Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
"K-kenapa sih?!" cerocos Estella akhirnya meledak, menatap laras pistol yang melayang tipis di depan dahinya. Rasa panik bercampur kekesalan absurd membuat rasa takutnya sedikit tergeser. "Kenapa Mas Lucian keukeuh banget mau nembak atau bunuh aku?! Salah aku apa coba?! Aku kan cuma cewek imut, tidak berdosa, dan rajin menabung yang kebetulan lewat di gang malam-malam!"
Lucian tidak langsung menurunkan senjatanya. Pria itu menatap Estella dengan iris sehitam jelaga yang begitu tenang namun menakutkan, seolah sedang menilai barang buruan yang baru saja tertangkap.
"Salahmu?" desis Lucian rendah, suara deep voice-nya menggema dingin di dalam mobil yang kedap udara. "Kau terlalu banyak tahu, dan keberadaanmu selalu mengganggu. Lagi pula..." Lucian menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis dan kejam. "...tubuhmu yang selalu selamat dari maut itu menarik. Aku hanya ingin menjadikanmu objek eksperimen. Mengetahui seberapa banyak luka dan siksaan yang bisa ditanggung tubuhmu sebelum akhirnya bernapas untuk terakhir kalinya."
Mata Estella membelalak lebar. Otak ajaibnya langsung membayangkan dirinya dipotong-potong di dalam laboratorium rahasia berisi cairan hijau menyala.
"Hah?! Objek eksperimen?!" cerocos Estella heboh seraya menggerakkan kedua tangannya memohon. "Maksudnya jadi katak bedah gitu?! Jangan aku lah, Mas! Ganti sama katak atau kodok bangkong aja! Mereka kulitnya lebih tebal, fleksibel, terus kalau melompat-lompat lucu! Kalau aku yang dijadikan objek eksperimen, rugi di Mas Lucian sendiri! Kulit aku tipis, boros biaya rumah sakit, terus kalau disiksa aku bakalan berisik banget mengganggu ketenangan!"
"Diam," potong Lucian mutlak.
Satu kata itu meluncur begitu dingin hingga Estella langsung membungkam mulutnya rapat-rapt, menelan kembali rentetan protes absurdnya. Lucian menyarungkan pistolnya kembali ke balik jas, lalu memberi isyarat pada Edwin di kursi kemudi untuk memacu mobil menuju mansion pribadinya.
Tiba di mansion megah bernuansa gelap itu, pintu mobil dibukakan. Belum sempat Estella menapakkan kakinya ke tanah untuk mencoba kabur, Lucian sudah lebih dulu meraih tubuhnya.
SRET!
"KYAAAK!" Estella terpekik kencang saat Lucian menyambar pinggang dan lekukan lututnya, mengangkatnya kembali ke dalam gendongan bridal style dengan sangat mudah.
"Mas Lucian! Turunin! Aku punya kaki, bisa jalan sendiri! Nanti disangka karung beras!" jerit Estella seraya mencengkeram kerah kemeja hitam Lucian agar tidak jatuh.
Lucian tidak mengacuhkan pekikan dan racotan gadis itu sedikit pun. Langkah kakinya yang panjang dan tegap membawa Estella melintasi lorong mansion yang dingin, menaiki tangga melingkar, hingga sampai di depan kamar utama milik Lucian sendiri—bukan kamar pembantu seperti sebelumnya.
KLIK... BRAK!
Pintu kamar dibuka lalu ditendang tertutup rapat oleh kaki Lucian. Suara kunci otomatis mengunci ruangan dari dalam.
BRUK!
Lucian melemparkan tubuh Estella ke atas ranjang king-size berseprai hitam yang teramat empuk. Estella memekik kaget saat tubuhnya membal di atas kasur. Belum sempat ia merangkak bangun atau berguling ke tepi ranjang, bayangan tubuh jangkung Lucian sudah menutupi cahaya lampu kamar.
SRET!
Lucian mengikis jarak dalam hitungan detik. Pria itu melompat naik ke atas ranjang, menumpukan kedua lengan kokohnya di sisi kiri dan kanan kepala Estella, mengukung tubuh gadis itu sepenuhnya di bawah naungan dadanya yang bidang.
Napas hangat Lucian berhembus menepuk pipi Estella yang membeku. Iris mata gelap sang Vex Noir menatap lurus ke dalam iris mata Estella yang membelalak panik, mengunci pergerakan gadis itu tanpa memberi celah sedikit pun untuk melarikan diri.