vance terlebih dahulu; biarkan pria tua itu merasa bahwa rencananya berjalan mulus. Periksa seluruh pembukuan transaksi obat-obatan keluarga Celeste selama enam bulan terakhir."
"Pelaksanaan siap dijalankan, Yang Mulia!" tegas sang kapten sebelum menghilang secara senyap di balik tirai hitam ruang kerja.
Julian kembali menatap anak panah beracun di atas mejanya. Pikiran sang Raja melayang pada sosok Aurelia—pada ketenangan yang teramat janggal di mata cokelat mewahnya saat mencabut anak panah itu dari kayu pinus, serta senyuman memikat yang menyembunyikan bahaya di lehernya yang berdarah. Aurelia bukan sekadar selir yang beruntung selamat dari maut; wanita itu adalah seorang dalang strategis yang sengaja membiarkan dirinya tergores untuk menyerahkan bukti ini langsung ke tangannya.
"Kau sengaja menempatkan dirimu dalam bahaya untuk mengujiku, Aurelia," gumam Julian halus, jemarinya mengusap pinggiran anak panah beracun itu dengan tatapan penuh posesivitas yang membara. "Dan aku akan memastikan bahwa setiap darah yang menetes dari lehermu dibayar dengan kehancuran total para musuhmu."
Kapten pengawal rahasia yang masih tersisa di ruangan itu mengangkat kepalanya perlahan, menunggu instruksi tambahan. "Yang Mulia, bagaimana dengan kontak rahasia yang berada di perbatasan barat? Menurut laporan intelijen, ada pergerakan kurir misterioso yang melintasi jalur kediaman Viscount Celeste dua malam lalu."
"Periksa seluruh manifest muatan kapal dagang yang merapat di pelabuhan sungai selatan," balas Julian dingin, membelakangi meja kerja dan menatap lurus ke luar jendela menara yang mengarah pada kegelapan Hutan Pinus. "Viscount Celeste tidak memiliki keberanian untuk bergerak sendirian tanpa jaminan modal atau persenjataan dari pihak luar. Cari tahu siapa pedagang perantara yang memfasilitasi transaksi racun Vipera tersebut."
"Petunjuk awal mengarah pada seorang saudagar rempah dari Oakhaven yang memiliki akses khusus ke gudang penyimpanan medis Faksi Celeste, Yang Mulia," timpal sang kapten dengan nada serius. "Kami bisa menangkapnya malam ini juga di kediaman peristirahatannya di pinggiran kota."
"Jangan ditangkap di luar," sergah Julian tegap, memutar tubuhnya kembali seraya menyilangkan tangan di dada. "Biarkan dia memasuki kawasan Istana Barat besok pagi untuk menyetorkan sisa pembayaran. Begitu dia melangkah melintasi gerbang dalam, tahan dia secara senyap di penjara bawah tanah Menara Hitam."
Julian melangkah mendekati peta wilayah kerajaan yang terhampar di dinding batu. Jemari tangannya yang panjang menunjuk tepat pada titik jalur logistik utara—area yang sebelumnya sempat ditahan oleh keluarga Montclair atas instruksi Aurelia.
"Aurelia telah mengunci aliran dana mereka dari selatan," gumam Julian dengan binar kekaguman yang tersembunyi di balik tatapan tegasnya. "Penyerangan di hutan pinus ini adalah aksi nekat mereka yang terdesak karena kehabisan waktu dan sumber daya."
"Artinya, Faksi Vance dan Celeste sedang bermain di atas tanah yang sangat rapuh, Yang Mulia," sahut kapten pengawal rahasia. "Satu ketukan keras saja dari hasil investigasi ini akan meruntuhkan seluruh jaringan mereka."
"Dan ketukan itu akan dijatuhkan langsung di hadapan seluruh dewan," pungkas Julian dengan suara bariton yang berat dan mematikan. "Pastikan seluruh bukti pembukuan medis, catatan transaksi emas, dan pengakuan kurir Oakhaven terkumpul utuh sebelum fajar menyingsing."
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Seluruh tim pengawal rahasia akan bergerak tanpa menyisakan jejak," janji sang kapten sebelum membungkuk dalam-dalam dan mundur secara perlahan meninggalkan ruangan.
Kini, Julian berdiri sendirian di dalam ruang kerjanya yang hening. Sang Raja mengepalkan tangannya tegap, merasakan gejolak amarah dan tekad bulat yang kian membara di dalam dadanya. Pintu jebakan telah terpasang rapi, dan esok hari, seluruh musuh yang berani mengusik keselamatan Aurelia akan terseret ke bawah pendar cahaya keadilan yang tak terelakkan.
Pagi harinya, suasana di Pavilion Timur terasa begitu tenang dan harum oleh wangi teh melati yang menyengat halus dari cangkir porselen Aurelia. Di hadapannya, Selir Vivienne—yang kini bersekutu secara rahasia—duduk dengan tegap, menyerahkan sebuah gulungan kertas kecil berisi catatan transaksi obat yang didapatkan dari pelayan tua perapian.
"Lady Celeste dan saudaranya, Viscount Celeste, telah menarik dana dalam jumlah besar dari kas keluarga untuk membeli ekstrak herbal khusus dua minggu lalu," bisik Vivienne mantap. "Mereka mengklaim ekstrak itu untuk pengobatan penyakit kulit, namun jenis tanaman yang dibeli adalah bahan baku utama racun Vipera dari pedagang pasar gelap Oakhaven."
~ To Be Continue