Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Kekaguman yang Tumbuh

Suasana ruang rapat utama di lantai tertinggi Gedung Larasati Group mencekam. Di ujung meja lonjong bervernis mengkilap, Pak Surya, Direktur Keuangan yang selama belasan tahun dipercayai, duduk terpaku dengan wajah pucat pasi seperti mayat. Di sekelilingnya, jajaran dewan komisaris dan perwakilan PT Arisandra Karya bungkam seribu bahasa.

Layar proyeksi besar di depan ruangan menampilkan dengan sangat telanjang bukti transfer ilegal senilai sepuluh miliar rupiah ke rekening penampung di Singapura, lengkap dengan salinan laporan utang obligasi bodong sebesar tiga ratus miliar rupiah yang sengaja disembunyikan.

Lisa Larasati berdiri tegak di kepala meja. Gaun hitam formal yang dibalut blazer terusan memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan tak tergoyahkan.

"Apakah ada lagi penjelasan yang ingin Anda sampaikan sebelum pihak kepolisian membawa Anda keluar dari gedung ini, Pak Surya?" suara Lisa bergema tenang, namun mengandung tekanan emosional yang amat tajam.

Pak Surya menyapu keringat dingin di dahinya dengan tangan bergetar. "Bu... Bu Lisa... Tolong dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu. Ini... ini semua adalah salah paham—"

"Salah paham?" pangkas Lisa, menatap Direktur Keuangannya dengan sorot mata penuh kekecewaan mendalam. "Bukti transfer dari rekening penampung PT Arisandra Mega Pratama ke rekening pribadi keluarga Anda di Singapura ini adalah bukti otentik. Anda berniat mengorbankan masa depan ribuan karyawan Larasati Group demi memenuhi keserakahan pribadi Anda!"

Lisa mengetukkan ujung jarinya ke atas meja, memberi sinyal kepada dua petugas keamanan berseragam yang berdiri di dekat pintu.

"Proses hukum telah berjalan. Semua aset pribadi Anda telah dihentikan aksesnya mulai detik ini," lanjut Lisa tegas tanpa memberi ruang untuk negosiasi. "Bawa dia keluar."

Saat Pak Surya diseret meninggalkan ruangan dalam kehancuran reputasi total, seluruh anggota dewan komisaris menarik napas lega. Keputusan cepat Lisa dalam membatalkan rencana akuisisi PT Arisandra Karya hari itu telah menyelamatkan aset perusahaan senilai ratusan miliar rupiah dari kebangkrutan yang mengerikan.

Namun, di balik keberhasilan dan tepuk tangan apresiasi dari para pemegang saham, pikiran Lisa sama sekali tidak berada di ruang rapat tersebut. Di dalam benaknya, hanya ada satu nama yang terus terbayang, Dirga.

Empat jam kemudian, sebuah mobil sedan hitam mewah melaju perlahan memasuki kawasan permukiman padat di pinggiran kota. Kendaraan berkelas itu berhenti tepat di depan sebuah rumah panggung kayu yang sederhana namun rapi, dengan atap baja ringan yang baru saja selesai direnovasi.

Lisa Larasati melangkah keluar dari mobil. Angin sore mengibaskan rambut panjangnya sewaktu ia berjalan mendekati teras rumah. Di sana, duduk Dirga di atas bangku kayu. Pemuda itu mengenakan kemeja polos yang bersih, tengah menyeduh teh hangat dalam keheningan sore.

Dirga tidak tampak terkejut sedikit pun melihat kedatangan sang direktur muda. Ia menatap Lisa dengan tenang, lalu mengangguk pelan.

"Selamat sore, Mbak Lisa," sapa Dirga singkat, intonasi suaranya begitu stabil dan teduh.

Lisa berdiri terpaku di depan tangga teras. Langkahnya mendadak terasa berat, tertimpa oleh rasa bersalah dan hormat yang sangat luar biasa. Tanpa memedulikan status sosialnya maupun gaun mewahnya, Lisa menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Dirga.

"Dirga..." ucap Lisa, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Saya datang ke sini hari ini untuk menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf yang teramat dalam atas semua kepicikan dan prasangka buruk saya kepada Anda selama ini."

Dirga memegang cangkir tehnya, menatap wanita di hadapannya tanpa aura keangkuhan sedikit pun. "Silakan duduk dulu, Mbak Lisa. Tidak perlu bersikap seformal itu di rumah sederhana ini."

Lisa melangkah naik ke teras dan duduk perlahan di bangku kayu di seberang Dirga. Matanya menatap pemuda itu dengan pendar kekaguman yang tak lagi mampu ia sembunyikan.

"Semua perkataan Anda kemarin... terbukti seratus persen akurat tanpa cela," kata Lisa, suaranya dipenuhi ketakjuban yang murni. "Pak Surya telah diamankan oleh pihak kepolisian siang ini. Kami menemukan bukti transaksi tersembunyi di Singapura persis di lokasi server yang Anda sebutkan. Anda... Anda benar-benar telah menyelamatkan Larasati Group dari kehancuran total, Dirga."

Dirga hanya menyunggingkan senyum tipis. Ia menyesap teh hangatnya pelan sebelum merespons. "Saya hanya menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, Mbak Lisa. Keputusan untuk bertindak dan menyelamatkan perusahaan Anda sepenuhnya ada di tangan Anda sendiri."

"Tetapi tanpa peringatan Anda, kami sudah tenggelam dalam penipuan itu!" tegas Lisa dengan mata berkaca-kaca. "Kejelian dan petunjuk Anda bernilai ratusan miliar rupiah bagi keluarga kami. Saya... saya tidak tahu bagaimana cara membalas budi baik Anda yang begitu besar ini."

Lisa kemudian merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah buku cek eksekutif dari bank swasta terkemuka, lalu mengambil pulpen mewah berujung emas. Dengan jemari yang mantap, ia menuliskan sebuah angka nominal yang fantastis di atas kertas cek tersebut, menandatanganinya, dan menyerahkannya ke atas meja di hadapan Dirga.

"Ini adalah bentuk apresiasi dan imbalan murni dari keluarga Larasati," kata Lisa tulus. "Lima miliar rupiah. Angka ini bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan aset perusahaan yang berhasil Anda selamatkan, tetapi tolong terimalah ini sebagai hak Anda."

Dirga menurunkan cangkir tehnya. Pandangannya berganti dari kertas cek bernilai lima miliar rupiah itu menuju bola mata Lisa Larasati. Tidak ada pendar keserakahan, kejutan, atau fluktuasi emosi sedikit pun di wajah pemuda tersebut. Tatapannya tetap dingin, jernih, dan penuh berharga diri.

Dirga mengulurkan tangannya, meraba kertas cek tersebut dengan ujung jarinya, lalu secara perlahan mendorongnya kembali ke arah Lisa.

"Tarik kembali cek ini, Mbak Lisa," ujar Dirga datar namun penuh tekanan moral yang tak tergoyahkan.

Lisa terbelalak kaget. "Dirga... mengapa? Ini adalah imbalan yang sangat layak untuk Anda! Dengan uang ini, Anda bisa membeli rumah baru, hidup layak, dan tidak perlu lagi bersusah payah di jalanan!"

"Uang tidak pernah menjadi alasan saya memberikan peringatan itu kepada Anda," balas Dirga dengan ketegasan yang menembus dada Lisa. "Sejak awal saya sudah menegaskan, saya tidak menjual harga diri saya, dan saya juga tidak berniat menjadikan kemampuan batin saya sebagai barang dagangan untuk meraup kekayaan secara instan."

"Tapi ini bukan uang kasihan!" sahut Lisa cepat, suaranya meninggi karena kepanikan dan rasa tidak enak hati. "Ini adalah imbalan atas jasa profesional Anda yang telah menyelamatkan kekayaan keluarga kami! Mengapa Anda selalu menolak setiap kali saya mencoba memberikan hak Anda?"

Dirga menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku kayu. Aura wibawanya yang tenang namun mendominasi membuat suasana teras rumah panggung itu mendadak hening seketika.

"Jika saya menerima uang lima miliar rupiah ini," ucap Dirga pelan namun sangat tajam, "maka hubungan di antara kita hanya akan sebatas transaksi bisnis antara seorang kaya yang membayar jasa seorang peramal. Kedudukan saya di mata Anda akan selamanya berada di bawah, sebagai orang yang dibeli kemampuannya."

Lisa terpaku, lidahnya mendadak kelu mendengarkan argumen filosofis pemuda di hadapannya.

"Saya sedang membangun masa depan saya sendiri, Mbak Lisa," lanjut Dirga, menatap lurus ke dalam mata Lisa dengan kepastian yang luar biasa. "Setiap rupiah yang saya miliki saat ini lahir dari keringat, kerja keras, dan keputusan investasi saya sendiri yang sah di pasar modal. Saya tidak membutuhkan uang hibah atau uang imbalan dari siapa pun untuk menjadi pribadi yang terpandang."

Kekaguman di dalam dada Lisa kian membuncah hingga ke batas tertinggi. Di hadapannya duduk seorang pemuda yang hidup di dalam rumah kayu sederhana, namun memiliki jiwa, integritas, dan harga diri yang jauh lebih agung daripada para pengusaha kaya raya berjas mewah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya.

Leon, mantan kekasih Lisa yang pesolek, maupun para eksekutif papan atas di ibu kota, sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keteguhan moral yang dimiliki oleh Dirga.

"Dirga..." suara Lisa terdengar lirih, hampir membisik. "Lalu... apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan Anda jika uang pun Anda tolak dengan begitu tegas?"

Dirga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang memancarkan aura visi masa depan yang sangat luas dan tak terbatas. Ia menatap langit sore yang mulai memerah di atas permukiman.

"Simpan saja uang itu, Mbak Lisa," jawab Dirga tenang. "Suatu saat nanti, ketika modal dan posisi saya sudah cukup kuat, mungkin kita akan berpartner dalam bisnis yang jauh lebih besar."

Kata-kata itu menghantam Lisa seperti sebuah guncangan listrik yang tak terduga. Berpartner dalam bisnis.

Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang pemuda yang saat ini masih memegang helai jaket pengemudi ojek online, namun intonasinya begitu mantap, ilmiah, dan penuh keyakinan seolah-olah hal tersebut adalah sebuah kepastian takdir yang tinggal menunggu waktu untuk terwujud.

Lisa menggenggam cek bernilai lima miliar rupiah itu dengan tangan yang bergetar pelan. Ia menariknya kembali dan memasukkannya ke dalam tas, lalu menatap Dirga dengan rasa hormat yang kini telah bertransformasi menjadi keyakinan mutlak.

"Baik, Dirga," tegas Lisa, menganggukkan kepalanya dengan raut wajah penuh keseriusan. "Saya akan memegang janji Anda hari ini. Larasati Group akan selalu membuka pintu selebar-lebarnya untuk kemitraan apa pun yang akan Anda pimpin di masa depan."

Dirga mengangguk pelan. "Terima kasih, Mbak Lisa. Hari sudah makin sore, sebaiknya Anda segera pulang sebelum jalanan kota makin padat."

Lisa berdiri dari bangkunya. Sebelum melangkah turun dari teras, ia berpaling sekali lagi, menatap pemuda berwibawa itu dengan tatapan yang sarat akan makna mendalam.

"Sampai jumpa kembali, Partner," ucap Lisa dengan ukiran senyum anggun di bibirnya.

Dirga hanya membalasnya dengan anggukan tenang saat memperhatikan mobil sedan mewah Lisa perlahan bergerak menjauhi pekarangan rumahnya.

Begitu suasana kembali hening, Dirga menarik napas panjang, melatih fokus pernapasannya untuk menenangkan gejolak energi di dalam tubuhnya. Ia merogoh ponsel pintarnya dari saku celana, membuka aplikasi pemantau portofolio saham miliknya.

Layar ponsel menampilkan saldo dana investasinya yang kini telah berkembang pesat menembus angka ratusan juta rupiah. Pemuda itu menatap grafik pergerakan modalnya dengan tatapan dingin yang terukur.

Langkah pertama untuk menegakkan harga diri dan menyelamatkan Larasati Group telah selesai. Kini, saatnya ia mengeksekusi rencana besarnya sendiri, melangkah keluar dari lantai bursa saham dan mulai mengakar kuat di atas tanah nyata.

Dirga memfokuskan pandangannya ke layar ponsel, membiarkan mata batinnya memindai peluang besar berikutnya yang sedang tersembunyi di balik peta pembangunan kota.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!