Indonesia
NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Tidak ada pilihan

"Lauren, aku baru saja dicegat orang asing saat hendak kembali ke kantor setelah membeli kopi. Aku sangat ketakutan, aku harus menceritakannya padamu."

Lauren membaca pesan itu berulang kali, jantungnya berdegup semakin kencang seiring matanya menyusuri baris-baris berikutnya.

"Dia bertanya, kau tinggal di rumah atau apartemen. Aku jawab apartemen, tanpa berpikir panjang. Lalu dia bertanya lagi, apakah kau sedang ada di apartemen sekarang, dan di mana tepatnya kau berada."

"Aku bilang aku tidak bisa memberi tahu, itu privasimu. Dia terus mendesak, jadi aku bilang, kalau memang benar kau mengenalnya, hubungi saja langsung. Dia diam sebentar, lalu pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi."

"Aku tidak tahu harus bagaimana, Lauren. Rasanya aneh sekali, seperti dia sudah tahu banyak hal tentang kita tapi berpura-pura tidak tahu."

Lauren berdiri terpaku di trotoar, tangannya gemetar memegang ponsel, pikirannya berputar cepat mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dua kejadian dalam waktu berdekatan, mobil hitam yang mengikuti Ivy kemarin, dan sekarang orang asing yang secara langsung menanyakan keberadaannya, jelas bukan lagi sekadar kebetulan.

Ia mengetik balasan cepat dengan tangan yang masih gemetar. "Kau baik-baik saja? Sekarang di mana?"

Balasan Ivy datang tidak lama kemudian. "Aku sudah di kantor, aman. Tapi tadi aku benar-benar takut. Kamu di mana sekarang? Hati-hati, ya."

Lauren menatap layar ponselnya lama, tidak tahu harus membalas apa, pikirannya masih dipenuhi bayangan orang asing yang entah siapa, mengincar dirinya lewat orang-orang terdekatnya satu per satu.

Ia berdiri begitu saja di tepi trotoar, terlalu tenggelam dalam pikirannya sendiri untuk menyadari sebuah mobil hitam mengilap melambat, lalu berhenti tepat di depannya, ban-bannya berdecit pelan di aspal.

Lauren mendongak, tersentak dari lamunannya, jantungnya berdegup kencang membayangkan kemungkinan terburuk.

Kaca jendela depan mobil itu turun perlahan.

"Lauren."

Suara itu begitu familiar hingga membuat Lauren menghela napas lega seketika, tubuhnya yang tadi menegang perlahan mengendur. Di balik kemudi, Alex menatapnya, alisnya sedikit berkerut.

"Sedang apa berdiri di sini sendirian?" tanya Alex.

Lauren buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku, memaksakan senyum tipis di wajahnya. "Tidak apa-apa. Cuma habis dari kedai kopi lama, mau jalan pulang."

Alex menatapnya sejenak, seolah tidak sepenuhnya percaya dengan jawaban singkat itu, tapi tidak mendesak lebih jauh. "Naik. Aku antar."

"Tidak usah," jawab Lauren cepat, mencoba tersenyum wajar. "Cuma beberapa blok lagi, aku bisa jalan sendiri."

Ia berbalik, melangkah pelan dengan kruknya, berniat melanjutkan perjalanan tanpa menunggu jawaban Alex lebih jauh.

"Dengan kaki begitu?" Suara Alex terdengar dari belakang, datar dan dingin, nyaris meremehkan. "Kalau kau jatuh lagi di jalan, jangan berharap ada orang baik yang kebetulan lewat dua kali dalam seminggu yang sama."

Lauren berhenti melangkah, rahangnya sedikit mengeras mendengar nada itu, tapi ia tidak berbalik.

"Naik," ulang Alex, kali ini lebih tegas, tanpa sedikit pun nada meminta. "Aku tidak akan mengatakan dua kali."

"Tidak perlu," kata Lauren cepat, melangkah mundur setengah langkah, mencoba tersenyum sewajar mungkin. "Apartemenku dekat, aku bisa jalan sendiri."

"Naik," ulang Alex, tidak menaikkan suaranya sedikit pun, tapi kata itu terdengar jauh lebih tegas dari sebelumnya, tidak menyisakan ruang untuk dibantah.

"Aku serius, tidak perlu repot-repot—"

"Kau pikir aku bertanya?" potong Alex, suaranya dingin, matanya menatap lurus ke arah Lauren tanpa berkedip. "Berdiri di trotoar dengan kaki seperti itu, sendirian, setelah semua yang terjadi belakangan ini. Kalau kau pikir itu keputusan yang bijak, aku mulai meragukan penilaianmu."

Lauren terdiam, kata-kata itu terasa lebih menyengat dari yang seharusnya, membuat pipinya memanas menahan campuran malu dan kesal. Ia ingin membalas, tapi tidak menemukan bantahan yang cukup kuat untuk kalimat setajam itu.

"Naik," ulang Alex sekali lagi, nadanya tidak melunak sedikit pun. "Aku tidak akan mengatakan untuk ketiga kalinya."

Lauren menghela napas, menyerah, melangkah pelan mendekati mobil dengan bantuan kruknya. Ia menatap sisi mobil sejenak, mempertimbangkan untuk duduk di kursi belakang saja, lebih aman, lebih menjaga jarak. Tapi untuk sampai ke pintu belakang di sisi lain, ia harus memutar mengelilingi mobil, dan sisi itu langsung menghadap jalan raya yang masih ramai kendaraan melintas.

Ia menimbang sejenak, terlalu malas dan terlalu lelah untuk repot-repot berjalan memutar dengan kaki yang masih sakit, apalagi harus berhati-hati terhadap lalu lintas di sisi jalan itu. Akhirnya, dengan agak enggan, Lauren membuka pintu depan yang lebih dekat dan lebih aman dijangkau, duduk di kursi penumpang di samping Alex.

"Kupikir kau akan duduk di belakang," kata Alex, melirik sekilas begitu Lauren menutup pintu.

"Terlalu jauh memutar," jawab Lauren singkat, tidak berniat menjelaskan lebih detail alasan sebenarnya, memasang sabuk pengaman dengan gerakan sedikit kasar, masih kesal dengan cara Alex memaksanya tadi.

Alex tidak berkomentar lebih jauh, hanya menginjak pedal gas perlahan, membawa mobil itu kembali melaju menyusuri jalanan London yang mulai dipenuhi lampu-lampu jalan yang menyala satu per satu.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!