Bocil Dilarang Mampir!!!!!
Sebelum Baca, Jangan lupa tekan Menu Favoritnya...
Satria Bima Kusuma, pria terkenal mandiri. Tampan sudah pasti, berkarisma apalagi. Pria berusia 27 tahun itu memiliki segala hal yang tentu di idam idamkan semua kaum hawa. Bahkan kaum pria pun mengakui hal itu.
Namun semua yang dia miliki tak lantas membuat dirinya berhasil dengan kisah percintaannya.
Dua kali menjalin hubungan, dua kali pula dirinya berakhir dengan perselingkuhan. Tragis bukan!!!
Siapapun yang mendengar kisahnya tentu tak akan percaya semua itu bisa menimpanya bukan.
Namun itulah kenyataannya. Kecewa, marah sudah pasti. Namun semua sudah terjadi, dan kini dia hanya bisa menata kembali hidupnya.
Dia memutuskan untuk meninggalkan sikap lembut dan baik hatinya untuk siapapun itu, terkecuali untuk keluarganya. Dirinya akan tetap menjadi Bima yang mereka kenal bukan Satria pria tanpa rasa.
Bima pria baik, lembut, penyayang. Namun kini dia putuskan untuk meninggalkan segalanya, mulai detik dimana dia di khianati untuk kedua kalinya.
Sudah cukup dia menjadi pria bodoh, yang mudah saja memberikan sepenuh hatinya di miliki pasangannya. Hingga berakhir dengan dia yang di sakiti karena kebaikannya sendiri.
Adakah seseorang yang bisa membawa Satria kembali pada sosoknya yang sebelumnya?
Akankah dia mengijinkan hatinya kembali di isi oleh wanita yang bisa saja memberikan dia luka yang sama?
Ataukah dia akan tetep berada dalam benteng yang dia putuskan buat untuk melindungi hatinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aeni Masbait, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setelah kepergian Keluarga Satria, juga Bunda Gadis yang memutuskan pergi ke kamarnya. Kini tinggallah ketiga orang yang nampak sedang menatap bingung ruang tamu yang mulai sunyi, masing-masing dari mereka bingung dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.
"Om." Panggil Gadis.
Gadis itu memberanikan diri membuka suara terlebih dahulu saat tak mendengar ada yang berniat bersuara setelah kepergian semua orang.
Mendengar panggilan Gadis, Satria seketika tersadar dari kebingungannya.
"Sayang, kamu jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, tapi aku akan berusaha menanganinya." Ucap Satria sambil mendekati Gadis.
Pria itu kini sedang mencoba menyakinkan gadis itu jika semuanya akan baik-baik saja. Seolah menegaskan dia akan menyelesaikan semuanya, walau dia pun tak tahu apa permasalahannya hingga membuat Sang Papi bertindak seperti tadi.
Namun jauh di lubuk hatinya, Satria tak tahu setelah ini akan baik-baik saja atau tidak. Sebab ini kali pertamanya sang Papi mengambil keputusan sepihak bahkan terkesan mendadak untuknya seperti tadi.
Dia juga baru melihat kilatan marah yang di pancarkan Sang Papi saat tadi bersi tatap dengan Bundanya Gadis, setelah keterkejutan pada awalnya saat saling tatap.
Padahal tadi saat dari perjalanan ke kediaman rumah Gadis, keluarganya itu sangat-sangat bahagia bahkan terkesan tak sabar bertemu dengan keluarga dari Gadis. Dia yakin pasti ada sesuatu masalah serius yang bersangkutan dengan Bundanya Gadis. Itu sebabnya tadi suasana yang awalnya hangat tiba-tiba berubah menjadi canggung bahkan terkesan mengerikan saat pandangan Mata ketiga orang tua dalam keluarganya itu saat bersi tatap dengan Bundanya Gadis.
"Yah." Hanya itu saja yang bisa Gadis lontarkan.
Gadis kini menjadi tak yakin akan kelanjutan hubungannya dengan Satria, saat mendengar ucapan Papi pria itu yang meminta pria itu untuk mencarikan menantu lain untuk beliau. Dan itu benar-benar bagaikan suatu pukulan keras untuk Gadis, dia merasa seolah telah ditolak mentah-mentah saat itu juga ketika mendengarkan kalimat yang di lontarkan oleh Papi Darma.
"Kenapa?" Tanya Satria yang mendengar nada lirih tak bersemangat Gadis. Dia tahu Gadis pasti kecewa dengan perkataan Papinya itu. Tapi ini semua di luar kuasanya, dia tak pernah membayangkan jika semua akan berakhir seperti tadi.
"Pulanglah Om." Ucap Gadis saat dia mendengar klakson mobil yang berbunyi dari luar rumahnya. Klakson dari mobil keluarga Satria tebakannya.
"Pulanglah Sat, keluargamu sudah menunggumu." Kali ini Dimas yang meminta, mendukung perkataan adik perempuannya itu.
Dia sendiri sedikit merasa tersinggung dengan perkataan Papinya Satria tadi. Dia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan sang adik saat ini. Sungguh penolakan tanpa mengenal lebih dulu, itu sungguh sangat menyakitkan.
"Percayalah padaku Gadis." Ucap Satria namun Gadis tak bergeming. Dia tak menjawab perkataan Satria, pikirannya terlalu terfokus dengan perkataan penolakan Papi Satria. Itu sebabnya dia tak mengharapkan hubungan ini lagi. Dia cukup tahu diri dengan penolakan terhadap dirinya itu.
"Sayang aku.." Ucap Satria namun di potong cepat oleh Gadis.
"Aku akan melihat Bunda." Kata Gadis sembari meninggalkan Satria begitu saja, Gadis bahkan tadi menarik cepat tangannya saat Satria hendak menggapainya.
Mendengar dan melihat kepergian Gadis, Satria hanya bisa memijit keningnya saja. Bingung dengan situasi kacau saat ini, sungguh ini bukan yang dia inginkan.
"Sat, sampai kapan kamu mau membuat keluargamu menunggu." Ucap Dimas membuyarkan lamunan Satria yang nampak masih menatap jejak kepergian Gadis. Walau gadis itu sudah hilang dari pandangannya.
"Aku pamit, tolong sampaikan permintaan maaf ku untuk Bunda mu Dim. Aku akan kembali setelah ini selesai. Sekali lagi maafkan aku, maafkan keluargaku tadi." Ucap Satria sebelum akhirnya dia meninggalkan Dimas yang hanya menganggukkan kepalanya.
***
"Bun, Bunda. Boleh Gadis masuk?" Tanya Gadis sambil mengetuk pintu kamar Bundanya.
"Masuklah sayang." Sahut Sang Bunda membuat Gadis langsung membuka handel pintu kamar yang memang tak terkunci.
Saat masuk, Gadis nampak melihat Bundanya sedang berdiri di balkon kamar.
"Bunda." Panggil Gadis lagi saat dia sudah berdiri di samping Sang Bunda. Menatap ke arah pandang Sang Bunda yang kini sedang menatap pada Mobil keluarga Satria yang kini masih terparkir, namun klaksonnya sesekali terurus berbunyi.
"Apa dia belum pergi." Tanya Bunda memastikan pemikirannya.
"itu." Jawab Gadis saat Satria baru saja menghampiri mobil mereka dan membuka pintu mobil keluarganya dengan pandangannya mengarah ke dalam rumah Gadis.
"Haaaaah." Terdengar hembusan nafas pelan dari Sang Bunda saat melihat Satria.
Setelah itu keduanya pun hanya diam, menatap kepergian mobil Satria dan keluarganya yang mulai hilang di balik gerbang besar rumah mereka.
"Maafkan Bunda sayang." Perkataan maaf tiba-tiba saja keluar dari mulut Sang Bunda membuat Gadis langsung beralih tatapnya melihat Bundanya yang kini sedang berjalan duduk di kursi yang berada tepat di belakang mereka.
"Kenapa meminta maaf Bun?" Tanya Gadis yang ikut duduk di samping Bundanya.
"Maafkan atas masa lalu Bunda, maaf karena Bunda tak yakin Satria akan melanjutkan hubungan kalian nantinya." Ucap Sang Bunda setelahnya beliau pun menjelaskan masa lalu beliau dulu yang berkaitan dengan keluarga Satria.
***
"Jadi Ayah dulu pernah menikah dengan Tantenya Satria Bun?" Pertanyaan pertama yang Gadis lontarkan saat sang Bunda baru beberapa saat memulai penjelasan masa lalunya.
"Ya sayang, mereka di jodohkan dan akhirnya menikah."
"Namun sebelumnya Ayah sudah menikahi Bunda lebih dulu tanpa persetujuan keluarga Ayahmu, satu minggu sebelum pernikahan Ayahmu berlangsung dengan Tantenya Satria."
Mendengar itu Gadis yang terkejut, nampak membiarkan saja Sang Bunda melanjutkan perkataannya.
"Hubungan kami tak mendapatkan restu dari keluarga Ayahmu, karena Bunda yang memang dari keluarga tak berpunya. Itu sebabnya Ayahmu memilih menikahi Bunda diam-diam, awalnya Bunda tak mau melanjutkan pernikahan tanpa restu itu. Namun Bunda yang terlalu mencintai Ayahmu, hingga Bunda tak memikirkan hal buruk kedepannya lagi."
"Kau tahu sayang, saat pernikahan Ayahmu baru berlangsung selama dua bulan lamanya. Akhirnya, pernikahan rahasia Bunda dan Ayah di ketahui oleh Tantenya Satria saat waktu itu Bunda terlalu bersemangat datang ke kantornya Ayah untuk mengatakan akan kehamilan Bunda. Dan tanpa sadar perbincangan kami di ketahui Tantenya Satria yang saat itu juga ingin menemui Ayah di waktu yang bersamaan, hingga membuat beliau yang saat itu juga sedang mengandung mengalami keguguran karena Shock berat. Beliau mengira Bunda adalah selingkuhan Ayahmu, hingga sampai saat ini pun pemikiran itu masih tetap sama."
"Alhasil Ayahmu di usir dari keluarganya sendiri tanpa membawa sepeserpun uang atau barang bersamanya. Kami akhirnya memutuskan untuk pergi dari kota Ayahmu, dan memulai hidup baru di kota kelahiran Bunda.
"Ayahmu akhirnya bisa membuka perusahaannya sendiri atas bantuan teman lamanya yang dulu juga Ayah bantu saat mengalami kesusahan, hingga kami tak terlalu susah setelah mengalami pengusiran."
"Apa Ayah masih tetap menjadi suami Tantenya Satria Bun?" Tanya Gadis.
"Sebelum kami benar-benar pergi dari kota Ayahmu, keluarga Satria terlebih dahulu mengurus perpisahan Ayah dengan Tantenya Satria, namun saat Ayah ingin meminta maaf pada keluarga mereka. Ayah tak mendapat maaf itu, hingga kini beliau sudah berpulang. Kebencian mereka tetap sama seperti yang kau lihat tadi."
"Bunda tahu, Bunda salah dalam hal ini yang mau-mau saja ketika di ajak menikah oleh Ayahmu. Padahal Bunda sudah tahu, jika hubungan Ayah dan Bunda tak akan pernah di restui bahkan sampai Ayahmu tiada sayang."
"Lalu kenapa Ayah mau di jodohkan Bun, Kalau sudah menikah dengan Bunda?"
"Itu sebagai syarat dari kakek mu yang saat itu dalam masa krisis di perusahaan mereka dan satu-satunya cara hanya menikahkan Ayahmu dengan Tante Satria. Mau tak mau akhirnya Ayahmu pun menyetujuinya."
"Apa Bunda nggak marah Ayah menikah lagi?"
"Bunda bisa apa sayang? setidaknya Ayahmu tak merahasiakan pernikahan itu dari Bunda, Bunda tak masalah. Hitung-hitung mengurangi dosa kami pada keluarga Ayah karena sudah menikah tanpa sepengetahuan keluarga besar mereka."
Mendengar semua kenyataan di masa lalu kedua orang tuanya itu, Gadis tak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa memeluk sang Bunda menyalurkan rasa agar sang Bunda tak bersedih mengingat kejadian dulu. Berharap pelukannya itu bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang sudah terkubur namun kini terbuka lagi karena hubungannya dengan Satria.
"Gadis sayang." Panggil sang Bunda sambil mengurai pelukan mereka karena tadi Gadis langsung memeluknya saat usai bercerita.
"Yah Bun?"
"Bagaimana perasaanmu dengan Satria?" Tanya Bunda hati-hati, karena beliau tahu Satria mungkin saja akan langsung memutuskan Gadis setelah tahu siapa putrinya itu.
"Gadis.. Gaaadis,, kita baru ketemu Bun, Gadis yakin cepat atau lambat perasaan Gadis akan hilang dengan sendirinya. Bunda dengar sendiri tadi kan, Gadis sudah di tolak. Lalu bagaimana bisa Gadis tetap egois mempertahankan perasaan Gadis.." Ucap Gadis dengan mencoba tetap tersenyum walau nada bicaranya tak bisa berbohong, sampai sampai dia tak menjawab pertanyaan sang Bunda.
"Maafkan Bunda Sayang." Ucap Bunda dan kembali memeluk Gadis, beliau menyesal karena masa lalunya Gadis mendapatkan dampaknya kini.
Tanpa terasa pelukan sang Bunda membuat Gadis tak bisa lagi membendung air matanya, karena dia sudah terlanjut mencintai Satria.
UNTUNG GADIS SETIA YG KERAS KPALA SPRTI SATRIA, HATI MRK TLH TRKUNCI UNTUK PRIA ATAUPUN WANITA LAIN, HINGGA BUJUKAN, DN DESSAKN DRI KLUARGA MRK TDK DIINDAHKN