Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Akses ke Keluarga Rahardja
Marco berkedip beberapa kali. "Lamaran?"
Sebelum Marco sempat bertanya lebih jauh, Enzo kembali membuka suara. "Sesuaikan dengan posisiku sebagai CEO."
Baru kali ini Enzo mengangkat wajahnya. "Jangan beli barang murahan."
Tatapannya tetap tenang, tetapi tegas. "Karena calon istriku sangat berharga."
Marco terdiam beberapa detik. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Jadi Bos yang selama ini dingin ternyata bisa bucin juga," batinnya.
"Baik, Bos. Saya urus sekarang juga."
Ia membungkukkan badan tipis, lalu berbalik menuju pintu. Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, suara Enzo kembali terdengar.
"Marco."
Marco menoleh.
"Malam ini pukul tujuh, ikut denganku mengantar hantaran."
"Hah?" Mata Marco membulat. "Malam ini?"
"Iya."
Marco melirik jam tangan. Waktunya benar-benar mepet.
"Tapi tenang saja, Bos." Senyum tipis muncul di wajahnya. "Walaupun mendadak, saya pastikan hadiah lamaran untuk calon Nyonya Enzo gak akan mengecewakan."
Enzo hanya mengangguk singkat. "Itu memang tugasmu."
Marco tersenyum kecut. "Bos tetap Bos. Dipuji pun tetap datar."
Baru saja ia hendak melangkah keluar, suara Enzo kembali menghentikannya.
"Marco."
Marco memutar tubuhnya. "Ya, Bos?"
"Nanti malam pakai pakaian staf biasa."
Marco berkedip. "Staf biasa?"
"Iya."
Marco menggaruk pelipisnya pelan. "Sebentar... jadi aku disuruh membawa hantaran lamaran seorang CEO, tapi harus berpakaian seperti staf biasa?"
Keningnya makin berkerut. "Jangan-jangan Bos juga mau datang pakai pakaian staf? Terus... beliau mau ngenalin diri sebagai apa? Masa calon mertua dibohongin?"
Melihat Marco masih berdiri mematung, Enzo akhirnya mengangkat wajah dari layar laptop. "Kenapa masih di situ?"
Marco tersentak. "Ah... anu, Bos."
"Hm?"
"Nanti di rumah calon mertua... saya manggil Bos apa?"
Enzo terdiam beberapa detik, lalu menjawab singkat, "Tetap panggil 'Bos'."
Marco menghela napas lega. "Baik, Bos."
Setidaknya ia tidak perlu menghafal panggilan baru. Namun baru dua langkah berjalan, pikirannya kembali dipenuhi tanda tanya.
"Bos nyuruhku tetap manggil 'Bos', tapi beliau sendiri datang menyamar sebagai staf biasa..."
Marco menggeleng pelan.
"Sudahlah. Tugas asisten itu menjalankan perintah, bukan mempertanyakan jalan pikiran atasannya. Lagian... mana pernah aku berhasil menebak isi kepala si Bos?"
Senyum tipis muncul di bibirnya. "Kasihan juga calon mertua Bos. Malam ini mereka bakal dibuat bingung."
Dengan langkah cepat, Marco pun meninggalkan ruang CEO untuk menyiapkan segala keperluan lamaran. Di dalam kepalanya, ia sudah mulai menyusun daftar hadiah yang pantas dibawa oleh seorang CEO saat melamar wanita yang begitu dihargai atasannya.
***
Sementara di Gedung Arkana Global Logistics Marco sibuk menyiapkan lamaran Enzo, di ruang kerja CEO Rahardja Group, Rahardja justru tengah bersiap membongkar sesuatu yang bisa mengubah pandangannya terhadap putri bungsunya.
Pria itu mendorong map kontrak ke arah Direktur Legal & Compliance. "Pak Danu, ini kontrak investasi yang saya ceritakan semalam."
Danu segera mengambil map tersebut. Ia membuka beberapa halaman pertama. Matanya bergerak cepat membaca poin-poin penting.
"Saya akan memeriksa garis besarnya terlebih dahulu. Setelah itu baru saya teruskan ke divisi legal untuk telaah menyeluruh."
Rahardja mengangguk. "Berapa lama?"
Danu berpikir sejenak. "Kalau hanya pemeriksaan awal, sekitar satu sampai dua jam saya sudah bisa memberi gambaran apakah ada klausul yang mencurigakan."
Ia mengetuk pelan map itu. "Tapi kalau sampai analisis hukum secara menyeluruh, termasuk risiko, celah, dan konsekuensi tiap pasal..."
Danu mengangkat pandangannya. "Minimal satu hari kerja. Bisa lebih cepat kalau saya minta tim legal memprioritaskannya."
Rahardja mengangguk pelan. "Prioritaskan."
"Baik, Tuan."
Setelah Danu pergi, Rahardja mengembuskan napas panjang. Pikirannya kembali pada pembicaraannya dengan Chantika semalam.
Yang paling membekas bukan hanya nama Bryan Adi Jaya, melainkan satu fakta yang terus mengusik benaknya.
Saras masuk ke kamar Bryan pada malam hari... dan baru keluar keesokan paginya.
Rahardja memejamkan mata sesaat.
"Aku sudah berusaha mendidikmu sebaik mungkin. Aku sudah berusaha berlaku adil kepadamu. Kalau pada akhirnya kamu memilih jalan yang salah... itu adalah pilihanmu sendiri."
Perlahan ia membuka kembali matanya.
"Tapi aku masih berharap... semua dugaan ini keliru."
***
Sore hari di Arkana Global Logistic, Marco kembali masuk ke ruangan CEO.
"Bos, semua hantaran sudah siap. Tinggal berangkat nanti malam."
Enzo mengangguk singkat. "Bagus."
Tok! Tok!
Enzo melirik ke arah pintu. "Masuk."
Seorang pria berjas bersama Kepala Divisi Legal melangkah masuk. "Selamat sore, Tuan Enzo. Dokumen yang Tuan minta sudah selesai."
Ia menyerahkan sebuah map kulit berwarna hitam.
Enzo membukanya sekilas, memastikan seluruh dokumen telah lengkap. "Terima kasih."
"Kami juga sudah menyiapkan akta hibah hotel, vila, serta dokumen pengalihan tiga puluh persen saham sesuai instruksi Tuan."
Marco langsung membeku. "Tiga... puluh persen saham?"
Ia sampai menoleh kepada Enzo. Bos serius?
Enzo hanya menutup map itu. "Bagus. Kalian boleh kembali."
Setelah notaris keluar, Marco masih berdiri dengan wajah tidak percaya. "Bos..."
"Hm?"
"Itu... hadiah lamaran?"
"Iya."
Marco menelan ludah. "Bos... kalau saya jadi calon mertua, saya juga langsung kasih restu."
Enzo hanya melirik datar. "Kamu bukan calon mertuaku."
"..."
Marco langsung terdiam. "Nah, ini Bos yang aku kenal."
***
Sementara itu di ruang rapat kecil Rahardja Group, suasana terasa hening.
Rahardja duduk di ujung meja. Di hadapannya, Danu, Direktur Legal & Compliance, baru saja meletakkan map hasil pemeriksaan.
"Sudah selesai?" tanya Rahardja tenang.
"Sudah, Tuan" Danu membuka salah satu halaman yang telah diberi penanda. "Seperti dugaan Bapak, kami menemukan satu klausul yang sangat bermasalah."
Rahardja tidak tampak terkejut. Seolah memang sudah menunggu kalimat itu. "Tunjukkan."
Danu menggeser kontrak ke hadapan Rahardja. "Pasal sebelas, ayat tiga."
Rahardja membaca sekilas.
> Selama masa kerja sama berlangsung, Saudari Saras Rahardja wajib memberikan prioritas kepada setiap permintaan Investor yang berkaitan dengan proyek ini, termasuk apabila permintaan tersebut berbenturan dengan tugas lain yang sedang ditanganinya.
Rahardja menutup map perlahan. "Jelaskan."
Danu mengangguk. "Kalimat setiap permintaan yang berkaitan dengan proyek tidak memiliki batasan hukum yang jelas."
"Artinya?"
"Investor dapat menafsirkan sendiri apa yang dimaksud dengan 'berkaitan dengan proyek'."
Danu membuka catatan analisis. "Misalnya meminta rapat di luar kantor. Makan malam. Perjalanan dinas berdua. Atau pertemuan di hotel."
Ruangan mendadak sunyi.
Rahardja tetap tenang. Namun jemarinya perlahan mengepal.
Danu melanjutkan, "Kalau terjadi sengketa, klausul ini justru bisa dijadikan dasar bahwa permintaan investor merupakan bagian dari kerja sama."
Rahardja mengangguk pelan. "Persis seperti yang saya khawatirkan."
Danu sedikit mengernyit. "Tuan sudah menduganya?"
Rahardja tidak langsung menjawab. "Semalam seseorang menunjukkan kepada saya sesuatu yang membuat saya merasa kontrak ini harus diperiksa."
Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Ia belum ingin menyeret nama Chantika ataupun Saras ke dalam pembahasan.
"Klausul ini sengaja dibuat."
Danu mengangguk mantap. "Kesimpulan kami juga begitu. Secara redaksi, klausul ini tidak lazim. Seolah-olah disusun untuk menguntungkan satu pihak tertentu, bukan untuk melindungi kepentingan kerja sama."
Rahardja menyandarkan punggungnya. Tatapannya perlahan mengeras.
"Kalau begitu..." Ia menutup map itu. "...Bryan memang tidak sedang mencari investasi."
Rahardja berhenti sejenak. "Ia sedang membeli akses ke keluarga Rahardja."
...🔸🔸🔸...
..."Cinta yang tulus tidak mencari jalan pintas untuk memiliki. Ia datang membawa penghormatan, bukan jebakan."...
..."Kesungguhan tidak selalu diucapkan. Kadang ia hadir dalam tindakan yang membuat seseorang merasa begitu berharga."...
..."Nilai seseorang tidak diukur dari mahalnya hadiah yang ia bawa, tetapi dari ketulusan alasan mengapa ia memberikannya."...
..."Satu pria membuktikan cintanya dengan penghormatan. Pria lainnya menyembunyikan niatnya di balik tanda tangan."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Vito menghubungi Enzo. Memberitahu sudah dapat indentitas pria yang menyandera Chantika.
Enzo hanya diam. Dia menatap foto itu.
Orangnya sudah menghilang, tapi anak buah Vito sedang mengikuti jejaknya
Teruskan. Hanya itu yang terucap dari Enzo.
Pintu utama terbuka, muncul Chantika.
Langkah Rahardja terhenti, ketika melihat putrinya dengan seragam dinas yang dikenakan jauh lebih kacau daripada saat operasi perdagangan manusia beberapa lalu.
Melihat kondisi putrinya saat ini, bisa kebayang bagaimana perasaan Rahardja.
Chantika berusaha menenangkan Ayahnya, dengan mengatakan - cuma luka ringan. Padahal Chantika baru saja lolos dari maut untuk kedua kalinya.
Wajahnya pucat. Rambut berantakan. Langkahnya sedikit goyah karena kelelahan.
Melihat menantunya sudah pulang, ada perasaan lega dan bersyukur.
Enzo melihat Rahardja menatap ke arah jendela.
Enzo tahu Rahardja mengkhawatirkan Chantika. Apalagi dia sendiri tahu persis istrinya tadi sedang bertaruh nyawa.
Ekspresinya tetap tenang, bicara dengan kalimat yang menenangkan hati Rahardja.
Tapi firasat Rahardja belum juga menghilang.
Pinter juga hasil pengamatannya. Kalau ingin menemukan The Ghost cukup ikuti Chantika.
Skull bisa dibunuh Enzo kalau mengusik Chantika.
Kini target baru Skull - Chantika.
Selalu ada Skull jika terjadi aksi bentrok dalam kejadian penyelundupan barang ilegal
Para pria bersenjata mulai panik, mencari sumber tembakan.
Situasi semakin kacau dengan munculnya asap yang menyelimuti lorong-lorong diantara kontainer.
Para pria bersenjata menyerah ada yang minta jabgan tembak kami.
Situasi sudah mulai kondusif.
Di atas crane Enzo sudah siap untuk menarik pelatuk.
Gelombang suar berfrekuensi tinggi meledak dari cincin.
Suara yang menyiksa telinga menjadikan penyandera kehilangan fokus. Reflek memejamkan mats. Tangan yang memegang pistol ikut bergetar.
Chantika menggunakan kesempatan itu, tubuhnya langsung dijatuhkan ke depan.
Peluru penyandera meletus.
Rizal khawatir dengan Chantika.
Enzo menembak tepat menembus tangan penyandera mengakibatkan pistolnya terlepas.
Rahardja tidak mengerti kenapa dadanya serasa sesak.
Chantika sudah mengabari akan pulang lebih larut karena masih bertugas.
Enzo juga memberi kabar melalui Marco kalau pulang sedikit lebih malam.
Rahardja mempunyai firasat. Namun berharap Enzo dan Chantika baik-baik saja.
Firasat seorang Ayah - yang kenyataannya dia tidak tahu kalau nyawa putrinya sedang terancam.
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.