Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:131.4k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan

Vandra terdiam. Wajahnya terasa panas meskipun tidak ada seorang pun di ruangan itu yang bisa melihatnya. "Aku cuma..."

Ratih terkekeh. "Kenapa? Rindu?"

"Bu."

"Atau jangan-jangan..." Ratih sengaja berhenti sejenak. "...kamu mulai menyesal sudah mengajaknya bercerai?"

Vandra langsung membantah. "Enggak."

Ratih tertawa karena mendengar jawaban yang terlalu cepat itu. "Baiklah."

Vandra mengusap tengkuknya. "Ibu jangan macam-macam."

"Ibu gak macam-macam." Ratih tersenyum sambil memandang keluar jendela. "Yang jelas, Via sekarang baik-baik saja."

Vandra diam.

"Dia juga sibuk."

"Sibuk apa?"

Ratih sengaja menjawab singkat. "Macam-macam."

Vandra mengernyit. "Macam-macam?"

"Iya." Ratih tidak menjelaskan lebih jauh.

Ia tidak mengatakan tentang usaha fashion yang sedang dibangun Levia. Tidak mengatakan bahwa menantunya semakin dekat dengannya. Tidak mengatakan bahwa Levia sekarang aktif mengikuti kegiatan Persit. Biarlah Vandra menemukan semuanya sendiri ketika pulang nanti.

"Sudah, Van. Kamu istirahat. Di sana pasti sudah malam."

"Iya, Bu."

Vandra hendak mengakhiri panggilan.

Namun sebelum itu, Ratih berkata, "Van."

"Hm?"

"Kadang-kadang seseorang baru terasa penting setelah kita terbiasa hidup tanpa kehadirannya."

Vandra terdiam.

Ratih tersenyum tipis. "Sudah. Ibu gak mau ceramah."

Panggilan berakhir.

Vandra masih menatap layar ponselnya. Kata-kata ibunya terus terngiang. Via sekarang baik-baik saja. Dia juga sibuk. Entah kenapa, dua kalimat sederhana itu justru membuat pikirannya semakin penuh.

Ia kembali berbaring. Namun kali ini, yang membuatnya sulit tidur bukan lagi tugas di Lebanon. Melainkan satu wanita di Indonesia yang ternyata sudah mulai menjalani hidup tanpa dirinya.

***

Rumah Bram Gultom, sore menjelang petang. Ruangan kosong di belakang rumah yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penyimpanan kini sudah berubah menjadi ruang latihan sederhana.

Samsak tergantung di salah satu sudut. Beberapa dumbbell dan peralatan olahraga Levia tersusun rapi di sisi ruangan.

Gultom masuk mengenakan kaus dan celana olahraga. Ia melihat Levia sudah berada di tengah ruangan. "Siap?"

Levia mengangguk. "Siap."

Gultom berdiri beberapa langkah di depannya. "Kalau begitu, Ayah ajari dari dasar."

Levia menurut.

Gultom mulai menunjukkan posisi kaki dan cara menjaga keseimbangan. "Kaki jangan terlalu rapat. Berat badan harus seimbang."

Levia mengikuti.

"Lalu tangan." Gultom mengangkat kedua tangannya. "Jaga bagian wajah. Jangan membuka pertahanan."

Levia kembali mengikuti gerakannya.

Gultom mengangguk puas. "Bagus."

Kemudian ia memperagakan satu gerakan sederhana. "Kalau lawan menyerang dari depan, kamu bisa menghindar seperti ini."

Levia memerhatikan dengan saksama..Begitu Gultom selesai, ia meminta Levia mencobanya.

Levia menarik napas, kemudian tubuhnya bergerak. Satu langkah ke samping, putaran kecil pada pinggang, tangan naik melindungi wajah. Lalu tubuhnya kembali ke posisi semula dengan gerakan yang begitu cepat dan seimbang.

Gultom membeku.

Levia sendiri tidak menyadari perubahan ekspresi ayahnya. "Begini?"

Gultom berkedip. "Iya..." Suaranya terdengar lebih pelan.

Levia menunggu instruksi berikutnya. Gultom kemudian memperagakan gerakan lain. Kali ini lebih rumit. Namun Levia kembali mengikutinya dengan cukup mudah.

Gultom terdiam beberapa detik. "Via."

"Hm?"

"Kamu yakin cuma belajar dari YouTube?"

Levia langsung tertawa kecil. "Ya... kira-kira."

"Kira-kira?"

Levia mengusap tengkuknya. "Kadang aku juga lihat beberapa video lain."

Gultom menyipitkan mata. "Berapa banyak?"

Levia berpikir sebentar. "Entahlah."

"Seminggu?"

Levia menggeleng.

"Sebulan?"

Levia kembali menggeleng.

Gultom semakin curiga. "Terus?"

Levia akhirnya tersenyum canggung. "Pokoknya cukup sering."

Gultom menatap putrinya beberapa detik. Ia tidak tahu kenapa, tetapi gerakan Levia tadi sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru belajar dari video.

Ada keseimbangan, ada refleks. Dan yang paling aneh, beberapa gerakan tadi seolah keluar secara otomatis dari tubuhnya. Seakan-akan tubuh itu sudah mengenalnya sejak lama. Namun Gultom tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil.

"Kalau begitu, ternyata Ayah punya murid yang lumayan berbakat."

Levia tertawa. "Berarti aku hebat?"

"Jangan besar kepala."

"Yah!"

Gultom terkekeh.."Kalau memang mau belajar, nanti Ayah ajari pelan-pelan."

Levia mengangguk penuh semangat. "Siap!"

"Dan jangan cuma belajar dari internet."

"Kenapa?"

"Karena internet gak bisa memukul balik kalau kamu salah gerakan."

Levia langsung tertawa. "Baiklah. Berarti aku belajar langsung dari Ayah."

Gultom tersenyum. "Begitu lebih baik."

Mereka kembali mengambil posisi. Kali ini Gultom tidak lagi memandang Levia seperti anak perempuan yang perlu diajari dari awal. Ada rasa penasaran yang perlahan muncul dalam benaknya.

Selama enam bulan terakhir, ia memang melihat banyak perubahan pada putrinya. Cara berbicara, berpikir, menjaga diri, maupun cara memperlakukan orang lain.

Dan sekarang... kemampuan bela diri.

Gultom tidak tahu dari mana semua perubahan itu berasal. Namun untuk saat ini, ia memilih tidak bertanya. Selama putrinya sehat, bahagia, dan mulai menikmati hidupnya sendiri, itu sudah lebih dari cukup.

"Siap, Via?"

Levia memasang posisi. "Siap, Yah."

Gultom tersenyum. "Kalau begitu, kita mulai lagi."

Dari luar ruangan, tanpa mereka sadari, Ninis yang baru saja melewati halaman sempat berhenti. Tatapannya tertuju ke dalam. Ia melihat Gultom dan Levia berlatih bersama. Ayah dan anak itu tertawa. Levia bahkan terlihat begitu bersemangat.

Ninis mengepalkan tangannya. Enam bulan lalu, ia masih mengira perubahan Levia hanya sementara. Namun sekarang...

Levia memiliki perusahaan. Memiliki tubuh yang semakin sehat. Memiliki kemampuan baru. Dan yang paling membuat Ninis tidak nyaman, hubungannya dengan Gultom justru semakin dekat.

Ninis memerhatikan mereka beberapa detik sebelum akhirnya berjalan pergi. Raut wajahnya mengeras.

Levia yang dulu ia kenal sudah benar-benar menghilang. Dan semakin lama perubahan itu berlangsung, semakin kecil pula ruang yang tersisa bagi Ninis di rumah tersebut.

 

...✨“Ketika seseorang mulai mengenal dirinya, mengejar impiannya, dan menghargai hidupnya, ia tidak lagi membutuhkan pengakuan dari mereka yang dulu mengabaikannya.”...

...“Jarak tidak selalu memisahkan. Terkadang, jarak justru memberi kesempatan bagi seseorang untuk menyadari arti kehadiran yang dulu ia anggap biasa.”✨...

.

To be continued

1
Kadek Sri
semoga Vandra cepat datang
Anitha
Yang kalian hadapi itu bukan Levia tapi Vivian yang menguasai ilmu beladiri,,tentunya kalian akan kalah sama Vivian....

semoga Levia berhasil melumpuhkan mereka dan Vandra datang tepat waktu..semangat Via..dan hati²
pulang dengan selamat,nanti kasih oerhitungan buat si Ninis dan Si Risa...laporkan pada Polisi atas tindakannya...
biar keluarga Jendral Pramono hancur karena ulah anaknya
Anitha
Levia kamu terlalu ceroboh sih,langsung percaya saja sama kariyawanmu yang menyampaikan ada masalah padahal itu hanya jebakan buat kamu,,ada karyawanmu ada yang berkhianat Via....

semoga Levia baik² saja dan Vandra bisa menemukan Levia
anonim
Vivian sampai bergidik mengetahui Levia yang menyimpan foto-foto Vandra sampai segitunya.

Levia yang baru, mulai hari ini tidak akan mengejar Kapten Avandra Jayasena. Dia punya misi menyelamatkan hidup Livea dan menjadi desainer terbaik dunia.

Levia yang jiwanya Vivian lebih sadar ketika Ninis anak pembantu di keluarga Gultom memberikan makanan tak sehat. Makanan manis-manis. Kalori semua. Pantas badan Livea jumbo 🤭😄.

Vivian mesti hati-hati saja sama Ninis. Sepertinya meracuni secara perlahan. Meracuni dengan makanan yang semakin bikin badan melar dan meracuni otak Livea.
anonim
Bram memberikan ponselnya Livia.

Setelah ponsel di arahkan ke wajah, ponsel langsung menyala. Disambut wajah Kapten Arvandra Jayasena.

Mobil banking di buka, membutuhkan kata sandi. Vivian kok tahu tanggal lahir Vandra. Pakai memory dari si empunya tubuh ya.

Melihat saldo yang jumlahnya hampir sembilan belas miliar, Vivian terkejut.

Vivian jadi tajir nih sekarang. Tapi tidak bucin.

Sesi buka galeri. Vivian sampai heran, Levia banyak mengkoleksi foto-foto Vandra. Bahkan ada album khusus isinya siapa lagi kalau bukan Vandra.
anonim
Dokter keluarga juga heran dan bahkan terkejut dengan banyak perubahan yang terjadi pada Levia.

Mendengar dokter bicara tentang Levia, Bram sampai melongo. Terkejut. Sampai serasa tak percaya itu anaknya 😄. Banyak kejutan untuk Bram. Bahkan terharu mendengarnya.

Benar sarannya dokter. Tinggal mendukung Levia dengan segala perubahannya.
Uthie
Via bisa hajar semuanya gak itu 😀
Uthie
jadi tegang 😁
asih
gimana van kamu datang cepat Dan tempat waktu atau terlambat sedikit seperti pak ladusing 😄😄😄
jangan sampai via kalah kamu.baru datang loh van tak pecat nanti kamu jadi kapten 😄😄🤭
mery harwati
Bala bantuan akan secepatnya datang? Atw macam film india 😍
abimasta
supirnya cari mati dia ngga tau levia bisa bela diri
Siska Sutartini
yah masa gitu aja sih? harusnya diproses hukum si ninis ini. udah merasa paling berhak atas rumah & sluruh isinya. serah apa yg smua yg lakukan. lah elu disekolahkan sama majikan diberikan tempat tinggal perlindungan dari ayah yg jahat egh emang bibit buruk dari bapaknya itu si ninis. hati2 dia bakal balas dendam tuh
Septi Wijaya
salah lawan pak supir....🙏 levia jagoan pencak silat looh
Wardi's
gk tau klo levia ahli silat ....
Puji Hastuti
hajar aja itu sopir via,ciaatt
Kadek Sri
lanjut
mery harwati
Kopi online bwt mu Vivian yang didalam raga Levia, tahklukan lelaki yang menyamar driver online itu & sekaligus bongkar kebusukan Ninis & Risa, jangan kelamaan drama, keburu bosen readres sama alur ceritanya 💪😍
mery harwati
Tunjukkan hasil latihan silatmu selama ini Levia, toh saat Vivian hidup dia memang jago beladiri, berbeda dengan Levia yang asli
Siska Sutartini
hah tertangkap basah juga kan elo babu durjana. saatnya kasih pelajaran tak terlupakan buat ninis😈
Siska Sutartini
ninis ini definisi org udah dibantu tapi gak tau diri amat. begitu keji hatinya ingin menjatuhkan levis dg sgala cara. kenapa elo gak cari cara sendiri buat maju, dg kerja keras sendiri. bukti kejahatan ninis mesti segera ditemukan nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!