Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Syukur di Bawah Langit Dinoyo
Malam di Dinoyo merayap makin larut, membawa serta keheningan yang dingin dan pekat. Angin malam yang berembus dari arah pegunungan memukul pelan kaca jendela kamar utama, membiaskan bayangan dedaunan mawar dari taman RayyZa Florest di atas lantai kayu. Di dalam ruangan, lampu tidur temaram memancarkan pendar kuning hangat yang menenangkan, menciptakan suasana syahdu yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di atas ranjang, Ghafi kecil telah tertidur sangat lelap dengan selimut katun lembut menutupi hingga batas dadanya. Napas teraturnya terdengar bagai simfoni kecil yang menentramkan jiwa. Di samping boks tempat tidur anak itu, Rayyan duduk bersimpuh di atas karpet tebal, memegangi sebuah buku Yasin berkover hijau tua. Pria itu baru saja menyelesaikan bacaan rutinnya sebelum beristirahat.
Zaza melangkah mendekat setelah selesai mematikan lampu di ruang tengah dan mengunci pintu depan. Ia mengenakan mukena terusan berwarna putih bersih yang biasa ia kenakan untuk salat malam. Wajahnya polos tanpa polesan, namun memancarkan keanggunan alami yang tak pernah pudar oleh waktu.
"Ghafi sudah nyenyak sekali ya, Mas?" bisik Zaza pelan sembari melipat sajadahnya di sudut meja kerja.
Rayyan menutup bukunya, mendongak menatap Zaza dengan senyum hangat yang langsung mengembang di bibirnya. "Sudah, Sayang. Tadi setelah kuusap punggungnya dan kubacakan ayat Kursi, dia langsung memejamkan mata. Sepertinya lelah sekali seharian main cat air di teras."
Rayyan berdiri, lalu berjalan menghampiri Zaza. Ia meraih tangan istrinya, menuntunnya untuk duduk bersama di sofa panjang yang menghadap ke jendela luar. Di luar sana, dedaunan mawar tampak berkilauan tertimpa cahaya bulan separuh yang menggantung anggun di langit malam.
Zaza menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayyan, menghirup aroma wangi minyak kayu putih dan parfum lembut khas suaminya. Rayyan melingkarkan tangannya di bahu Zaza, merapatkan dekapan seolah ingin melindungi istrinya dari hawa dingin yang mengintai di luar.
"Mas..." panggil Zaza lirih, matanya menatap pendar bulan di balik kaca.
"Iya, Za?"
"Kadang kalau malam-malam begini, saat semuanya begitu hening, aku suka teringat masa-masa awal kita," tutur Zaza, suaranya mengalun bagai bisikan angin malam yang lembut. "Saat kita masih sama-sama takut untuk saling menatap, saat kita menyembunyikan rasa di balik sapaan singkat dan batasan yang begitu ketat. Mas ingat waktu kita tak sengaja berpapasan di koridor perpustakaan kampus dulu?"
Rayyan terkekeh pelan, dadanya naik turun mengiringi tawa kecilnya. "Mana mungkin aku lupa, Za. Waktu itu aku sampai menjatuhkan dua buku tebal karena kaget melihat kamu mendadak muncul dari balik rak. Kamu langsung menunduk, minta maaf tanpa berani menatap mataku, lalu pergi begitu saja. Jujur, di balik sikap dinginku waktu itu, jantungku berdegup sangat kencang."
Zaza tersenyum geli mengingat momen lucu nan canggung tersebut. "Tapi keputusan kita untuk tetap menjaga jarak waktu itu adalah keputusan terbaik yang pernah kita buat, kan, Mas?"
Rayyan mengusap lembut lengan Zaza, jemarinya bertaut dengan jemari istrinya. "Sangat terbaik, Za. Kalau waktu itu kita memperturutkan hawa nafsu anak muda, mungkin hubungan kita tidak akan punya akar yang kokoh. Allah sengaja menahan kita, menguji kesabaran kita, supaya saat saatnya tiba, kita benar-benar siap menerima keberkahan-Nya."
Pria itu menjeda kalimatnya, lalu memiringkan tubuhnya agar bisa menatap langsung ke dalam netra bening milik Zaza. Ada binar keharuan yang mendalam di matanya.
"Za... aku mau berterima kasih," ucap Rayyan dengan nada suara yang sangat tulus dan dalam. "Terima kasih karena selalu menjadi alasan bagiku untuk pulang. Terima kasih karena saat duniaku dihantam fitnah dan prasangka orang-orang, kamu tidak sedikit pun meragukan ketulusanku. Kamu mengajarkanku bahwa benteng terkuat seorang suami bukan hanya hartanya, tapi doa dan kepercayaan dari istrinya."
Air mata haru menggenang di sudut mata Zaza. Ia mendongak, menyentuh rahang tegas Rayyan dengan telapak tangannya yang hangat.
"Mas Rayyan tidak perlu berterima kasih," balas Zaza dengan suara bergetar menahan kebahagiaan. "Aku melakukan semuanya karena Allah mempercayakan Mas sebagai imamku. Tugas seorang Penyulam Aksara bukan cuma merangkai kata di atas kertas, tapi merangkai doa-doa di sepertiga malam agar rumah tangga kita selalu terjaga di dalam rida-Nya."
Rayyan menunduk, mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama dan takzim di kening Zaza. Di balik remang lampu tidur dan keheningan malam Dinoyo, dua jiwa yang dulunya saling menjaga batas kini telah menyatu dalam ikatan suci yang tak tergoyahkan.
Ketika waktu terus berjalan dan roda kehidupan berputar menatap esok hari, mereka tahu bahwa selama sajadah syukur tetap terbentang dan ikhlas tetap menjadi pegangan, tidak ada badai dunia yang sanggup merubuhkan istana cinta yang telah mereka bangun di bawah naungan kasih sayang Sang Maha Pencipta.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe