Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JADIAN
Sabtu pagi di kamar Juvan, langkah kakinya bolak-balik tak tenang di lantai kayu. Tangan kanannya menggenggam ponsel erat, seolah benda itu bisa meledak kapan saja. Matanya sesekali melirik layar ponsel, lalu kembali memandang ke luar jendela.
"Telepon gak ya..." gumamnya pelan, ragu-ragu. Jantungnya berdegup kencang seakan hendak melompat keluar.
Setelah berpikir panjang dan menimbang-nimbang, akhirnya keberanian itu menang. Juvan menekan tombol panggil pada nama yang paling sering memenuhi pikirannya — Kak Yena.
Di seberang sana, Yena yang masih terlelap nyenyak di kasur empuknya, langsung terbangun saat nada dering ponselnya memecah keheningan kamar. Dengan mata yang masih setengah tertutup dan kepala yang sedikit pusing karena kantuk, ia meraba-raba mencari ponsel di meja samping tempat tidur. Saat melihat nama pemanggil di layar, seketika mata Yena terbuka lebar, kantuknya langsung lenyap seketika. Tanpa menunda sedetik pun, ia langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo, Juvan?" sapa Yena, suaranya masih sedikit serak namun hangat.
Juvan langsung menyampaikan tujuannya dengan sedikit gugup — ia ingin mengajak Yena pergi ke pasar malam yang baru saja dibuka di pusat kota, malam nanti. Tanpa pikir panjang, tanpa mempedulikan tumpukan tugas kuliah yang sebenarnya sedang menunggunya, Yena langsung menerima ajakan itu dengan antusias.
"Syukurlah... Kak Yena mau," bisik Juvan lega setelah panggilan berakhir, senyum lebar mengembang di bibirnya. Seolah berbicara pada dirinya sendiri, ia melanjutkan dengan penuh keyakinan, "Sepertinya malam ini momen yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku ke Kak Yena."
Entah mengapa, jam dinding hari itu seakan bergerak sangat lambat. Setiap detik terasa satu jam lamanya bagi Juvan yang menanti malam tiba dengan hati berdebar-debar.
Malam pun akhirnya tiba. Sebelumnya Yena sudah memberi tahu agar Juvan menjemputnya langsung di toko kue saja. Saat Juvan tiba di depan toko, pandangannya langsung terpaku pada sosok wanita cantik yang sudah berdiri menunggunya di sana. Malam itu Yena tampak begitu mempesona — penampilannya sederhana namun anggun, senyumnya menyambut kedatangan Juvan dengan hangat. Juvan seketika merasa sangat gugup, bahkan rasanya tak sanggup menatap kecantikan Yena secara langsung.
"Maaf ya Kak, menunggu lama," ucap Juvan sedikit terbata, pipinya merona merah samar.
"Enggak apa-apa kok, ayo berangkat," jawab Yena lembut sambil tersenyum manis, lalu naik ke boncengan motor Juvan.
Tak lama kemudian, mereka tiba di pasar malam. Suasana di sana sangat ramai dan meriah, apalagi malam itu adalah malam minggu — lautan pasangan dan keluarga memadati setiap sudut tempat itu. Yena dan Juvan berjalan beriringan, menikmati suasana: membeli bakso bakar yang masih panas dan pedas, mencicipi gulali manis yang meleleh di lidah, serta berkeliling melihat aneka jajanan dan permainan. Saat tiba di wahana lempar kaleng, giliran Juvan yang mencoba keberuntungannya. Dengan ketepatan yang mengejutkan, ia berhasil menjatuhkan semua kaleng dan memenangkan sebuah boneka kura-kura kecil yang lucu.
"Ini buat Kakak," ucap Juvan sambil menyodorkan boneka itu dengan senyum bangga.
Wajah Yena langsung bersinar cerah menerima hadiah kecil itu. "Bonekanya lucu banget... persis kayak kamu," godanya sambil mencubit pelan pipi Juvan.
Juvan yang mendengar itu seketika menjadi malu-malu kucing, menunduk sambil menyembunyikan senyum bahagianya.
Terakhir, langkah kaki mereka membawa mereka ke depan wahana bianglala raksasa yang berputar perlahan dengan lampu-lampu warna-warni yang indah.
"Juvan, kita naik itu yuk!" ajak Yena dengan mata berbinar penuh antusias.
Juvan langsung mengangguk setuju tanpa ragu sedikit pun. Mereka pun masuk ke dalam satu kabin, dan perlahan bianglala mulai berputar, membawa mereka naik ke ketinggian. Pemandangan dari atas sungguh menakjubkan — lampu-lampu kota berpendar indah di bawah langit malam yang bersih. Saat kabin mereka mencapai titik tertinggi, putaran bianglala sengaja dihentikan sejenak agar para pengunjung bisa menikmati pemandangan tanpa gangguan.
Juvan tahu — inilah kesempatan yang tak boleh ia sia-siakan. Ia sedikit menggeser duduknya, memutar tubuhnya hingga menghadap langsung ke Yena. Tanpa aba-aba, tangannya yang hangat langsung menggenggam tangan Yena yang tergeletak di pangkuannya. Yena sedikit terkejut, namun ia tak menarik tangannya kembali — justru membiarkan genggaman itu menetap dan menghangatkan seluruh tubuhnya.
"Kak... aku mau bilang sesuatu ke Kakak," ucap Juvan pelan namun tegas, menatap lekat mata Yena.
"Mau ngomong apa, Juvan?" tanya Yena lembut, membalas tatapan itu dengan penuh perhatian.
"Kak, kita udah lama dekat... dan selama kita bersama, aku menyadari kalau aku memiliki perasaan yang berbeda ke Kakak. Bukan sekadar rasa sayang pada teman atau kakak," suara Juvan sedikit bergetar namun jelas. "Kak... aku jatuh cinta sama Kak Yena."
Mendengar pengakuan itu, mata Yena membelalak tak percaya. Hatinya seakan berhenti berdetak sejenak. Ia sama sekali tak menyangka Juvan akan mengungkapkan perasaannya malam ini.
"Maukah Kakak jadi pacarku?" lanjut Juvan dengan penuh harap. "Aku gak memaksa Kakak. Kalau pun Kakak butuh waktu untuk menjawab, gak apa-apa, aku akan tunggu. Yang penting aku sudah jujur sama perasaanku..."
Belum sempat Juvan menyelesaikan kalimatnya, Yena langsung memotong dengan suara yang penuh emosi namun tegas: "Iya, aku mau jadi pacarmu."
Mata Juvan langsung membelalak lebar. "S-serius, Kak?" tanyanya seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri.
Yena mengangguk pelan, senyum terindah merekah di bibirnya sambil mata berkaca-kaca bahagia.
Malam itu, di atas bianglala yang berhenti di puncak tertinggi dengan pemandangan kota yang gemerlap indah, mereka berdua resmi menjadi sepasang kekasih. Saat bianglala kembali berputar dan membawa mereka turun ke bawah, senyum tak pernah lepas dari wajah keduanya. Tangan mereka tetap bergenggam erat, seolah tak ingin melepaskan satu sama lain lagi.
Setelah turun dari wahana, mereka memilih duduk di bangku panjang yang agak menjauh dari keramaian, mencari sudut yang lebih tenang. Juvan kembali memegang kedua tangan Yena, menatapnya dengan tatapan yang begitu tulus dan dalam.
"Kak, aku tahu umurku jauh lebih muda dari Kakak," ucap Juvan sungguh-sungguh. "Tapi aku akan berusaha jadi pacar yang baik buat Kakak. Aku akan selalu bikin Kakak bahagia, aku gak akan bikin Kakak sedih, apalagi sampai menangis. Aku gak janji muluk-muluk, tapi aku akan usahakan semuanya untuk Kakak — semampuku."
Hati Yena seketika terasa hangat dan penuh haru mendengar janji setulus itu. Diusapnya lembut wajah remaja di hadapannya dengan kedua tangannya, matanya menatap penuh kasih sayang.
"Juvan..." bisiknya lembut.
Malam itu, hati Yena benar-benar berbunga-bunga, meluap-luap oleh kebahagiaan yang tak terlukiskan. Akhirnya, anak laki-laki yang selama ini diam-diam ia cintai, yang selalu hadir membawa cahaya di saat gelap, kini resmi menjadi pacarnya.
Angin malam perlahan berhembus lebih kencang, membawa udara yang semakin dingin menusuk kulit. Tanpa berpikir dua kali, Juvan langsung melepas jaket yang ia kenakan, lalu berdiri dan menyelimutkannya dengan hati-hati ke tubuh Yena.
"Pakai ini ya, Kak. Aku nggak mau Kakak kedinginan," ucapnya lembut sambil merapikan kerah jaket itu agar menutupi bahu Yena sempurna. Tubuhnya sedikit mendekat, napasnya hangat menyentuh telinga gadis itu.
Yena mengenakan jaket kebesaran itu, menghirup aroma khas Juvan yang melekat di kainnya — segar, hangat, dan menenangkan. Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum jahil, lalu menatap wajah remaja itu lekat-lekat.
"Hem... masih manggil 'Kakak' ya?" godanya pelan. "Nggak ada nama panggilan yang lebih spesial kah? Sekarang kan sudah bukan Kakak dan adik lagi..."
Pipi Juvan seketika memerah padam hingga menjalar ke telinganya. Tangannya refleks menggaruk lehernya yang sama sekali tak gatal, menunduk gugup tak berani menatap mata Yena.
"Hehe... maaf ya Kak. Aku sudah terbiasa memanggil Kakak dengan panggilan itu sejak awal. Jadi... agak canggung kalau tiba-tiba ganti panggilan baru," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar menahan malu.
Yena tersenyum makin lebar melihat tingkah polos kekasihnya itu. Ia pun mendekatkan wajahnya, hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.
"Kalau begitu... bagaimana kalau panggil Sayang saja?" bisik Yena lembut, matanya berkilau penuh candu.
"S-sa... Sayang?" Juvan nyaris tersedak udara, matanya membelalak tak percaya mendengar kata itu keluar dari mulutnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang seakan hendak meledak di dalam dada.
"Iya. Kenapa sayang?" jawab Yena dengan nada manja namun penuh makna, menatap lurus ke manik mata Juvan yang mulai menghindar.
Juvan langsung menunduk dalam, wajahnya memerah sempurna seolah terbakar panas. Bahkan kedua telinganya tak lagi berwarna putih, melainkan merah menyala terang. Ia tak berani menatap wajah Yena sedikit pun.
Maklum saja... ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya Juvan berpacaran. Segala hal tentang kasih sayang, panggilan manja, dan kedekatan dengan perempuan terasa begitu baru, begitu memabukkan, sekaligus begitu memalukan baginya. Sementara di sisi lain, Yena sudah sangat paham betul cara memanasi suasana dan menggoda kekasihnya — ia sudah terbiasa menjalani hubungan selama empat tahun lamanya, sehingga hal-hal manja seperti ini terasa begitu wajar dan mengalir begitu saja baginya.
Namun justru kepolosan dan kesungguhan Juvan itulah yang membuat hati Yena semakin luluh. Ia tahu, cinta remaja di hadapannya ini murni, tulus, dan belum pernah ternoda oleh kepalsuan apa pun. Dan Yena berjanji dalam hatinya — ia akan menjaga hati murni ini seumur hidupnya.