Alvaro tidak tahu jika perceraiannya meninggalkan setitik kenangan yang tidak terhapuskan. Nyatanya sang mantan istri diam-diam mengandung benihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebenarnya Sudah Curiga
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Widya bersiap untuk mengantarkan baby Seno ke tempat biasa ia menitipkannya. Tak lupa ia juga menyiapkan beberapa perlengkapan putranya ini. Sayangnya ada satu hal yang ia lupakan, yaitu kedatangan Alvaro. Widya lupa, bisa saja pria itu akan kembali datang menemuinya.
Benar saja, saat dia keluar kamar, sudah ada dua orang yang duduk di ruang tamu. Mereka adalah Ibu Zanna dan juga Alvaro. Mereka tak hanya berdua, mereka datang ditemani Tasya dan juga Liana.
Tasya dan Liana berdiri menunggunya di depan pintu kamarnya.
"Ada apa, Lin? Kenapa kalian pagi-pagi ke sini? Apa ada masalah?" tanya Widya pada Liana, dengan muka masam.
"Sebelumnya aku minta maaf, Wid. Bukan aku mau menghianati kamu, aku hanya kasihan sama baby Seno. Ibu butuh ayahnya, Wid. Dia perlu mengenal ayahnya, tolong kamu jangan egois," jawab Liana, serius.
Widya menghela napas kesal. Tatapan penuh kebencian langsung ia suguhkan pada Alvaro dan juga Ibu Zanna. Widya tak suka mereka datang. Karena Widya tau, mereka pasti ingin merebut baby Seno darinya.
"Mereka sudah datang, mau gimana lagi," jawab Widya, sedikit ketus.
Melihat tatapan penuh kebencian Widya pada sang putra, hal ini tentu saja membuat Ibu Zanna merasa sedih dan perlu turun tangan.
"Wid, boleh kita bicara berdua?" tanya Ibu Zanna lembut.
Widya menilik jam tangannya, sebenarnya dia sudah telat. Hal tersebut tentu saja membuat Tasya paham, dengan cepat bos cantiknya ini pun mengucap memberi izin.
"Jangan takut soal kerjaan, Wid. Masalahmu ini jauh lebih penting. Selesai dulu masalah kalian, sini aku bantu jaga babymu," ucap Widyawati sembari meminta Baby Seno dari gendongan Widya. Sedangkan Liana langsung mengambil tas berisi perlengkapan bayi itu juga.
Sejenak Widya terdiam. Lalu ia pun mempersilahkan ibu mantan suaminya untuk masuk ke dalam kamar.
"Silakan masuk, Bu. Maaf sedikit berantakan," ucap Widya sembari membawa sang ibu mertua masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar tersebut, tampak begitu sederhana. Hanya ada satu sofa bed, satu kemari baju, satu meja kecil bersisi berlengkapan baby Seno, termasuk susu dan juga termos yang mungkin bersisi air panas. Di sudut lain juga ada dua keranjang berisi baju-baju Widya dan sang anak. Sungguh kehidupan yang bisa dikatakan di bawah kata layak.
"Maafkan, Mami, Sayang. Kamu jadi hidup seperti ini," ucap Ibu Zanna, tampak sedih menahan tangis.
"Tidak apa, Bu. Semua sudah berlalu, tidak ada yang perlu kita sesali. Tapi kalo saya boleh meminta, bisakah Ibu dan keluarga ibu tidak menganggu kehidupan saya dan putra saya. Di sini, meski kami hidup pas-pasan, tapi kami cukup bahagia, Bu. Saya dan putra saya, kami berdua baik-baik saja, Bu. Kalian nggak perlu khawatir," jawab Widya, mencoba menenangkan hati mantan ibu mertuanya ini. Sebab Widya yakin, jika hati wanita ini tenang, sudah pasti akan menuruti apa yang ia inginkan.
"Bagaimana kamu bisa bilang kehidupan seperti ini, kehidupan yang baik-baik saja anakku. Sedangkan ayah dari anakmu mampu memberi kelian kehidupan yang lebih baik," ucap Ibu Widya, tampak sedih.
"Saya dan ayahnya baby kan sudah berpisah, Bu. Kami nggak ingin menjadi beban kalian," tolak Widya, serius.
"Mami minta maaf, Sayang. Seharusnya dari awal Mami kasih tau Al, kalo penyebab dari perpisahan kalian adalah manipulasi papi kalian. Sungguh Mami ga tau kalo Al langsung mengambil keputusan se ekstrim ini. Al memang gegabah, seharusnya dia ajak Mami diskusi dulu. Tidak langsung mengambil keputusan yang menyakitimu seperti ini," ucap Ibu Zanna, penuh penyesalan.
Widya terdiam. Sebenarnya ia juga pernah curiga jika penyebab perceraiannya dengan sang suami adalah ulah dari ayah mertuanya. Namun Widya tak punya bukti untuk mengungkapkan kecurigaannya tersebut.
"Apapun alasannya, Bu, perpisahan saya dengan ayahnya baby sudah terjadi. Nggak ada yang perlu kita ungkit lagi. Toh saya dan beliau juga sama sama paham, kalo hubungan kami memang ga bisa dipertahankan. Terlepas dari masalah ini atau bukan, saya yakin kami pasti bercerai, mengingat pernikahan kami terjadi tanpa cinta, Bu," ucap Widya lembut.
Tak kuasa melihat wajah sedih sang mantan menantu, Ibu Zanna langsung memeluk Widya. Memeluknya dengan penuh kasih sayang. Sungguh ia merasa apa yang terjadi pada Widya, sama seperti yang pernah terjadi padanya. Dulu, Pak Tyo juga seperti itu, mengabaikannya karena merasa tak cinta. Bahkan perasaan abai itu ia rasakan sampai detik ini.
Bersambung...
tetap semangat thor ,makasih udah menghibur dgn karyamu, 🙏💪💪💪💪💪
aq lupa cerita nya🏃♀️🏃♀️🏃♀️
q menanti mu.....😥😥😥😥