Indonesia
NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: tamat
Genre:Hantu / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:221.3k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Sapri

"Ya sudah, yang penting jangan sampai kamu jalan sendiri kayak orang kesurupan saja." katanya setengah bercanda.

Daud hanya tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan Jaka di pos ronda.

"Sudah siap?" tanya Jaka singkat.

"Siap." Udin mengangguk mantap.

Daud hanya mengangguk pelan.

Tanpa banyak bicara, mereka bertiga mulai berjalan menyusuri jalan desa.

Langkah kaki mereka terdengar pelan di atas tanah. Senter di tangan Jaka menyapu jalan di depan mereka. Sesekali cahaya itu mengenai pagar bambu, pepohonan, atau rumah-rumah warga yang sudah tertutup rapat.

Tidak ada suara obrolan warga yang terdengar karena setelah sholat isya orang-orang sudah mengunci pintu dan mungkin memaksa mata untuk tidur.

Hanya ada suara jangkrik, dan langkah mereka sendiri.

Jaka berjalan di depan.

Matanya tajam, sesekali menoleh ke kiri dan kanan.

"Jangan sampai ada yang lengah." katanya pelan.

"Iya, Jak." Jawab Udin.

Daud tetap diam.

Dia berjalan di belakang, sesekali menoleh ke arah belakang seolah memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.

Mereka melewati rumah Pak Sugeng. Tanpa sadar, langkah Daud melambat. Lampu redup di terasnya bergoyang tertiup angin.

Daud menelan ludah. Dalam sekejap, bayangan malam saat jenazah Seno terbujur di sana kembali muncul di kepalanya.

"Dud… ngapain berhenti?" suara Udin membuatnya tersadar.

"Eh… tidak apa-apa." Jawab Daud cepat, lalu mempercepat langkahnya menyusul.

Jaka sempat meliriknya, tapi tidak berkata apa-apa.

Malam semakin larut. Udara terasa semakin dingin ketika mereka akhirnya kembali ke pos ronda. Langkah ketiganya sedikit lebih berat setelah berkeliling cukup jauh menyusuri desa.

Jaka langsung duduk di bangku kayu panjang.

"Kita istirahat sebentar." Katanya singkat.

Udin mengangguk, lalu menjatuhkan diri di sampingnya.

"Capek juga." Gumamnya sambil meregangkan kaki.

Daud duduk di ujung bangku. Tangannya masih memegang senter, namun matanya justru menatap ke arah jalan gelap di depan pos ronda.

Hanya lampu kecil di pos ronda yang menerangi area sekitar.

"Sejauh ini aman, ya." kata Udin lalu menguap.

"Iya. Tapi tetap jangan lengah." Jaka hanya mengangguk pelan.

Daud masih diam. Pikirannya entah ke mana.

Tanpa sadar, bibirnya kembali bergerak pelan.

Mengulang sesuatu. Sangat lirih.

Udin melirik sekilas.

"Kamu hapal doa lagi?" Tanya Udin.

Daud langsung tersadar dan menghentikan.

"Eh… tidak." Katanya cepat.

Udin menghela napas, lalu bersandar.

Beberapa saat kemudian angin bertiup lebih kencang.

Lampu di pos ronda bergoyang pelan.

Krekk…

Suara kayu tua berderit.

Daud menoleh ke arah suara itu.

Jaka juga langsung siaga.

"Ada yang dengar?" tanyanya pelan.

Udin langsung duduk tegak.

"Iya… dari belakang pos."

Mereka bertiga saling berpandangan.

Tanpa banyak bicara, Jaka berdiri dan mengangkat senternya.

"Ayo, kita cek."

Daud menelan ludah.

Udin ikut berdiri Perlahan. Mereka bertiga berjalan memutar ke belakang pos ronda.

Cahaya senter menyapu tanah, semak-semak, dan bayangan pepohonan.

Saat cahaya itu bergerak lebih jauh.

Daud tiba-tiba berhenti.

"Ngg… tunggu…" bisiknya.

Jaka dan Udin menoleh.

"Apa?" tanya Jaka.

"Di situ..." Daud menunjuk pelan ke arah semak di belakang.

Cahaya senter diarahkan ke sana, daun-daun bergoyang pelan.

Baru saja, ada sesuatu yang bergerak.

Srrrkk…

Daun-daun bergesekan, membuat suasana semakin mencekam. Bulu kuduk mereka bertiga langsung berdiri.

"Siapa itu?" Tanya Jaka yang mengangkat senternya lebih tinggi. Dia teriaknya tegas ke arah kegelapan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang terdengar.

"Jak… jangan-jangan." Udin menelan ludah. Dia susah trauma terakhir kali ronda keliling bersama pak Warsito malah menemukan mayat Herman.

"Diam." Potong Jaka pelan.

Perlahan, mereka bertiga melangkah mendekat.

Langkah demi langkah. Jarak semakin dekat.

Sosok itu masih berdiri diam. Tidak bergerak sama sekali. Tidak juga bersuara.

Jaka mengarahkan senternya tepat ke arah wajah sosok itu.

Dan.... semua membeku.

"Ya Allah…" Ucap Udin tergagap.

"S… Sapri…"

Wajah itu, mereka mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya.

Sapri.

Pemuda yang sudah meninggal sebulan yang lalu.

Tapi, sekarang berdiri di depan mereka.

Dengan tubuh kaku dan wajahnya pucat.

Dan yang paling mengerikan, matanya. Putih seluruhnya, tanpa pupil hitam. Menatap lurus ke arah mereka.

Daud mundur selangkah. Napasnya tercekat.

"Tidak… tidak mungkin..." Gumamnya.

Tiba-tiba... kepala Sapri sedikit miring. Gerakannya kaku.

Lalu....

bibirnya bergerak.

"Daaauuud…" Suaranya serak, seperti berasal dari tenggorokan yang kering.

Daud langsung gemetar.

"Kaauu… haaaruus… ikut…"

"Bertanggung jawab…" Suara itu seperti menghantam dada Daud.

Tanpa pikir panjang, Daud langsung berbalik.

"AAAH!" teriaknya.

Dia berlari sekencang-kencangnya. Langkahnya tak beraturan. Kakinya terasa ringan, seperti tidak benar-benar menapak tanah. Nafasnya terengah-engah, dadanya sesak, pikirannya kosong yang ada hanya satu keinginan, segera pergi sejauh mungkin dari sosok itu.

Sementara itu, Jaka dan Udin masih berdiri di tempat. Keduanya kaku tidak bergerak.

"Jak..." suara Udin gemetar.

Jaka tidak menjawab. Bibirnya mulai komat-kamit, membaca doa yang dia hafal.

Udin ikut-ikutan.

"Bismillah… Mismika allahumma ahya..." Dia melafalkan doa tidur dengan terbata-bata. karena panik, semua doa bercampur.

"Allahumma bariklana… eh… itu doa makan." Katanya sendiri, makin kacau.

Jaka melirik sekilas.

"Yang bener, Din." Bisiknya tegang.

"Aku panik, Jak…" Jawab Udin hampir menangis.

Sementara di depan mereka, sosok itu masih berdiri Diam menatap.

Udin menelan ludah.

"Daud tidak setia kawan sekali, kita malah di tinggal." Ujarnya pelan.

"Diam Din, fokus saja baca ayat." Desis Jaka.

Udin mengangguk cepat, meski suaranya masih gemetar dan hampir hilang.

Beberapa detik berlalu, namun sosok itu tidak hilang.

Udin mulai gelisah.

"Jak…" Ucapnya lagi.

"Apa lagi…" Jawab Jaka kesal.

"Aku pernah lihat di film horor." Kata Udin.

Jaka menoleh.

"Kalau kita pejam mata, nanti pas dibuka, hantunya sudah hilang."

Jaka terdiam.

Dalam keadaan seperti ini, dia benar-benar kehabisan cara.

"Yakin?" tanyanya.

"Ya… di film begitu…" jawab Udin ragu.

Jaka menghela napas.

"Ya sudah." Akhirnya mereka berdua memejamkan mata sambil terus membaca doa.

*****

Jangan lupa tinggal jejak dengan like, komen dan kasi bintang lima ya... Terima kasih.

1
Irvan Mlnaaa
👍
Yeni Yulita
pantas saja aning jadi brutal dan sadia, pelakunya saja lebih dri binatang, lebih dri 10 ekor💪
Nur Habibah
hrusx ada translatex. g smua pmbaca ngerti bhs jawa
🅶ɪꜱ_❀∂я ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝© §͜¢•🦢🍒
nice
Putri Handayani
sama... kayak ikutan disitu
Erna wati
setuju aning balas dendam mu
falea sezi
binatang
falea sezi
biadap pantas mati😒
syska
ᴋᴇʀᴇᴇᴇᴇᴇᴇɴɴɴ ʙᴀɴɢᴇᴛ ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ...
ᴋᴀʏᴀ ᴋɪsᴀʜ ɴʏᴀᴛᴀ ...
ᴋɪsᴀʜ ʏɢ ʙᴇɴᴀʀ ʙᴇɴᴀʀ ᴀᴅᴀ ᴅɪ ᴅᴀᴇʀᴀʜ ᴋɪᴛᴀ..
ʙᴀᴄᴀɴʏᴀ sᴀᴍᴘᴇ ᴀᴅᴀ ᴍᴇʀɪɴᴅɪɴɢɴʏᴀ, ᴛᴇʀᴜᴛᴀᴍᴀ sᴇᴅɪʜɴʏᴀ...
ᴀᴋᴜ ɴᴀɴɢɪs ᴛʜᴏʀ ᴅɪ ᴇᴘɪsᴏᴅᴇ ᴛʀᴀᴋʜɪʀ...
ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ ᴋᴇʀᴇᴇᴇɴɴ ᴀʙɪɪs.....❤️❤️❤️
Sri Mulyati
yg bunuh aning kayanya pak desanya buat nutupin bejad anaknya
Sri Mulyati
otak pemerkosa kayanya anak kepala desa
Sri Mulyati
alurnya sdb bagus cuma kosa katanya v enak di baca pak desa harusnya kepala desa
Maure Nia
keren ceritanya👌
❤️‍🩹
seru bangett ceritanya thorr, endingnya juga memuaskan😍
Nurul Syahriani
harus nya yg bahasa jawa ada translate nya.. apalah aku yang melayu ini gak ngerti
Novia putrirahma Novia
kapann akan ter'ungkapp msa nunggu bu'darsiah matii😭😭😭
Nnada
ceritanya keren,
Nano Karang indah
ya ampun thoor critanya bagus banget walaupun ada ngeri2 sedapnya endingnya bikin nangis💪💪💪
Lis Lis
Su ujon AQ sana Tomo ....
kirain Tomo yg duluan
Lis Lis
lagian heran jga ponis polisi maz g keliatan klo dia belas perkosa rame rame malah perampokan G jls betul polisi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!