Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Di kamar santri yang mendadak terasa sunyi, Zizan masih duduk tenang. Kitabnya terbuka lebar di hadapan, siap digunakan untuk menyerap ilmu bersama Zia demi persiapan lomba yang tinggal menghitung hari. Sambil sesekali membetulkan posisi duduknya, ia menanti ketukan pintu dari luar.
Braakk!
Pintu depan terdorong kasar. Dafa muncul dengan napas satu-satu, tampak kelelahan seolah-olah baru saja dikejar marabahaya..
"Zan! Tadi dicariin sama"
"Zia?!" potong Zizan secepat kilat. Kepalanya langsung mendongak, menatap Dafa dengan mata berbinar penuh harap. "Dia udah nunggu? Dari kapan? Aduh, tumben banget. Biasanya kan jam setengah sembilan, ini baru jam delapan kurang! Aku nyusul sekarang deh!" Zizan langsung berdiri, bersiap melesat pergi tanpa memedulikan Dafa yang bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
Set!
Dengan gerakan refleks, Dafa langsung menyambar lengan Zizan, lalu menariknya ke bawah hingga cowok itu terduduk kembali secara tidak estetis di lantai.
"Woy! Dengerin dulu kenapa, main nylonong aja kayak kambing lepas kandang!" ketus Dafa dengan napas tersengal-sengal.
Zizan terperanjat. Tangannya masih tertahan oleh cengkeraman Dafa yang kini malah ikut terduduk lunglai di lantai karena kehabisan tenaga. "Kenapa sih? Kasihan Zia kalau nunggu kelamaan. Kamu enggak tahu aja, dia kalau ngamuk indahnya mirip tsunami!" ceriwis Zizan tanpa jeda, wajahnya panik berlebihan.
Dafa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya menghadapi tingkah sahabatnya yang mendadak hilang kesabaran. Sambil memegang kedua pundak Zizan, Dafa menurunkan nada suaranya, mencoba menenangkan.
"Duduk yang tenang, Zan. Dengarin dulu apa yang mau aku omongin," jelas Dafa dengan nada melembut.
Zizan mengerjipkan mata, mulai tenang namun masih penasaran. "Kenapa?"
"Kata Zia, hari ini tuh libur dulu! Dia ada urusan dan enggak bisa belajar bareng!"
Plak!
Karena terlanjur gemas dan kesal melihat wajah cengo Zizan, Dafa spontan memukulkan peci hitamnya ke lengan sahabatnya itu.
Zizan hanya bisa meringis, mengusap lengannya sambil memamerkan cengiran tanpa dosa. "Hehe, maaf. Aku kira udah ditungguin. Kan enggak enak kalau membiarkan orang nunggu lama."
"Makanya dengerin dulu! Jangan asal nylonong aja, kelihatan banget tahu enggak, hasrat ingin bertemunya sudah meronta-ronta di dalam jiwa!" goda Dafa sambil menaik-turunkan alisnya dengan jahil.
Wajah Zizan mendadak memerah. Ia berusaha mengelak dari godaan itu. "Apaan sih, Daf! Enggak usah mulai deh."
Meskipun hatinya sedikit kecewa, Zizan mencoba mengalihkan pembicaraan karena rasa penasarannya yang belum tuntas. "Eh, tapi ngomong-ngomong, kenapa dibatalin? Dia enggak bilang mau ngapain?"
Dafa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi datar. "Enggak. Dia cuma bilang libur dulu karena ada urusan, itu aja. Lagian aku kan tipe cowok cool, enggak nanya-nanya dan enggak KE-PO-OOO!" Tepat pada kata terakhir, Dafa sengaja mendekatkan mulutnya dan berteriak kencang di lubang telinga Zizan.
"Ih, Dafa! Apaan sih, sinting ya?!" ketus Zizan kesal sambil menggosok telinganya yang berdengung akibat guncangan suara Dafa. Tubuhnya langsung lemas, bersandar pasrah pada tembok kamar. "Lagian aku kan cuma nanya kenapa dibatalin. Tumben banget, padahal lombanya tinggal menghitung hari."
Dafa berjalan mendekat, lalu menepuk pundak Zizan dengan ekspresi sok bijak. "Tenang, Zan. Tenang... jodoh mah enggak bakal tertukar di gudang panitia."
Mendengar ejekan itu, Zizan secara refleks menyambar peci milik Dafa yang tergeletak di dekatnya, lalu melemparnya dengan kekuatan penuh. "Rasakan ini, serangan fajar!"Dafa yang sudah mengantisipasi hal itu langsung bangkit dan berlari kencang masuk ke dalam kamar dalam untuk menghindari serangan maut.
Namun, peci yang melesat di udara itu justru meleset dari sasaran. Peci hitam itu mendarat dengan mulus tepat di atas wajah Ares, yang saat itu sedang terkapar tidur pulas di sudut karpet.
Zizan dan Dafa seketika membeku. Kamar mendadak sunyi seketika. Sudah menjadi rahasia umum di antara mereka, jika tidak diguncang oleh gempa bumi, hal-hal kecil seperti hantaman peci tak akan mungkin membuat Ares terbangun begitu saja.
Dafa menempelkan tubuhnya di balik pintu, sementara Zizan pura-pura tidak melihat dengan mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar, bersiap siaga jikalau Ares tiba-tiba bangun dalam mode mengamuk.
Namun, setelah hampir dua menit berlalu, tidak ada pergerakan apa pun dari sudut kasur. Ares masih setia dengan posisi terkaparnya.
Melihat respons di luar dugaan tersebut, pertahanan Zizan dan Dafa runtuh. Tawa mereka yang semula ditahan di tenggorokan akhirnya meledak hebat hingga memegangi perut masing-masing. Namun, justru suara tawa mereka yang menggelegar itulah yang akhirnya berhasil mengusik tidur Ares.
Ares terkejut, langsung duduk tegak dengan mata merem-melek dan wajah linglung total. "Hah? Ada apa, Daf? Zan? Kalian manggil aku ya?" tanya Ares ngelantur dengan suara khas bangun tidur.
"Enggak ada apa-apa, Res!" timpal Dafa sambil mati-matian menahan tawa sampai wajahnya memerah.
"Udah, mending tidur lagi aja sana, siapa tahu ketemu tuan putri di dalam mimpi." Zizan sendiri sudah tidak sanggup berkata-kata. Ia mengangkat kitab tebal yang dibawanya, menggunakannya untuk menutupi wajah demi menyembunyikan tawa laknatnya melihat ekspresi wajah Ares yang begitu abstrak.
Ares mengucek matanya, masih bingung dengan situasi sekitar. "Oalah... kirain dipanggil. Mengganggu mimpi indahku aja."Tanpa banyak bicara, Ares kembali merebahkan tubuhnya ke kasur dan langsung kembali ke mode tidur awal.
"Lagian jam segini kenapa udah tidur sih, dasar pelopor kaum rebahan!" ketus Zizan kesal, meski hatinya terhibur.
Tidak ada balasan kata dari kasur. Sebagai gantinya, sedetik kemudian suara dengkuran Ares kembali terdengar nyaring di dalam kamar.
Sontak, Zizan dan Dafa kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah sahabatnya itu. "Temen kamu tuh, Zan," bisik Dafa sambil mengarahkan telunjuknya ke pelipis, memberi kode 'agak kurang sehat'.
Enak aja! Temen kamu kali, Daf," timpal Zizan tak mau kalah. "Mana, ambilin peci aku."
Dafa melemparkan kembali peci tersebut ke arah Zizan. Suasana perlahan-lahan kembali tenang, dan Zizan pun segera melanjutkan belajarnya secara mandiri.
Namun, di tengah keheningan malam dan suasana hangat kamar santri, konsentrasi Zizan perlahan buyar. Di sela-sela lembar kitab yang dibacanya, bayangan Zia mendadak muncul tanpa permisi di dalam benak.
Ia mengingat kembali momen-momen saat mereka belajar berdua. Mengingat bagaimana canda dan tawa renyah Zia selalu berhasil mencairkan suasana kaku yang ada. Suasana yang tak pernah bisa dicairkan oleh siapa pun, entah bagaimana, selalu meleleh begitu saja jika Zia wanita yang menghadapinya. Hanya Zia yang memiliki kemampuan itu.
Zizan menghentikan bacaannya, menatap kosong ke depan.“ Ya Allah... entah perasaan apa yang sedang Engkau titipkan di hati hamba ini. Semoga hamba tidak salah melangkah,” doa Zizan lirih dalam hati.
Setelah beberapa lama hanyut dalam lamunan yang kian jauh, Zizan tersentak sadar. Ia segera menepis pikiran-pikiran itu, menepuk kedua pipinya sendiri dengan telapak tangan, lalu mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Astaghfirullah... istigfar, Zizan," bisiknya pada diri sendiri.Ia tersadar bahwa Zia belum menyelesaikan urusannya dengan Mas Charis. Bahkan, entah hubungan mereka akan selesai atau tidak, Zizan tahu ia tidak berhak melangkah lebih jauh. Baginya saat ini, yang terpenting adalah apa yang terbaik untuk kebahagiaan Zia. Bahkan, jika pada akhirnya hati Zizan sendiri yang harus belajar merelakan perasaan abu-abu ini demi melihat wanita itu bahagia.
Zizan menarik napas panjang, mengembuskannya untuk membuang rasa sesak di dada. Ia menepis jauh-jauh kegundahannya, kembali menunduk menatap baris-baris kalimat di kitabnya. Dengan sisa senyum yang dipaksakan melebar di bibirnya, ia pun melanjutkan belajarnya kembali.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca