Indonesia
NovelToon NovelToon
Dendam Kematian

Dendam Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Romansa Fantasi
Popularitas:64.7k
Nilai: 5
Nama Author: Setyarini

Dendam setelah dijebak dan dibunuh sebagai persembahan oleh Penyihir beraliran sesat, membuat Klarisa kembali hidup di dalam tubuh anak semata wayang Panglima Perang bernama Karina. Di kehidupan keduanya ini, Klarisa bertekad untuk membalaskan dendamnya. Tapi, berbagai macam rahasia dari pemilik asli tubuhnya saat ini justru membuatnya kewalahan.

“Apa malam panas yang kita habiskan bersama kurang memuaskan untukmu?” - Frey Kivandra.

“Omong kosong apa lagi ini?!” - Klarisa.

Akankah Klarisa bisa membalaskan dendamnya dengan mulus, tanpa tergoda dengan pesona mematikan Frey yang selalu mengejar cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Setyarini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kendalikan Emosi

***

Keesokan harinya, setelah mengobati dan mengganti perban pada luka di lengan tangannya, dengan cepat Klarisa segera pergi menuju Perpustakaan keluarga Kendrick dan mencari tahu mengenai batu-batu tua peninggalan jaman kuno dari buku.

Hingga beberapa menit kemudian, tanpa sadar Edwin berjalan memasuki Perpustakaan dan sudah berdiri tepat di belakang Klarisa yang terus fokus pada buku yang saat ini sedang ia baca “Apa yang sedang kamu baca?” tanya Edwin dengan berbisik dari bagian belakang telinga Klarisa, yang seketika itu juga membuat Klarisa tersentak dan segera menolehkan kepalanya.

“Ah, astaga! Bikin kaget saja… kenapa anda mengendap-endap seperti pencuri?” keluh Klarisa sambil mengusap dadanya sendiri dan menghela nafasnya dengan cukup kasar dihadapan Edwin.

Sedangkan Edwin yang melihat reaksi Klarisa, detik itu juga langsung mengambil buku yang Klarisa pegang sambil berkata “Kamu tidak sedang membaca buku dewasa, kan?” dengan tatapan curiganya “Eh?! Tentu saja!” balas Klarisa dengan reflek.

Dan benar saja, saat Edwin melihat isi buku yang sempat Klarisa baca dengan serius, saat itu juga Edwin kembali menatap Klarisa dengan sangat lekat sambil berkata “Kenapa kamu membaca buku ini? Apa yang sedang kamu cari tahu?” tanya Edwin dengan penuh rasa penasaran kepada Klarisa.

Klarisa yang mendengar pertanyaan Edwin itu pun langsung bergegas menujukkan gambar batu hitam pekat pada salah satu halaman buku di tangan Edwin, sambil berkata “Aku mencari tahu soal batu ini. Tapi, di buku ini hanya ada gambarnya saja… tanpa penjelasan apapun,” ucap Klarisa dengan wajah kecewanya.

Yang seketika itu juga membuat Edwin menatap gambar batu hitam pekat yang Klarisa tunjukkan “Setahuku, ini adalah batu sihir jaman kuno yang cukup berbahaya,” kata Edwin dengan nada dan ekspresi yang sangat serius.

“Sesuai dugaanku! Batu itu pasti batu sihir!” balas Klarisa dengan reflek lagi “Tapi, kenapa berbahaya?” sambung Klarisa dengan mengajukan pertanyaan kepada Edwin.

“Karena kekuatan sihir di dalam batu ini dapat mencelakai manusia, selain itu… semakin besar ukuran batunya… semakin besar juga kekuatan sihirnya,” jawab Edwin yang dengan baiknya mau berbagi ilmu pengetahuannya kepada Klarisa.

Klarisa yang mendengar penjelasan Edwin itu pun langsung menganggukkan kepalanya dan mulai berpikir “Bagaimana caranya untuk menghancurkan semua batu sihir itu?” dengan wajah seriusnya.

Dan di tengah-tengah pemikiran Klarisa yang sangat serius itu tiba-tiba Edwin kembali berkata “Oya, orang tua dulu juga pernah bilang… kalau batu sihir ini bisa juga dijadikan sebagai media untuk melakukan perjanjian darah dengan Iblis jahat!” ucap Edwin dengan penuh percaya diri.

“Perjanjian darah dengan Iblis… katamu?!” kaget Klarisa dengan kedua bola matanya yang melebar.

“Iya, karena itu lah isu mengenai banyaknya Aliran sesat sempat buat kegaduhan!” balas Edwin sambil menutup buku yang ia pegang sejak tadi dan kembali menatap Klarisa dengan tatapan lekatnya.

Setelah berusaha mencerna perkataan Edwin, Klarisa pun semakin yakin kalau yang seharusnya ia serang terlebih dulu bukanlah sosok penyihirnya melainkan batu-batu sihir yang sepertinya sudah banyak memakan korban di berbagai tempat “Ah… memusingkan sekali,” keluh Klarisa sambil mengusap keningnya sendiri yang saat ini terasa sangat penat.

“Tapi, tidak perlu khawatir… aku dengar batu sihir seperti ini sudah tidak ada lagi!” ucap Edwin setelah ia melihat betapa frustasinya Klarisa.

“Tidak, batu sihir itu masih ada!” balas Klarisa sambil menghela nafas panjangnya dengan sangat kasar, yang seketika itu juga membuat Edwin mengerutkan dahinya dan merasakan firasat buruk dari perkataan Klarisa.

Klarisa yang masih penasaran mengenai batu sihir berwarna hitam pekat itu pun kembali melangkahkan kakinya untuk mendekati rak buku dan tepat pada saat Klarisa akan menggapai salah satu buku tua, saat itu juga Edwin menahan tangan Klarisa sambil berkata “Lebih baik hentikan saja,” dengan nada bicaranya yang terdengar sangat serius dan tegas kepada Klarisa.

“Apa katamu?” tanya Klarisa sambil menolehkan kepalanya ke arah Edwin lagi.

Edwin pun segera membalas tatapan mata Klarisa dengan sangat lekat dan berkata “Semakin banyak yang kamu tahu, kamu akan terluka Karina.” Dengan nada bicaranya yang penuh dengan penekanan di setiap katanya.

Detik itu juga, dengan reflek Klarisa pun menghempaskan tangan Edwin yang menggenggam pergelangan tangannya. Setelah itu membalas perkataan Edwin “Tidak ada yang bisa menghentikanku,” dengan tatapan matanya yang sangat tajam dan nada bicaranya yang cukup ketus kepada Edwin.

Yang seketika itu juga membuat Edwin merasa kesal dan dengan cepat kembali berkata “Kalau begitu, setidaknya bagilah bebanmu kepadaku! Aku akan membantumu dan berjuang bersamamu, Karina!” pinta Edwin dengan nada bicaranya yang meninggi dan mengeras kepada Klarisa, yang detik itu juga membuat Klarisa terkejut dengan perkataan Edwin.

“Ya?” gumam Klarisa dengan kedua bola matanya yang melebar, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut pria dihadapannya itu.

“Luka di lenganmu ini! Kamu bilang… kamu terluka, karena tanpa sengaja mengenai ranting pohon saat sedang ke toilet sendirian. Tapi, aku tidak sebodoh Kimi… aku yakin, luka itu karena benda tajam seperti pedang!” sambung Edwin sambil menunjuk perban yang membalut luka pada lengan tangan Klarisa.

“Eh… tenanglah Tuan Edwin,” pinta Klarisa dengan nada bicaranya yang menjadi sangat canggung kepada Edwin.

Tapi, bukannya menjadi tenang, dengan tatapan tajamnya Edwin melangkahkan kakinya ke hadapan Klarisa, yang seketika itu juga membuat jarak di antara mereka berdua jadi semakin dekat, sambil berkata “Kamu tidak bisa membodohiku, Karina.” Dengan nada bicaranya yang sangat berat dan tatapan matanya yang terasa semakin intens kepada Klarisa.

Klarisa yang merasa sangat terpojok dan tidak tahu apa yang sebenarnya Edwin inginkan dari dirinya, detik itu juga langsung menelan ludahnya “Glup!” dan entah kenapa udara di sekitar tubuhnya menjadi sangat tegang bagaikan sedang terjadi perang dingin di antara dirinya dan Edwin.

Hingga beberapa detik kemudian, suasana tegang itu pun mencair karena tiba-tiba Kimi datang memanggil nama Karina “Nona Karina!” yang seketika itu juga membuat Edwin dengan reflek melangkah mundur dan Klarisa pun bisa dengan cepat keluar dari balik rak buku untuk menemui Kimi “Ya… ya? ada apa?” tanya Klarisa sambil berusaha menghilangkan perasaan gugupnya.

“Ada Petugas keamanan dari pusat Kota yang tiba-tiba datang ingin menemui anda, Nona.” Jawab Kimi dengan tatapan khawatirnya kepada Klarisa.

“Oh… kerjanya cepat sekali!” gumam Klarisa sambil memasang senyuman tipisnya dan tanpa berlama-lama lagi Klarisa segera melangkahkan kakinya untuk pergi keluar dari Perpustakaan dan menemui tamunya.

“A-anda tidak membuat masalah, kan?” panik Kimi yang saat ini dengan cepat mengikuti langkah Klarisa dari belakang “Tentu saja, tidak!” balas Klarisa kepada Kimi.

Sedangkan Edwin yang masih berada di dalam Perpustakaan, detik itu juga langsung mengusap wajahnya sekilas dan bergumam kepada dirinya sendiri “Hah… kendalikan dirimu, Edwin!” dengan nada bicaranya yang penuh amarah, karena entah sejak kapan ia menjadi sangat protektif kepada Klarisa dan sulit untuk mengendalikan perasaannya.

1
Aiko Clearesta
up nya mna thor
Haha^^
Selalu seru buat ditunggu tiap babnya~ Semangat Thorr
Hikma Altair
seru ...lanjut thor
Eka Priyanti
up
Eka Priyanti
seru Thor makasih upnya
Mbu'y Fahmi
lanjut thor
Ddyani
Bikin ketagihan + penasaran gimana caranya Klarisa balas dendam ke Ibu tirinya 🤔
Ayo update yg banyak kak! 😁
pinkgirl
Parah banget si Klarisa wkwk 🤣🤭
pinkgirl
Cintanya Frey ke Klarisa ugal-ugalan bangett Thor~ Jadi gemesss 😍
Jojo Kuy
wkwk jadi kerjar-kejaran kan tuh~
Haha^^
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!