Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Air Mata yang Tertahan
Pagi itu, rumah kecil itu kembali diselimuti keheningan. Tak ada aroma masakan ataupun gelak tawa seperti biasanya.
Arkana melangkah keluar dari dapur dengan kemeja kerja yang sudah terpasang rapi. Di atas meja makan, hanya ada secangkir teh hangat yang tak tersentuh.
Saat ia meraih jaket di sofa, pintu kamar Bibi Ratna terbuka. Wanita itu melangkah keluar membawa tas dan beberapa berkas dokumen.
"Pagi, Arkana," sapa Bibi Ratna datar.
"Pagi, Bi," jawab Arkana singkat tanpa menatap.
Bibi Ratna hanya mengangguk pelan, lalu melangkah keluar rumah menuju jalan raya tanpa membuang kata lagi.
Arkana mengalihkan pandangannya ke pintu kamar utama yang masih terkunci rapat. Sejak pulang dari rumah sakit, Hanifah hampir tidak pernah keluar.
Ia melangkah mendekat, lalu mengetuk pintu kayu itu perlahan.
Tok... tok... tok...
"Dek... Aku berangkat kerja dulu ya," panggil Arkana pelan dari luar.
Hening. Tak ada jawaban dari dalam.
"Kalau kamu butuh apa-apa, telepon Mas ya, Dek. Jangan dipendam sendiri," tambah Arkana lagi, menempelkan dahi di daun pintu.
Tetap tidak ada suara langkah ataupun balasan.
Arkana memejamkan mata sejenak, menghela napas berat. "Mas berangkat... Assalamu'alaikum."
Begitu melangkah ke halaman dan bersiap mengenakan helm, sebuah suara memanggilnya dari arah pagar.
"Arkana!" panggil Bu Sulastri sambil berjalan menghampiri. Beliau membawa keranjang berisi sayur-sayuran segar dan lauk-pauk.
"Pagi, Bu," sapa Arkana memaksakan senyum tipisnya.
"Pagi, Nak. Bagaimana keadaan Hanifah hari ini?" tanya Bu Sulastri prihatin.
Arkana menunduk, mengusap tengkuknya. "Masih mengurung diri di kamar, Bu. Sejak pulang kemarin, dia hampir tidak mau bicara."
Bu Sulastri menghela napas panjang. "Wajar, Nak. Lukanya masih sangat baru."
"Bu... Boleh saya minta tolong?" bisik Arkana menatap Bu Sulastri penuh harap.
"Tentu, Nak. Minta tolong apa?"
"Kalau Ibu sempat, tolong sesekali lihat Hanifah ya, Bu. Saya takut dia sendirian di rumah," panggil Arkana cemas.
Bu Sulastri mengangguk mantap, memegang tangan Arkana. "Kamu tenang saja bekerja. Hanifah sudah seperti anak Ibu sendiri. Nanti Ibu buatkan makanan dan bujuk dia pelan-pelan."
"Terima kasih banyak ya, Bu..." bisik Arkana, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu juga jangan lupa makan, Nak. Kalau kamu ikut sakit, siapa yang menjaga Hanifah?" tegur Bu Sulastri lembut.
"Iya, Bu," janji Arkana sebelum menyalakan mesin motornya.
...----------------...
Sesampainya di kantor, Arkana mencoba mengalihkan pikirannya pada tumpukan berkas di meja kerja. Beberapa rekan kantor yang mendengar kabar duka tersebut satu per satu mendatangi mejanya.
"Arkana... Turut berduka cita ya," ucap seorang rekan kerja sambil menepuk bahunya. "Yang sabar."
"Terima kasih. Saya baik-baik saja," balas Arkana mengangguk tipis, berusaha tetap tersenyum.
Namun, setiap kali ruangannya mendadak hening, bayangan Hanifah dan ketiga calon buah hatinya kembali menghantuinya.
Menjelang siang, seorang petugas keamanan kantor mengetuk pintu ruangannya.
"Pak Arkana?" panggil petugas itu.
Arkana mendongak dari layarnya. "Iya, Pak?"
"Ada kurir mencari Bapak di lobi. Katanya ada paket atas nama bapak," beri tahu petugas tersebut.
Arkana mengernyit bingung. "Paket?"
Ia tidak merasa memesan barang apa pun belakangan ini. Namun, ia tetap melangkah menuju lobi kantor dan menandatangani resi penerimaan dari kurir.
Kembali ke meja kerjanya, Arkana membuka kardus berukuran sedang itu perlahan. Saat lapisan kardus terbuka, tubuhnya seketika membeku.
Di dalam kardus itu tersusun rapi tiga pasang sepatu bayi mungil. Warna biru, kuning pastel, dan putih bersih. Sepatu yang diam-diam ia pesan beberapa minggu lalu untuk mengejutkan istrinya.
Ingatannya melayang pada ucapan Hanifah dulu saat membicarakan warna favorit mereka.
“Kalau nanti lahir, yang biru buat Eka, yang kuning buat Dwi, dan yang putih buat Tri ya, Mas!”
Jemari Arkana gemetar hebat saat mengangkat sepasang sepatu biru yang teramat kecil dan ringan itu. Tetesan air mata yang ditahannya sejak pagi akhirnya runtuh, membasahi sepatu kain mungil di genggamannya.
Ia mencoba menyapu air mata itu kasar, namun tangisnya justru pecah tanpa sanggup ditahan lagi. Bahunya berguncang hebat.
"Kenapa... Kenapa harus datang sekarang...?" bisik Arkana terisak, suaranya parau dan rapuh.
Beberapa rekan kerja di sekitarnya menoleh kaget. Rian, sahabat terdekatnya di kantor, segera mendekat dan melihat isi kardus tersebut.
Rian memejamkan mata prihatin, lalu menepuk bahu Arkana erat. "Menangislah, Ar... Tidak apa-apa."
"Rian... anak-anakku..." tangis Arkana pecah di meja kerjanya, tak lagi mampu berpura-pura kuat.
"Menangis saja, Bro. Kamu tidak harus selalu terlihat kuat di depan semua orang," bisik Rian merangkul bahu sahabatnya yang hancur.
Arkana mencengkeram sepatu mungil itu di dadanya, menumpahkan seluruh pertahanan dan duka yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Sepatu-sepatu kecil itu telah tiba, namun pemiliknya tak akan pernah datang untuk memakainya.