Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Taman Kota Aurelian
Taman kota Aurelian jauh lebih megah dari yang Elaina bayangkan dari kejauhan—hamparan rumput hijau luas dikelilingi pohon-pohon berbunga yang kelopaknya berguguran lembut tertiup angin, jalan setapak berbatu putih yang berkelok mengelilingi sebuah air mancur besar di tengahnya, patung malaikat batu yang memuntahkan air jernih ke kolam di bawahnya.
"WAAAH!" Elaina berseru begitu mereka melewati gerbang taman, matanya berbinar menatap air mancur yang berkilauan diterpa cahaya matahari sore. Ia langsung melepaskan genggaman tangan Sasuke dan Saviera, berlari menuju tepi kolam dengan penuh semangat.
"Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan tepinya!" Saviera berseru mengingatkan, meski senyum lembut tetap menghiasi wajahnya melihat kegembiraan anaknya.
Sasuke dan Saviera mengikuti dengan langkah lebih santai, duduk di sebuah bangku taman yang menghadap langsung ke air mancur, mengawasi Elaina yang sibuk mencoba menghitung berapa banyak koin yang sudah dilempar orang-orang ke dalam kolam, wajahnya serius seolah sedang melakukan tugas penting.
"Dia tidak pernah kehabisan energi," Saviera berkata sambil tertawa kecil, menyandarkan punggungnya ke bangku.
"Itu salah satu hal yang paling kukagumi darinya," Sasuke menjawab, senyum tipis menghiasi wajahnya saat mengawasi Elaina yang kini mencoba—dan gagal—menangkap percikan air dengan kedua tangannya, tertawa riang setiap kali air itu lolos dari genggamannya.
---
Setelah puas bermain di sekitar air mancur, Elaina berlari kembali menghampiri mereka, wajahnya basah sedikit terkena percikan air, namun senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.
"Papa, Mama, ada yang jual es krim di sana!" ia menunjuk ke arah sebuah gerobak kecil di seberang taman, aroma manis samar-samar tercium terbawa angin. "Boleh, ya? Boleh?"
"Tentu saja," Saviera menjawab, bangkit dari bangku. "Ayo kita beli bertiga."
Mereka berjalan menuju gerobak kecil itu, dijaga seorang pria paruh baya dengan senyum ramah, berbagai rasa es krim tersusun rapi dalam wadah-wadah dingin di hadapannya.
"Rasa apa yang kalian mau?" pria itu bertanya ramah.
"Elaina mau yang warna biru!" Elaina menjawab cepat, menunjuk salah satu wadah dengan antusias.
"Rasa blueberry, pilihan bagus," pria itu berkata sambil menyendokkan es krim biru cerah ke dalam cangkir kecil, menyerahkannya pada Elaina yang langsung menerimanya dengan mata berbinar.
Sasuke dan Saviera memilih rasa masing-masing—vanila sederhana untuk Sasuke, dan stroberi untuk Saviera—sebelum mereka bertiga kembali duduk di bangku taman yang sama, menikmati es krim mereka sambil mengawasi orang-orang yang lalu-lalang menikmati sore yang cerah di taman kota.
"Ini enak sekali!" Elaina berseru, mulutnya sedikit belepotan warna biru, membuat Saviera tertawa kecil dan mengeluarkan sapu tangan untuk membersihkan wajah anaknya.
---
Sasuke duduk diam sejenak, mengamati pemandangan sederhana itu—Saviera yang dengan lembut membersihkan wajah Elaina, tawa kecil yang mengalir natural di antara mereka berdua, sinar matahari sore yang menghangatkan wajah mereka. Ia menyadari, di tengah semua kerumitan yang baru saja mereka hadapi—Gereja, program Ksatria Suci, misteri "Yang Tertinggal"—momen sesederhana ini tetap menjadi jangkar yang membuatnya tetap merasa nyata, tetap merasa hidup.
"Kau melamun," Saviera berkata, memperhatikannya sambil tersenyum jenaka.
"Hanya bersyukur," Sasuke menjawab jujur, sedikit canggung dengan kejujurannya sendiri. "Untuk semua ini. Untuk kalian berdua."
Saviera menatapnya lembut, tangannya terulur menggenggam tangannya yang bebas, es krim di tangan lainnya nyaris terlupakan sejenak. "Kami juga bersyukur untukmu, Sasuke. Lebih dari yang bisa kuungkapkan dengan kata-kata."
Elaina, yang duduk di antara mereka sambil masih menikmati es krimnya, mendongak menatap mereka berdua bergantian, meski tidak sepenuhnya memahami momen dewasa yang sedang terjadi, ia hanya tersenyum lebar dan menyandarkan kepalanya ke lengan Sasuke, puas dengan kehangatan sederhana yang mengelilingi mereka.
"Elaina juga bersyukur," ia menambahkan, mulutnya masih sedikit belepotan es krim biru, "buat Papa dan Mama. Dan buat es krim ini juga!"
Tawa hangat pecah dari mereka bertiga, mencairkan sisa ketegangan dari pertemuan berat dengan Gereja pagi tadi, digantikan kesederhanaan sore yang cerah, dikelilingi bunga-bunga berguguran dan gemericik air mancur yang menenangkan.
---
Menjelang senja, ketika taman mulai sepi dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu demi satu, mereka berjalan pulang menuju penginapan, Elaina yang kelelahan setelah hari yang panjang akhirnya tertidur di punggung Sasuke, napasnya teratur dan damai.
"Besok," Saviera berkata pelan, berjalan di samping Sasuke, "apa rencana kita?"
"Aku pikir kita bisa tinggal beberapa hari lagi di sini," Sasuke menjawab, mempertimbangkan langkah selanjutnya. "Menunggu kabar dari Uskup Valemont, sambil tetap waspada terhadap perkembangan program Ksatria Suci itu. Setelah itu... kita lihat saja."
"Terdengar seperti rencana yang baik," Saviera menjawab, tersenyum kecil menatap langit senja yang mulai berubah warna ungu kemerahan di atas Kota Aurelian.
Mereka melanjutkan langkah dalam diam yang nyaman, tidak perlu kata-kata lebih jauh untuk mengisi keheningan itu—hanya kehadiran satu sama lain, dan janji tak terucap bahwa apa pun yang menanti di depan, mereka akan menghadapinya bersama, satu langkah demi satu langkah, seperti yang selalu mereka lakukan sejak awal perjalanan panjang ini.
---
*Bersambung ke Bab 30 : Jawaban dari Katedral*