Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Liburan dari Nyonya Chen
Hangatnya sinar matahari pagi perlahan menyelinap masuk melalui celah tirai kamar utama penthouse. Cahaya keemasan itu jatuh tepat di wajah Tiffany yang masih terlelap di atas ranjang.
"Ugh..."
Alis wanita itu berkerut. Dahinya sedikit berkerut menahan rasa tidak nyaman. Kepalanya terasa berat seolah dihantam palu berkali-kali, sementara tenggorokannya terasa begitu kering.
Perlahan, Tiffany membuka mata.
Pandangan pertama yang menyambutnya adalah langit-langit kamar yang begitu familier.
"...Aku sudah di rumah?"
Suaranya terdengar serak dan lemah.
Dengan gerakan pelan, Tiffany mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya. Ia duduk perlahan di atas ranjang, kemudian membiarkan punggungnya bersandar pada sandaran kepala.
Ingatan mulai berusaha menyusun kembali kejadian semalam.
Appreciation Dinner...
Direktur-direktur yang terus mengajaknya bersulang...
Gelas wine...
Lalu...
Kosong.
Tiffany mengernyit. Ia menatap kosong ke depan, berusaha keras menarik kembali potongan-potongan kejadian yang menghilang dari kepalanya.
Ia hanya mampu mengingat beberapa bagian kecil sebelum semuanya berubah menjadi kabur.
"Aneh..."
Biasanya, meskipun sedikit mabuk, ia masih mampu mengingat apa yang terjadi. Namun kali ini, ingatannya benar-benar terputus.
Tiffany mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Beberapa helai rambutnya yang berantakan ikut tersibak dari wajah.
Saat baru saja hendak berdiri dari tepi ranjang...
Tok... tok... tok...
Pintu kamar diketuk pelan.
"Nona?"
Suara Pelayan Zhang terdengar dari balik pintu.
Tiffany merapikan rambutnya seadanya sebelum menjawab.
"Masuk."
Pintu terbuka perlahan. Pelayan Zhang masuk sambil sedikit membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Nona."
"Pagi."
Tiffany masih terlihat lesu. Tangannya kembali menyentuh pelipis, seolah rasa berdenyut di kepalanya belum sepenuhnya menghilang.
"Nyonya Besar sudah datang sekitar dua puluh menit yang lalu."
Tiffany langsung mengangkat wajah. Tatapan mengantuknya seketika berubah sedikit lebih waspada.
"Ibu?"
"Beliau sedang menunggu Nona ruang tamu."
Tiffany sedikit terkejut. Alisnya terangkat.
"Ibu datang sepagi ini?"
"Beliau mengatakan sudah cukup lama tidak bertemu Nona."
Mendengar itu, Tiffany mengembuskan napas pelan. Bahunya sedikit turun.
Belakangan ini memang ia terlalu sibuk mengurus perusahaan. Bahkan sejak menikah, ia hampir tidak pernah pulang ke rumah utama keluarga Chen.
"Baik. Katakan pada Ibu aku akan segera keluar."
"Baik, Nona."
Pelayan Zhang kembali membungkukkan badan sebelum keluar dari kamar.
Baru saja Tiffany hendak berdiri...
Pintu kembali terbuka.
Kali ini Gavin muncul sambil membawa segelas air hangat. Rambutnya masih sedikit berantakan, tetapi wajahnya justru terlihat jauh lebih segar dibandingkan Tiffany.
"Pagi, Tante."
"..."
Tiffany memejamkan mata sesaat.
Entah mengapa, suara Gavin di pagi hari terasa jauh lebih mengganggu daripada biasanya.
"Kepalaku sedang sakit."
Gavin melangkah mendekat dan menyodorkan gelas itu kepadanya.
"Makanya minum dulu."
Tiffany melirik gelas di tangan Gavin sebelum menerimanya.
"Pelayan Zhang bilang ini bisa membantu."
Tiffany tidak menjawab. Ia hanya meneguk air hangat itu beberapa kali.
Cairan hangat yang melewati tenggorokannya membuat rasa kering sedikit mereda. Ia menghela napas pelan setelah menurunkan gelas.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Gavin memperhatikannya beberapa saat. Tatapannya bergerak dari rambut Tiffany yang masih sedikit berantakan hingga wajahnya yang tampak pucat.
"Lumayan."
Tiffany mengerutkan kening.
"Apa?"
"Wajah Tante sudah terlihat sedikit segar."
"..."
Tatapan dingin Tiffany langsung tertuju padanya.
Gavin tetap memasang wajah serius seolah baru saja menyampaikan pujian yang sangat tulus.
"Aku anggap itu pujian."
"Itu memang pujian."
Gavin mengangguk mantap.
"Soalnya semalam Tante benar-benar..."
Ia menghentikan ucapannya di tengah kalimat.
Tiffany yang semula hendak berjalan langsung berhenti. Matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Semalam kenapa?"
"Hm?"
"Kamu mau bilang apa?"
Gavin berkedip beberapa kali. Senyum tipis mulai muncul di sudut bibirnya.
"Oh, tidak jadi."
Ia kemudian berbalik santai.
"Pokoknya sekarang kelihatannya sudah jauh lebih segar."
Tiffany menyipitkan mata semakin dalam.
Entah kenapa...
Senyum pria itu terasa sangat mencurigakan.
Apa jangan-jangan dia tahu sesuatu?
Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, Gavin sudah lebih dulu membuka pintu kamar.
"Oh iya..."
Ia menoleh sambil tersenyum jahil.
"Silakan, Nona Muda Tiffany."
Tiffany yang baru hendak keluar langsung berhenti.
"Nona muda?"
"Ibumu sedang menunggu."
"..."
Gavin mempersilakannya keluar dengan gerakan tangan yang berlebihan.
"Silakan."
Tiffany menatapnya datar.
"Kamu sengaja mengejekku?"
"Lho?"
Gavin memasang wajah polos, bahkan mengangkat kedua alisnya.
"Aku hanya sedang menghormati nona muda Tiffany Chen."
Tiffany mendengus pelan. Ia melewati Gavin sambil melirik tajam ke arahnya.
"Dasar."
Tanpa sadar, sudut bibir Gavin ikut terangkat.
Menggoda CEO sedingin Tiffany ternyata selalu berhasil membuat paginya terasa lebih menyenangkan.
Begitu mereka memasuki ruang tamu, aroma teh melati yang baru diseduh langsung menyambut indra penciuman mereka.
Nyonya Chen yang sejak tadi duduk di sofa segera mengalihkan pandangan. Senyum hangat langsung menghiasi wajahnya ketika melihat putrinya akhirnya keluar dari kamar.
"Ibu."
Ekspresi Tiffany yang sejak tadi terlihat lesu seketika melunak. Ia segera menghampiri ibunya dan memberi pelukan singkat.
Nyonya Chen tersenyum lembut sambil menepuk punggung putrinya.
"Akhirnya keluar juga."
Tiffany sedikit melepaskan pelukannya dan menatap ibunya.
"Maaf, Bu. Aku tadi masih agak pusing."
"Tidak apa-apa."
Nyonya Chen mengusap lembut lengan putrinya, lalu memperhatikan wajah Tiffany yang masih terlihat sedikit pucat.
"Sepertinya kamu benar-benar kurang sehat."
Tiffany hendak menjawab, tetapi pandangannya lebih dulu tertuju kepada Gavin yang ternyata sudah duduk santai di salah satu sofa.
Pria itu bahkan terlihat begitu tenang sambil menikmati secangkir teh.
Tiffany mengernyit.
"Sejak kapan kamu duduk di sana?"
Gavin mengangkat cangkirnya sedikit, lalu tersenyum santai.
"Tadi."
Jawaban singkat itu membuat Tiffany menatapnya beberapa detik.
Ternyata setelah mengambilkan air untuknya, Gavin memang sudah lebih dulu keluar dan menemui ibunya.
Nyonya Chen hanya tersenyum melihat ekspresi putrinya.
"Sudah, duduklah. Ibu sudah meminta Pelayan Zhang menyiapkan teh."
Tiffany akhirnya mengangguk dan duduk di samping ibunya.
Gavin yang berada di seberang mereka ikut meletakkan cangkirnya dengan tenang.
Pelayan Zhang segera menyajikan teh hangat beserta beberapa camilan ringan. Tangannya bergerak cekatan, lalu ia mundur beberapa langkah dengan sikap tenang.
Nyonya Chen memperhatikan wajah putrinya beberapa saat. Tatapannya berhenti pada mata Tiffany yang terlihat sedikit sayu.
"Kamu kelihatan agak pucat."
"Aku hanya sedikit kurang tidur."
Tiffany menjawab sambil mengangkat cangkir teh, berusaha terlihat biasa saja.
"Kurang tidur?"
Sebelum Tiffany sempat melanjutkan, Gavin sudah lebih dulu menyahut.
"Iya, Bu."
Tiffany langsung menoleh tajam.
"..."
Gavin sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
"Semalam tiffany memang sedikit kelelahan."
Mendengar kata gavin, Tiffany hanya bisa diam.
Jemarinya yang memegang cangkir berhenti sejenak.
Entah kenapa, mendengar Gavin mengucapkannya di depan ibunya membuat suasana terasa sedikit berbeda.
Belum sempat ia mengalihkan pembicaraan...
Tangan Gavin tiba-tiba melingkar santai di bahunya.
"Tenang saja, Bu."
Tiffany langsung menegang. Bahunya kaku dan matanya membesar.
"Tenang saja, Bu. Semalam saya menemaninya sampai dia tertidur.”
Tubuh Tiffany langsung membeku.
"A-apa yang kamu lakukan?"
Gavin menoleh dengan wajah santai.
"Hm?"
"Lepaskan tanganmu."
"Kenapa?"
Tiffany melirik ke arah tangan Gavin yang masih bertengger di bahunya, lalu kembali menatap wajah pria itu dengan tatapan memperingatkan.
"Kita sedang di depan Ibu."
"Justru karena di depan Ibu."
Gavin tersenyum santai.
"Biar Ibu tahu kita baik-baik saja."
Nyonya Chen memperhatikan keduanya sambil tersenyum kecil.
Pemandangan seperti ini benar-benar baru baginya.
Putrinya yang selama ini selalu menjaga jarak dari pria lain...
Kini membiarkan seorang pria berdiri begitu dekat di sampingnya.
Meskipun wajah Tiffany terlihat kesal...
Ia sama sekali tidak benar-benar menepis tangan Gavin.
"Sudah lebih enakan?" tanya Gavin.
Tiffany mengangguk kecil.
"Hm."
"Syukurlah."
Gavin tersenyum hangat.
"Yang penting sekarang sudah merasa nyaman."
Nyaman.
Seketika tubuh Tiffany menegang.
Kata itu seperti membuka pintu ingatan yang sejak tadi terkunci rapat.
"...tapi, kenapa aku bisa merasa sedikit nyaman saat bersamamu? Dasar kamu... menyebalkan..."
Deg!
Jantung Tiffany langsung berdegup lebih cepat.
Matanya sedikit melebar. Pipinya perlahan memanas hingga warna merah mulai merambat ke telinganya.
"Sayang?"
Suara Gavin membuat Tiffany tersentak dari lamunannya.
"T-tidak apa-apa."
"Nona?"
Pelayan Zhang yang baru selesai menuangkan teh ikut memperhatikan perubahan wajah majikannya. Tangannya berhenti sejenak sebelum kembali meletakkan teko dengan hati-hati.
Nyonya Chen tersenyum heran.
"Pipimu merah sekali."
Tiffany spontan menyentuh pipinya.
"Mungkin masih pengaruh semalam," sahut Gavin santai. "Kalau masih pusing, jangan dipaksakan."
Tiffany melotot tipis ke arah Gavin.
"Aku baik-baik saja."
"Benarkah, Sayang?"
Senyum Gavin tampak begitu tulus hingga sulit ditebak apakah ia benar-benar sedang perhatian... atau sengaja menggodanya.
Sementara jantung Tiffany justru berdegup semakin tidak karuan.
Dasar pria sialan... batin Tiffany. Kalau cuma berdua, seenaknya memanggilku "Tante". Begitu ada orang lain, mendadak berubah menjadi "Sayang". Hmph... pintar sekali pria sialan ini memainkan perannya sebagai suami.
Nyonya Chen memperhatikan Gavin dan Tiffany secara bergantian. Senyum hangat tak pernah lepas dari wajahnya.
"Melihat kalian seperti ini..." ucapnya pelan.
Beliau mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan kekhawatiran yang selama ini disimpannya.
"Hati Ibu benar-benar lega."
Tiffany terdiam. Tatapannya sedikit turun.
"Awalnya Ibu khawatir kalian akan canggung setelah menikah. Tapi sekarang..."
Tatapan Nyonya Chen bergantian kepada Gavin dan Tiffany.
"Kalian ternyata jauh lebih akur daripada yang Ibu bayangkan."
Tiffany hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepala.
Kalau saja Ibu tahu yang sebenarnya...
Pernikahan mereka hanyalah sebuah kontrak.
Namun melihat senyum tulus di wajah ibunya, Tiffany sama sekali tidak tega merusaknya.
Nyonya Chen kembali tersenyum.
"Kalau melihat kalian seperti ini..."
Beliau sengaja menggantung kalimatnya beberapa saat. Sorot matanya terlihat penuh arti.
"Ibu jadi semakin tidak sabar."
Gavin yang sedang menikmati teh langsung mengangkat kepala.
"Tidak sabar apa, Bu?"
Nyonya Chen tersenyum penuh arti.
"Ibu sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu."
"Pffft!"
Tiffany yang baru saja meneguk teh langsung tersedak hebat.
"Ibu!"
Wajahnya seketika berubah merah padam. Ia buru-buru menutup mulut sambil berusaha mengatur napas.
Pelayan Zhang segera menyodorkan tisu.
"Nona, pelan-pelan."
"A-aku tidak apa-apa..."
Sementara itu, Gavin justru menganggukkan kepala dengan wajah sangat serius.
"Tenang saja, Bu."
Nyonya Chen menatapnya penuh harap.
"Kami sedang mengusahakannya."
...
Ruangan mendadak sunyi.
Tiffany membelalakkan mata. Bahkan tangannya yang memegang tisu berhenti di udara.
"APA?!"
Belum sempat siapa pun bereaksi...
Duk!
Sepatu hak tinggi Tiffany tanpa ampun menginjak punggung kaki Gavin di bawah meja.
"Ugh..."
Wajah Gavin sedikit berkedut menahan sakit. Rahangnya mengeras sesaat, tetapi senyum ramahnya sama sekali tidak berubah.
"Kenapa, Gavin?" tanya Nyonya Chen heran.
Gavin langsung tertawa kecil sambil mengibaskan tangan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Tidak apa-apa, Bu."
"Tadi kaki saya... sedikit tersenggol meja."
Tiffany melirik tajam.
Rasakan! Siapa suruh bicara sembarangan!
Namun Gavin malah membalas tatapan itu dengan senyum polos.
"Sayang..."
"..."
"Kalau marah nanti cepat keriput."
Tiffany ikut tersenyum manis.
Senyum yang justru membuat Gavin sedikit bergidik.
"Kalau kamu masih lanjut bicara..."
"...?"
"...aku akan membuatmu pincang seumur hidup."
Gavin spontan menarik kedua kakinya sedikit menjauh ke bawah meja.
"Baik, Sayang."
Tiffany hampir kehilangan kesabarannya.
Dasar pria sialan! Beraninya terus menggodaku di depan Ibu!
Melihat tingkah pasangan muda itu, Nyonya Chen dan Pelayan Zhang saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil.
Di mata mereka...
Semua itu hanyalah pertengkaran manis pasangan pengantin baru.
Suasana ruang tamu pun kembali hangat.
Setelah tawa mulai mereda, Nyonya Chen kembali berbicara.
"Oh ya, sebenarnya hari ini Ibu datang bukan hanya ingin menjenguk kalian."
Tiffany mengangkat wajah. Ekspresinya kembali serius.
"Ada sesuatu, Bu?"
"Ibu baru menerima laporan dari pengurus villa keluarga."
"Villa?"
"Iya."
Beliau mengangguk pelan.
"Villa keluarga Chen di kawasan pegunungan sudah hampir setahun tidak ditempati."
Tiffany tampak berpikir sejenak. Alisnya sedikit berkerut ketika mencoba mengingatnya.
"Terakhir kali ke sana... sebelum aku resmi menjabat sebagai CEO."
"Benar."
Nyonya Chen menatap putrinya penuh kasih.
"Sejak menjadi CEO, hidupmu hanya berisi rapat, pekerjaan, dan perusahaan."
Beliau tersenyum lembut.
"Bahkan setelah menikah, kamu semakin jarang pulang ke rumah utama."
Tiffany menundukkan kepala.
Ia sadar ibunya tidak sedang menyalahkannya.
Beliau hanya mengkhawatirkannya.
Melihat suasana mulai sedikit hening, Gavin kembali mengangkat tangan.
"Bu."
"Hm?"
"Villanya ada kolam renang?"
"Ada."
"Danau?"
"Ada."
"Tempat memancing?"
"Tentu."
"Barbeku?"
"Bisa."
"Wi-Fi?"
Nyonya Chen tertawa kecil.
"Itu juga ada."
Mata Gavin langsung berbinar seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah.
"Wah... lengkap sekali."
Tiffany hanya memijat pelipis.
Dasar pria sialan... fokusnya selalu ke hal-hal seperti itu.
Nyonya Chen kemudian berkata,
"Villa itu dibangun bukan untuk urusan bisnis."
Beliau menatap Tiffany.
"Tempat itu dibuat agar keluarga bisa beristirahat dari kesibukan."
"Tapi aku masih banyak pekerjaan, Bu."
"Pekerjaanmu tidak akan pernah selesai."
Kalimat itu diucapkan dengan lembut.
Namun terasa sangat dalam.
"Sesekali... istirahatlah."
Ruangan kembali sunyi.
Sudah sangat lama...
Tidak ada seorang pun yang benar-benar menyuruh Tiffany beristirahat.
Yang ada hanyalah target, laporan, keuntungan, dan rapat.
Nyonya Chen kemudian tersenyum.
"Karena itu..."
"Ibu ingin kalian berdua menghabiskan akhir pekan di sana."
Beliau berhenti sejenak.
"Lagipula..."
"Semenjak menikah, kalian belum pernah benar-benar pergi berdua."
Tatapan beliau bergantian kepada Gavin dan Tiffany.
"Anggap saja perjalanan ini sebagai bulan madu kalian yang tertunda."
...
Cangkir teh di tangan Tiffany hampir terlepas. Jarinya refleks mengencang pada gagangnya.
"B-bulan madu?"
Pipinya kembali memerah.
"Ibu..."
"Kalian menikah terlalu mendadak."
"Setelah resepsi langsung sibuk bekerja."
"Jadi Ibu rasa... kalian pantas menikmati waktu berdua seperti pasangan yang baru menikah."
Gavin justru tersenyum lebar. Ia perlahan menoleh kepada Tiffany dengan sorot mata yang mulai dipenuhi keisengan.
"Bulan madu?"
Ia menatap Tiffany beberapa saat.
"Sayang..."
Tiffany langsung punya firasat buruk.
"Berarti kita harus benar-benar menikmati liburan nanti."
"Gavin..."
"Soalnya kalau namanya bulan madu..."
Ia mengusap dagunya sambil berpikir.
"Harus romantis, kan?"
Wajah Tiffany semakin merah.
"Diam."
"Harus jalan berdua."
"Diam."
"Melihat matahari terbit."
"Diam."
"Pegangan tangan..."
"GAVIN!"
Senyum Gavin semakin melebar.
"Iya, Sayang?"
Tiffany menarik napas panjang.
Ia memejamkan mata selama beberapa detik, seolah sedang mengumpulkan seluruh kesabarannya.
Lalu ia membuka mata dan tersenyum sangat manis.
Senyum yang justru membuat bulu kuduk Gavin berdiri.
"Kalau kamu masih mengucapkan kata 'bulan madu' sekali lagi..."
"...?"
"...aku akan menguburmu di halaman villa keluarga Chen."
Gavin langsung menelan ludah. Senyum jahil di wajahnya sedikit menegang.
"Ibu..."
Katanya polos kepada Nyonya Chen.
"Lihat, kan? Itiffany galak sekali."
Nyonya Chen tertawa lepas.
"Kalau berani marah seperti itu berarti dia sudah nyaman bersamamu."
Kalimat itu kembali membuat Tiffany membeku.
"Nyaman..."
Tanpa sadar, ia kembali teringat semua ocehannya semalam.
Seketika wajahnya memerah hingga ke telinga.
Tatapan Tiffany buru-buru dialihkan ke arah lain, seolah berharap tidak ada seorang pun yang memperhatikan perubahan wajahnya.
Namun Nyonya Chen jelas melihatnya.
Melihat putrinya yang biasanya dingin kini berkali-kali tersipu di depan suaminya, Nyonya Chen hanya bisa tersenyum bahagia.
Mungkin...
Mengizinkan Gavin menjadi pendamping Tiffany adalah keputusan terbaik yang pernah dibuat keluarga Chen.