Kehidupan yang dihantui ketakutan dan kelaparan di panti membuat Ella, gadis kecil yang masih berusia 7 tahun, terus bermimpi akan sebuah kehangatan keluarga yang sangat terasa nyata.
Mimpi kecil itu yang membuatnya membulatkan tekad untuk lepas dari bangunan yang seolah terus memeluknya jauh ke dasar.
Dengan kaki kecilnya yang penuh akan luka, ia melangkah menjauh dari panti menuju gelapnya malam yang terasa lebih aman dibanding bangunan tempat ia tinggal.
Namun setelah semuanya kembali terang, perlahan satu persatu keanehan mulai menyerang jiwa kecil Ella.
Akankah kegelapan kembali datang untuk memeluknya sampai mati?
♡♡♡♡♡
Jadwal Up;
Setiap Hari, Jam: 07.30
Double up di Jam: 14.00 [kalo senggang, diusahain seminggu 4x double up]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Only'Rra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Pahlawan dan Penjahat
Esoknya-
"Tuan Putri, putri Kaira Sorov meminta ijin untuk bertemu."
'Kaira!'
"Ehm! Tolong persilahkan dia masuk ... "
Ella segera merapihkan buku-buku bacaannya yang tengah ia baca saat pelayan yang berjaga memberitahu bahwa Kaira datang menemuinya.
"Ella!"
Kaira segera berlari mendekat ke arah Arcangella namun sedetik sebelum mereka benar-benar bertubrukan, Kaira menghentikan langkahnya.
"Saya Kaira Sorov memberikan salam pada Putri Arcangella von Reis."
Gadis kecil yang sejak semalam terlihat nakal dimata Ella kini tengah memberikan salam dengan sangat anggun, layaknya gelar putri yang melekat di darahnya.
"Salam untuk Putri Kaira Sorov ... "
Tak lama, kedua gadis kecik itu terkekeh ringan bersama.
"Disini tidak ada bangsawan dewasa, hanya kita berdua, jadi ... apa bisa kita berbicara informal?" tanya Kaira dengan penuh harap.
Arcangella mengulum senyum manis, ia mengangguk. "Tentu! ka Aster juga seperti itu saat berbicara dengan ka Kendrick semalam."
Tentu saja, seorang teman bisa berbicara santai dan senyaman mereka, meskipun seberapa tinggi tingkat darah bangsawan, teman bahkan bisa menjadi keluarga.
Kaira bersidekap dada, keningnya terlihat sedikit guratan halus tanda gadis kecil itu tengah berpikir serius saat ini.
"Kira-kira, sementara para orang dewasa berbicara hal penting, apa yang harus kita mainkan ya?"
Arcangella ikut berpikir. Ia lalu menujuk sudut bermain kamarnya, dimana terdapat banyak sekali boneka cantik yang dominan diberikan oleh ayahnya dan para kakak. "Ingin bermain boneka?"
Kaira merengut, ia sontak menggeleng. "Tidak, tidak! Gadis yang ingin beranjak dewasa seperti kita harus memainkan sesuatu yang keren!"
'Dewasa? Kata mama, di Astra seorang anak dikatakan beranjak dewasa saat ia menghidupkan bakatnya di usia 10 tahun. Kami kan masih 7 tahun'
Arcangella kini hanya diam dan fokus menunggu Kaira yang sedang bergelut dengan isi kepalanya yang unik.
"Aha! Bagaimana kalau kita bermain Pahlawan dan Penjahat?" tawarnya antusias.
"Pahlawan dan Penjahat?"
Ella memainkan jari jemarinya dibalik punggung.
Jujur saja, saat dirinya mendapatkan teman bahkan waktu bermain seperti ini, Arcangella merasa gugup sekali.
Dirinya tidak tahu, bagaimana 'bermain dengan tema' yang sesungguhnya.
Jadi ia jelas tidak mengetahui nama-nama permainan yang kerap dimainkan anak seusia mereka bersama.
"Jadi kita akan memainkan sebuah drama! Nanti akan ada penjahat, warga yang menjadi korban dan berusaha melarikan diri dari penjahat, dan tentunya akan ada PAHLAWAN! Yang melawan si penjahat dan menyelamatkan korban."
Ella berbinar mendengar Kaira yang menjelaskan dengan sangat amat antusias. Ella lantas mengangguk riang. "Ayo kita main Pahlawan dan Penjahat!"
Gadis kecil itu bahkan tidak bertanya, mengapa Ella menunjukkan raut bingung kala mendengar nama dari sebuah permainan.
...****************...
"Nah Ella, karena kamu terlalu cantik dan imut untuk menjadi seorang penjahat ... Para pelayan ini yang akan berperan menjadi penjahat dan menyerang tempat kamu tinggal ya," ucap Kaira.
Putri bungsu Sorov itu dengan sigap memberitahu alur permainan.
Ia juga memanggil sekitar 5 orang pelayan wanita ke taman pribadi Arcangella untuk berperan menjadi penjahat.
Tentunya atas ijin si pemilik taman.
"Jadi nanti mereka akan berpura-pura menyerang desa tempat kamu tinggal. Lalu kamu lari dan bersembunyi, jangan sampai ditemukan oleh penjahat ya Ella."
Kaira memegang kedua pundak Arcangella, ia berbicara seperti seorang ayah yang menasehati putrinya.
"Lalu bagaimana denganmu?"
Kaira tersenyum lebar. "Aku akan mencarimu dan melawan para penjahat untuk menyelamatkanmu. Jadi kamu harus kabur jika ditemukannya oleh penjahat ya?"
Arcangella mengangguk mengerti.
Tak lama permainan pun mulai di atur.
Kaira yang sudah siap dengan pedang kayunya di ujung taman. Arcangella yang seolah tengah menanam bunga di area tengah, dan para pelayan yang seolah siap menyerbu.
Para pelayan wanita dengan serentak menghancurkan bunga-bunga (liar) di sekitar Arcangella.
Melihat aksi seolah sedang menyerang desa, Arcangella dengan cerdik memanfaatkan atensi para pelayan yang sibuk menghancurkan untuk kabur dan bersembunyi.
Gadis kecil itu berlari dan menyembunyikan dirinya di sudut lain taman pribadi miliknya.
Tepat di belakang semak-semak dan taman bunga mawar. Ella berjongkok dan menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"HEI PARA PENJAHAT! AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN KARENA MERUSAK KETENANGAN DESA CANA!"
Ella dengan jelas mendengar suara Kaira yang sudah memulai perannya.
Ia tersenyum geli. 'Hihi, suara Kaira seperti seorang ksatria pemberani'
Sibuk dengan pikirannya, tanpa sadar Arcangella tidak mendengar langkah kaki yang mendekat.
SRAAK-
"Tuan Putru, hamba menemukan Anda."
Arcangella yang terkejut melihat tempat persembunyiannya ditemukan, sontak segera bangkit dan berlari menghindar.
"Aaaaa - hahaha ... Kakak pelayan, Tidak! Penjahat jangan kejar aku!"
"Tuan Putri Anda ingin tidak bisa melarikan diri ... "
"AAAAA - "
Arcangella terus berlari sambil tersenyum dan sesekali tertawa.
"Jangan menyakiti warga! Tenang gadis kecil, pahlawan ini akan segera datang membantu!"
Seluruh sudut taman pribadi Arcangella kini ramai oleh suara dari permainan mereka.
Tak jarang suara tawa terdengar, membuat Alcaluna dan Kallian - Kaisar Kekaisaran Sorov, yang berada di luar area taman, tersenyum kecil.
"Terima kasih, Kall. Berkat putrimu, Ella-ku tidak lagi kesepian dan bisa merasakan bermain dengan seorang teman."
Kallias menggeleng kecil, namun pandangannya tetap lurus ke arah taman tanpa menoleh ke sebelah dimana rekannya berada.
Pria dengan aura lembut itu berkedip pelan.
"Aku justru bingung, bukan karena Kaira, tapi putrimu."
Alcaluna menoleh ke arah Kallian. Alisnya sedikit terangkat bingung.
"Sepertinya Arcangella memiliki sihir semacam daya pikat sehingga membuat gadis kecilku yang lebih menyukai kebebasan sendiri, rela menyusup keluar untuk menemui Bintang Kecil Reis," lanjut Kallias.