Indonesia
NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:196
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

"Setiap orang punya satu nama dari masa SMA yang tak pernah benar-benar hilang." Ini adalah suara kejujuran Satria untuk sosok di masa lalunya—tentang rahasia di balik seragam putih-abu-abu, luka yang mendewasakan, dan keberanian melepaskan demi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28- Dentuman Di atas Matras

Hari Sabtu yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Sejak pukul delapan pagi, Gedung Olahraga (GOR) remaja kota sudah dipadati oleh ratusan manusia dari berbagai sekolah. Suara gemuruh sorak-sorai penonton di tribun, dentuman gema gong pembukaan turnamen yang dipukul pejabat daerah, hingga teriakan lantang para pelatih dari tiap kontingen menyatu jadi satu atmosfer yang sangat membakar semangat. Aroma khas minyak urut, gesekan matras busa, keringat, dan ketegangan tingkat tinggi menguar di setiap sudut ruangan tertutup yang luas itu.

Di sudut area pemanasan kontingen sekolah kami, aku sedang duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Kedua tanganku sibuk membetulkan letak pelindung tubuh (body protector) warna hitam tebal yang melingkari dada dan perutku, disusul dengan mengencangkan tali helm tanding (headguard). Pernapasanku kuatur dengan irama pelan dan teratur melalui hidung, mencoba meredam detak jantung di dalam dada yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.

Mas Teguh, pelatih silatku yang terkenal galak tapi sangat perhatian, berlutut tepat di depanku. Jemarinya yang kasar membetulkan simpul sabuk hitam di pinggangku, lalu menepuk-nepuk kedua bahuku dengan cukup keras sampai kaget.

"Inget instruksi Mas dari kemarin sore, Satria!" tegas Mas Teguh dengan tatapan mata yang sangat tajam dan tidak main-main. "Main tenang di ronde awal! Jangan sekali-kali kepancing emosi atau provokasi lawan. Jaga jarak mainmu, dan begitu kamu ngeliat ada celah sekecil apa pun di pertahanan dadanya, langsung masuk dengan tendangan sabit cepatmu! Kamu udah menguras keringat dan air mata berbulan-bulan di atas matras latihan aula bawah cuma buat hari ini. Tunjukkan ke semua orang di sini hasil kerja kerasmu yang sebenarnya!"

"Siap, Mas! Tak berikan seratus persen kemampuan terbaikku!" jawabku mantap, membalas tatapannya dengan sorot mata yang membara.

Dari posisi dudukku di area pemanasan bawah, aku melayangkan pandangan ke arah tribun penonton yang mulai dipadati oleh suporter. Anak-anak dari SMA Negeri kami datang berbondong-bondong membawa drum kecil dan spanduk kain buatan sendiri untuk memberikan dukungan. Dan tepat di barisan tribun tengah, mataku tak sengaja menangkap sosok cewek berkerudung rapi yang duduk tenang di antara rombongan anak-anak OSIS dan pengurus perpustakaan.

Nara.

Cewek paling pintar di kelas X IPA 2 itu ternyata ikut dalam rombongan bus suporter sekolah. Dia duduk memangku tas kecilnya, memegang sebotol air mineral dingin, dan pandangannya terus menyapu area pemanasan atlet di bawah dengan raut wajah yang menyiratkan kecemasan luar biasa. Saat mata kami saling beradu dari kejauhan selama beberapa detik, Nara tidak membuang muka seperti biasanya. Justru sebaliknya, dia pelan-pelan mengangkat kedua telapak tangannya, mengatupkannya di depan dada sebagai sinyal doa dan dukungan penuh untukku tanpa perlu mengucap satu kata pun.

Aku menyunggingkan senyum tipis di balik helm tandingku, menganggukkan kepala pelan untuk membalas dukungannya. Ada suntikan energi raksasa yang mendadak membakar seluruh aliran darah di dalam tubuhku.

“Kontingen SMA Negeri — Sudut Merah! Atas nama Satria, dipersilakan memasuki Gelanggang B!” suara lantang dari pengeras suara panitia bergaung keras menembus langit-langit GOR.

Aku berdiri dari posisi dudukku, menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan kepalaku, lalu melangkah mantap menuruni anak tangga menuju arena pertandingan. Matras busa tebal warna hijau berukuran sepuluh kali sepuluh meter sudah terbentang di tengah gelanggang. Lampu sorot tinggi stadion yang agak menyilaukan mata menembak tepat ke tengah arena, tapi keheningan mendadak menguasai kepalaku.

Lawan di babak semifinal ini adalah atlet andalan dari sekolah swasta ternama yang punya rekam jejak juara. Postur tubuhnya sedikit lebih tinggi dan jangkauan kakinya lebih panjang dariku. Begitu wasit tengah meniup peluit panjang dan merentangkan kedua tangannya tanda pertandingan resmi dimulai, seluruh suara riuh penonton di tribun mendadak lenyap dari pendengaranku. Yang tersisa cuma suara deru napas sendiri dan gesekan telapak kaki di atas permukaan matras yang licin.

Ronde pertama dimulai dengan tempo tinggi. Lawan langsung mengambil inisiatif serangan cepat dengan melancarkan tendangan lurus tepat ke arah dadaku. Dengan refleks cepat yang sudah teruji di ruang latihan, aku menggeser kaki kiriku ke samping, menepis sapuan kakinya dengan lengan bagian dalam, lalu memutar tubuh untuk membalas lewat tendangan sabit keras ke arah rusuk kirinya.

Brak!

Benturan keras pelindung kaki menabrak body protector lawan bergema cukup nyaring.

“Dua poin untuk Sudut Merah!” teriak salah satu wasit juri dari meja sudut, yang langsung disambut oleh sorak-sorai histeris dari suporter sekolah kami di tribun sebelah kiri.

Pertandingan berlangsung sangat sengit dan melelahkan selama dua ronde penuh. Lawan terus-menerus menekan dengan kombinasi pukulan lurus dan bantingan-bantingan jarak dekat yang menguras banyak tenaga fisik. Otot-otot di kedua paha dan lenganku terasa panas terbakar oleh aliran keringat yang membasahi seluruh baju silat hitamku. Tapi porsi latihan brutal tiap sore dari jam tiga sore sampai jam six sore bersama Mas Teguh selama berbulan-bulan terbukti menjadi benteng kokoh yang tidak mudah dirobohkan. Stamina dan fokus mentalku bertahan melampaui batas normal.

Masuk ke ronde ketiga—ronde penentuan akhir. Waktu pertandingan cuma tersisa sekitar tiga puluh detik lagi dan selisih poin kami sangat tipis. Lawan yang mulai tampak kelelahan mencoba melancarkan serangan spekulatif dengan maju mengejar. Namun di momen kritis itu, dadanya sedikit terbuka tanpa perlindungan lengan yang rapat.

Melihat celah emas itu, aku tidak menyia-siakannya sedikit pun. Aku menancapkan kaki tumpuan kuat-kuat di atas matras, melompat kecil, dan melepaskan tendangan tombak telak berkecepatan tinggi tepat menghantam bagian tengah pelindung dada lawan.

Bruk!

Hantaman keras itu membuat lawan kehilangan keseimbangan total hingga terdorong ke belakang dan jatuh terlentang di luar garis batas matras.

Wasit tengah langsung melompat menengahi kami, meniup peluit panjang berulang kali sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. “Pemenang sudut merah! Satria dari SMA Negeri!”

Sorak-sorai pecah seketika di seluruh penjuru tribun sekolah kami. Diko yang berdiri di pinggir gelanggang berteriak histeris seperti orang kesetanan sambil melompat-lompat mengibarkan bendera sekolah. Aku membungkukkan badan memberi hormat pada wasit juri, lalu menghampiri sudut lawan untuk berjabat tangan secara sportif, sebelum akhirnya berjalan keluar matras dengan dada naik-turun memburu napas dan senyum kemenangan terkembang lebar di bibirku. Aku berhasil melangkah ke babak final.

Usai membasuh muka yang basah oleh keringat dan mengganti seragam silat yang basah kuyup di ruang mandi belakang GOR, aku menggendong tas ransel hitamku dan berjalan keluar menuju lorong luar gedung untuk mencari angin segar. Tubuhku terasa sangat pegal di bagian persendian, tapi perasaan puas di dalam dada tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Suasana di lorong samping GOR agak lengang dan sepi karena sebagian besar penonton masih berada di dalam menyaksikan partai pertandingan kelas lain. Udara sore hari yang sejuk berhembus lembut menerpa wajahku.

"Satria!"

Sebuah suara panggil yang sangat kukenal terdengar dari arah ujung lorong dekat parkiran kendaraan.

Aku menghentikan langkahku dan menoleh. Nara berdiri di sana, menenteng tas kecil warna cokelat dengan sebotol air mineral dingin yang masih bersegel di tangannya. Wajah cantiknya kelihatan agak merona merah usai ikut berdesak-desakan di tribun suporter tadi.

Aku menyunggingkan senyum hangat, lalu melangkah pelan mendekatinya. "Eh, Ra. Kamu belum naik bus rombongan sekolah buat pulang?"

Nara menggelengkan kepalanya pelan. Dia melangkah dua pijakan mendekatiku, memperhatikan raut wajahku yang masih menyisakan sisa-sisa lelah dan memar tipis di dahi akibat benturan saat tanding tadi. Tangannya yang sedikit gemetar terulur menyodorkan botol air mineral dingin itu padaku.

"Nih, minum dulu, Sat. Kamu pasti haus dan capek banget usai tanding habis-habisan di dalam," kata Nara dengan nada suara yang sangat tulus dan lembut.

Aku menerima botol itu, memutar tuturnya sampai berbunyi klik, lalu meneguk isinya pelan-pelan sampai tersisa setengah. Kehangatan sikapnya membuat rasa lelah di tubuhku menguap begitu saja.

"Makasih banyak ya, Ra. Rombongan sekolah ramai banget ya di tribun tadi?" tanyaku mencoba membuka obrolan santai.

Nara menatap mataku lekat-lekat tanpa membuang muka. Binar di matanya memancarkan rasa kagum yang luar biasa besar—tatapan yang belum pernah kulihat sebelumnya selama berbulan-bulan kami saling menjaga jarak.

"Bukan cuma ramai, Sat... tapi heboh banget," akui Nara jujur dengan hembusan napas lega. "Waktu kamu melepaskan tendangan terakhir yang bikin lawanmu jatuh di ronde ketiga tadi... sumpah, jantungku rasanya mau copot di tribun. Aku sampai gak berani nutup mata gara-gara takut kamu kenapa-napa."

Aku terkekeh pelan mendengar pengakuannya yang begitu jujur. "Kan udah tak bilang dari awal dulu, Ra. Di atas matras itu pertarungan fisik, kalau gak membanting ya dibanting. Tapi untungnya latihan berat tiap sore gak sia-sia."

Nara ikut tersenyum kecil mendengar gurauanku, tapi perlahan-lahan raut wajahnya berubah menjadi sangat dalam dan penuh rasa haru. Suasana di koridor sepi itu mendadak hening sejenak, cuma diiringi oleh suara angin sore yang berhembus menembus celah pepohonan di luar.

Nara menundukkan kepalanya sebentar, memainkan tali tas cokelat di tangannya, sebelum akhirnya mendongak kembali memandang mataku dengan penuh keberanian.

"Sat..." panggilnya sangat pelan.

"Ya, Ra?"

"Waktu ngeliat kamu berjuang mati-matian di atas matras tadi... aku sadar satu hal," kata Nara dengan suara yang mulai bergetar menahan gejolak emosi di dadanya. "Aku sadar betapa hebatnya perjuanganmu selama ini. Kamu selalu berusaha sekuat tenaga buat hal-hal yang kamu yakini, tanpa pernah setengah-setengah."

Aku membisu di tempat, menatap sorot mata Nara yang mulai digenangi air mata haru.

"Maafkan aku ya, Satria..." lanjut Nara dengan air mata yang akhirnya menetes pelan mengaliri pipinya yang halus. "Dulu aku pernah salah mengambil keputusan. Aku pernah menyia-nyiakan dan melukai perasaan cowok yang bener-bener tulus dan baik sama aku demi orang yang salah. Aku nyesel banget pernah bikin kamu sakit hati..."

Melihat cewek yang dulu sangat tegar dan galak itu kini menangis di depanku sambil mengakui penyesalannya, tidak ada sedikit pun rasa puas atau keinginan buat menyudutkannya di dalam hatiku. Yang ada cuma rasa kasih sayang dan kedewasaan yang lurus.

Aku melangkah satu pijakan lebih dekat, mengangkat tangan kananku pelan, lalu menepuk bahunya dengan sangat lembut untuk menghentikan tangisnya.

"Udah, Ra. Tolong jangan tangisi hal yang udah lewat," kataku dengan suara yang sangat lugas, tenang, dan hangat. "Semua kejadian kemarin itu bukan hadir buat kita sesali selamanya, tapi buat mendewasakan kita berdua. Aku udah memaafkan semuanya sejak lama, jauh sebelum kamu menyampaikan permintaan maaf ini."

Nara terpaku mendengar kata-kataku yang begitu tulus tanpa ada sisa dendam sedikit pun. Dia menyeka air matanya dengan ujung kerudungnya, lalu menatapku dengan senyuman paling manis dan lega yang pernah kuutarakan dalam hidupku.

Di bawah naungan koridor GOR sore itu, aku tahu pasti bahwa seluruh proses sakit hati dan kekecewaan di masa lalu tidak ada yang terbuang sia-sia. Takdir sedang merajut kembali tali hubungan kami dengan cara yang jauh lebih indah dan dewasa dari sebelumnya.

1
Ayu Wd1109
jadi penasaran sama sosok Nara ..jika ada di kehidupan nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!