Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
POV Cecília
Saat perpisahan tiba lebih cepat dari yang kuinginkan. Sekeras apa pun aku mempersiapkan diri secara batin, tak ada yang bisa meredakan beban yang menekan dadaku pada saat itu. Aku akan meninggalkan segala yang kukenal... dan semua yang kucintai.
Kini aku bukan sekadar Maria Cecília Santana.
Aku adalah Ingrid Cecília Hansen Ragnar.
Dan itu mengubah segalanya.
Tetapi sebelum awal yang baru... ada perpisahan-perpisahan.
Yang paling sulit di antaranya, setelah dengannya, adalah dengan Ana Paula.
Kami berdua berada di taman mansion, agak menjauh dari keramaian. Aku tak ingin momen itu disaksikan orang lain. Sebagian hal terlalu pribadi untuk dibagi.
Ketika pandangan kami bertemu, tak satu pun dari kami sanggup mempertahankan sikap tegar lama-lama.
Ia menghampiriku lebih dulu.
Dan kemudian... kami berpelukan.
Erat.
Rapat.
Seolah kami ingin menghentikan waktu agar tak terus berjalan.
"Aku tak percaya kau akan pergi," ucapnya, dengan suara tersendat.
"Aku juga tak percaya..." jawabku, merasakan air mata menetes tanpa meminta izin.
Kami menangis. Tanpa malu. Tanpa berusaha tampak kuat.
Karena ini bukan sekadar perpisahan.
Ini adalah perpisahan dua orang yang telah bertahan bersama melewati segalanya.
"Kau janji akan kembali?" tanyanya, sambil menangkup wajahku.
"Aku janji. Ini bukan ucapan selamat tinggal, Paulinha... ini hanya sampai jumpa lagi."
Ia mengangguk, tetapi aku tahu, sama sepertiku, ia pun merasa takut. Takut bahwa hidup akan berubah begitu banyak sampai tak ada lagi yang kembali seperti semula.
Tetapi aku takkan membiarkan itu terjadi.
Ia adalah keluargaku.
Dan itu takkan pernah berubah.
Kami berpelukan sekali lagi, bahkan lebih erat, dan butuh upaya keras untuk saling melepaskan.
Ketika aku menjauh, aku merasa seolah meninggalkan sebagian diriku di belakang.
Tetapi masih ada satu perpisahan lagi...
Yang paling sulit dari semuanya.
Aku tahu di mana harus mencarinya.
Paolo Salvatore bukanlah lelaki yang suka berpamitan di depan umum. Ia takkan pernah menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain. Dan, dalam beberapa hal... aku memahaminya.
Karena itu aku pergi ke ruang kerja.
Setiap langkah menuju pintu itu terasa lebih berat dari langkah sebelumnya. Jantungku berdegup begitu kencang sampai aku bisa merasakan gemanya di sekujur tubuhku.
Aku menarik napas dalam-dalam... lalu masuk.
Ia sedang membelakangiku, memandang ke luar jendela.
Berwibawa.
Kuat.
Tetapi aku cukup mengenalnya untuk menyadari... ia sedang berusaha mengendalikan diri.
"Paolo..." panggilku, suaraku keluar lebih rendah dari yang kumaksudkan.
Ia berbalik perlahan.
Dan ketika pandangan kami bertemu... segala di sekeliling lenyap.
Aku tak berpikir.
Tak ragu.
Aku hanya berlari ke arahnya.
Dan memeluknya.
Kubenamkan wajahku di dadanya, merasakan kehangatannya, aromanya... seolah aku ingin menyimpan itu bersamaku selamanya.
"Aku akan sangat merindukanmu..." bisikku, sudah menangis.
Lengannya mendekapku erat. Sebuah kekuatan yang tak menyakiti... tetapi yang mengatakan segala hal yang takkan pernah ia ucapkan lantang.
Aku menjauh sedikit, secukupnya untuk menatap matanya.
"Aku mencintaimu."
Kali ini, akulah yang mengucapkannya lebih dulu.
Dan tak ada rasa takut.
Tak ada keraguan.
Hanya kebenaran.
"Aku akan meneleponmu setiap hari," lanjutku, mencoba tersenyum di sela air mata. "Dan kau harus segera menyusulku... jangan buat aku menunggu terlalu lama."
Ia mengusap wajahku, menyeka air mataku dengan kelembutan yang berlawanan dengan segala yang ia lambangkan.
Aku bisa melihat usahanya.
Ia tak ingin menangis.
Ia tak boleh.
Tetapi matanya... mata tak pernah berdusta.
Dan matanya sarat oleh segala yang tak ia katakan.
Lalu ia menarikku kembali.
Dan menciumku.
Sebuah ciuman panjang.
Dalam.
Menggebu.
Seolah itulah satu-satunya hal yang berarti pada momen itu.
Seolah kami sedang berusaha mengukir pada diri satu sama lain kepastian bahwa ini bukanlah akhir.
Ketika kami menjauh, kutempelkan dahiku ke dahinya sesaat.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Karena jika aku tinggal di sana semenit lagi... mungkin aku takkan punya kekuatan untuk pergi.
"Aku akan kembali untukmu..." bisikku.
Dan kemudian... aku menjauh.
Tanpa menoleh ke belakang.
Karena aku tahu... jika aku menoleh, aku takkan sanggup pergi.
Perjalanan menuju hanggar terasa bagai kabur samar. Aku ingat suara-suara, gerakan, orang-orang... tetapi tak ada yang benar-benar jelas.
Seolah tubuhku ada di sana... tetapi pikiranku masih tertinggal di ruang kerja itu.
Bersamanya.
Kami masuk ke pesawat.
Kedua orang tuaku ada di sisiku, berbincang denganku, mencoba mengalihkan perhatianku... dan aku berusaha menanggapi. Sungguh-sungguh.
Karena aku bahagia.
Aku memang bahagia.
Tetapi aku juga sedang meninggalkan semua yang membentuk diriku.
Perjalanan itu berlangsung sekitar tiga setengah jam.
Dan, ketika pesawat mulai menurun, jantungku kembali berdegup kencang.
Tetapi kali ini... karena alasan lain.
Kecemasan.
Rasa ingin tahu.
Barangkali... rasa memiliki tempat.
Ketika kami mendarat dan aku turun dari pesawat, kurasakan udara dingin menyentuh wajahku.
Terasa berbeda.
Lebih murni.
Lebih menusuk.
Kupandang sekeliling...
Dan semuanya seakan keluar dari sebuah mimpi.
Kota itu terbentang di hadapanku dengan keindahan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Rumah-rumah berarsitektur anggun, atap-atap miring, jalan-jalan yang bersih dan tertata. Di kejauhan, gunung-gunung berselimut salju melukis cakrawala, seolah menjadi penjaga bisu tempat itu.
Langitnya bernuansa lebih terang, nyaris keperakan.
Dan udaranya... udara itu beraroma berbeda.
Aroma sesuatu yang baru.
Aroma sebuah awal yang baru.
"Selamat datang di rumah," ucap ayahku, di sisiku.
Rumah.
Kata itu bergema di dalam diriku.
Dan, pada saat itu... aku mengerti.
Di sini... inilah awalku.
Di sini... inilah tempat segalanya bermula.
Dan sekarang... inilah tempat aku memulai kembali.
Aku menarik napas dalam-dalam.
Dan, dengan satu pikiran bisu yang terakhir, aku berpamitan dengan diriku yang dahulu.
Maria Cecília Santana tertinggal di belakang...
Dan aku melangkah maju.
Sebagai Ingrid Cecília Hansen Ragnar.
Putri seorang Dom.
Pewaris sebuah kisah yang masih terus ditulis.
Dan, di atas segalanya...
Seorang wanita yang siap menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya.