Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
***
Sore hari menyelimuti lantai unit apartemen dengan pendar jingga yang remang dan dingin. Lyn duduk meringkuk di atas sofa ruang tengah, memeluk kedua lututnya erat-erat. Pikiran tentang kata-kata Clara di taman kampus tadi pagi terus berputar bagaikan kaset rusak yang menyiksa jiwanya. Bayangan tangis sahabatnya, tekad Clara untuk membongkar alasan kebekuan Wiliam, hingga ancaman kecurigaan Siska seolah-olah mengimpit dadanya hingga amat sesak.
Tiba-tiba, rasa mual yang luar biasa hebat menyodok naik dari dasar perutnya.
"Ugh... hnk!"
Lyn meloncat bangkit dari sofa, berlari terburu-buru menuju kamar mandi, dan berlutut di depan wastafel. Ia memuntahkan cairan bening seraya memegangi pinggiran keramik dengan jemari yang gemetar hebat. Dadanya naik turun memburu kencang, peluh dingin membasahi pelipis dan kening mulusnya.
Sambil mengusap bibirnya dengan air mengalir, Lyn menatap cermin di hadapannya. Parasnya nampak begitu pucat bagaikan mayat. Di tengah deru napasnya yang belum teratur, sebuah kesadaran mendadak menghantam logikanya bagaikan petir di siang bolong.
Tanggal berapa sekarang...?
Lyn terbelalak. Otaknya berputar cepat menghitung kalender pribadinya. Bulan ini... ia sama sekali belum datang bulan. Keterlambatan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Dengan jantung yang berdegup kencang dan tangan yang tak berhenti gemetar, Lyn mengambil ponselnya. Mengumpulkan sisa-sisa keberanian di tengah kepanikan yang membakar, ia membuka aplikasi dan memesan beberapa alat tes kehamilan secara online.
Tiga puluh menit terasa bagaikan tiga puluh tahun bagi Lyn. Begitu paket kecil itu tiba, Lyn langsung menguncinya di dalam kamar mandi.
Di bawah pendar lampu pijar yang putih dingin, Lyn menatap alat plastik kecil di tangannya. Air matanya menetes pelan, membasahi pipinya saat dua garis merah tebal dan jelas perlahan terukir di sana.
Positif. Ada nyawa baru yang tumbuh di dalam rahimnya—darah daging dari pria paruh baya yang merupakan ayah dari sahabat terbaiknya sendiri.
"Hiks... bagaimana ini... Tuhan, bagaimana ini..." rintih Lyn tergugu, terduduk lemas di lantai keramik yang dingin seraya meremas alat tes tersebut.
Bel pintu unit apartemen mendadak berbunyi kencang.
BEEP. BEEP.
Suara gagang pintu yang terdorong menandakan sang pemilik akses telah melangkah masuk. Aroma sandalwood yang pekat seketika merebak di udara. Wiliam telah datang.
Lyn menyapu air matanya kasar, menyembunyikan alat tes kehamilan itu di dalam genggaman tangannya, lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai.
Di ruang tengah, Wiliam sudah melepaskan jas mewahnya. Pria paruh baya itu menatap Lyn dengan pendar mata sehitam jelaga yang melunak. Mengetahui Lyn pucat dan lemas saat berangkat ke kampus tadi pagi, Wiliam sengaja mengosongkan jadwal sorenya untuk melihat kondisi wanitanya.
"Kamu pucat sekali, Little Lady," suara berat Wiliam bergaung hangat. Pria itu melangkah maju, merentangkan tangannya untuk merengkuh tubuh ramping Lyn seperti biasa. "Sudah kubilang, kalau tubuhmu masih lemas, tidak usah memaksa kuliah—"
Namun, sebelum lengan kokoh Wiliam sempat menyentuh pinggangnya, Lyn menahan dada bidang pria itu dengan telapak tangannya yang dingin.
"Wiliam... stop," bisik Lyn pelan, suaranya bergetar hebat.
Wiliam tertegun kaku. Alis tegasnya berkerut halus—sebuah reaksi terkejut yang teramat langka dari seorang pria berkuasa yang selalu memegang kendali penuh. "Lyn? Ada apa?"
Lyn tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan mata yang bergenang air mata dan pandangan yang hancur, Lyn perlahan mengangkat tangannya, menyodorkan alat tes kehamilan bergaris dua itu tepat di depan dada Wiliam.
Atmosfer di dalam apartemen seketika membeku total.
Mata hitam Wiliam terkunci lurus pada alat plastik kecil tersebut. Pria yang biasanya tak tersentuh oleh emosi apa pun itu tampak membelalak tipis. Rahangnya yang tegas mengeras rapat saat logikanya mencerna kenyataan di hadapannya.
Beberapa detik keheningan yang mencekam berlalu. Bukannya panik, menolak, atau marah... seulas senyum tipis yang sarat akan kebanggaan dan kebahagiaan mendalam perlahan terukir di sudut bibir tampan Wiliam.
Pria tua itu mengepalkan tangannya, lalu tanpa ragu menarik tubuh Lyn ke dalam pelukannya yang teramat erat, hangat, dan posesif. Wiliam mengecup puncak kepala Lyn bertubi-tubi dengan napas yang memburu lega.
"Darah dagingku..." bisik Wiliam parau di telinga Lyn, suaranya bergetar oleh kegembiraan yang meluap. "Kamu mengandung anakku, Lyn... Kamu memberi aku seorang anak ..."
Sebagai pria yang selama puluhan tahun membesarkan Clara yang bukan darah dagingnya sendiri demi menjaga skandal old money, kabar kehamilan Lyn adalah sebuah anugerah yang tak ternilai bagi jiwa posesif sang tuan. Wiliam merengkuh Lyn makin dalam, mendekapnya seolah hendak menegaskan kepemilikan mutlak atas wanita dan janin di dalam rahimnya.
Namun, reaksi bahagia dari Wiliam justru terasa bagaikan tamparan keras yang mematikan bagi Lyn.
Lyn membeku di dalam pelukan itu. Air matanya menetes makin deras, membasahi kemeja Wiliam. Bukannya merasa tenang atau terlindungi, ketidakpuasan dan keputusasaan luar biasa justru menguasai dada Lyn. Wiliam tampak begitu bahagia seolah tak ada beban sama sekali—seolah-olah keberadaan bayi ini tidak akan meremukkan hati Clara atau membongkar kebohongan besar mereka di hadapan Siska.
"Wiliam... lepas..." bisik Lyn serak, mencoba mendorong dada Wiliam.
Wiliam mengurai pelukannya pelan, menangkup kedua pipi Lyn dengan jemarinya yang hangat. Sisi lembut pria dingin itu terpancar sempurna saat ia mengusap air mata Lyn. "Ada apa, Sayang? Kamu tidak perlu takut lagi. Aku akan menyiapkan dokter pribadi terbaik, dan aku akan memperketat pengamananmu. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu atau anak kita."
Lyn menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menatap Wiliam dengan pendar mata yang dipenuhi penderitaan batin.
"Arah hubungan kita ini mau ke mana, Wiliam?!" jerit Lyn pelan dengan suara yang tercekik oleh tangis. Gadis itu meraih dan menggenggam pergelangan tangan Wiliam erat-erat, menuntut kepastian dari pria di hadapannya. "Bagaimana dengan Clara?! Bagaimana jika Clara tahu bahwa sahabatnya sendiri sedang mengandung anak dari ayahnya?! Anda bahagia... tapi bagaimana dengan kesehatan jiwa putri Anda, Wiliam?!"
"Clara tidak akan tahu kalau kamu menuruti kata-kataku, Lyn," potong Wiliam tegas namun lembut, berusaha menenangkan gejolak emosi wanitanya. "Aku yang memegang kendali atas segalanya. Kamu hanya perlu fokus menjaga kesehatanmu dan anak kita di sini."
"Hanya fokus menjaga anak ini?!" tawa pahit yang hancur lolos dari bibir Lyn. Ia menatap Wiliam dengan pandangan tidak puas dan penuh kekecewaan. Jawaban Wiliam yang terkesan menyembunyikannya selamanya dalam sangkar emas ini meremukkan sisa-sisa harapannya.
Pikiran Lyn sedang sama sekali tidak baik-baik saja. Himpitan rasa bersalah pada Clara, ancaman kecurigaan Siska, serta hormon kehamilan yang tak stabil membuat mental Lyn hancur berantakan.
Lyn melangkah mundur, melepaskan cengkeramannya dari tangan Wiliam.
"Pergi, Wiliam..." bisik Lyn parau, menunjuk ke arah pintu keluar dengan tangan gemetar.
Wiliam berkerut tajam. "Lyn, jangan bersikap konyol. Kamu sedang emosional—"
"SAYA BILANG PERGI, WILIAM!" jerit Lyn histeris, air matanya meluap deras. "Saya tidak mau melihat Anda malam ini! Pikiran saya kacau... tolong pergi dari sini!"
Wiliam mematung di tempatnya. Menatap betapa terguncang dan hancurnya kondisi fisik serta mental gadis 21 tahun itu, rahang tegas Wiliam mengeras kaku. Menyadari bahwa memaksakan kehendaknya saat ini hanya akan memperburuk kondisi kesehatan Lyn dan janin di rahimnya, pria berkuasa itu akhirnya menghembuskan napas panjang yang berat.
"Baik. Aku akan pergi malam ini," ujar Wiliam dengan nada suara yang teramat dingin namun menyimpan pendar kekhawatiran yang pekat. "Tapi ingat kata-kataku, Evelyn... Kamu dan anak itu adalah milikku. Aku tidak akan membiarkanmu lari."
Wiliam mengambil jasnya, menatap Lyn sekali lagi dengan tatapan posesif yang dalam, lalu memutar tubuh dan melangkah keluar dari apartemen.
BLAM.
Pintu kayu tebal itu tertutup rapat. Lyn seketika luruh dan terduduk di atas lantai dingin ruang tengah, memeluk perutnya yang masih rata seraya melepaskan tangisan histeris dalam kesendirian yang mencekam.
Bersambung....
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻